Dragon Era: Legend of the Dragon Hunter

Dragon Era: Legend of the Dragon Hunter
Penjelajah yang Gugur di Alam Liar



Monster besar itu beberapa kali menyerang dengan lidahnya yang begitu cepat. Namun setiap melihat gerakannya yang mau menyerang, aku selalu berlindung di balik pohon. Bila memperhatikan dengan baik, bagian lehernya akan membesar saat monster ini ingin menyerang. Ini memudahkanku untuk membaca serangannya. Karena bila terkena 1 kali saja maka berakhir sudah.


Aku mengambil peledak di tas pinggangku dan melemparnya ke katak lidah tanduk. Walau tak menimbulkan luka sepertinya peledak itu cukup menarik perhatiannya. Kulihat Noel sudah berada di posisi yang bagus dan siap menembak. Noel pun memberi tanda dengan cahaya matahari yang ia pantulkan melalui cermin ke arahku.


Aku segera bergerak ke arah kanan monster itu dan menunggu tembakan panah Noel. Noel seperti sedang mengikat sesuatu di ujung anak panahnya. Aku tak bisa melihat dengan jelas apa yang ia ikat karena terhalang dedaunan dan ranting. Namun aku yakin ia merencanakan sesuatu. Kali ini akan kupercayakan nyawaku padannya. Sebab sejak tadi katak lidah taring sedang bergerak ke arahku.


“Liv, Tubuh bagian kanan!”


Setelah mendengar teriakan itu aku langsung mengerti dan bersiap untuk bergerak. Noel menembakan 2 panah secara bergantian persis ke arah yang di teriakinya tadi. Begitu panah menyentuh lendir yang melapisi monster itu, langsung terjadi ledakan. Panah kedua sudah di tembakkan ke arah yang sama. Lendir yang melapisi tubuh monster itu langsung berhamburan ke atas tanah. Aku menggunakan shadow step untuk bergerak ke arah kanan katak lidah taring. Kupanjat pohon, dan langsung melompat sambil memegang ancient sword di kedua tanganku dengan posisi terbalik. Ku tusuk keduanya di bagian yang sama persis seperti yang di incar Noel tadi.


Kini tak ada lendir licin yang menyelubungi tubuh monster besar ini. Kedua pedangku berhasil menembus kulit monster ini. Namun tentu ini tak bisa membunuhnya seketika. Katak lidah taring meronta kesakitan hingga membalikan tubuhnya di atas tanah. Kapten yang sejak tadi menunggu kesempatan langsung melompat dan menusuk perut monster itu. Ternyata bagian bawah perutnya tak dilapisi dengan lendir yang tebal seperti bagian atas tubuh monster ini.


Kapten berhasil menusuk monster itu, namun terjatuh karena monster itu terus meronta. Ancient sword milik kapten masih tertancap di perut monster itu. Kini giliranku naik ke atas perut katak lidah taring dan mencabut kedua pedangku. Kutusuk lagi bagian yang tak berlendir, namun kali ini sedikit ke arah perutnya.


Setelah kedua pedangku tertancap kutarik pedangku untuk menbelah perutnya ke arah yang berseberangan. Seketika perut monster itu terbuka dan isi perutnya keluar. Namun monster itu masih saja hidup dan meronta ingin membalikan lagi badannya.


Kapten kembali dan langsung mencabut pedangnya yang masih tertancap. Ia kembali menusuk leher monster itu dengan kuat. Aku pun tak berniat untuk tetap diam setelah membelah perut monster berlendiri ini. Kucabut pedangku dan menancapkannya di bekas tusukan kapten sebelumnya. Kutarik lagi pedangku ke arah bawah perut monster itu hingga bekas potongan pedangku bertemu. Darah monster menyembur ke segala arah dan isi perutnya berhamburan keluar. Akhirnya monster ini mati.


“2 orang anggota timku tadi dimakan olehnya.”


