Dragon Era: Legend of the Dragon Hunter

Dragon Era: Legend of the Dragon Hunter
Amarah Livy



Setelah mendekati jalan keluar lorong itu aku segera berlari sekuat tenaga dan melompat begitu keluar lorong. Kulemparkan kaki laba-laba yang ada di tangan kiriku ke arah naga putih itu. Namun tiba-tiba Profesor menangkis seranganku yang mengarah ke naga putih. Aku mendarat dan langsung berjalan ke arah Ibu.


“Ibu, kumohon kali ini saja jangan halangi aku!”


“Kau harus mendinginkan kepalamu, Livy!”


Ku lepas ancient weapon milik Noel dan melemparnya pada kapten.


“Pegang ini, kapten! Busur itu milik Noel.”


“Duduklah dan tenangkan pikiranmu, Livy!”


“Apa Ibu tak lihat kondisi Noel? Dia kehilangan tangan kirinya! Baru saja ia mendapat ancient weapon, dan karirnya akan berhenti sampai sini. Ibu pikir aku bisa tenang melihat sahabatku akan mati kehabisan darah? Semua karena naga bodoh ini! Setidaknya akan kupenggal kepalanya sebagai piala terakhir untuk Noel!”


“Aku tak akan membiarkannya, Livy!”


“Ibu memilih monster ini daripada sahabatku? Apa pikiran Ibu masih sehat?”


“Ibu bilang tenangkan pikiranmu dan lihat kondisi Noel!”


Ibu berkata seperti itu sambil menamparku dengan sangat keras. Namun aku yang sudah dikuasai amarah tak bisa berhenti. Keinginan membunuh justru semakin kuat mempengaruhiku. Aku tak menjawab lagi perkataan Ibu. Aku mencabut satu lagi ancient sword di punggungku dengan tangan kiri. Kugunakan shadow step untuk melewati Ibu dan melompat ke arah naga putih yang sejak tadi hanya terdiam. Ku angkat kedua pedang di tanganku dan ingin menebasnya. Namun sesaat sebelum mengenainya api berwarna hitam muncul di depanku dan berubah menjadi lempengan berbentuk seperti perisai.


Aku tak berniat menghentikan gerakanku. Kulanjutkan gerakanku dengan menebas perisai yang dibuat Ibu. Saat mengenai perisai itu aku justru terpental karena terjadi ledakan. Aku tersungkur di atas tanah akibat ledakan.


“Berhentilah sebelum Ibu memaksamu, Livy!”


“Coba saja!”


Aku melesat ke arah Profesor dan menghilang dengan shadow step saat mendekatinya. Sepertinya Profesor terkecoh dengan gerakanku. Aku lagi-lagi melompat dan mencoba menebas leher naga putih.


“Seni sihir naga... Benang gaib dewa naga.”


Leher, kedua tangan, dan kakiku terikat benang tipis berwarna hitam. Aku tak bisa bergerak sedikit pun. Bahkan gerakanku terhenti di udara.


“Tenanglah! Benang itu akan menyakitimu bila kau terus mencoba melepasnya.”


Aku perlahan turun di tarik oleh benang yang Ibu keluarkan dari lingkaran sihir yang ada di belakangnya. Semakin aku coba melepasnya, semakin erat benang itu mengikatku. Aku tak punya pilihan selain harus mendengarkan Ibu. Shadow step pun tak bisa kugunakan untuk lari.


Ibu membalikan tubuhku ke arah Noel sambil berkata.


“Lihatlah! Tangan Noel sedang dipulihkan. Bila kau membunuh naga itu, tangannya tak akan bisa kembali lagi seperti semula! Hanya dia yang bisa memulihkan tangan sahabatmu. Sekarang kau harus tenang dan menunggu! Jangan gegabah, Livy!”


Aku melepas ancient sword di tanganku hingga terjatuh ke tanah. Ibu pun melepas sihirnya dan aku hanya terduduk lemas. Bila aku memotong leher naga itu tadi mungkin Noel tak akan bisa menjadi hunter lagi.


Aku kembali menangisi sahabatku yang hingga kini masih belum juga sadar.


“Kita hanya perlu menunggu hingga tangannya kembali utuh. Bersabarlah, Livy!”


