Dragon Era: Legend of the Dragon Hunter

Dragon Era: Legend of the Dragon Hunter
Shadow Step



“Pertama kau harus mengendalikan emosimu lebih dulu!”


“Caranya?”


“Meditasi... Kosongkan pikiranmu dan rasakan alam sekitar! Lakukanlah sekarang hingga aku bilang cukup!”


Aku meletakan kembali ancient sword ke punggungku. Duduk bersila dan meletakan tanganku di kedua kaki. Kupejamkan mata dan mencoba merasakan keadaan sekitarku dengan tenang. Awalnya sangat sulit menekan emosi dan mengosongkan pikiran. Mungkin karena kesal pada tua bangka itu, aku jadi kesulitan menenangkan diri. Namun entar sudah berapa lama aku hanya duduk diam dan mulai merasa tenang. Semua pikiran negatif hilang, dan rasanya seperti aliran air sungai yang pelan dan sangat tenang.


Aku mulai meradakan sekelilingku dengan radius yang lebih luas. Seperti melihat langsung sekelilingku bahkan menembus tembok. Aku juga tahu keberadaan kakek tua itu. Ia beberapa kali berpindah tempat sambil terus mengawasiku. Rasanya aku bisa menghindari serangan sambil tetap menutup mataku.


“Cukup, anak kecil! Sekarang buka matamu!”


“Lalu, apa lagi?”


“Berdirilah! Renggangkan kakimu, dan buat kuda-kuda sejajar!”


“Seperti ini?”


“lebih turunkan lagi posisimu! Pusatkan berat badanmu di telapak kaki! Bernafaslah melalui hidung dan buang lewat mulut!”


Aku mengikuti apa yang di perintahkan kakek tua itu sesuai arahannya. Aku berusaha secepat mungkin menguasai ajarannya agar bisa menyusul Ibu dan yang lain. Beberapa jam aku melakukan pernafasan yang di perintahkan kakek itu. Masih belum ada tanda-tanda ia akan menghentikan pernafasan yang aku lakukan ini.


Aku mulai kelelahan mempertahankan kuda-kuda. Keringat pun sudah membanjiri tubuhku, dan kakiku seakan mati rasa.


“Kau sudah melakukannya dengan baik, Livy!”


“Lalu... Apa lagi?”


“Istirahatlah sebentar! Tak perlu terburu-buru.”


“Baiklah.”


Jujur saja kakiku sangat lemas hingga sulit di gerakkan. Aku masih penasaran tentang siapa kakek ini sebenarnya. Ibu seperti mengenalnya. Kemampuan mereka juga mirip. Semakin banyak berpikir semakin banyak pertanyaan yang muncul di kepalaku.


“kakek tua, sebenarnya berapa umurmu? Kenapa tidak mati?”


“Dasar anak kurang ajar! Entah sudah berapa lama aku hidup. Yang jelas lebih dari manusia.”


“lebih tua dari manusia normal pada umumnya maksudmu?”


“Aku mengenal semua pemegang ancient sword sebelumnya.”


“Kau tahu siapa yang memegang ancient sword yang sekarang aku gunakan?”


“Tentu saja.”


“Jauh lebih kuat darimu, anak kecil. Tapi aku jauh lebih kuat darinya.”


Aku jadi penasaran siapa orang bodoh yang meletakan pedang ini di ekor patung naga. Aku tak akan bertanya lebih jauh tentang pendahuluku. Yang perlu aku lakukan hanya terus berkembang dan menjadi kuat. Untuk saat ini setidaknya aku harus setara dengan Ibu. Lalu kedepannya aku harus lebih kuat darinya agar aku bisa melindunginya. Pertama aku harus mengalahkan kakek tua ini. Walaupun ia mungkin lebih hebat dari Ibu, namun kecerdikan Ibu sungguh tak ada tandingannya. Ibuku pasti mampu mengalahkan kakek ini.


Aku akan menyusul kemampuannya sedikit demi sedikit.


“Hei, kakek tua, ayo lanjutkan! Sekarang apa yang harus aku lakukan?”


“Pertama kau harus belajar cara meringankan tubuh agar bisa menggunakan jurus dasar Shadow step. Berbeda dengan teleport yang meninggalkan asap tipis, shadow step adalah pergerakan murni yang sangat cepat. Biar ku perlihatkan perbedaannya.”


