Dragon Era: Legend of the Dragon Hunter

Dragon Era: Legend of the Dragon Hunter
Obrolan dan Tekad



Lokasi gua memang tak terlalu jauh. Kami berhasil sampai sebelum sore hari. Kami juga menyisir area sekitar pintu masuk gua untuk mencari tanda-tanda monster. Tak ditemukan jejak dari monster berbahaya di area sekitar gua. Profesor juga sempat masuk ke dalam gua walau hanya sebentar. Ibu memastikan kalau gua tidak terendam air.


Aku sangat berharap basilisk yang ku lawan saat menjalani misi masih tetap hidup dalam gua, dan bisa bertarung lagi dengan makhluk itu. Rasanya tak tenang bila tidak bisa membalas dendam. Kami akan bermalam di area pintu masuk gua. Karena waktu masih cukup panjang, kami mempersiapkan persenjataan yang akan dibawa besok. Noel juga membuat peledak kecil untuk kami bawa, meskipun aku tak berharap menggunakan peledak di dalam tanah. Jika sedang sial peledak justru akan membahayakan bila digunakan berlebihan di dalam tanah.


“Livy, lepaskan pedang di punggung tanganmu. Kali ini kau harus fokus menggunakan ancient sword agar terbiasa. Jangan pernah lepaskan ancient sword dari tanganmu ketika mulai masuk kedalam gua!”


“Baik bu.”


“Noel, usahakan jangan menggunakan peledak! Gunakan hanya di saat genting saja!”


“Siap, Profesor.”


“Afhkar, jangan terlalu bergantung dengan ancient sword! Akan sulit menggunakan pedang sebesar itu dalam gua!”


“Baiklah.”


Aku pun melepas pedang di punggung tanganku untuk memudahkan pergerakan. Noel sudah menyelesaikan peledak kecil dan membagikan beberapa pada kami. Ia kini sibuk menyetel busurnya untuk serangan jarak dekat. Sedangkan Ibu terus mengawasi keadaan sekitar dan berdiam di atas pohon. Kapten sendiri mulai mengenakan pedang di punggung tangan yang biasanya selalu ia lepas.


“Liv, bagaimana keadaanmu? Aku tahu kau khawatir karena kau baru saja pulih. Staminamu pasti terkuras saat di perjalanan. Apalagi di cuaca yang seperti ini.”


“Aku baik-baik saja, Noel. Justru aku tak sabar untuk bertarung agar lebih bisa menguasai pedang baru ini. Kau tahu kan? Sejak dulu aku akan berkembang melalui pertarungan langsung, bukan latihan.”


Aku kembali terjaga saat malam harinya. Rasanya ada sesuatu yang membuat perasaanku selalu gelisah sejak berangkat kemarin. Kurasa ini karena trauma yang kudapat dari gua ini, atau hal lain yang masih berhubungan. Yang jelas aku tak akan mundur hanya karena perasaan yang seperti takut ini. Akan ku bersihkan gua ini agar Profesor bisa bebas meneliti peninggalan yang ada di dalamnya.


Malam itu Ibu menghampiriku dan bertanya tentang hal yang tak masuk akal sama sekali.


“Livy, kau tidak berpikir untuk berhenti menjadi hunter dan menikah lalu hidup dengan tenang di Eden?”


“Apa Ibu begitu benci padaku dan ingin mengusirku dari rumah?”


“Bukan begitu, dasar anak bodoh. Walau bukan Ibu kandungmu, aku selalu menginginkan kebahagiaan untukmu. Aku bahkan siap menghidupimu selamanya kalau itu diperlukan. Lagi pula hartaku tak akan habis hanya karena itu. Aku sungguh menganggapmu anak kandungku sendiri.”


Aku sempat terdiam sebentar saat Ibu berkata seperti itu. Seumur hidup hanya beliau yang memberikan kasih sayang terbesar seperti ini padaku. Walau begitu tujuan hidupku tak akan berubah. Aku hanya ingin menjadi yang terhebat supaya bisa terus menjelajah bersama Ibu dan melindunginya.


“Daripada mencemaskanku, bukankah ibu sendiri belum menikah? Kenapa bukan Ibu lebih dulu? Malah menyuruhku!”


