Dragon Era: Legend of the Dragon Hunter

Dragon Era: Legend of the Dragon Hunter
Chronicle Of Noel



Namaku adalah Noel Aidania De Eden. Berasal dari keluarga salah satu pendiri tempat perlindungan terakhir manusia yang di sebut Eden Shelter. Meski dilahirkan dengan membawa darah bangsawan, aku tak merasa pantas mewarisi darah leluhur kami yang seorang pendiri. Aku hanya ingin hidup bebas seperti kemauanku. Tak terikat dengan tradisi para bangsawan, dan tak ingin di anggap sebagai bangsawan Eden.


Aku bertemu dengan sahabatku Livy Cage saat kabur dari rumah dan mendaftar menjadi hunter penjelajah beberapa tahun lalu. Saat kebingungan karena tak pernah berinteraksi dengan dunia luar dan banyak orang, Livy banyak menolongku di saat aku harus terbiasa dengan lingkunganku. Para bangsawan memang hidup memisahkan diri dari rakyat lain di Eden, dan menganggap derajat mereka lebih tinggi dari yang lain. Itu hanya salah satu hal yang tak kusukai dari keluargaku.


Lupakan tentang keluarga, saat ini aku sedang menjelajah dengan Livy, Kapten Afhkar, dan orang yang sangat ku kagumi yaitu Profesor Evelyn Cage. Meski keluarga Cage salah satu bangsawan, namun saat generasi Profesor Evelyn yang menjadi pemimpin, sikap mereka berubah dan memisahkan diri dari para bangsawan lain. Mereka hidup seperti orang normal dan itu hal membuatku semakin kagum dengan Profesor. Tak hanya memiliki darah bangsawan, Profesor memiliki segudang prestasi yang sangat luar biasa hingga diakui sebagai salah satu orang paling berpengaruh di Eden.


Walau begitu Profesor tetap hidup sederhana dan tak seperti bangsawan lain. Aku semakin mengagumi beliau. Karena mendapatkan kesempatan menjelajah dengan Ibu dari sahabatku itu, aku sama sekali tak mungkin menolaknya. Terlebih lagi kami menemukan kota hilang yang luar biasa. Namun kali ini aku sedikit kurang beruntung karena saat ini terpisah dari kelompok. Dinding reruntuhan yang kami jelajahi tiba-tiba terbuka dan aku terjebak di dalamnya.


Aku kini berada di ruangan lain yang sepertinya akan berbahaya. Ruangan kecil dengan cahaya api berwarna biru di kanan dan kiri dinding. Ruangan ini jelas buatan manusia karena di tata dengan blok batu di kanan dan kiri dinding. Kini aku terpaksa menelusuri lorong kecil ini karena tak bisa membuka dinding yang menjebakku. Berharap menemukan jalan kembali ke timku, aku terus menelusuri jalan sempit ini.


Jalan ini berputar seperti membentuk huruh ‘U’. Aku berharap bisa secepat mungkin menemukan jalan ke tempat timku berada. Setelah lama menelusuri jalur lorong ini, aku sampai di ruangan besar mirip seperti ruangan sebelumnya. Berdinding dan lantai batu, dan terdapat banyak ukiran-ukiran yang tak kumengerti bahasa dari tulisannya.


Terdapat 4 patung di masing-masing sudut ruangan ini. Patung itu berbentuk manusia yang memakai jubah menutupi kepala dan memiliki sayap. Di tengah ruangan juga terdapat patung naga berkaki dua dan memiliki sayap, dengan kepala seperti unggas yang memiliki paruh sedikit panjang. Bagian atas kepalanya dihiasi dengan sepasang tanduk yang mengarah ke belakang, dengan ekor seperti monster jenis reptil.


Patung ini dibuat dengan sangat teliti dengan ukuran yang besar. Saat kuperhatikan lebih detail, ternyata ada sesuatu di bagian bawah sayap patung ini. Ada sebuah busur yang menempel di patung dengan sayap yang membentang ini. Terdapat slot di bawah sayap yang terisi sebuah busur berwarna putih dengan beberapa ukiran berwarna emas. Busur ini begitu cantik dan sangat ringan hingga seperti mengangkat sebuah ranting.


Aku sempat iri dengan mereka karena memiliki senjata yang sangat bagus dan sangat tak mudah rusak. Sementara aku harus terus merawat senjataku meski tak bertarung dari jarak dekat. Kemampuan mereka juga lebih hebat dariku dengan dukungan ancient weapon. Namun kali ini aku juga mendapatkan senjata yang luar biasa.


Setidaknya aku bisa mendekati kemampuan mereka. Aku segera memasuki lorong lain untuk mencari jalan keluar tempat ini. Di lorong ini tercium aroma belerang yang sangat menyengat. Semakin menjelajahi lorong ini, aroma belerang semakin menusuk hidungku. Ada keanehan di lorong satu ini. Terdapat untaian jaring yang saling bertumpuk di sana-sini. Jaring ini bercampur dengan belerang dan menghasilkan jaring yang berwarna kekuningan. Semakin jauh aku berjalan, semakin banyak jaring di kanan dan kiri lorong. Ini seperti sarang laba-laba yang ada di kawah mendidih. Livy pernah bercerita padaku kalau ia sempat menghadapi laba-laba raksasa yang menyemburkan cairan kuning mirip belerang yang mengeluarkan asap. Ciri-ciri sarang laba-laba ini adalah adanya sarang berwarna kekuningan seperti yang ku temukan saat ini.


Aku harus sangat berhati-hati kali ini. Tak pernah terbayangkan aku harus bertarung seorang diri tanpa adanya penyerang di depan. Saat masih di akademi hunter hingga saat ini, setiap berburu kami selalu bergerak dalam kelompok. Aku yang tak ahli menggunakan pedang memilih menjadi penyerang jarak jauh yang mendukung dari belakang. Kapten pernah berkata bahwa aku tak cocok untuk bertarung dari jarak dekat karena staminaku yang kurang baik. Sebaliknya pengelihatan dan pemahamanku lebih baik dari yang lain. Karena itu aku di tempatkan sebagai penyerang jarak jauh.


Sulit bagiku untuk bertarung seorang diri karena aku sama sekali tak pernah melatih kemampuan bela diriku.  Bahkan tak pernah terpikir sekali pun dalam otakku untuk bergerak sendirian seperti ini. Mungkin aku sedikit iri dengan sahabatku Livy. Gerakannya begitu lincah dan ia berani menerjang musuh yang sulit dikalahkan sekalipun. Tak diragukan lagi ia akan menjadi salah satu hunter terbaik di masa depan. Ditambah lagi ia adalah anak angkat dari Profesor Cage. Sungguh hidup yang sempurna menurutku.


Saat keluar dari tempat ini aku akan berusaha sekuat tenaga untuk mendukungnya dari belakang. Selama menjalankan misi, Livy berkali-kali terluka parah dan hampir tewas. Aku sangat menyesal karena meninggalkannya bertarung sendiri melawan ancient lizard saat itu. Bahkan hingga detik ini penyesalan itu masih saja menghantuiku. Andai saja saat itu aku lebih kuat, aku yakin bisa membuat perubahan kecil dari hasil misi saat itu.


Kini aku lagi-lagi terpisah dari Livy. Meski kali ini ia di dampingi oleh Profesor, aku sungguh ingin cepat bertemu dengannya lagi dan mendukungnya dari belakang. Namun untuk saat ini aku harus membereskan kawanan anak laba-laba sulfur yang mulai mendekat ke arahku.