Dragon Era: Legend of the Dragon Hunter

Dragon Era: Legend of the Dragon Hunter
Tanah Terlupakan



Kami yang sedang terjebak di tengah kepungan anjing pemburu sama sekali tak bisa melarikan diri. Semua sudah mengeluarkan senjata masing-masing dan terus waspada sambil menunggu perintah kapten. Anjing pemburu sedikit demi sedikit mulai mendekat dan kami semakin terkepung.


“Livy, tunjukan sosok iblis merah!”


“Tolong jangan bercanda di situasi seperti ini, kapten!”


“Baiklah... Noel, serang arah depan! Dean arah kiri, Livy kau serang arah kanan, dan aku akan menyerang belakang kita!”


“Itu artinya kita menyerang tanpa rencana, kapten.”


“Begitulah....”


Semua bergerak sesuai arahan kapten. Noel yang sejak tadi sudah memegang peledak, melemparkannya ke arah depan untuk memecah formasi anjing pemburu. Dean dan kapten pun maju menyerang. Sementara aku masih saja malas bertarung. Sepertinya aku kecanduan memakai teknik seni bela diri naga. Bahkan untuk musuh seperti ini pun aku tetap menggunakannya.


“Seni bela diri naga... Tarian dewa naga.”


Serangan yang sama seperti aku menghadapi para penghianat Eden. Aku membelah monster-monster itu menjadi 2 dan membunuh 8 anjing pemburu dalam sekejap. Aku juga menggunakan shadow step untuk naik ke atas batu besar yang ada di tempat itu dan menikmati pemandangan matahari terbenam yang sungguh indah di tempat ini.


Kurasa aku tak perlu membantu yang lain karena aku yakin mereka sanggup menyelesaikan pertarungan dengan mudah. Ditambah Noel yang semakin mahir menggunakan ancient weaponnya. Setelah hampir 20 menit akhirnya mereka selesai membantai kawanan anjing pemburu.


“Wah... Wah... Sang iblis merah tega sekali ya membiarkan kami bertarung tanpa membantu.”


“Maaf ya... Aku hanya tak ingin melewatkan pemandangan matahari tenggelam di tempat ini tanpa bersantai.”


“Kapten, apa daging monster kali ini bisa dimakan?”


“Kali ini hanya kadal tanduk saja yang bisa dimakan. Anjing pemburu memiliki daging yang beracun untuk manusia.”


“Lalu... Bagaimana menguliti kadal tanduk dengan kulit seperti batu itu?”


“Dean, coba kau perlihatkan pada 2 pemalas ini cara mengulitinya! Livy, Noel buatlah api dan aku akan memasaknya nanti.”


“Siap kapten.”


Kami bersiap untuk makan malam dan beristirahat hari ini. Baru saja masuk area tanah terlupakan, sudah menghadapi 2 jenis monster. Apanya yang terlupakan? Daging kadal tanduk ternyata memiliki rasa yang begitu lembut. Di balik kulit kerasnya ternyata terdapat lemak yang cukup tebal dan itu membuat rasa dagingnya begitu gurih. Tak kusangka monster mengerikan itu begitu enak. Bagian terbaik adalah pangkal ekor yang penuh daging. Seperti biasa kami akan tidur secara bergantian untuk yang pertama berjaga adalah Dean dan kapten.


Perjalanan ini masih teramat jauh. Karena itu kami harus bisa menyimpan tenaga sebanyak mungkin untuk menghadapi bahaya yang akan menyambut kami di penjelajahan kali ini. Kapten dan Dean memiliki pengetahuan tentang daging monster. Jadi kami tak akan kesulitan dengan makanan selama perjalanan. Hanya saja aku masih tak mengerti kenapa perasaanku terus tak enak di misi ini. Semoga tak terjadi apa pun yang buruk di penjelajahan kali ini.


Kapten membangunkanku dan Noel untuk bergantian berjaga. Ternyata tak hanya sore hari, malam hari di tempat ini juga begitu indah. Langit dipenuhi jutaan bintang dari ujung ke ujung. Dengan dataran yang rata ini aku bisa melihat hamparan bintang yang saling bersahutan cahayanya. Lolongan anjing pemburu penguasa area ini beberapa kali terdengar dari kejauhan. Aku pun heran sebenarnya berapa banyak monster itu di daratan yang luas ini. Meski kapten berkata anjing pemburu sering di basmi di area ini, namun jumlahnya tetap banyak dan justru bertambah.