Aku tak bisa berkata apa-apa. Hanya tertunduk sambil menangis dan berharap Noel cepat sadar. Kapten pun hanya diam dan tak berkata apa-apa sejak tadi. Kami menunggu cukup lama dan memperhatikan tangan Noel yang hancur sedikit demi sedikit mulai membaik. Naga putih itu juga tetap terdiam selama menggunakan sihirnya untuk memperbaiki tangan Noel.


Ibu bercerita kalau pendahulunya pernah bertemu dan bertarung dengan naga putih ini. Saat itu pendahulunya harus masuk kedalam gerbang yang dijaga oleh naga putih. Karena tak ada jalan lain selain mengalahkan naga putih, akhirnya mereka bertarung dan naga putih berhasil dikalahkan. Kini naga putih adalah dewa naga satu-satunya yang masih berada di bumi. Naga ini juga tak bisa mati karena kemampuan regenerasinya yang begitu kuat. Meski kepalanya di penggal, naga ini akan bangkit lagi setelah beberapa jam. Bahkan bila hanya tersisa satu cakarnya, naga ini bisa pulih lagi seperti semula. Karena kemampuan itulah hingga saat ini ia masih berada di tempat ini.


“Lalu apa yang terjadi dengan pemegang ancient sword Ibu yang sebelumnya?”


“Dia berhasil menguasai dunia. Memiliki segalanya, dan kehilangan segalanya.”


“Seperti apa orangnya?”


“Hmm... Hanya seorang pria penyendiri dengan dengan kemampuan bela diri dan sihir terhebat di era itu. Sihir yang kugunakan juga semuanya adalah hasil ciptaannya.”


“Apa Ibu mengetahui pemegang ancient sword lain terdahulu?”


“Setidaknya ada beberapa yang ku ketahui, termasuk pemegang pedang yang kau gunakan sekarang. Atau sebut saja pendahulumu.”


“Seperti apa dia?”


“Dia kebalikan darimu, Livy. Sifatnya sangat tenang. Mungkin bisa dianggap manusia paling jenius di era itu.”


“Berarti aku kekanakan dan bodoh maksud Ibu?”


“Yah... Sedikit.”


“Apa dia kuat?”


“Sangat kuat walau akhirnya dikalahkan oleh pendahuluku. 2 orang itu bisa dengan mudah menghancurkan segalanya. Bahkan salah satunya berani melawan dewa, kan.”


“Ibu menjadi begitu kuat seperti sekarang karena buku itu? Apa aku akan menemukannya juga?”


“Yang meninggalkan catatan hanya pendahuluku. Dengan konsekuensi aku tak bisa terhubung olehnya. Berbeda denganmu yang bisa meminjam kekuatan pendahulumu.”


“Ah... Aku jadi ingat saat melawan basilisk raksasa. Aku mendengar suara laki-laki yang memberiku kemampuan menggunakan sihir saat itu.”


“Walau butuh waktu, kau akan jadi sehebat orang itu bila terus melatih kemampuanmu. Kini semakin banyak ancient weapon bermunculan. Bahkan yang Noel miliki saat ini. Aku tak pernah melihat pendahulunya. Bahkan aku tak yakin ia mempunyai pendahulu. Kemungkinan Noel adalah pemegang pertama ancient weapon itu.”


“Kenapa Ibu bisa menduga seperti itu?”


“Apa kau sadar, warna ancient weapon bermacam-macam?”


“Tentu. Di sini ada 4, dan semuanya berbeda warna.”


“Setiap ancient weapon berwarna menurut dewanya masing-masing yang berwujud naga. Jadi bila pedangku ini berwana hitam, wujud naganya pun berwarna hitam. Begitu juga milikmu dan Afhkar. Lalu bagaimana dengan milik Noel? Bahkan dewa itu masih berada di depan kita. Tak menghilang seperti dewa lain.”


“Hah... Jadi maksud ibu naga bodoh ini benar-benar dewa?”


“Tentu saja. Kau pikir ada monster yang bisa bicara?”


Aku sungguh tak berpikir seperti itu sejak tadi. Lalu kemana dewa yang lain? Apa yang akan terjadi dengan Noel sebagai pemilik pertama dari ancient weaponnya? Kami mewarisi kemampuan dari pendahulu kami. Namun Noel tak memiliki pendahulu. Ia harus belajar dari awal dan memikirkan sihir dan segala kemampuan dari busur itu sendiri. Jalan yang Noel akan tempuh untuk menjadi kuat justru akan lebih sulit dariku. Semua gara-gara naga bodoh berwarna putih ini.