Dragon Era: Legend of the Dragon Hunter

Dragon Era: Legend of the Dragon Hunter
Area Aneh dan Serangan Misterius



Matahari telah terbit. Kami bersiap untuk melanjutkan misi, sementara Dean akan kembali ke Eden dan meminta bantuan. Selesai makan pagi kami sudah siap untuk berangkat menyeberangi sungai. Beruntung terdapat batu besar yang memanjang ke seberang sungai jadi hanya dengan melompat menggunakan kuda besi, kami bisa sampai di seberang. Saat kulihat ke belakang Dean sudah memasuki hutan.


Kuharap tak ada hal berbahaya yang akan menghambat perjalanannya. Kami pun sebentar lagi akan kembali memasuki hutan yang aku yakin akan lebih berbahaya dari sebelumnya. Pepohonan di seberang sungai ini begitu unik dan aneh menurutku. Berukuran besar, dan semua rantingnya mengarah ke atas seperti sebuah jamur bila dilihat dari kejauhan. Di tanah hutan ini juga terdapat banyak batuan alam yang membuat jalan sedikit tidak rata. Di beberapa tempat terdapat lumut yang menempel di bebatuan yang lebih besar tanda tempat ini jarang terjamah oleh penjelajah.


Semua lantai hutan tertutup rumput yang pendek namun menyebar seperti sebuah karpet yang terbentuk secara alami. Di beberapa tempat juga terlihat tanaman kecil dan semak yang tumbuh subur membentuk bulatan seperti bola. Kami menyusuri jalan yang sedikit menanjak seperti sebuah tangga. Sepertinya ini adalah sebuah bangunan masa lalu yang di tata dengan batu dan kini tertutup semak dan rumput. Semakin ke atas jalan semakin menyempit seperti bentuk segitiga. Di bagian puncak terdapat sebuah gerbang kecil dari susunan batu alam yang ditumpuk.


“Ini adalah bangunan, kan? Seperti kuil yang pernah Ibu ceritakan. Batuannya juga mirip dengan bekas kuil tempat aku menemukan pedang ini.”


“Kau benar, Livy. Saat mencabut ancient swordku dari dalam danau juga batuannya mirip seperti ini.”


“Kapten juga? Setelah kuperhatikan memang mirip.”


Namun tak kutemukan lambang atau ukiran naga di tempat ini. Mungkin karena tertutup tanah dan rerumputan, kami tak melihat ukiran apa pun di tempat ini.


“Kalau Ibu ikut... Pasti ia akan memaksa kita untuk mengabaikan misi dan meneliti tempat ini.”


“Itu sudah pasti.”


Aku pun tak berniat mengoleksi ancient weapon. Jadi tak perlu memeriksa bangunan ini. Setelah kembali dari misi akan kuceritakan pada ibu agar ia kesini. Setelah melewati gerbang batu tadi kami kembali dihadapkan dengan jalan yang menurun. Aku rasa memang benar ini sebuah bangunan.


“Kapten, apa Dean akan baik-baik saja? Ia selalu jatuh pingsan setiap kita berhadapan dengan monster.”


“Tenanglah, Noel... Yang bersamanya adalah penjelajah yang berpengalaman. Mereka pasti bisa melakukan sesuatu bila situasi menjadi berbahaya.


Setelah menuruni area aneh kami menyusuri jalan rata yang semakin lebat di penuhi semak dan pepohonan seperti jamur ini. Dilihat dari arah manapun pohon ini begitu unik hingga aku ingin sekali membawanya ke Eden. Kulit dari pohon aneh ini begitu halus hampir seperti pohon yang telah di lepas kulitnya. Rantingnya berbelok-belok memanjang seperti basilisk yang bergerak lurus.


Bila tak ada halangan esok hari kami akan keluar dari area hutan ini. Meski terdapat banyak pohon besar area ini masih saja terlalu panas untukku. Rasanya seperti ingin membenamkan diriku ke dalam bak mandi yang dingin untuk menyegarkan diri. Tak salah bila area ini disebut area tropis karena cuaca serta vegetasi yang sangat beragam. Tak ada keanehan di tempat ini selain pepohonan yang unik. Sepertinya area ini tak di tinggali monster berbahaya. Kami mempercepat kuda besi karena tanah yang kami lalui mulai rata dan tak banyak batu seperti area sebelumnya. Semak-semak pun mulai banyak terdapat di area ini bahkan meninggi hingga melebihi kami.


Tempat ini tak bisa kami gunakan untuk bermalam karena terlalu tertutup dan berbahaya. Jadi kami harus keluar dari area yang terlalu banyak semak saat hari mulai gelap. Formasi kami tak berubah untuk saat ini. Aku masih di bagian paling belakang dan Noel berada di depan, serta kapten di tengah sambil memberi arahan jalan yang harus dilalui. Noel tiba-tiba berhenti tanpa peringatan. Hingga aku hampir menabrak kapten yang ada di depanku.


“Ini lubang apa ya?”


Dinding bagian dalam lubang terlihat rata dan membentuk ukiran spiral kecil yang turun ke bawah. Tak terpikir siapa yang membentuk lubang aneh ini. Bila lubang terbentuk akibat tabrakan meteor tak mungkin berbentuk lingkaran sempurna dengan sisi yang datar seperti ini. Sepertinya lubang ini masih berhubungan dengan bangunan yang tertutup vegetasi yang kami lewati tadi.


Kami tentunya harus memutari lubang ini untuk melanjutkan penjelajahan. Sambil memutarinya aku terus melihat ke dasar lubang karena penasaran.


“Kurasa lubang ini jauh lebih dalam dari yang terlihat... Bagian dasar airnya saja hanya terlihat gelap seperti itu. Padahal matahari persis berada di atas.”


“Kurasa juga begitu, Liv. Kita tak perlu memeriksanya, kan?”


“Tentu saja... Biarkan para arkeolog yang akan kesini.”


Setelah menyusuri tepi lubang kami melanjutkan perjalanan.


“Kapten, Liv, waspada!”


“Tambah kecepatan!”


“Siap, kapten!”


Kami mempercepat pergerakan kami karena aku pun menyadari seperti ada pergerakan di semak lebat yang ada di kiri kami. Karena masih merasa lelah akibat pertarungan sebelumnya, kami pun enggan bertarung bila tidak perlu. Aku menyadari sebenarnya bukan tubuh kami yang lelah. Melainkan mental kami yang terus tergerus akibat bertarung dengan monster-monster berbahanya belakangan ini.


Walau sebagai seorang hunter seharusnya tak takut akan gugur dalam misi, namun kami bukanlah orang bodoh yang menerjang maut dan mati konyol. Kali ini pun aku benar-benar ingin menghindari pertarungan untuk memperbaiki mentalku yang mulai melemah.


Sejak tadi pergerakan aneh di semak yang memanjang di kiri kami terus mengikuti. Bahkan dengan kecepatan ini sesuatu itu terus mengejar hingga hampir berada sejajar di kiri kami.


Tiba-tiba ada sesuatu yang dilempar ke arahku dari semak di kiri. Aku menyadarinya sebelum mengenaiku dan menunduk. Benda itu menancap di batang pohon di kananku dengan begitu cepat.


“Kapten, Noel, itu bukan monster!”


Aku menyadari benda yang dilempar tadi. Itu adalah sebuah kampak dengan mata pisau dari batu dan bergagang kayu dengan panjang sekitar 15cm yang di ikat menggunakan sesuatu seperti tali. Kami pun berhenti dan menarik senjata dari punggung kami. Aku langsung turun dan ingin segera melihat orang bodoh mana yang melempar benda aneh itu ke arahku.