
Walau begitu kami harus terus maju agar bisa secepatnya menyelesaikan misi. Tak ada yang spesial malam hari ini. Aku hanya tertidur dan berjaga seperti malam sebelumnya. Namun pagi harinya kami lebih banyak bersantai karena menunggu matahari terbit di tempat ini.
Setelah matahari terbit kami bergerak dengan cepat ke arah hutan raksasa. Kini kami mengubah formasi karena menyesuaikan area hutan ini. Noel dan Dean kini berada di depan karena merekalah yang memiliki pengelihatan dan pendengaran terbaik di tim kami. Sementara kapten di tengah dan aku di posisi paling belakang. Kami berhenti persis di depan hutan raksasa sambil memeriksa keadaan. Bagaimana pun tempat ini adalah area yang sangat berbahaya.
Ingatanku tentang banteng punggung tanduk dan basilisk kemarin saja masih begitu segar. Entah apa lagi yang ada dalam hutan ini. Noel memeriksa sekitar dengan memanjat ke atas pohon terdekat yang lebih tinggi. Sementara kami memeriksa jejak monster yang melewati sekitar pinggir hutan. Jika dirasa berbahaya, kami akan masuk dari bagian lain hutan ini.
Selama mencari aku tak menemukan apa pun yang mencurigakan. Hanya jejak bekas pertarungan dua monster buas berukuran tak masuk akal kemarin. Berbeda denganku Noel menemukan kawanan kera tanduk merah yang berada tak terlalu jauh dari tempat kami berdiri.
“Sepertinya kita harus bergerak sedikit ke arah kanan. Jumlah mereka lumayan banyak. Meski tak bisa memastikan, namun ada lebih dari 5 kera tanduk merah berukuran besar.”
Tentunya kami akan menghindari pertarungan yang tak perlu. Kami bergerak ke arah kanan sebelum masuk ke hutan raksasa. Sudah 3 monster merepotkan yang kami lihat di tempat ini. Bertarung dengan mereka di area yang sempit seperti hutan adalah hal terburuk, seperti mengantarkan tubuh kami untuk dimakan mereka.
Setelah lebih jauh dari sarang kera tanduk merah, kami mulai masuk ke hutan raksasa. Area ini memang jauh berbeda dari area sebelumnya. Hutan ini di tumbuhi dengan pepohonan yang cukup besar. Karena itu bagian bawah hutan tak ditumbuhi semak dan hanya tanah dengan tumpukan daun kering yang menutupinya. Pepohonan di hutan ini tak terlalu rimbun seperti hutan di sekitar Eden shelter. Namun setiap pohon di tempat ini memiliki daun yang begitu lebat hingga hampir menutupi area atas hutan ini. Ada kesamaan kecil di hutan raksasa dengan area sebelumnya, yaitu iklim panas yang lembab. Misi kali ini benar-benar dipenuhi oleh keringat dan membuat kulitku semakin kecoklatan karena terik matahari di area tropis.
“Noel... Bagaimana? Apa di depan aman?”
“Ssttt... Tenang dulu, Liv. Aku seperti mendengar suara....”
“Suara..?”
“Dari kiri...!”
Di saat yang bersamaan tiba-tiba kapten terpental berikut dengan kuda besinya. Tubrukan yang kuat membuat kapten membentur pohon besar dan tergeletak di tanah. Kami yang terkejut masih diam tak bereaksi.
Banteng punggung tanduk tiba-tiba memotong formasi kami tepat di bagian tengah dan menghantam kapten kami hingga tak bergerak. Monster itu terlihat lebih besar saat berada persis di depan mataku. Akhirnya aku sanggup bereaksi setelah beberapa saat terdiam tak bergerak. Kami mundur menjauh dari banteng punggung tanduk yang penuh luka itu. Formasi kami pun hancur berantakan karena serangan tiba-tiba ini. Banteng punggung tanduk terus mengamuk menabrakan dirinya ke pohon yang ada di sekitar.
Saat melihatnya tadi aku juga melihat ada gigi taring yang menancap di perut bagian kanannya. Mungkin itu yang membuatnya begitu agresif. Belum lagi ada banyak luka yang masih baru di beberapa bagian tubuhnya. Tak salah lagi ini adalah banteng punggung tanduk yang mengalahkan basilisk dewasa kemarin.
