
Aku pun bangun dan menghampiri Profesor yang sedang berjaga di depan perapian.
“Tak bisa tidur?”
“Ia.”
“Tak perlu kau pikirkan, Livy! Kau akan segera menyusul perkembangan mereka.”
“Sejak dulu Ibu selalu bisa membaca pikiranku. Malah rasanya menakutkan karena selalu menebak dengan benar.”
“Itu karena aku Ibumu.”
Semoga apa yang ibu katakan benar. Aku tak ingin tertinggal dari kapten dan Noel.
“Ibu tidurlah... Ini giliranku berjaga.”
Aku selalu merasa nyaman berada di savana ini. Memandangi bintang malam hari di temani udara dingin, serta perapian yang memberikan sedikit hangatnya. Berapa kali pun melewati dataran ini, rasanya sungguh tenang dan damai. Kami akan berangkat lebih awal besok karena harus cepat mencapai bukit duri.
Kami semua terbangun karena tiba-tiba terjadi hujan di pagi hari yang dingin ini. Bersiap mengemas peralatan, dan langsung menerjang hujan yang mulai lebat. Suhu udara semakin dingin di savana ini karena hujan. Beberapa kawanan cherna seperti tak peduli pada hujan dan tetap memakan retumputan.
Hujan sangat deras hingga membatasi pandangan kami. Karena sulit melihat, kami terpaksa mengurangi kecepatan kuda besi. Selama beberapa jam hujan tak juga berhenti. Kami akan bermalam di savana ini sekali lagi. Kemungkinan esok sore kami sudah berada di bukit duri dan menuju gua bawah tanah. Saat hari semakin siang, hujan mulai mereda. Matahari mulai menampakan diri di balik awan mendung yang terbawa deburan angin. Membuat dataran ini kian hangat dengan cahayanya.
Kami berhenti sejenak di bawah pohon besar untuk mengeringkan, dan menghangatkan tubuh.
Kami sedikit berbincang tentang tujuan kami. Ternyata aku lupa memberi tahu tentang gua yang kami tuju pada kapten dan Noel. Mereka hanya terlalu bersemangat ketika mendengar akan berpetualang dengan Profesor hingga lupa menanyakan tujuannya.
“Jadi, seperti apa tempat yang kita tuju, Liv?”
“Kalian ingat saat kita berpencar di bukit duri?”
“Ia... Kau terluka parah saat itu.”
“Jadi kali ini kita akan meneliti peninggalan masa lalu itu?”
“Tentu saja, Kapten. Itu alasanku mengajak Ibu kali ini. Sebenarnya aku berharap menemukan harta karun di tempat itu. Namun perjalanan ini juga sebagai latihan kita agar lebih kuat. Ibu juga bisa meneliti peninggalan masa lalu di sana. Semua mendapat keuntungan bukan?”
“Apa ada banyak Monster di sana, Liv?”
“Yang kutemui saat itu hanya tikus tanah dan 2 ekor basilisk. Saat lari dari mereka, aku sempat melempar bom. Entah monster itu masih hidup atau tidak. Bila masih hidup, mungkin kali ini adalah kesempatanku membalas dendam.”
“Jangan bertindak ceroboh, Livy!”
“Baik, Bu. Aku pasti akan berhati-hati kali ini.”
Setelah beristirahat mengeringkan diri, kami melanjutkan lagi perjalanan menyusuri savana ini. Meski sudah berbulan-bulan berlalu, tempat ini seperti tak ada perubahan sama sekali. Saat hari menjelang sore langit menjadi begitu cerah. Awan hitam yang membawa hujan telah pergi sepenuhnya dari savana ini. Pemandangan sore hari di savana memang tak pernah tergantikan. Cahaya kemerahan serta angin sendu yang membuat semak mengikuti arahnya bertiup, benar-benar menjadi ciri khas area ini.
