Dragon Era: Legend of the Dragon Hunter

Dragon Era: Legend of the Dragon Hunter
Kota Tersembunyi



Kami masuk dalam formasi yang sudah di tentukan sebelumnya. Dengan aku paling depan, kapten tetap di belakangku, dan Profesor bersama Noel di posisi paling belakang. Kami menuruni jalan tak terlalu besar menuju bawah tanah. Aku masih mengingat dengan jelas jalur yang aku lalui saat pertama masuk kedalam gua ini. Ada juga jalan bercabang yang salah satunya belum pernah kumasuki. Kami memilih jalur yang sudah pernah aku lalui lebih dulu untuk melihat peninggalan masa lalu.


Tak ada satu monster pun yang kami temui sepanjang jalan hingga sampai di tempat yang banyak terdapat kendaraan beroda, dan jalan terbuat dari beton. Kami sampai dengan cepat di area ini. Profesor langsung menunjukan ekspresi senang dan terlihat bersemangat begitu melihat peninggalan dan jejak dari pendahulu kami sebelum masa kehancuran.


Profesor berkata ini adalah bukti serta jawaban kenapa tak ada peninggalan dari zaman sebelum kehancuran yang tersisa. Ternyata semua terdapat di bawah tanah. Posisi daratan di zaman ini sunggung seperti terbalik atau lebih tepatnya daratan menggulung hingga yang saat itu ada di permukaan, sekarang berbalik menjadi di bawah tanah. Begitu juga sebaliknya. Yang saat itu ada dibawah tanah, sekarang muncul di atas permukaan.


Secara garis besar aku mengerti maksud perkataan profesor. Itu juga yang menyebabkan makhluk-makhluk aneh yang kami sebut monster terus bermunculan. Daratan ini sudah berubah, dan sepantasnya makhluk yang hidup di atasnya juga menyesuaikan diri dengan keadaan daratan yang baru.


“Kau sangat hebat sudah menemukan tempat ini, Livy.”


“Pujilah aku terus, Bu.”


“Profesor... Apa kendaraan beroda ini tak bisa kita buat di Eden?”


“Untuk penjelajahan keluar Eden, tentu saja ini tidak efisien, Noel. Tak mungkin untuk menjelajah menggunakan roda yang mudah rusak dan harus berada di tanah yang datar. Namun untuk beberapa kasus, kendaraan seperti ini akan memudahkan kita untuk mengangkut logistik keluar Eden. Seperti penjelajah medis yang membawa banyak peralatan. Namun sebelum menggunakan kendaraan seperti ini, kita harus melakukan survei jalur yang akan dilaluinya.”


“Ia... Aku juga berpikir seperti itu, Profesor. Meski kurang efisien, kita bisa memanfaatkannya di saat tertentu.”


“Baiklah... Setelah kembali ke Eden aku akan bicara dengan para bangsawan lainnya termasuk Ayahmu untuk hal ini.”


“Apa ibu mau menarik beberapa peninggalan ini keluar? Sepertinya ini lebih berat dari kuda besi.”


“Untuk saat ini kita biarkan dulu seperti ini. Saat musim hujan sepertinya area ini tak tergenang air. Buktinya semua yang ada di sini masih dalam keadaan baik. Aku akan memanggil tim arkeolog setelah sampai di Eden dan saat itu baru menariknya keluar. Sebelum masuk ke area ini ada jalan bercabang kan? Kau belum kesana. Jadi lebih baik kita jelajahi dulu seluruh area gua ini sambil membuat peta dalam gua ini.”


Kami kembali ke jalan bercabang sebelumnya, dan masuk ke area baru dari gua ini. Semakin masuk ke dalam, jalan ini semakin menurun kebawah tahan. Suhu dalam gua ini menjadi semakin dingin dan gua ini semakin membesar. Aku rasa akan memakan waktu yang lama sampai kami selesai menjelajahi gua ini sepenuhnya. Menurutku gua ini sangat aneh. Biasanya semakin dalam menuju pusat bumi, suhu dalam gua akan semakin panas. Namun gua ini menunjukan kondisi sebaliknya. Aku merasa semakin dingin hingga sedikit sulit bernafas. Sejak tadi juga ada angin lembut yang berhembus, padahal jalan semakin menurun. Tak ada tanda-tanda kami akan naik ke permukaan.


Jalan semakin licin karena area yang kami pijak mulai sedikit di tutupi es di sana-sini.


“Ada yang janggal dari gua ini.”


“Kau juga menyadarinya, Afhkar?”


“ia, Ev... Ada angin dari arah yang kita tuju, dan suhu terlalu dingin untuk sebuah gua yang jauh dari permukaan. Sejak tadi juga terlihat ada ukiran aneh yang sedikit muncul di dinding gua. Seperti bangunan yang tertimbun.”


Ternyata kapten yang selama ini hanya diam sedang memperhatikan situasi dalam gua ini. Mungkin karena sering menjelajah bersama Profesor, kapten menjadi peka terhadap peninggalan sejarah. Kami semakin tak tahan dengan dinginnya area ini. Kulihat Noel pun mulai menggigil kedinginan sama sepertiku.