Setelah mendengar penjelajah yang tadi kami selamatkan berkata seperti itu, kapten langsung mencari di dalam perut monster ini berharap penjelajah yang di telan masih bisa di selamatkan. Kapten berhasil menemukan 2 orang dalam perut katak lidah taring. Namun sayangnya 2 orang itu telah tewas dalam perut monster besar yang berlendir itu. Sungguh menyedihkan melihat teman seperjuangan kami tewas di tangan monster ini.


Walau bagaimana pun, mereka adalah pahlawan Eden yang menjelajah untuk kepentingan umat manusia. Kami langsung pergi ke sungai besar yang membelah hutan ini dan membersihkan diri. Setelah itu menggali 2 lubang di tanah dengan posisi yang berdekatan dan menguburkan pahlawan Eden yang gugur di tempat itu.


“Kapten, bila aku mati di misi kali ini, apakah bisa jasadku dibawa ke Eden? Aku ingin Ibu melihatku untuk terakhir kali sebelum dikubur.”


“Kalau kau mati dalam misi ini, Ibumu akan membunuhku, Livy.”


“Anggap saja perkataanku tadi sebagai wasiat.”


“Kau tak akan mati, Liv. Kita akan mati saat sudah tua dan memiliki cucu nanti.”


“Yah... Semoga saja ada yang mau menikahimu, Noel.”


“Apa-apaan kau bicara begitu..! Apa aku sejelek itu hingga tak ada yang mau mendekatiku?”


“Kau sungguh cantik, Noel. Yang jadi masalah adalah kemampuanmu.”


“Apa maksudnya, kapten?”


“Apa ada seorang gila di Eden yang bisa selamat dari anak panahmu?”


“Apa hubungannya?”


“Noel, bila nanti pasanganmu berselingkuh, ia akan langsung mati karena kepalanya tertusuk oleh anak panah yang kau tembakan. Atau kau akan ledakan rumahnya hingga hancur dengan peledak buatanmu?”


“Yah... Kalo memang dia berani selingkuh... Dia pasti sudah siap mempertaruhkan nyawanya, kan?”


“Itulah yang kami maksud. Lagi pula... Bukan mempertaruhkan, kan? Tapi menyerahkan nyawa.”


Kami para penjelajah memang hanya sedikit yang menikah. Biasanya seorang penjelajah akan pensiun setelah menikah. Sepertinya aku lebih memilih mengikuti jejak Profesor yang hanya fokus pada hal yang digemarinya. Yaitu arkeologi. Karena aku kurang pintar, aku akan fokus menjadi seorang hunter.


Ditambah luka baru di wajahku ini. Mana mungkin ada seorang pria yang mau dengan seorang wanita yang memiliki bekas luka memanjang di wajahnya.


Setelah berdiskusi akhirnya kami memutuskan langkah yang harus di ambil untuk membantu penjelajah yang hanya tinggal sendiri itu. Dean akan mengantarnya ke Eden Shelter dengan kuda besinya. Selain telah kehilangan kuda besi, penjelajah itu juga hanya seorang diri. Mustahil ia bisa melewati area tanah terlupakan.


Dean akan menyusul kami nanti bersama tim lain. Dengan situasi saat ini kami merasa penjelajahan ini terlalu berbahaya dan meminta bantuan. Kami juga memutuskan bermalam di tepi sungai karena sudah lelah. Besok saat matahari mulai muncul kami baru akan bergerak dan memecah tim. Mustahil untuk bergerak saat malam di hutan yang berbahaya ini.


Seperti dugaanku sebelumnya, misi ini memang sungguh berat untuk tim kami. Dari monster-monster yang kami temui hingga saat ini, tak ada satu pun yang tak berbahaya. Terutama katak lidah taring yang baru kami kalahkan tadi. Bila tak menggunakan ancient weapon aku yakin kami akan berakhir di dalam perut monster besar itu. Walau gerakannya sangat lambat namun lidah monster itu sangat berbahaya. Bukan karena kemampuan kami bisa membunuhnya. Namun hanya sekedar keberuntungan yang kebetulan. Entah monster seperti apa lagi yang ada di hutan ini. Namun kuharap tak akan seberbahaya situasi tadi.