Dragon Era: Legend of the Dragon Hunter

Dragon Era: Legend of the Dragon Hunter
Keinginan Suku Dragonoid



“Hoho... Ternyata kau sudah sampai, anak kecil....”


Suara kakek tua menyebalkan yang tak asing di telingaku terdengan dari kejauhan. Kakek tua yang kami temui di kota terbengkalai bukit duri tiba-tiba muncul dari atas karang yang menutupi desa ini.


“Hah... Kakek bau tanah... Apa yang kau lakukan di sini?”


“Sifat kurang ajarmu masih saja tak berubah ya, anak kecil.”


Kakek itu melompat turun dari dinding karang yang begitu tinggi dengan sangat mudahnya. Meski bagaimanapun kemampuannya jauh di atasku. Jadi tak heran bila terkadang ia melakukan gerakan yang tak biasa. Ia pun berbicara dengan tetua dragonoid itu dengan fasih. Sepertinya kakek tua itu tahu tentang bahasa yang digunakan para dragonoid.


“Kau mengerti bahasa mereka, kakek tua?”


“Tentu saja... Kau pikir sudah berapa usiaku? Aku menguasai semua bahasa yang pernah ada....”


“Lalu... Apa yang kau bicarakan dengannya? Tunggu... Sebelum itu bagaimana caranya kau sampai di tempat ini?”


“Sudahlah. Kau tak perlu tahu bagaimana aku sampai di sini, anak kecil... Yang lebih penting dengarkan aku dulu!”


Kakek tua itu menjelaskan tentang percakapannya dengan dragonoid barusan. Rupanya dragonoid itu memohon pada kami pemegang ancient weapon untuk menjadi pemimpin mereka, dan mereka juga ingin pindah dari area hutan karang. Karena tak tahu harus kemana, mereka ingin meminjam pengetahuan kami tentang area daratan.


Mereka cukup kesulitan tinggal di area ini karena saat musim dingin area ini akan tertutup salju tebal. Dragonoid yang kami temui di hutan raksasa dan membawa kami kesini pun sedang mencari area yang tepat untuk mereka pindah. Satu hal lagi yang membuatku bingung. Para dragonoid menganggap pemilik ancient weapon adalah seorang utusan dari dewa.


“Sebelum itu... Kakek tua, bisakah kau tanyakan padanya apa yang terjadi pada manusia yang menjelajah area ini? Banyak kawan kami yang menghilang setelah mendapat misi kesini.”


“Hoho... Jadi itu alasan kalian datang ke tempat ini? Seperti sebuah takdir ya, menurutku.”


“Apanya yang takdir? Aku pun sebenarnya tak ingin ke tempat berbahaya seperti ini.”


Dragonoid berkata tak tahu sama sekali tentang para manusia yang datang ke tempat ini. Mereka cenderung menghindari kontak dengan makhluk lain terutama manusia yang pastinya akan takut dengan sosok mereka. Mereka tak menghindari kami karena kami adalah pengguna ancient weapon dan di anggap sebagai utusan dewa.


“Walau tak bisa 100% percaya namun kemungkinan memang bukan mereka kan, kapten.”


“Betul, Livy... Mungkin ada makhluk lain yang menjadi penyebabnya. Kita harus menjelajah area ini lagi untuk menemukan bukti.”


“Apa pelakunya loreley ya?”


“Loreley?”


“Mungkin memang kita harus mulai dari makhluk itu.”


“Kakek tua... Tolong tanyakan tempat loreley pada mereka... Bila para dragonoid mau membantu, kami berbanji akan berbagi informasi dengan mereka dan mengusahakan untuk memberi tempat yang bisa ditinggali mereka.”


Setelah kakek tua itu bicara pada para dragonoid mereka akhirnya setuju untuk membantu kami menyelesaikan urusan di sini. Tentu kami sangat terbantu oleh mereka. Karena mereka sangat memahami area ini, pastinya penyelidikan kami akan cepat terselesaikan. Ditambah lagi ada seorang penterjemah yang tiba-tiba muncul. Aku merasa beruntung saat ini.


