Dragon Era: Legend of the Dragon Hunter

Dragon Era: Legend of the Dragon Hunter
Pintu Masuk Hutan Raksasa



Malam ini kami masih berada di tanah terlupakan dan belum juga terlihat ujung dari area ini. Namun malam ini begitu tenang dan sepi. Aku tidur lebih dulu seperti kemarin karena lelah dengan hari ini. Kapten dan Dean tampak semakin akrab karena terus berjaga malam bersama. Itu bagus untuk mempererat kerja sama tim kami. Walau aku sama sekali belum akrab dengannya. Sepertinya Dean tak menyukai aku dan Noel. Ia seakan menghindari perbincangan dengan kami.


Nanti akan kutanya jika sempat. Yang paling penting malam ini harus tidur dengan nyenyak untuk mengisi stamina. Tidur di bawah hamparan bintang telah lama menjadi kebiasaanku. Namun pemandangan bintang di tempat ini benar-benar tak tergantikan. Bintang di langit itu berkelap kelip tanpa henti seperti lampu tidur yang membuatku semakin mengantuk dan cepat terlelap.


Seperti kemarin, kami berangkat sebelum matahari menampakan cahayanya. Menyusuri tanah kosong yang seperti tak ada apa pun, namun menyimpan kengerian yang begitu kelam. Tempat ini seperti kebalikan dari savana yang tenang dan nyaris tak memiliki monster buas. Di tempat ini bahkan tak ada monster seperti cherna yang biasa memakan semak di savana.


Iklim tropis memang sungguh menggangguku. Walau masih pagi suhu di tempat ini sudah mulai menghangat. Tak ada sungai atau mata air lain di area ini. Hanya ada tanah yang luas dan tak terlihat ujungnya. Aku merasa tempat ini seperti sebuah area perburuan pribadi milik kawanan anjing pemburu.


Kami tak berhenti sedikit pun kali ini. Saat matahari hampir terbenam kami mulai melihat ujung dari area aneh ini. Meski begitu area selanjutnya mungkin akan jauh lebih berbahaya daripada tanah terlupakan ini. Kapten menghentikan laju kami saat hampir memasuki area yang kami sebut hutan raksasa.


“Kita akan beristirahat di sini dan akan melanjutkan perjalanan besok setelah matahari terbit.”


“Kenapa, kapten? Kita bisa terus lanjut dan beristirahat dalam hutan nanti.”


“Hutan di depan kita jauh lebih berbahaya dari tanah terlupakan ini. Terutama saat malam. Jadi lebih baik tak memaksakan diri, Livy...!


“Monster apa yang menanti kita di dalam hutan ini sampai kapten sewaspada itu?”


“Banyak monster yang menguasai hutan ini. Bahkan kemungkinan belum semuanya terdata di Eden. “


“Baiklah... Noel, ayo kita cari kayu di pinggir hutan untuk membuat api!”


“Jangan masuk terlalu dalam ke hutan, Livy!”


“Baik, kapten...!”


Aku dan Noel mencari kayu hanya di pinggiran hutan. Bahkan nyaris tidak masuk ke dalam hutan sama sekali. Aku yang belum pernah melewati tempati ini merasa hutan ini sama saja dengan hutan yang ada di sekeliling Eden Shelter. Namun bila kapten sewaspada itu, aku yakin hutan ini memang sungguh berbahaya. Pengalamannya dalam menjelajah daratan di atas bumi ini memang tak ada duanya. Jadi tak salah aku menuruti perintahnya.


Kami kembali dan Noel langsung menyalakan api untuk membuat suasana menjadi nyaman dan menjuahkan monster dari area sekitar kami. Sementara kapten dan Dean sedang menyiapkan makan malam, aku hanya terbaring di atas tanah karena ternyata tanah ini begitu sejuk. Seperti berbaring di atas es yang dilapisi selimut sedikit tebal.


“Noel, merebahlah bersamaku di sini! Ini benar-benar nyaman. Rasanya cuaca panas yang membuatku kelelahan hari ini seperti mimpi. Cepatlah... Sebelum aku berguling-guling dan membuat tanah ini menjadi hangat!”


“Aku datang...!”


“Noel... Apa kita tak keterlaluan membiarkan kapten dan Dean memasak terus-menerus untuk kita? Aku merasa mereka sedikit tak berguna di tim ini.”


“Memangnya kau bisa masak, Liv?”


“Yah... Sekedar memanggang roti dan menggoreng telur, atau memanggang daging aku pasti bisa.”


“Bukankah roti panggangmu selalu gosong saat sarapan di rumah?”


