Dragon Era: Legend of the Dragon Hunter

Dragon Era: Legend of the Dragon Hunter
Akhir Dari Loreley



Aku melompat ke arah kiri dengan loreley sebagai tumpuan. Sambil melompat kutarik pedang di tangan kananku yang masih menancap di kepala loreley. Kuangkat pedang itu keatas dan langsung menebas tubuh loreley yang ada di depanku. Di saat genting seperti ini tentunya setiap manusia akan meningkatkan semua indranya hingga batas maksimal, terutama pengelihatan dan pendengaran. Namun menurutku ada satu hal lagi yang meningkat bahkan begitu tajam. Yaitu naluri bertahan hidup. Perasaan yang sudah dilatih tanpa henti, pemikiran cepat, dan reaksi fisik yang meningkat drastis adalah bagian dari naluri itu.


Aku langsung menyadari bahwa ada loreley yang mendekat dari kepulan asap yang masih saja menghalangi pandangan. Tanpa melihat lebih dulu, ku putar tubuhku ke arah kiri sambil merentangkan tangan kiriku yang siap untuk menyambut kedatangan loreley itu dengan satu tebasan di leher.


Aku menoleh sedikit ke arah belakang untuk melihat kondisi anggota tim dan Profesor. Sepertinya jumlah loreley yang muncul dari tempat datangnya Noel tidak terlalu banyak. Kemungkinan mereka masih terjebak oleh kawat baja yang dipasang di pintu lorong.


“JANGAN LENGAH, LIVY!”


Teriakan profesor membuatku kembali tersadar bahwa saat ini kami ada di tengah pertempuran. Loreley yang mendekatiku pun semakin cepat dan banyak.


“Waktunya untuk serius!”


Kupasang kuda-kuda dengan kaki kiri berada dibagian depan dan kaki kanan di belakan, kuturunkan sedikit posisi berdiriku, dengan pedang di tangan kanan sejajar dengan telinga dan mengarah ke depan. Sementara pedang si tangan kiri berada dibawah dengan ujung pedang mengarah ke sisi luar kiriku.


“Seni bela diri naga... Tebasan taring naga.”


Aku melesat masuk kedalam kepulan asap yang mulai menipis dan menebas apa pun yang bisa kulihat. Namun loreley yang datang justru semakin banyak dan tak ada hentinya. Seiring semakin banyaknya darah yang mengalir di lantai, aku pun memutuskan untuk mundur ketika mendengar suara Profesor.


“Livy... Menghindarlah!”


Tak perlu dipertanyakan lagi aku pun langsung melesat menjauh dari lorong.


“ Seni bela diri naga... Dentuman ekor naga.”


Serangan Profesor membelah dinding dari bagian atas hingga ke bawah dan menghancurkan lorong tempat para loreley itu muncul. Tak sampai di situ ketika menyentuh lantai pedang yang menjadi begitu besar itu juga menghasilkan ledakan besar yang sekali lagi menggetarkan seluruh ruangan tempat kami berada ini.


“ Livy... Bantulah Afhkar dan yang lainnya!”


Profesor terlihat begitu kelelahan dan berbicara dengan terengah-engah. Kurasa itu harga yang harus dibayar untuk jurus semengerikan itu. Serangan berskala besar seperti itu pastinya membutuhkan sangan banyak energi. Belum lagi harus mengayunkan pedang yang menjadi begitu besar itu. Sudah tentu akan menghabiskan seluruh tenaga yang dimiliki. Aku langsung menggunakan shadow step untuk mendekati Noel yang menyerang dari belakang, sementara kapten dan Dean sedang bertarung dari jarak dekat.


“ Seperti yang kau lihat, Liv... Di sini bisa kami kendalikan... Loreley yang muncul juga tak terlalu banyak.”


“ Baguslah... Kita bisa cepat menyelesaikan misi kali ini. Kau sepertinya juga sudah sangat terbiasa menggunakan busur itu.”


“ Awalnya memang sulit karena begitu ringan. Aku sempat melihat serangan profesor tadi. Apa suatu saat kita bisa menggunakan serangan sehebat itu, Liv?”


“ Yah... Mungkin... Bila kita tidak mati lebih dulu... “


Aku pun hanya terduduk di atas pecahan batu di sebelah Noel. Kurasa tak ada gunanya juga aku membantu mereka, karena keadaan sudah terkendali. Aku hanya tak mau merusak formasi dan mengganggu konsentrasi mereka. Setelah menunggu beberapa lama akhirnya kami selesai membasmi para loreley. Aliran darah dan tumpukan mayat terlihat sangat banyak hingga membuatku merinding. Kami kembali berkumpul di tengah ruangan.


