Dragon Era: Legend of the Dragon Hunter

Dragon Era: Legend of the Dragon Hunter
Secepatnya



Setelah lama menahan rasa bosan akhirnya kakek tua itu memerintahkanku untuk bangun.


“Sekarang coba kau gunakan shadow step sambil bermanuver! Kau harus gunakan shadow step terus menerus tanpa berhenti untuk memutar arah! Mengerti kan?”


Aku jelas mengerti arahannya. Aku hanya harus terus menggunakan shadow step tanpa berhenti meskipun saat merubah arah. Memang terdengar mudah. Namun shadow step adalah teknik dengan kecepatan sangat tinggi dengan langkah kecil. Bila hanya dalam garis lurus itu memang mudah. Namun bila harus memutar arah maka akan menerima efek dorongan dari arah sebelumnya. Walau begitu aku harus mencobanya secara langsung. Aku akan menggunakan shadow step ke arah depan dan langsung kembali lagi ke arah sebaliknya. Tak ada kesulitan bila maju ke depan. Namun saat mencoba kembali ke tempat semula, aku justru terjatuh. Dorongan ke arah depan terlalu kuat hingga sangat sulit untuk membalik arah.


Aku mencoba menyederhanakan manuver shadow step. Jika sebelumnya aku hanya maju dan langsung mematahkan arah lalu kembali lagi, kini aku maju dan sedikit berputar seperti membentuk garis ‘U’ agar efek dorongan sedikit berkurang. Cara ini mungkin sudah benar. Namun gerakanku terlalu melebar. Aku harus mempersempit gerakanku hingga tak terlihat.


Setelah berkali-kali mencoba aku berhasil mempersempit jarak belokan hingga hampir tak terlihat.


“Aku sudah berhasil kek!”


“Hanya segitu saja sangat lama. Dasar pemalas!”


Aku tak ingin menanggapi perkataannya karena sedang lelah. Kakiku terasa sangat lemas hingga gemetar saat berdiri.


“Kau istirahatlah! Kakimu sudah gemetaran, kan?”


“Baiklah.”


Aku langsung jatuh terbaring. Kakiku sudah mencapai batasnya. Setelah keluar dari sini, aku akan terus melatih stamina dan kekuatan kakiku agar bisa bebas melakukan teknik shadow step ini. Aku tertidur tanpa sadar karena sangat kelelahan.


Aku terbangun karena kakek tua sial itu menendang-nendang kakiku terus menerus. Saat mencoba berdiri kakiku benar-benar sakit karena terus menerus menahan beban shadow step.


“Sekarang apa lagi kek?”


“Coba buru raptor 5 ekor! Kau lapar, kan?”


“Kau pikir aku mau memakan monster aneh itu? Jangan bercanda! Bisa-bisa aku jadi jelek sepertimu.”


“Sudah cepat tangkap kalau tak mau ku adukan ke Ibumu karena terus menghinaku!”


“Dasar sial”


Aku pergi meninggalkan kakek tua itu ke arah padang rumput di area terluar kota. Aku akan menggunakan shadow step pertama kalinya untuk berburu. Targetku adalah 5 raptor sekaligus dalam satu gerakan.


Aku maju sampai ke tengah padang rumput. Melemparkan peledak kecil di sekelilingku. Rerumputan mulai bergerak dari segala arah menandakan datangnya para raptor. Aku memasang kuda-kuda dengan kaki kiri di depan, sekaligus menjadikannya tumpuan dengan sedikit membuat tubuhku maju ke depan. Ancient sword sudah siap di kedua tanganku sejak tadi. Aku hanya perlu menunggu para raptor itu masuk ke dalam jangkauanku.


Setelah berada dalam jangkauan aku segera menggunakan shadow step dan menusuk kepala raptor yang datang dari arah depan. Melanjutkannya ke arah kiri dan memenggal kepala raptor di kiriku. Aku menebas 3 raptor lain dan berhenti tepat di posisi awalku berdiri. Waktu yang ku butuhkan tak sampai 3 detik untuk membunuh 5 raptor.


Aku segera mengikat 5 raptor hasil buruanku menggunakan tali baja yang ada dalam tasku dan kembali kedalam kota menggunakan shadow step, karena kawanan raptor mulai banyak berdatangan.