“Bukan, Noel... Aku memang suka roti yang sedikit kering seperti itu.”


“Kau jangan berkelit, Liv... Wajah Profesor juga selalu terlihat sedih saat kau yang membuat sarapan...!”


“Hampir setiap pagi aku selalu ada di rumahmu ketika kita sedang berada di Eden... Mana mungkin aku tak pernah melihatnya?”


“Tapi... Ibu tak pernah bilang apa-apa tentang masakanku... Lagipula aku kan juga memakannya. Mana mungkin kumakan kalau rasanya tidak enak?”


“Itu berarti lidahmu yang bermasalah, Liv.”


“Apa masakanku seburuk itu?”


Aku langsung bangun dan coba bertanya pada kapten.


“Kapten... Apa masakanku terasa aneh?”


“Kau pikir kenapa selalu aku yang memasak saat kita menjelajah? Dulu kau pernah sekali memasak makanan untuk aku dan Noel saat menjelajah... Sejak saat itu selalu aku yang memasak bukan?”


“Lalu bagaimana denganmu, Noel?”


“Aku sejak awal selalu jujur kalau aku memang tak bisa memasak, Liv... Kau tau keluargaku kan? Jangankan belajar memasak... Pergi ke dapur saja aku dilarang....”


“Kalian benar-benar keterlaluan... Besok aku yang akan memasak... Kau juga harus mencobanya, Dean!”


“Jangan, Livy! Bisa-bisa Dean menyerah menjadi seorang hunter.”


“Kata-katamu keterlaluan, kapten...!”


Apa masakanku memang seburuk itu ya, hingga mereka tak mengizinkan atau menyuruhku masak lagi selama ini. Kami kini berada sekitar 100 meter dari area hutan raksasa. Aku sungguh tak sabar ingin masuk ke dalam hutan. Kuharap akan sejuk di sana dan ada sungai dengan air yang dingin.


Saat sedang makan sambil berbincang kami berhenti sejenak karena mendengar suara gemuruh yang keras dari arah hutan. Kami meletakan makanan kami dan langsung berdiri menghadap hutan raksasa untuk melihat apa yang terjadi.


Tiba-tiba pepohonan di pinggir hutan hancur terpental di susul dengan basilisk dewasa yang terlempar dari dalam hutan. Tak lama kemudian muncul banteng punggung tanduk yang berukuran sangat besar menyusul. Bahkan ukurannya sedikit lebih besar dari basilisk dewasa yang terpental keluar hutan tadi. Monster itu saling bertarung tanpa mempedulikan kami yang melihat dari jauh.


“Apa-apaan itu?”


“Sudah kubilang kan... Hutan raksasa adalah tempat yang berbahaya.”


Ini pertama kalinya aku melihat banteng punggung tanduk secara langsung. Dalam catatan di Eden tak disebutkan ukuran dari banteng ini karena jarang ditemukan. Monster satu ini memang memiliki gerakan yang lambat tak secepat basilisk. Namun daya tahannya adalah salah satu yang terkuat. Kulit kerasnya sangat elastis dan sulit di tembus. Terlebih lagi tanduk yang berjajar dari kepala hingga bagian belakang tubuhnya mencuat tinggi ke atas dan sedikit mengarah ke depan.


Basilisk tak mungkin melilit monster itu karena tanduknya begitu runcing dan mungkin sanggup menembus sisik basilisk. Barisan tanduk itu memang tak memiliki diameter yang besar. Namun jumlahnya yang banyak dan panjang itu menjadi senjata yang sangat sulit dikalahkan monster lain.


Basilisk yang mulai terpojok dan penuh luka mencoba menjauh dari banteng punggung tanduk. Namun sepertinya monster reptil tanpa kaki itu sudah terlambat. Banteng punggung tanduk memiliki cara menyerang yang unik. Banteng itu berlari ke arah basilisk dan melemparkan tubuhnya sendiri dengan punggung yang mengarah ke basilisk.


Karena tubuh banteng punggung tanduk sangat berat, tentu tanduknya dapat menembus sisik basilisk yang begitu keras dengan dukungan dari berat badannya. Meski mengalami luka namun itu tak seberapa dibanding basilisk yang ini tertancap di punggung banteng itu. Banteng punggung tanduk adalah pemakan daging. Taring tajam dan rahangnya yang kuat mampu mengoyak basilisk yang sudah tak bernyawa itu.


Aku yang sejak tadi membayangkan nyamannya berada dalam hutan raksasa menjadi tak bersemangat lagi dan rasanya enggan masuk ke dalam sarang dari banyak monster mengerikan seperti itu.