Mungkin akan menarik bila bisa menjinakan salah satunya. Namun sebelumnya aku harus kebal terhadap racun yang ada si liur anjing pemburu lebih dulu. Mungkin setelah misi ini aku akan mengajak Noel kembali ke tanah terlupakan lagi untuk menjinakan salah satu anjing pemburu. Bila beruntung mungkin aku akan menemukan sarang mereka dan menjinakan anjing yang ukurannya masih kecil agar mudah melatihnya.


“Aku sedikit ragu tentang misi ini, Noel.”


“Entahlah... Misi kali ini begitu samar... kau tahu kan banyak laporan aneh dari penjelajah yang pergi ke hutan karang?”


“Tentu saja... Aku lebih dulu menyelidiki laporan tentang tempat itu sebelum berangkat... Ayahku ternyata memiliki banyak laporan dari penjelajah yang di utus kesana. Aku pun sedikit ragu... Namun bila ada kau, kami pasti akan baik-baik saja kan? Kau kan si iblis merah. Aku tak yakin ada monster yang sanggup mengalahkanmu.”


“Aku sungguh tak suka dengan sebutan itu... Namun kau benar. Aku tak akan membiarkan kalian terluka... Kau ingat saat kau kehilangan tanganmu di gua bukit duri?”


“Tentu, Liv... Itu pengalaman yang sangat buruk. Laba-laba itu sangat sulit dikalahkan dengan serangan jarak jauh.”


“Kau benar, Noel. Itu adalah musuh terburuk untukmu... Saat melihatmu dalam keadaan separah itu aku sempat kehilangan akal sehat dan nyaris bertarung dengan Ibuku karena ia melindungi naga bodoh berwarna putih itu.”


“Hah... Kau bertarung dengan Profesor? Lalu?”


“Yah... Kau pasti tahu hasilnya... Ibuku terlalu kuat untukku kalahkan.”


“Aku iri padamu, Liv... Keberanianmu menerjang yang lebih kuat meski tahu hampir mustahil untuk menang adalah sifat yang sangat hebat... Hmm... Atau kau ini bodoh ya? Sulit dibedakan....”


“Aku kan marah demi kau... Kenapa kau bilang aku bodoh?”


“Liv, bila suatu saat aku harus mengalami luka parah seperti saat itu, aku ingin kau tak kehilangan kendali atas emosimu lagi. Yang kau perlu tahu aku bertarung karena keputusanku sendiri. Jadi tak ada yang perlu disesali. Lebih baik kau menyelamatkan diri sendiri atau tetap tenang di situasi darurat seperti itu agar tak merugikan.”


“Apa kau tak akan melakukan hal yang sama bila melihatku terluka parah?”


“Aku akan berpikir cara menyelamatkanmu lebih dulu bagaimanapun caranya sebelum membalas dendam, Liv... Tentu saja aku tak ingin itu terjadi. Namun melihatmu terluka parah juga begitu menyakitkan untukku... Entah saat itu tiba aku masih bisa berpikir seperti ini atau tidak.”


“Yah... Kita lihat saja nanti. Aku juga berusaha tak akan terluka lagi... Namun saat itu terjadi kumohon pertimbangkan juga keselamatanmu, Noel....”


“Kau juga, Liv.”


“Apa latihanmu menggunakan busur ancient itu berjalan lancar?”


“Entahlah... Aku masih tak bisa mengeluarkan potensi busur ini seperti Profesor dan kau.”


“Aku mengerti maksudmu... Itu karena hanya kau yang memiliki ancient weapon dengan jenis yang berbeda. Kami semua berbentuk pedang. Namun milikmu sungguh unik. Perlahan saja, Noel... Kau pasti bisa menguasainya....”


“Di saat itu, kau tak boleh iri dengan kemampuanku, Liv!”


“Di saat itu aku pasti akan jauh lebih kuat, Noel....”


Kami berbincang semalaman hingga matahari hampir terbit. Aku membangunkan kapten dan Dean untuk segera melanjutkan perjalanan. Kami harus cepat meninggalkan area ini agar bisa menghindari kepungan kawanan anjing pemburu yang lebih banyak.