“Kau pasti tahu kan, tak ada laki-laki yang lebih hebat dariku di Eden. Bagaimana bisa aku menikahi salah satu dari mereka?”


“Ibu sedang menyombongkan diri?”


“Aku serius mengatakannya. Pertimbangkanlah, Livy!”


“ Ibu tahu kan... Mimpiku sejak Ibu merawatku? Tujuan hidupku hanya bisa menjelajah bersama dan melindungi Ibu saat dalam penelitian. Sampai detik ini dan seterusnya hal itu tak akan pernah berubah. Bahkan bila seluruh Eden memusuhi Ibu, aku akan siap membantai mereka semua dengan tanganku. Sekuat itulah tekadku. Aku sungguh tak peduli pada umat manusia. Dalam pikiranku hanya ibu yang harus aku lindungi. Tujuanku menjadi seorang penjelajah hunter juga karena itu.”


“Aku jadi merasa telah mengambil masa depanmu.”


“Kau yang menyelamatkanku seorang anak yang terlantar. Kalau tak ada Ibu, mungkin aku sudah mati di tempat sampah saat ini. Masa depanku adalah Ibu. Jadi tolong jangan tentang keinginanku.”


“Baiklah kalau begitu. Jadilah kuat hingga tak ada monster yang bisa mengalahkanmu! Di saat itu aku akan meminta bantuanmu untuk melindungiku!”


“Serahkan padaku!”


“Apa aku mengganggu obrolan antara anak dan orang tuanya?”


Noel tiba-tiba mengatakan itu sambil muncul di tengah kami dari belakang.


“ kau sendiri bagaimana Noel?apa suatu saat akan menikah dan hidup tenang di Eden?”


“hmm... Mungkin suatu saat. Namun saat ini aku akan terus berpetualang bersama Livy. Profesor sendiri, kenapa tidak menikah dengan kapten Afhkar?”


“Hah... Anak bodoh itu? Kalau aku menikah dengannya, justru aku yang akan melindunginya dari monster.”


“Jadi Profesor tak ada keinginan menikah dan hidup normal?”


“tidak sama sekali, Noel.”


“Kau bagaimana, Liv? Kau kan punya sangat banyak penggemar di kalangan hunter dan murid akademi. Mereka bahkan menjulukimu putri lava.”


“Hah... Putri lava?”


“Ia. Setelah misi di gunung berapi kemarin, mereka menjulukimu seperti itu. Apalagi ditambah dengan ancient swordmu yang berwarna merah itu. Julukan itu sepertinya sangat cocok untukmu.”


“Kau meledekku, Noel?”


Noel dan Profesor hanya tertawa kecil. Malam itu kami terus berbincang antara wanita. Sedangkan kapten terus tertidur tanpa kami bangunkan. Aku menyadari perkataan Noel tentang pernikahan. Aku pun tahu kalau suatu saat kami akan berpisah. Karena sebagai keluarga bangsawan pendiri Eden Shelter, Noel wajib untuk menikah. Di tambah lagi ia adalah anak perempuan satu-satunya. Kakak dan adik Noel semuanya laki-laki. Noel tak akan bisa bersaing untuk meneruskan nama bangsawan. Walau begitu menyedihkan rasanya bila tim ini akan terpecah. Tanpa terasa pagi hari tiba. Langit masih saja di tutupi awan berwarna abu-abu. Sedangkan di daratan tertutup kabut tipis yang membuat suasana tak nyaman. Lolongan serigala saling bersahutan menandakan mereka mendapatkan mangsa pagi ini.


Setelah kapten bangun kami bersiap di depan pintu gua. Kuda besi akan kami tinggalkan di dekat pintu gua, sedangkan perbekalan akan kami bawa secukupnya. Kami akan bergerak cepat dalam gua ini dan tetap berada dalam tim. Profesor melarang kami untuk berpencar. Lebih baik menjelajah perlahan namun lebih aman. Setelah semua siap sekali lagi aku melangkahkan kaki masuk kedalam gua unik ini. Apapun yang menungguku nanti, akan aku serahkan pada diriku yang nanti.