Tak ada pilihan selain terus berjalan menyusuri lorong tempat Noel dan yang lain datang, karena lorong yang aku dan Profesor lalui saat masuk ruangan ini sudah hancur dan tak mungkin bisa dilalui lagi. Kami beristirahat sebentar dan akan melanjutkan perjalanan setelah mengumpulkan kembali stamina.


Sambil beristirahat kami berdiskusi untuk menentukan langkah selanjutnya. Karena kami sama-sama berpikir bahwa sudah memusnahkan semua loreley yang ada, akhirnya kami putuskan untuk menyudahi penjelajahan dan mencari jalan keluar dari tempat ini. Kami juga berpikir untuk mencari jalan keluar berbeda dari tempat kami masuk. Alasannya adalah hanya untuk memastikan bahwa loreley di tempat ini sudah kami habisi semua.


Setelah memulihkan stamina di tempat yang dibanjiri oleh darah ini, kami mulai bergerak memasuki lorong besar untuk mencari jalan keluar. Walau tak terlalu terasa aku yakin jalan yang kami lalui sedikit menanjak di beberapa bagian. Kami hanya berjalan santai dan berbincang karena merasa area ini sudah aman dan tak perlu meningkatkan kewaspadaan. Sungguh beruntung kami bersama Profesor kali ini. Bila tak ada beliau kurasa penjelajahan tempat ini akan berlangsung jauh lebih lama dan pembasmian loreley akan lebih sulit lagi.


Setelah beberapa jam berjalan kami menemukan ruangan yang di atap bagian tengahnya terdapat lingkaran yang tertutup besi. Bentuk ini sama seperti lingkaran tempat kami masuk. Ruangan ini tak seluas ruangan tempat kami membunuh ratu loreley, namun ada beberapa  Yang membagi ruangan dan memiliki dinding batu. Kami berpencar ke seluruh bagian ruangan berusaha menemukan pemicu tersembunyi untuk membuka jalan ke permukaan tanah. Mencari dengan teliti di setiap sudut yang ada di dinding batu ruangan ini.


Aku, kapten, Noel, dan Dean tak bisa menemukan apa pun diruangan kosong ini. Saat kami hampir menyerah dan saling menatap, Profesor masih sibuk melihat kesana-kemari. Aku yakin ia menemukan sesuatu dan berusaha memahami mekanisme tersembunyi di ruangan ini. Sebagai hunter tentu kemampuan kami tak sebanding dengan seorang arkeolog dalam hal mencari petunjuk di dalam reruntuhan.


Profesor kini berdiri di salah satu sudut ruangan dan diam menatap dinding batu yang ada disana. Sesekali melihat ke atas, sesekali pula melihat kebawah. Kami yang merasa tak berguna hanya diam karena tak ingin mengganggu konsentrasi Profesor. Setelah beberapa lama berdiri menghadap sudut tembok, akhirnya profesor menekan salah satu batu berukuran persegi yang tertempel di sana. Tiba-tiba ruangan bergetar sedikit dan lubang di langit-langit ruangan terbuka.


“ Afhkar... Berdirilah sejajar dengan lubang di atas!”


Mendengar perintah dari Profesor, kapten langsung melakukannya tanpa bertanya lagi. Entah apa lagi yang dilakukan profesor, kami semua langsung terkejut saat bagian lantai yang kapten pijak tiba-tiba naik ke atas, dan terus ke atas lalu turun kembali. Namun setelah lantai itu turun kembali kapten sudah tak ada. Ia sudah keluar ke permukaan.


Dilanjutkan dengan kami satu persatu keluar dari tempat aneh itu hingga Profesor yang terakhir keluar. Rasanya sudah sangat lama tak menghirup udara segar dan menatap langit yang begitu luas. Kami keluar dari sarang loreley saat malam hari. Jutaan bintang yang berkelip seakan menyambut kami yang baru selesai melakukan penjelajahan di tempat yang misterius. Entah berapa lama kami ada di dalam sana, dan entah apa tujuan tempat itu dibangun, aku sama sekali tak ingin memikirkannya. Yang kurasakan sekarang hanya perasaan puas dan lega karena kami semua dapat keluar dan menyelesaikan misi dengan selamat.