
Seperti kemarin pagi ini rasanya seperti dejavu. Aku membut makanan, dan Noel sudah membunyikan bel rumahku berkali-kali. Entah kenapa aku tak begitu bersemangat dengan misi kali ini. Semuanya serba samar dan berbahaya. Kami berjalan ke arah gerbang ditemani dinginnya udara pagi. Matahari pun masih tertidur pulas dan tak terlihat. Saat sampai di gerbang, kapten dan Dean sudah menunggu kami yang memang sengaja datang sedikit terlambat.
Semua sudah siap. Perlengkapan, senjata, bahkan perbekalan. Kami melangkahkan kaki keluar gerbang menyambut petualangan baru. Kini tim kami sudah semakin kuat, dan bertambah jumlah anggotanya. Semoga kami bisa kembali ke Eden Shelter dengan selamat di misi kali ini.
Kali ini kami tak akan melewati savana karena kami pergi ke arah yang berlawanan. Tak butuh waktu lama hingga kami memasuki area hutan yang mengelilingi Eden Shelter. Berbeda dari bagian yang mengarah ke savana, hutan di arah ini tak terlalu besar. Bila tak ada masalah siang nanti kami akan keluar dari hutan.
Kami berjalan sedikit santai melewati hutan. Matahari baru saja muncul dan udara masih sangat dingin di hutan ini.
“Kalian berdua apa sudah cukup beristirahat kemarin?
“Tentu saja, kapten.”
“Aku juga tidur cukup lama.”
“Bagaimana denganmu, Dean?”
“Cukup, kapten.”
Aku memang tak berbicara sama sekali dengan anggota baru tim kami sejak kemarin. Namun sepertinya ia orang yang kaku. Aku tak peduli selama ia tak mengacaukan misi. Kami berbincang ringan selama melewati hutan lebat ini. Tak ada satu pun monster yang terlihat. Di area ini memang jarang ditemukan monster.
Sambil menyusuri hutan sesekali kami berhenti bila melihat buah-buahan kecil yang bisa dimakan. Saat matahari tepat berada di atas kepala kami, akhirnya kami keluar dari hutan. Meninggalkan tempat aman tanpa adanya monster, dan masuk ke area berbahaya. Mulai dari sini hingga area tujuan misi akan ada banyak monster yang terlihat. Area ini di sebut tanah terlupakan oleh para penjelajah.
Menurutku area ini memang sedikit unik. Curah hujan di sini sama dengan area sekitarnya termasuk hutan yang melindungi Eden Shelter. Memiliki tanah berwarna kemerahan yang terlihat subur. Namun tempat ini adalah dataran kosong yang tak ditumbuhi satu pun tanaman. Ketinggian tanah di tempat ini pun sedikit unik. Sepanjang mata memandang sama sekali tak ada perbukitan atau dataran yang lebih rendah. Tempat ini benar-benar rata seperti sebuah lempengan. Hanya ada tanah dan batuan besar di tempat ini.
Ada beberapa monster yang harus diwaspadai di tempat ini. Namun monster yang paling sering terlihat dan berbahaya adalah kawanan anjing pemburu. Memiliki ukuran tubuh sedikit lebih besar dari manusia dewasa, mereka berburu apa pun yang terlihat dengan cara berkelompok. Kawanan anjing ini juga begitu buas dan memiliki pergerakan yang cepat. Bukan berarti tak ada monster lain di area ini. Hanya saja kawanan anjing pemburulah yang paling sering terlihat.
Selain kawanan anjing pemburu, di tempat ini juga terdapat kadal tanduk dengan panjang tubuh mencapai hampir 10 meter. Tentu monster ini berbahaya. Namun sangat jarang terlihat di area ini. Malam hari di tempat ini begitu berbahaya karena kawanan anjing pemburu lebih aktif bergerak di malam hari. Karena itu kami harus bergegas memacu kuda besi dan secepatnya keluar dari area aneh ini.