Kakek itu memperagakan kedua gerakan yang ia sebutkan tadi. Memang benar perbedaannya terlihat sangat jelas. Setelah bermeditasi aku dapat merasakan suatu keberadaan di sekitarku. Namun saat kakek itu menggunakan teknik teleport, keberadaannya benar-benar menghilang untuk sesaat, dan muncul di tempat berbeda. Sedangkan saat ia menggunakan shadow step  aku masih bisa merasakan keberadaannya, walau mataku masih belum bisa mengikuti gerakan itu.


“Kenapa kau tidak mengajarkan teleport saja kek?”


“Bodoh! Semua ada tahapannya. Kau tak akan bisa menggunakan teleport jika belum bisa menggunakan shadow step. Pelajarilah pelan-pelan! Tak ada untungnya bila kau tak mengerti dasarnya.”


Pada dasarnya shadow step hanyalah pergerakan biasa dengan lompatan-lompatan kecil dalam jarak pendek. Yang membedakan adalah saat melakukan lompatan kecil itu aku harus menggabungkannya dengan teknik pernafasan agar beratku menghilang namun tetap memiliki kekuatan yang sama. Saat kakek tua itu berdiri di atas pedangku juga ia melakukan trik yang sama. Melakukannya memang tak terlalu sulit. Tapi mengendalikannya tak semudah yang ku kira. Pernafasan akan sering lepas kontrol saat sedang bergerak. Artinya teknik ini sangat menguras stamina.


Staminaku yang belum juga pulih sejak saat keluar dari rumah sakit menjadi penghalang utama yang mempersulit belajar teknik ini. Aku sungguh tak membayangkan latihan apa yang Ibu lalui hingga ia bisa memakai teknik seperti ini dengan mudahnya tanpa terlihat kelelahan. Kini aku memutuskan membangun staminaku lebih dulu. Aku rutin melakukan pernafasan dan lari berkeliling. Sudah tak tahu berapa lama waktu yang aku lewati berlatih di sini.


Tentunya membangun stamina tak akan bisa dilakukan satu atau dua hari. Namun aku sungguh tak peduli. Yang ku inginkan adalah menguasai teknik ini secepat mungkin. Semakin lama aku semakin lancar menggunakan shadow step. Durasi dan jarak menggunakannya pun kian bertambah. Aku bahkan bisa memanjat gedung tinggi dengan sangat cepat menggunakan teknik ini. Terkadang aku juga melakukan meditasi untuk mempertajam indraku.


“Bagus. Kau bisa menggunakannya dalam waktu singkat. Meski belum sempurna, kau suda cukup mahir. Kita akan melanjutkan latihan lain. Namun kau tetap harus sempurnakan shadow stepmu nanti setelah keluar dari sini!”


“Baiklah... Lalu sekarang apa lagi?”


“Bermeditasilah lagi! Sebelum lanjut, kau harus mempertajam lagi indramu!”


Instruksinya tidak pernah salah selama ia melatihku. Karena itu aku langsung melakukan apa yang ia perintahkan tanpa banyak bertanya. Aku kembali terduduk dan bermeditasi. Merasakan sekitarku tanpa bereaksi. Aku pun tak perlu mengkhawatirkan kapten dan Noel karena mereka bersama Ibu. Monster apa pun yang Ibuku temui pasti bisa ia kalahkan. Aku yakin mereka baik-baik saja.


Noel dan kapten pasti sangat terkejut saat bertemu kembali nanti, dan melihat aku sudah jauh lebih kuat.


“Kek, apa bisa menggunakan shadow step di udara?”


“Mana mungkin bisa, dasar bodoh! Kau harus memiliki pijakan untuk melakukannya. Bila di udara kau harus gunakan teleport!”


“Kau belum mengajarkan teleport sama sekali padaku!”


“Nanti akan ku ajarkan! Sekarang lanjutkan saja meditasimu!”


Orang ini masih saja mengesalkan. Tak lama kemudian justru ia yang menyuruhku berdiri. Sepertinya kakek ini ingin cepat-cepat dikubur. Kakek itu memerintahkanku mencincang tiang lampu yang terbuat dari besi di pinggir jalan kota terbengkalai ini. Aku rasa itu hal yang mudah untuk dilakukan. Aku hanya perlu melompat beberapa kali untuk memotong bagian atas tiang lampu, dan mencincangnya. Selebihnya hanya perlu memotong dari segala arah hingga jadi potongan kecil.


Aku menyelesaikan perintahnya dengan cepat dan kembali disuruh bermeditasi, hingga aku merasa sangat bosab karena hanya duduk terdiam dan merasakan sekitar.