Dragonoid menjelaskan melalui kakek tua bangka itu bahwa loreley adalah makhluk malam. Mereka akan bergerak setelah hari mulai gelap. Bila siang hari seperti ini mereka akan bersembunyi di sarangnya. Mereka juga hidup secara berkelompok seperti dragonoid. Namun saat mencari makan mereka cenderung bergerak masing-masing. Hanya tempat tinggalnya saja yang dihuni banyak loreley.


Mereka juga tak pernah akur dengan para dragonoid sejak dulu. Setiap bertemu satu sama lain mereka selalu menjadi agresif dan menyerang dragonoid yang ditemuinya. Dari penjelasan lain yang kudapat dari para dragonoid, loreley lebih mirip monster atau jenis yang masih begitu primitif menurutku. Mereka juga tak memasak makanan mereka seperti dragonoid. Mereka memakan buruannya mentah-mentah dan di tempat. Berbeda dari dragonoid yang terstruktur, kehidupan sosial loreley juga masih sangat primitif. Mereka tak mengenal sistem tetua atau pemimpin. Hanya bergerak sesuai insting masing-masing.


Meski begitu aku masih tetap kagum dengan suara mereka saat bersenandung. Rasanya sangat menghanyutkan dan terdengar indah. Sarang para loreley juga tersembunyi dan sulit ditemukan karena mereka pandai menghapus jejak di atas pasir.


Setelah berdiskusi kami memutuskan bergerak saat malam hari dan mengikuti loreley ke sarangnya untuk mencari bukti. Loreley tidak bisa di ajak berkomunikasi. Entah bahasanya berbeda dengan para dragonoid, atau memang mereka tak bisa berbicara. Yang jelas malam nanti kami harus bergerak cepat dan menemukan mereka.


Kami memutuskan untuk memecah tim menjadi 2. Aku dan Noel bersama salah satu dragonoid, lalu kapten bersama kakek bau tanah itu yang juga ditemani salah satu dragonoid. Kami berharap bisa menemukan loreley dan mengikuti ke sarangnya. Siang ini kami tak ada rencana apa pun. Matahari juga terlalu terik hingga aku lebih memilih berlindung di bawah batu karang agar kulitku tak semakin berwarna kecoklatan.


“Kau baik-baik saja, Liv?”


“Ya... Hanya sedang kepanasan, Noel... Apa kau tak merasa cuaca di sini terlalu panas?”


“Aku juga merasakannya. Namun tak lebih buruk dari area gurun, kan?”


“Kau benar... Tapi tetap saja... Kenapa kita selalu ditugaskan ke tempat yang panas ya? Aku rindu udara dingin.”


“Hanya kebetulan, Liv... Hanya kebetulan.”


Kami hanya menyandarkan diri di dinding karang yang dingin siang ini. Kapten dan kakek tua itu justru berlatih di bawah terik matahari yang sangat menyengat. Aku heran kenapa mereka kuat sekali dengan hawa panas.


Hari semakin sore dan kami segera bersiap untuk menjelajah. Seperti biasa Noel membuat peledak kecil dan membaginya pada aku dan kapten. Para dragonoid yang akan ikut dengan kami juga sedang mempersiapkan senjata mereka masing-masing dan pakaian untuk bertarung dari suku mereka. Sebenarnya ada banyak hal yang ingin aku ketahui tentang mereka. Namun kali ini aku harus menahan rasa penasaranku dan menyelesaikan misi ini lebih dulu.


Aku akan bertanya saat waktunya tepat. Yang paling membuatku penasaran adalah sudah sejak kapan mereka hidup di alam liar ini. Lalu bagaimana mereka bisa muncul dengan wujud seperti itu. Dilihat dari gaya hidup mereka, sepertinya dragonoid sudah cukup lama berkembang di daratan ini.


Matahari pun mulai meninggalkan kami dan berganti dengan bulan yang mulai terlihat. Kami sudah siap untuk bergerak saat cahaya kemerahan di langit berganti dengan taburan bintang yang memenuhi gelapnya malam. Seperti rencana kami, aku bersama Noel ditemani 1 dragonoid bergerak ke arah yang berlawanan dengan kapten. Semoga kami bisa menyelesaikan misi secepatnya kali ini, dan tak ada seorang pun yang terluka.