Aku masih sangat ingat pernah ke area ini bersama Noel saat masih menjadi murid akademi hunter. Saat itu kami diberi tugas untuk menyisir hutan sekitar Eden. Namun karena terlalu bersemangat kami justru tersesat hingga masuk ke area ini. Saat itu aku dan Noel tiba saat sore hari di tempat ini. Pemandangan matahari terbenam begitu indah bila dilihat dari area ini. Kami yang terpukau berencana bermalam di area ini saat itu.
Namun saat malam mulai tiba terdengar suara lolongan anjing yang saling bersahutan saat itu. Tanpa sadar kami sudah dikelilingi oleh anjing pemburu. Kami yang panik langsung memacu kuda besi secepat mungkin. Seperti tak mau melepaskan aku dan Noel, kawanan anjing pemburu terus mengejar kami hingga kami masuk kembali ke dalam hutan. Saat itu aku dan Noel berhasil lolos dan kami langsung pulang ke Eden karena ketakutan.
“Kau masih ingat kejadian saat itu, Liv?”
“Tentu. Mana mungkin aku bisa lupa saat dikejar oleh kawanan anjing pemburu di tempat ini.”
Semoga tak ada kawanan monster itu lagi kali ini. Entah kenapa kali ini aku sedang sangat malas untuk bertarung. Rasanya hanya ingin duduk santai dan tak melakukan apa pun. Hari mulai sore di tempat ini. Pemandangan indah matahari terbenam dengan cahaya kemerahan kembali kunikmati untuk kedua kalinya ditempat ini setelah sekian lama.
Namun sayangnya waktu nostalgiaku tak bertahan lama. Kadal tanduk berukuran besar tiba-tiba muncul dari balik batuan yang kami lewati. Yang sedikit merepotkan dari monster ini adalah kulitnya yang keras seperti batu. Kulit itu membentuk seperti duri yang mengarah ke belakang dan menutupi tubuh layaknya baju zirah. Dulu mungkin kami akan berpikir dua kali untuk menghadapinya secara langsung.
Namun dengan 3 orang pemegang ancient weapon di tim ini, tentu tak akan sulit menghadapi satu kadal tanduk. Saat aku baru ingin mencabut ancient weapon dari punggungku tiba-tiba anak panah sudah melesat dengan cepat dan menancap di mata kiri kadal tanduk. Kapten pun tak mau kalah dalam beraksi. Ia melompat dan mencoba membelah leher kadal monster itu. Serangan kapten membuat leher monster itu setengah terputus dari bagian kiri ke arah tengah lehernya.
Tentu itu serangan yang sangat fatal dan langsung membunuh kadal tanduk seketika.
“Wah... Wah... Apa ini? Aku tak di izinkan beraksi juga.”
“Kau terlalu lambat, Livy.”
“Sepertinya kapten yang menjadi lebih ganas.”
Di penjelajahan sebelumnya kapten memang sedikit pasif dan tak banyak bertarung. Selama ini ia juga cenderung lebih banyak bertahan dari pada menyerang. Rasanya sudah lama aku tak melihat kapten menyerang langsung seperti itu.
“Ternyata iblis merah pun bisa kehilangan mangsanya lebih dulu ya.”
“Hentikan memanggilku seperti itu, Noel!”
Kulihat Dean hanya diam terkejut. Memang aku juga belum pernah mendengar kadal tanduk dikalahkan semudah ini. Wajar saja bila hunter yang baru lulus terkejut tak bergerak.
“Sepertinya kita harus lari dari sini!”
Entah sejak kapan kawanan anjing pemburu sudah mengelilingi kami. Mungkin sejak tadi mereka sedang mengawasi kadal tanduk untuk makan malam mereka. Kami yang tiba-tiba muncul dan mengambil mangsa kawanan anjing pemburu ini, tentunya membuat mereka kesal. 2 musuh terburuk di tanah terlupakan ini sudah muncul di hadapan kami. Setelah dengan mudahnya membunuh kadal tanduk kini muncul monster yang lebih merepotkan. Ukuran mereka memang kecil bila dibandingkan dengan kadal tanduk. Namun jumlah dan kecepatan mereka sungguh tak bisa dipandang sebelah mata. Kami dalam bahaya.