Dragon Era: Legend of the Dragon Hunter

Dragon Era: Legend of the Dragon Hunter
Chronicle Of Noel part3



Aku mulai menelusuri lorong yang sangat besar ini. Di bangun dengan cara yang sama seperti lorong sebelumnya, lorong ini juga dipenuhi tatanan batu persegi yang di susun dengan rapat. Sepertinya aku akan menuju bagian utama dari rangkaian ruangan dan lorong yang sejak tadi kulewati.


Di lorong ini aku berhenti dan mulai menyiapkan persenjataanku. Aku membongkar 1 perledak berkekuatan besar dalam tasku untuk membuat bom di beberapa anak panahku. Jadi setiap anak panah di tembakan, akan memicu ledakan setelah mengenai terget. Tentunya aku tak bisa membuat semua anak panahku menjadi bom. Hanya 5 yang bisa ku buat. Dengan ini senjataku bertambah. Ancient weapon berupa busur, bom anak panah 5 buah, peledak berkekuatan besar 1 buah, dan jebakan senar baja yang entah kapan aku gunakan.


Aku kembali bersiap dan melanjutkan penjelajahan setelah selesai membuat bom di 5 anak panahku. Setelah lama menyusuri lorong ini akhirnya aku melihat ujung dari lorong besar. Aku menarik satu anak panah dari punggungku dan menempelkannya di busurku dengan posisi siap menembak. Semakin dekat ke ujung lorong, semakin kulambatkan langkahku dan waspada dengan busur sudah siap untuk melontarkan anak panah.


Ujung lorong ini ternyata sebuah ruangan yang belum selesai dibangun. Masih terdapat banyak batuan alami di tempat ini. Lantai dari tempat ini juga masih berupa tanah dan batuan seperti bagian dalam gua. Meski begitu tempat ini sangatlah besar. Aku masih berdiam waspada di ujung lorong sambil mengamati seisi ruangan. Tak ada salahnya bersikap waspada. Aku mendengar sesuatu seperti suara langkah kaki. Namun sulit untuk memastikan dari mana suaranya berasal karena ruangan ini sendikit menggema.


Aku melihat sekeliling namun tak ada apa pun kecuali batu bercahaya yang menerangi ruangan ini. Aku mulai masuk ke ruangan ini dengan hati-hati, karena sejak tadi aku mendengar suara sesuatu berjalan. Aku pun masih mengawasi sekeliling dan mencari sumber suara aneh yang ku dengar sejak tadi. Saat mencapai tengah ruangan, aku mulai mengendurkan kewaspadaanku karena tak ada apa pun di sini. Suara yang sejak tadi kudengar juga menghilang.


Namun itu hanya sesaat sampai aku melihat ke arah atas ruangan ini. Laba-laba sulfur melompat turun sambil menyemburkan cairan kuning ke arahku. Aku langsung melompat dan berguling untuk menghindari serangan tiba-tiba itu. Tubuh monster itu memang tak terlalu besar. Hanya sedikit lebih besar dari manusia. Namun laba-laba aneh itu memiliki 6 kaki yang jika di rentangkan kira-kira akan mencapai panjang 8 meter, dan 2 kaki lebih pendek di bagian depannya. Aku selamat dari serangan pertamanya. Segera kuambil panah yang ku ikat di kakiku dan langsung mengincar kepala monster itu. Panah ini adalah panah peledak yang tadi kubuat.


Namun sebelum menembak lagi-lagi monster itu melompat ke arahku dengan mengarahkan bagian bawah kakinya tepat ke arahku. Aku memutuskan membatalkan seranganku dan menghindar ke arah kanan. Bila terkena serangan dari kaki laba-laba ini, tubuhku pasti tertembus karena kakinya begitu tajam dan sangat keras. Tak pernah terpikir olehku untuk menghadapi monster ini sendirian. Aku pun juga heran bagaimana sahabatku Livy bisa mengalahkan monster semenakutkan ini. Aku berlari melewati laba-laba itu dan berusaha ke lorong selanjutnya.


Namun saat melihat ke arah monster itu, aku langsung menghindar lagi ke arah kiri untuk menghindari semburan cairan kuning yang sangat berbahaya. Aku berguling dan langsung mengambil anak panah di punggungku dan menembak ke arahnya. Seranganku mengenai kakinya, dan panahku terlempar ke tanah. Kaki monster ini sungguh keras. Bahkan dengan kecepatan busur baruku dan mata anak panah yang terbuat dari besi tak dapat menembus kakinya.


