Dragon Era: Legend of the Dragon Hunter

Dragon Era: Legend of the Dragon Hunter
Iblis Merah



Tim kami kembali berpencar untuk menjalankan rencana yang telah disusun. Aku, Noel, dan Profesor berada di tim yang berbeda. Ada 10 anggota di timku kali ini. Fokus kami hanya menyisir sampai ke tengah Eden dan membereskan penghianat bila bertemu.


Sementara timku mulai menyisir area Eden, tim yang Noel ikuti berfokus untuk mencari dan menyelamatkan kapten karena sejak tadi keberadaannya tak diketahui. Aku benar-benar lupa dan meninggalkannya sebagai umpan. Setelah bertemu kembali nanti aku akan meminta maaf padanya.


Yang lebih penting sekarang adalah menyelesaikan tugas dengan cepat agar bisa bebas bergerak. Para penghianat menyebar di dalam Eden. Sangat sulit untuk membasminya secara menyeluruh. Kami harus membuka paksa bangunan-bangunan yang kami curigai. Bila masih ada yang tetap bertahan di dalam gedung, kami memerintahkan mereka untuk keluar Eden lebih dulu bila sudah dipastikan bukan penghianat.


Kami terus menyisir area yang bisa kami jangkau tanpa menunda waktu. Tak ku sangka keadaan jadi rumit seperti ini dalam waktu singkat. Aku yakin mereka sudah lama merencanakan hal seperti ini. Walau lemah, bila bersatu makan akan menjadi sulit dikalahkan. Begitu juga parah serangga penghianat ini. Bila terdesak aku tak akan segan memenggal mereka satu persatu untuk menyelesaikan misi. Lagipula karena orang-orang bodoh ini aku jadi tak bisa bersantai setelah pulang dari penjelajahan.


Semakin jauh dari pintu gerbang, semakin banyak penghianat yang berkumpul. Kami meringkus mereka dengan cepat tanpa kendala. Cahaya matahari sudah mulai berwarna kemerahan dan semakin banyak penghambat yang berdatangan. Mereka tak bisa di ajak bicara baik-baik. Merasa sudah menang karena berhasil mengosongkan Eden membuat mereka besar kepala dan merasa hebat.


Padahal sejak tadi pun kami meringkus mereka dengan mudahnya. Jumlah anggotaku pun mulai berkurang. Akibat kepungan kali ini 3 anggotaku kini tersungkur di tanah karena luka tusukan. Kami benar-benar kalah jumlah. Musuh semakin banyak mengerumuni kami dan membatasi pergerakan hingga kami berkumpul di tengah kepungan mereka.


Aku sempat berpikir apakah ini yang dimaksud ‘bunuhlah bila memang itu diperlukan ' seperti kata-kata profesor tadi. Aku kembali menimbang dan berpikir dan mencari-cari alasan untuk membunuh mereka. Profesor juga tadi mengatakan bahwa penjelajah berpihak pada manusia, dan bukan pada Eden. Kami diwajibkan berpihak pada kemungkinan terbersar manusia bisa selamat dari kepunahan. Atau bisa di artikan berpihak pada kelompok yang berjumlah lebih banyak.


Namun dengan catatan hal itu tak boleh merugikan manusia. Sedangkan kali ini kelompok dengan anggota banyak ini sedang mengepungku yang ingin menyelamatkan manusia yang ada di luar Eden sekarang.


“Berarti aku boleh membantai mereka kan?”


“Hah... Apa yang kau katakan, kapten Livy?”


“Yah... Aku hanya ingin manusia selamat dari kepunahan.”


“Apa maksudnya?”


“Apa kalian tahu pedang yang kini ada di tanganku?”


“Kami baru pertama kali melihatnya.”


“Sudahlah kalau begitu. Aku akan membuka jalan. Kalian cepat lari dan panggil bantuan ya! Tak ada kesempatan kedua, dan jangan melakukan kesalahan! Larilah seperti nyawa kalian jadi taruhannya!”


“Baik.”


Aku melesat ke arah depan dan langsung memenggal kepala orang yang terdekat dengan jangkauanku. Sesaat mereka terdiam tak bereaksi sampai darah menyembur keluar dari leher yang telah kehilangan kepalanya itu. Formasi mereka langsung kacau.