Matahari kini mulai bersembunyi dan di gantikan dengan bulan yang telah hancur. Pemandangan indah dengan cahaya kemerahan berganti menjadi lukisan langit gelap yang di taburi bintang tak terhitung jumlahnya. Kami memutuskan untuk berhenti dan beristirahat. Tak ada alasan untuk terburu-buru dalam petualangan kali ini.
Musim mulai berganti kali ini. Semoga curah hujan tak terlalu tinggi, karena kami akan masuk ke dalam tanah. Profesor juga sejak tadi hanya terdiam dan seperti sedang berpikir. Mungkin ia juga khawatir dengan cuaca kali ini. Walaupun gua yang akan kami datangi sangat luas, namun kami masih belum tahu bagaimana keadaan gua di sana saat musim penghujan tiba. Di musim ini juga para monster akan lebih agresif karena banyak yang kehilangan sarangnya. Namun menurutku ini adalah waktu yang tepat untuk memperkuat tim kami. Saat monster menjadi ganas, tentunya kemampuan bertarung kami semakin diuji. Profesor menyarankan formasi seperti saat bertarung di arena. Dengan aku berada di posisi paling depan, serta kapten persis dibelakangku untuk memberi serangan kejutan, dan Noel di bagian paling belakang melakukan serangan jarak jauh. Kami akan mencobanya pada monster di bukit duri nanti.
Menginjak tengah malam jutaan bintang yang menghiasi langit mulai tertutup dengan awan gelap. Suasana di savana menjadi suram dan gelap dalam waktu singkat. Hujan akan segera datang dan kami semua harus bergerak menuju bukit duri secepat mungkin agar bisa berlindung. Tengah malam kami langsung begerak menyusuri savana. Berada di tengah savana saat hujan akan berbahaya untuk kami karena tak tahu kapan petir akan menyambar.
Saat matahari terbit kami sudah sampai di ujung savana dan memasuki area bukit duri. Di area ini masih terdapat hutan yang bisa kami gunakan untuk berteduh. Hujan yang sejak tengah malam turun masih juga belum berhenti. Langit masih tertutup dengan awan mendung yang membuat keadaan suram. Suasana basah di sekitar hutan bukit duri membuat udara menjadi lembab. Kami beristirahat di bawah pohon besar yang terdapat di tepi sungai.
Aku masih teringat saat menjalan misi yang lalu. Di sini kami mendapat serangan dari serigala buas yang berkelompok. Saat itu awal bencana yang membuatku terluka parah dalam misi. Sungai ini terlihat lebih lebar dari sebelumnya. Mungkin curah hujan di sini sudah lebih tinggi daripada area lain. Masih belum ada tanda-tanda monster di sekitar kami. Kemungkinan mereka berpindah ke area yang lebih tinggi untuk menghindari banjir yang mungkin menutupi dataran rendah di area ini. Kami berpencar mencari kayu kering yang bisa dijadikan api unggun. Di saat hujan turun terus menerus seperti ini, sedikit sulit untuk mendapatkan kayu yang bisa langsung dibakar.
Kami bergerak cepat untuk menyiapkan makanan. Beberapa potong daging cherna yang kami buru kemarin sudah di siapkan untuk di panggang. Kepulan asap membumbung ke langit memberikan tanda lokasi kami. Tentu ini sedikit berbahaya karena penciuman serigala sangat tajam. Namun kami berempat sudah siap dengan resiko terburuk sekali pun saat keluar dari Eden Shelter.
Masih belum ada tanda adanya monster yang akan menyerang kami sampai kami selesai makan. Bahkan hutan ini terlalu sunyi menurutku, sampai suara serangga pun tak terdengar. Kami langsung melanjutkan perjalanan setelah selesai makan. Rencananya kami akan bermalam di pintu gua dan esok hari akan masuk menjelajahi gua tujuan kami. Meskipun tak ada tanda-tanda dari monster di sekitar, kami tetap waspada dan bergerak perlahan. Semua penjelajah tahu kalau area ini adalah tempat yang berbahaya. Tak ada salahnya waspada daripada kami menyesal.