Dragon Era: Legend of the Dragon Hunter

Dragon Era: Legend of the Dragon Hunter
Chronicle Of Noel Part2



Monster-monster kecil itu bersiap maju ke arah ku. Namun bukan seorang traper namanya bila tak bisa menghadapi musuh dalam jumlah banyak. Sepertinya hanya ini keunggulanku di bandingkan Livy sahabat terbaikku. Kawanan anak laba-laba sulfur yang ada di depanku ini kira-kira berjumlah di atas 60 monster. Mereka memang belum bisa memuntahkan asam dari mulutnya. Namun kaki tajam laba-laba ini sudah terbentuk semenjak mereka baru menetas. Kaki laba-laba ini hanya sebesar pisau dan berjumlah 8. Bila tertusuk oleh kaki-kaki itu, bahkan battle suit akan tertembus.


Aku segera meletakan 4 ranjau darat di depanku dengan perlahan agar para monster itu tak bergerak dengan tiba-tiba. Kusiapkan peledak di dalam tas pinggangku dan mengambil anak panah di punggungku. Aku siap bertarung sekarang. Aku sengaja tak bergerak maju agar bisa memanfaatkan lorong sempit di belakangku untuk mengatasi kawanan ini. Kutembakan satu anak panah lurus ke tengah kawanan itu. Tak ku sangka anak panah melesat dengan sangat cepat hingga menembus laba-laba terdepan dan menancap di anak laba-laba yang berada persis di belakangnya. Kawanan itu langsung maju secara bersamaan. Kulemparkan satu peledak berukuran kecil untuk mengurangi jumlah monster itu, dan aku mundur ke dalam lorong.


Laba-laba yang terkena peledak mati berhamburan. Menyisakan cairan berwarna kuning yang mengeluarkan asap. Sedangkan kawanannya yang lain maju dan menginjak ranjau darat yang tadi sudah ku siapkan. Ranjau darat meledak bersamaan karena ku letakkan di posisi yang berdekatan. Hasil ledakan ranjau darat membuat ruangan bergetar dan membunuh banyak kawanan yang berada di posisi depan. Aku telah siap meletakan 2 ranjau darat lagi di depanku. Serta menembak beberapa laba-laba yang masih hidup dan mulai masuk ke dalam dengan ancient weaponku.


Ranjau darat buatanku memang terlihat kecil. Namun ledakannya tak kalah hebat dengan ranjau normal. Berbentuk setengah lingkaran dan sedikit pipih hampir rata dengan tanah. Aku juga kembali melemparan 1 peledak kecil dan membuat cairan kuning berhamburan di seisi lorong. Aku tak perlu khawatir tentang kondisi lorong ini. Karena saat perjalanan tadi aku sudah memeriksa kekuatan dari lorong ini. Lorong ini sungguh sangat kokoh dengan barisan blok batu yang tersusun rapi dari lantai hingga atap.


Aku kembali mundur dan langsung meletakan 2 ranjau darat terakhirku di atas lantai lorong, sambil terus menembaki laba-laba yang terus berdatangan ke arahku. Jumlah mereka memang sudah berkurang banyak. Namun masih banyak juga yang tetap maju mendekat. Yang terpenting aku harus tetap menjaga jarak dari monster-monster ini.


Aku kembali mundur menjauh dari ranjau darat yang sudah kupasang. Kali ini aku tak akan menggunakan peledak karena harus menghemat untuk perjalanan selanjutnya. Aku yakin tak Cuma kawanan anak laba-laba sulfur yang berada di area ini. Kalau sedang sial pasti aku akan bertemu induknya.


Aku terus menembaki kawanan laba-laba yang tersisa. Monster itu bahkan bisa berjalan di dinding dengan cara menancapkan kakinya di blok batu yang keras. Entah sudah berapa monster yang aku bunuh di sini. Yang jelas aku harus menghabisi kawanan ini hingga tak bersisa satu pun. Ranjau darat terakhir langsung meledak begitu monster itu menginjak salah satunya. Mayat laba-laba yang hancur berantakan mulai memenuhi lorong ini. Menyemburkan cairan berwarna kuning dan berasap yang lagi-lagi berhamburan seisi lorong. Aku sungguh tak ingin menyentuh cairan itu. Sepertinya sangat berbahaya bila terkena.


Petarunganku masih belum usai. Masih ada laba-laba yang maju ke arahku. Aku terus mundur selangkah demi selangkah untuk menjaga jarak sambil menembakan anak panah. Kemenanganku adalah ketika keluar dari tempat ini tanpa terkena cairan kuning yang sejak tadi mulai menyebarkan aroma yang membuatku mual. Jumlah laba-laba sudah sangat banyak berkurang hingga hanya menyisakan beberapa. Walaupun begitu jebakanku pun sudah mulai habis. Hanya tersisa jebakan senar baja yang membutuhkan waktu lama untuk menyiapkannya, dan beberapa peledak berkekuatan besar. Yang bisa kulakukan kini hanya menembakan panah terus menerus.


Kini aku memasuki ruangan yang menjadi sarang laba-laba sulfur tadi. Ada jaring yang terbentang sepanjang sudut bagian bawah ruangan dan saling bertumpuk hingga tertutup sepenuhnya. Di bagian atas juga banyak ku temukan sarang laba-laba dengan ukuran yang lebih kecil. Ruangan ini menimbulkan aroma belerang yang menyengat hingga membuat tak nyaman. Tak ada tanda-tanda dari induk laba-laba di ruangan ini.


Di seberang ruangan terlihat lorong yang jauh lebih besar dari yang kulalui sebelumnya. Dinding dari ruangan ini juga terdapat tulisan dan gambar-gambar seperti area sebelumnya. Sepertinya tempat ini adalah kompleks kuil yang sangat besar, dan memiliki ruangan yang tersambung melalui lorong-lorong yang sejak tadi aku lewati.


Aku memperhatikan sarang laba-laba besar untuk memastikan tak ada telur laba-laba di dalamnya. Bila dibiarkan terus menetas, akan berbahaya untuk dunia luar suatu saat.


“Untunglah tak ada lagi telur yang belum menetas.”


Bila masih ada banyak telur di sarang ini, aku berniat untuk membakarnya. Meski harus mengambil resiko terjadinya ledakan di sini karena mengandung belerang dan sulfur yang pekat, aku harus melakukannya untuk menjaga agar populasi laba-laba ini tak bertambah banyak.


Aku berjalan dengan pelan ke arah lorong selanjutnya sambil memperhatikan sarang yang ada di tempat ini. Aku harus memeriksa dengan teliti sebelum meninggalkan ruangan. Walau belum lama berpisah, sepertinya aku mulai merindukan timku. Aku ingin segera keluar dari tempat ini dan bertemu mereka.


Aku juga ingin memamerkan ancient weapon baruku kepada Livy. Busur ini tak kalah indah dari sepasang pedang milik Livy. Setelah puas pamer nanti, aku akan minta di ajarkan cara menggunakannya dengan benar oleh Profesor. Di antara kami pemegang ancient weapon, Pofesor Cage lah yang paling mahir menggunakan senjata ini. Aku pun masih penasaran bagaimana cara ia berlatih hingga sehebat itu. Mungkin nanti aku akan memintanya bercerita tentang itu. Namun sekarang aku harus kembali ke dalam timku lebih dulu. Aku yakin mereka sedang sangat khawatir saat ini. Terutama sahabatku Livy yang selalu kesulitan mengendalikan emosinya.