Kuberikan semua hasil buruanku kepada tua bangka itu.


“Hoho. Bagus, anak kecil. Kau mulai menguasai teknik itu.”


“Sudahlah... Cepat berikan aku makanan!”


Kakek itu langsung membawa raptor ke dapur tempat pertama kali aku bertemu dengannya. Aku langsung merebahkan tubuhku yang lagi-lagi kelelahan.


Bila setiap menggunakan shadow step aku selalu kelelahan seperti ini, maka teknik ini tak akan terlalu berguna bila melawan kawanan monster. Kekuatan tebasanku juga jadi berkurang akibat harus mempertahankan shadow step. Aku butuh waktu lebih lama lagi untuk menguasainya. Setelah lama berpikir, kakek tua itu datang kembali membawa tumpukan daging raptor panggang.


“Makanlah sebanyak yang kau bisa!”


Tak ada pilihan lain. Hanya ini makanan yang ada. Rasa dari daging raptor ini sungguh menjijikan. Sedikit berlendir dan menimbulkan bau aneh yang membuatku mual.


“Selama ini kau makan daging seperti ini kek? Pantas kau jadi menyebalkan!”


“Makan saja... Jangan banyak bicara!”


“Yah... Karena tak ada apa pun lagi... Apa boleh buat.”


“Setelah beristirahat kita akan lanjutkan pelajaran. Kita akan pergi ke tempat Ibumu.”


“Benarkah?”


“Ya... Di sana kau akan belajar cara memanfaatkan shadow step dari Ibumu.”


“Akhirnya. Aku sudah muak denganmu.”


“Jangan salah paham anak kecil! Setelah belajar dari Ibumu, kau akan berlatih lagi denganku.”


“Cih...”


“Ayo cepat ke tempat Ibuku! Aku bosan di sini.”


Kami pergi menuju pusat kota ke arah bangunan yang berbentuk setengah lingkaran dengan ukuran yang sangat besar. Kami memasuki lorong untuk menuju pusat bangunan. Ternyata tempat ini mirip seperti arena pelatihan di akademi hunter. Namun dengan ukuran lebih besar.


Di bagian pusat bangunan ini terdapat lubang berdiameter sekitar 8 meter yang begitu dalam. Di sekeliling lubang berbentuk lingkaran itu terdapat tangga kecil yang melingkar turun kebawah. Tangga itu terbuat dari tanah sekitar lubang dan jelas ini adalah buatan manusia. Lubang itu terlihat gelap dan begitu dalam.


“Kek, seberapa dalam lubang ini?”


“Cukup dalam hingga kau bisa mati jika melompat, anak kecil.”


“Kalau aku mendorongmu ke lubang ini... Berarti aku tak perlu repot membunuhmu ya, kek.”


“Hoho... Kejam juga kau. Kelompokmu ada di dasar gua ini. Bersiaplah turun ke bawah! Perjalanan ke bawah tak akan mudah!”


Kakek itu melempar batu kecil dengan sangat kuat ke dinding lubang yang lebih dalam. Tiba-tiba tanah dari dinding itu hancur dan keluar sesuatu dari sana. Setelah kuperhatikan itu adalah sandworm. Monster seperti cacing sangat besar yang biasa di temukan di bawah pasir gurun. Monster ini memiliki mulut yang selalu terbuka dengan barisan gigi runcing yang melingkar hingga ke bagian dalam. Sandworm adalah pemburu yang tenang. Monster ini hanya bereaksi dengan getaran di area jangkauannya. Adanya makhluk ini di dinding lubang menuju ke dasar, rasanya sudah seperti mimpi buruk.


“Kenapa ada sandworn di sini kek? Harusnya monster itu ada di bawah pasir gurun.”


“Kalian menyebut hewan itu sandworm? Kalian salah kalau mengira monster yang kalian sebut sandworm itu hidup di gurun. Sebenarnya monster itu hidup jauh di dalam tanah sejak awal.”


“Lalu bagaimana cara turun ke bawah? Bila salah melangkah, kau pun bisa di telannya, kek!”


Aku jadi berpikir bagaimana Noel dan kapten bisa menuruni lubang ini dan melewati sandworm. Hanya Profesor yang menguasai shadow step. Sedangkan kapten dan Noel mungkin tak akan selamat bila salah melangkah sedikit saja.