Aku mengerti betul kondisi psikologis mereka yang hidup nyaman di dalam Eden. Karena tempat ini terlampau aman, tak pernah terjadi pembunuhan sekali pun di tanah ini. Tentu mereka akan sangat panik saat pertama kali melihatnya. Sama seperti saat aku memotong tangan pemimpin kelompok yang menghalangi kami tadi, kini para pengecut itu langsung ketakutan dan memasang ekspresi ngeri di wajah mereka. Celah sudah terbuka dan anggotaku semua berlari sesuai perintahku tadi. Kelompok musuh sempat ingin mengejar, namun aku berdiri tegak menghalangi mereka.


“ Bunuhlah bila memang itu diperlukan... Sepertinya kali ini akan berubah menjadi Bantailah bila memang itu diperlukan.”


Entah kenapa rasanya aku seperti seorang yang berdarah dingin.


“Jadi kalian mau bagaimana? Mau mati atau menyerah? Yah... minimal kalian akan cacat seumur hidup bila bertarung denganku.”


Karena mereka menang jumlah, mereka tetap ingin bertarung. Mereka maju perlahan dengan memegang pedang yang bahkan terlihat masih sangat baru dan tak pernah digunakan. Aku memasang kuda-kuda dengan kaki kanan di bagian depan dan kaki kiri di belakang dengan posisi lurus dengan bahu kiri, dan sedikit menurunkan posisi berdiriku sambil memegang ancient sword di kedua tangan yang mengarah ke bawah.


“Seni bela diri naga... Tarian dewa naga.”


Aku menggabungkan shadow step dengan tebasan kuat yang diajari oleh Ibu saat masih di kota terbengkalai dalam gua di bukit duri. Tebasan ini tak terpengaruh oleh shadow step dan dapat memotong dengan mudah.  Tentu mereka yang bahkan bukan penjelajah tak bisa melihatku yang menggunakan shadow step sampai satu per satu anggota kelompok mereka kehilangan kepala.


10 orang telah kehilangan kepala dan tergeletak di tanah. Darah pun mulai membanjiri tempat itu saat matahari benar-benar tenggelam. Seperti teror yang masuk ke dalam Eden, aku melanjutkan pembantaian malam itu dengan memenggal 10 orang lagi. Kelompok musuh masih tersisa sekitar 20 orang. Walau sudah melihat setengah dari mereka kini tergeletak tanpa kepala, sepertinya mereka masih belum ingin menyerah.


Salah satu dari mereka lari dan sepertinya ingin meminta bantuan pada kelompok lain. Aku yang melihatnya langsung menggunakan shadow step dan menusuknya dengan kedua pedang tepat di dada orang itu dari belakang.


Kucabut pedang itu dan berbalik menghadap orang-orang bodoh yang masih saja belum mau menyerah.


“Kau akan di penjara karena membunuh manusia!”


“Hah... Kau sudah gila saking ketakutan ya? Kalian lupa apa yang sudah kalian lakukan sejak kemarin? Mengusir manusia keluar dari Eden sama saja mengumpankan mereka untuk jadi makanan monster di luar sana! Kalian akan membunuh jauh lebih banyak manusia bila kubiarkan!”


“kami tidak membantai mereka sacara langsung sepertimu... Dasar monster!”


“Aku sungguh tak mengerti dengan logika yang kalian gunakan. Jadi maksud kalian, aku harus menyiksa kalian perlahan sampai kalian mati dengan sendirinya? Jadi kalian mau mati dengan cara yang seperti apa?”


“Kami akan melaporkanmu setelah ini supaya kau membusuk di penjara!”


“Pfftt... Kalian lapor pun justru kalian yang akan mati di penjara. Kejahatan kalian karena mengancam populasi manusia sudah tak dapat di beri ampunan. Di mana pun kalian mati, kalian akan tetap mati... sudahlah. Cukup bicaranya... Semoga kalian membusuk dalam tanah.”


Aku tak menyangka jika malam itu aksiku dilihat oleh banyak orang yang datang dan ingin membantuku. Mereka melihat satu per satu kepala beterbangan dari sisa 19 orang yang melawanku. Sejak itu aku mendapat julukan yang aneh dari gosip yang menyebar. ‘ Iblis Merah’. Entah itu suatu ejekan atau bentuk penghormatan. Yang jelas aku tak dibenci sedikit pun. Justru di anggap sebagai pahlawan baru di Eden. Karena itu juga aku tak terlalu mempermasalahkan julukan Iblis Merah itu.