“Seandainya kita akan menuju permukaan juga setahuku tak ada area sedingin ini di sekitar bukit duri. Apalagi area yang tertutup es”


Kapten mengatakan itu saat kami tiba di sebuah ruangan yang cukup besar dengan lantai yang tertutup es. Es itu terlihat lumayan tebal, dan dibawahnya terdapat air dalam bentuk cair. Kemungkinan ini sebuah danau atau kolam besar yang bagian atasnya membeku. Kapten beberapa kali menghentakan kaki dengan keras di atas es itu. Namun jangankan pecah, retak saja tidak. Sepertinya es itu aman untuk kami lewati. Masih tak ada tanda-tanda monster di sekitar sini. Kami mulai berjalan melewati es itu dengan sangat hati-hati. Sungguh sulit menyeimbangkan tubuh agar tidak terjatuh di atas es yang begitu licin ini.


Meski sulit akhirnya kami melewati es tanpa terjatuh. Kami kembali masuk kedalam lorong gua yang semakin besar. Di lorong ini angin dingin semakin bertiup kencang. Padahal jalan masih menurun walau tak seterjal sebelumnya. Aku semakin berdebar karena baru pertama kali menyusuri gua aneh seperti ini. Setelah beberapa jam berjalan, akhirnya aku melihat cahaya dari kejauhan. Walau sempat berpikir ada yang aneh dari cahaya itu, kami tetap terus maju menyusulnya. Aku sebut aneh karena aku yakin di ujung cahaya itu bukanlah permukaan tanah. Sudah jelas sejak kami masuk ke dalam gua ini jalan yang kami lewati selalu menurun. Tak ada kemungkinan sama sekali bahwa kami akan muncul di permukaan tanah.


Dinding dan lantai gua kini hampir seluruhnya tertutup oleh lapisan es. Sangat dingin dan membuatku sulit untuk bergerak. Semakin mendekat ke pintu keluar, semakin terlihat ujung dari gua ini.


“Liv, kau tak berpikir kalau itu permukaan kan?”


“Walau tak percaya, tetap saja ada cahaya, Noel. Itu pasti matahari.”


Aku dengan cepat berlari dan meninggalkan yang lain di belakang. Saat langkah pertamaku keluar dari gua, aku melihat matahari di tempat bersalju ini. Aku terus berlari hingga beberapa meter sampai tiba-tiba Ibu menarik tanganku dan membuatku terhenti.


“Lihat sekelilingmu, Livy!”


“Hah... Apa-apaan ini?”


Kalau saja Ibu tak menarik tanganku, aku sudah terjatuh dari atas gunung terjal ini. Kami berada di dataran yang sangat tinggi. Namun bukan itu yang membuatku bingung. Di bawah terdapat reruntuhan kota kuno yang sudah terbengkalai. Deretan gunung bersalju mengelilingi kota yang berada di tengahnya. Terdapat matahari yang juga bersinar. Namun sama sekali tak ada langit. Yang aku lihat justru atap batuan. Kami masih di dalam gua!


Kota ini begitu kuas dan kurasa memiliki teknologi yang aneh. Mustahil ada matahari di dalam tanah. Sambil beristirahat kami membicarakan keanehan tempat ini.


“Ibu, sebenarnya ini tempat apa?”


“Aku juga belum pernah melihatnya. Tak ada catatan pula tentang kota modern bawah tanah. Terlebih lagi kota ini begitu luas. Melihat kota itu ditumbuhi tanaman, sepertinya yang di atas itu adalah matahari. Namun tentu bukan matahari asli.”


Aku, Noel, dan kapten masih terdiam dan kebingungan. Kota ini masih terlihat terawat. Hanya saja di tumbuhi banyak sekali tanaman liar seperti tempat yang ditinggalkan begitu saja, dan kondisinya tetap terjaga. Hanya ada beberapa bangunan yang terlihat hancur. Dari ketinggian ini kami bisa melihat seisi kota luas ini.


“Bagaimana, Ev... Kita lanjut atau kembali membawa tim dengan anggota lebih banyak? Ini tak akan selesai hanya dengan kita berempat.”


“Tidak. Kita telusuri dulu seisi kota ini.”


“Profesor, apa itu matahari buatan?”


“Kau juga tahu, Noel?”


“Aku pernah membacanya di sebuah buku. Salah satu bangsa saat Peradaban sebelum kehancuran pernah mencoba membuat matahari buatan. Namun tak ada laporan tentang selesainya matahari buatan itu, apalagi kota yang didirikan di bawah tanah.”


“Tak salah lagi itu memang benar matahari buatan. Sepertinya bangsa itu merahasiakannya dari dunia luar dan malah membuat kota perlindungan sendiri”


“Namun semua sia-sia. Karena pada akhirnya kota ini di tinggalkan seperti ini.”


“Yang jelas ini adalah harta karun untuk Eden. Kita harus turun dan melihat kota itu dari dekat! Kerja bagus, Livy! Kau sangat hebat menemukan gua itu.”


“Ini hal wajar. Aku kan anakmu.”


Walau tak sengaja menemukannya kurasa tak ada salahnya aku bangga. Kami memutuskan turun ke arah kota itu. Kapten menemukan jalan setapak yang menuruni gunung bersalju dan dingin ini. Penemuan kali ini mungkin bisa merubah sejarah, dan memperbaiki keadaan manusia yang hampir punah di masa depan.