Kami bertiga sama-sama panik hingga formasi terpecah menjadi 2. Noel dengan Dean, sementara aku sendiri. Tak butuh waktu lama untuk Noel menyadari situasi. Ia langsung menembakan anak panah ke arah banteng punggung tanduk. Dean pun sudah mengeluarkan pedang di kedua punggung tangannya dan siap untuk pertarungan jarak dekat.
“Seni bela diri naga... Tebasan taring naga...!”
Aku mengincar bagian leher banteng punggung tanduk dari atas pohon lalu melesat dengan cepat. Namun sebelum pedangku menyentuh lehernya, monster buas itu mengarahkan tubuhnya ke samping dan menabrakku dengan keras. Dengan kecepatan seranganku efek yang di timbulkan akibat tabrakan jadi semakin parah. Meski tak tertusuk tanduk aku terpental hingga tersungkur di tanah dengan keras.
Sekujur tubuhku rasanya sakit akibat beradu dengan tanduk-tanduk itu. Dean mendapat kesempatan saat tabrakanku dengan banteng punggung tanduk. Walau hanya sesaat aku melihat dia maju menyerang. Namun sayangnya anak baru itu malah menebas tanduk di kepala banteng itu. Tentu serangannya tak berguna. Monster itu menurunkan kepala ke arah Dean, mengangkatnya, serta melemparnya ke udara. Dean terlempar ke sisi yang berlawanan dari posisiku dan terjatuh ke tanah dengan cukup keras.
Kini hanya Noel yang masih belum terkena serangannya. Ia segera mundur sambil melempar peledak ke arah kepala monster itu, lalu memasang ranjau darat dengan sangat cepat. Aku masih terdiam di posisiku semula karena panik. Darah terus menerus keluar dari wajahku. Sebagai seorang gadis manis tentu saja aku panik. Namun sahabatku sedang dalam bahaya. Aku harus segera membantunya. Masalah bekas luka di wajahku akan kupikirkan nanti.
Aku berlari menuju ke arah Noel yang terus mundur sambil memasang ranjau darat. Ranjau itu meledak satu persatu diinjak oleh banteng punggung tanduk, namun tak memberikan luka yang fatal untuk monster itu. Meski begitu monster besar itu terlihat semakin melambat dan mulai memiliki celah. Aku menggunakan shadow step dan muncul di dekat kepala monster itu lalu menusuk mata kirinya dari samping.
Dengan pedang yang masih menancap di matanya, sebelum ia semakin meronta kuangkat kaki kiri dan menendang gagang pedang yang masih menancap di matanya hingga masuk semakin dalam. Akhirnya monster itu berhenti bergerak dan mati. Mungkin pedangku masuk menembus otaknya hingga monster ini mati seketika.
“Liv, kau baik-baik saja?”
“Aku baik-baik saja, Noel.”
“Lihat wajahmu... Lukanya lumayan besar, Liv.”
“Sial... Aku sudah menduganya karena darah terus keluar sejak tadi. Lupakan dulu tentang lukaku. Sekarang kita bantu kapten dan Dean lebih dulu...!”
“Baiklah.”
Sepertinya keadaan Dean baik-baik saja walau lagi-lagi ia jatuh pingsan. Mungkin ia pingsan karena benturan di tanah. Kapten pun mungkin baik-baik saja, meski aku tak bisa memastikannya. Benturan yang ia alami sangat keras tadi. Dalam keadaan tak siap seperti itu aku pun akan menderita luka parah bila di posisinya. Kami putuskan untuk menunggu kapten sadar lebih dulu dan baru melanjutkan perjalanan.
Noel memasang jebakan di sekeliling tempat kami berada untuk menghalau monster yang muncul tiba-tiba seperti tadi. Aku kembali menghampiri mayat banteng punggung tanduk dan menarik pedangku yang sejak tadi masih tertancap di kepalanya. Sepertinya kami harus bermalam di sini karena kapten belum juga sadar meski sudah beberapa jam berlalu sejak serangan tadi.