Jantungku seakan hampir pecah karena berdebar dengan sangat kencang. Aku tak seberani Livy, juga tak sekuat kapten. Bagaimana caranya aku bisa lolos dari monster ini? Kuambil lagi panah di punggungku dan kutembakan ke arah monster itu. Laba-laba itu berlari ke arah samping sambil menyemburkan cairan asamnya ke arahku. Aku terpaksa menghindar ke arah kanan dan semakin jauh dari lorong selanjutnya.


Monster ini ternyata pemburu yang sangat pintar. Ia menjauhkan mangsanya dari pintu keluar dan tetap menjaga agar mangsa jauh dari jalan untuk kabur. Lagi-lagi monster itu melompat ke arahku. Aku segera mengambil bom anak panah di kakiku dan menembakannya. Setelah menembak aku langsung berlari dan menghindar ke arah kanan. Aku kembali melihat ke arah monster itu. Serangaku memang tak berhasil membunuh monster itu. Namun tak sepenuhnya gagal. Kaki kiri depan monster itu terputus akibat ledakan dari anak panah yang kutembakan. Seperti aku yang berhasil memutus salah satu kakinya, serangan monster berkaki 8 itu juga tak sepenuhnya gagal.


Aku langsung berlari langsung ke arah monster itu. Laba-laba itu sempat menyemburkan cairan kuningnya ke arahku. Aku menghindarinya dengan mudah dan tetap berlari ke arah monster itu. Monster itu mengarahkan salah satu kakinya dan mencoba menusukku. Sebelum mengenaiku, aku melompat dan kakinya tertancap di tanah. Aku berlari menaiki kaki itu dan melompat ke atas tubuh laba-laba raksasa yang sedang kesulitan menarik kakinya yang tertancap di tanah saat menyerangku.


Saat mulutnya terbuka, segera kumasukan peledak yang ada di tangan kananku ke dalam mulutnya yang tak terlalu besar itu. Lalu kutusukan anak panah yang ku genggam dengan 3 jari di tangan kiri. Langsung terjadi ledakan yang cukup besar hingga aku terpental ke arah belakang dan tersungkur di atas tanah. Kepala laba-laba sulfur raksasa hancur dan monster itu langsung mati.


Namun ada harga mahal yang harus kubayar demi membunuh monster itu. Aku kehilangan tangan kiriku hingga pergelangan tangan akibat ledakan. Rasa sakit mulai terasa dan darahku menyembur sangat banyak keluar. Aku segera mengambil senar baja dalam tasku dan mengikat tangan kiriku untuk menghambat pendarahan. Aku juga melepas jubah kain di punggungku untuk menutup luka.


Meski begitu aku tetap mengalami pendarahan hebat. Belum lagi gendang telinga kiriku juga pecah karena kerasnya ledakan.


“Sepertinya ini adalah akhir dari petualanganku.”


Aku merasa lemas dan mengantuk karena kehilangan banyak darah. Tak ada seorang pun di tempat ini. Aku juga sudah tak kuat untuk berdiri. Saat ingin menyerah yang terlintas di pikiranku hanya pertanyaan kenapa harus berakhir seperti ini? Padahal aku ingin pamer pada sahabatku karena sudah mendapat busur yang sangat cantik. Aku juga sudah berjanji untuk melindunginya dari belakang, dan tak akan membiarkannya terluka. Seketika air mata langsung membanjiri pipiku. Aku tak peduli dengan keluargaku yang seorang bangsawan sombong. Justru aku lebih memikirkan sahabat dan timku yang begitu peduli padaku.


Lalu Profesor. Aku belum pernah sekali pun mengatakan bahwa aku begitu mengaguminya. Aku begitu ingin selalu berpetualang bersamanya.


“Bukan saatnya meratapi kematian. Aku harus bangun!”


Aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk membuat Livy menjadi salah satu hunter terhebat di Eden. Aku mulai berdiri dengan sisa tenagaku dan berjalan ke arah lorong selanjutnya. Sambil berpegangan pada dinding lorong, aku berjalan dengan lambat menyusuri lorong ini.