
Tak lama setelah erupsi tiba-tiba terjadi gempa yang sangat besar. Tanah berguncang sangat hebat walaupun lokasi kami sangat jauh dari gunung berapi yang erupsi. Ini pengalaman pertamaku menghadapi keganasan alam yang luar biasa menakutkan. Setelah suasana menjadi tenang, kami memutuskan untuk bermalam di area tepi kawah mendidih ini. Tidak bijak rasanya kalau kami tetap memaksa melanjutkan misi dan menentang alam. Lagi pula keadaan Noel tak memungkinkan untuk berjalan terus saat ini.
Setelah matahari mulai digantikan oleh bulan, kami mencari tempat untuk bermalam. Kami memutuskan beristirahat di atas batu besar yang datar. Suhu batu di area ini tidak terpengaruh oleh suhu area sekitar. Walaupun suhu disini tergolong panas, batu ini tetap terasa dingin dan nyaman. Aku dan kapten memutuskan untuk berjaga secara bergantian. Sedangkan Noel diperintahkan untuk tetap tidur hingga pagi agar kondisinya membaik.
Kapten beristirahat lebih dulu, sedangkan aku tetap terjaga hingga tengah malam nanti. Rasa lelah mulai menghinggapi tubuhku setelah merasa aman dan jauh dari serangan alam. Buruntung malam ini sepertinya semua monster dipaksa untuk terlelap. Selama beberapa jam aku berjaga, tak ada keanehan yang menghampiri kami.
Cahaya bulan mulai berada tepat di atas kepalaku saat aku hampir terlelap karena suasana yang begitu tenang ini. Hari ini terasa seperti mimpi yang terlewat begitu saja. Kuharap misi kali ini bisa selesai dengan suasana damai seperti ini. Sekarang sudah waktunya aku untuk tidur. Kubangunkan kapten Afhkar untuk bergantian menjaga area sekitar. Kulihat keadaan Noel sudah lebih baik. Pucat yang terlihat di wajahnya kini menghilang setelah tertidur lelap. Sepertinya kami bisa melanjutkan misi esok hari.
Aku terbangun saat matahari belum menampakan cahayanya. Saat aku terbangun, Noel sedang terduduk di sampingku memandang ke arah gunung berapi.
“Kenapa sudah bangun Liv? Kau bisa tidur lagi sampai matahari terbit.”
“aku sudah cukup tidur. Kau sendiri, bagaimana keadaanmu?”
“Sudah jauh lebih baik setelah tidur nyenyak. Tak ku sangka abu vulkanik bisa membuat aku nyaris pingsan.”
“jangan memaksakan diri, Noel! Kita masih punya waktu untuk misi ini. Kau bisa beristirahat lebih lama.”
“Aku benar-benar sudah sehat kembali, Liv.”
Setelah kuperhatikan memang kondisi Noel kini sudah kembali seperti semula. Kami hanya memandangi gunung berapi dan terdiam. Tak ada percakapan lagi sampai hari mulai sedikit terang. Aku yakin Noel merasakan takut sama sepertiku. Bahkan kapten yang sedang tertidur juga pasti merasa cemas dengan area misi kami. Mungkin kami sanggup untuk membersihkan para monster di titik area misi. Namun berbeda dengan buasnya alam di area ini. Gunung berapi bisa saja meletus secara tiba-tiba dan langsung melahap kami.
“Kapten, sampai kapan mau tidur? Cepat bangun!
“Ah. Maaf aku tertidur. Bagaimana keadaanmu Noel?”
“Sudah siap untuk bertugas, kapten!
“Hari ini kita makan apa kapten?”
“Sisa roti kering.”
Mendengar jawaban kapten, rasanya semangatku langsung menghilang entah kemana. Bagaimana bisa gadis manis seperti aku dan Noel hanya diberi roti kering? Karena lapar, akhirnya kami makan tanpa semangat.
Kapten berkata pada kami, kalau kami harus melalui jalan yang sudah dilalui kemarin. Masih belum ada tanda gunung akan meletus. Kapten khawatir bila mencari jalan lain justru akan menghabiskan waktu dan bertemu dengan monster yang lebih berbahaya dari semut lava. Area ini memang sangat terkenal dengan monsternya yang sungguh berbahaya. Di iklim dan cuaca tempat ini, tentunya hanya monster dengan ketahanan super saja yang mampu hidup disini.
Aku pun melihat kuda besi Noel yang kini hancur tertimpa batu yang besar. Andai saja kami tak memperhatikan Noel saat lari dari erupsi kemarin, aku tak akan berani membayangkan bagaimana keadaannya saat ini. kendaraan yang terbuat dari besi saja bisa hancur seperti itu.
Saat hari mulai siang, kami sampai di tempat pertarungan kami dengan semut lava kemarin. Tumpukan mayat-mayat semut lava yang kami tinggalkan kini tertutup debu vulkanik sepenuhnya. Area ini sungguh sangat suram dan gelap. Awan hitam yang semakin tebal karena asap dari gunung berapi membuat area ini seperti area tanpa makhluk hidup apapun.
Kuda besi kami terus bergerak tanpa henti. Meninggalkan jejak-jejak di atas tumpukann abu vulkanik yang semakin meninggi.
“kita sedikit lagi sampai di titik misi. Noel, Livy, bersiaplah dan tetap waspada!”
Akhirnya sedikit lagi kami akan mencapai bagian akhir dari misi ini. aku sungguh tak sabar untuk pulang dan tidur di atas kasur hangatku. Semoga saja Ibu sudah kembali dari petualangannya. Aku benar-benar merindukan beliau. Akan kuajak makan malam di tempat yang mewah nanti dengan hadiah dari misi kali ini.
Kini kami berada di jalan yang semakin menanjak. Seperti bukit yang bagian puncaknya sama sekali tak terlihat.
“Sedikit lagi kita sampai, Liv.”
“Aku jadi semangat Karena ingin cepat pulang. Setelah selesai menjalani misi ini, bagaimana kalau kita makan sesuatu yang enak, Noel?”
“Tentu saja. Kita harus liburan setelah misi ini. Kalau tidak, rasanya aku bisa jadi gila."
“Nanti kita ajak kapten! Selama mengenalnya, tak pernah kulihat dia bersenang-senang.”
“Mungkin berburu adalah kesenangan baginya?”
Aku dan Noel tertawa kecil saat membicarakan kapten kami yang terkesan kaku itu. Ia memang sangat luar biasa dalam berburu. Namun sepertinya tak ada hal lain yang ia lakukan dalam hidupnya.
Tak terasa kami sampai di ujung jalan yang menanjak ini. ternyata lokasi misi kami berada di sebuah kawah besar yang sudah tak aktif lagi. Di dalam kawah besar ini terdapat 3 gua. Yang kutahu dari informasi yang di berikan kapten dan Noel, 3 gua itu adalah sarang monster.
Kami beristirahat di bagian tertingi dari kawah ini. menunggu hari hingga esok untuk menyusun rencana dan membersihkan gua dari para monster yang belum teridentifikasi. Kami harus sangat berhati-hati agar tak melakukan kesalahan.
Kami memiliki pendapat yang berbeda-beda untuk menyelesaikan misi ini. menurutku, lebih baik berpencar dan kami masing-masing membersihkan satu gua.
Pendapat kapten sangat berbeda denganku. Ia ingin memancing semua monster yang ada di dalam 3 gua itu dan menghabisinya di luar. Sedangkan Noel berpendapat kita harus berkelompok dan mengamankan satu demi satu gua itu.
Semua cara ada kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Tentu tingkat berbahaya dan waktu menyelesaikannya akan berbeda-beda. Beberapa jam kami terus berdebat tentang strategi siapa yang paling baik untuk dilakukan. Sambil mengunyah roti kering yang sulit kami telan, kami tetap memikirkan cara terbaik untuk menyelesaikan misi kali ini.