
“Syukurlah kau sudah sadar, Livy”
“Kapten!”
“Dengan ini misi kita telah selesai. “
“Kami menahan untuk menandatangani penyelesaian misi kali ini karena kau belum bangun, Liv. Tim ini tak lengkap tanpa kau.”
“Jadi selama aku tak sadar, kalian belum menjalankan misi baru?”
“Kami sengaja tak melakukannya karena salah satu anggota tim baru kembali sekarang.”
Aku yang mendengar perkataan itu sebenarnya sedikit merasa bersalah. Setiap hunter penjelajah hanya boleh mengambil 1 misi. Jika misi belum selesai mereka tak bisa mengambil misi lain. Demi menungguku mereka pasti telah melewatkan banyak misi.
Kapten yang sejak tadi berdiri di depan pintu akhirnya masuk. Kapten memberikan ancient sword milikku yang tertinggal saat melawan monster yang hampir membunuhku.
“Ini milikmu, Livy. Selamat karena telah menemukan pedang yang hebat.”
“Terimakasih, kapten!”
“Akhirnya aku memegang pedang ini lagi. Bagaimana? Bagus kan, ancient sword milikku? Bahkan lebih indah dan anggun dari milik kapten.”
“Di tim ini hanya aku yang tak memiliki ancient sword.”
“Nanti kita cari bersama, Noel!”
“Baiklah... Setelah kau keluar dari rumah sakit, kau harus membantuku menemukan ancient sword! Kapten juga ya!”
Kami berbincang ringan sambil sedikit bercanda.
“Kapten, kemana ancient swordnya?”
“Disita Ibumu, Livy.”
“Hah... Disita?”
Aku jadi bingung dengan keadaan saat ini.
“Kapten tahu kemana Profesor Cage? Ia belum muncul sejak tadi.”
“Ceritanya panjang, Livy. Tak lama lagi Profesor akan kembali. Kau bisa bertanya langsung.”
Tiba-tiba terdengar suara yang sangat familiar ditelingaku. Suara yang sangat kurindukan.
“Tanya apa?”
“Profesor!”
Profesor Cage masuk melalui jendela ruangan ini. Ia langsung menghampiriku dan mengambil ancient sword yang ada di pangkuanku.
“Ini ku sita sampai kau keluar dari rumah sakit!”
Aku yang mendengarnya tak berani membantah. Aku tak akan berani menentang perkataan orang yang sudah menyelamatkan hidupku lebih dari sekali. Ia yang mengangkatku sebagai anak, membiayai hidupku hingga aku bisa menjadi seorang hunter, mendengarkan keegoisanku sejak aku masih anak-anak, bagiku ia sudah seperti malaikat. Kali ini pun bila ibu tak datang belum tentu aku, serta timku bisa selamat.
“Ibu, yang di punggungmu itu... Ancient sword?”
Sungguh kali ini aku ingin memeluknya dan menangis. Namun aku merasa malu karena ada Noel dan kapten. Profesor menarik ancient sword dari punggungnya dan memperlihatkannya pada kami. Pedang lurus yang sangat cantik, bahkan aku sendiri sangat terpesona melihatnya. Pedang ini juga sangat unik. Normalnya sebuah pedang memiliki ujung yang runcing. Namun pedang ini memiliki ujung yang datar. Berwarna hitam legam seluruhnya, dan terdapat ukiran unik di pedangnya. Sedikit berbeda dari milikku dan kapten.
“Cage, kapan kau akan mengembalikan pedangku?”
“Diam kau... Bodoh. Akan ku kembalikan saat anakku keluar dari tempat berbau obat ini! Semua ini karena ulah bodohmu dan cara memimpinmu yang bodoh!”
Kapten hanya diam mendengar perkataan Ibu. Di situ aku mengerti kalau kapten tak hanya menghormati Ibu. Namun juga takut padanya. Aku pernah mendengar bahwa kapten tak pernah sekalipun bisa mengalahkan Ibu saat latih tanding. Bahkan saat kapten memiliki ancient sword pun ia tak bisa menang dari Ibuku yang tak menggunakan ancient sword.
“Sebenarnya seberapa kuat Ibu dalam bertarung? Kenapa kapten terlihat seperti takut pada ibu?”
Noel langsung mendekat dan berbisik di telingaku.
“Kau lupa yang tadi kuceritakan? Profesor membunuh ancient lizard dengan sekali tebasan! Mana ada hunter yang mampu melawannya?”
Ibu melirik ke arahku dan kurasa ia sudah siap memberi ceramah panjang. Kapten dan Noel langsung pulang setelah menyadari situasi. Aku merasa di hianati karena mereka kabur sendiri.
“Bagaimana keadaanmu, Livy?”
“Seperti yang Ibu lihat... Aku sudah sangat sehat. Lukaku juga sudah sembuh.”
“Kudengar kau hampir tewas dua kali di misi besar pertamamu?”
Lagi-lagi aku merasa dihianati. Awas saja kau, Rose. Akan kupotong rambutmu dengan ancient sword! Aku tak sanggup menjawabnya dan hanya tersenyum sambil menutupi rasa bersalah.
“Apa pelatihan di pendidikan hunter masih kurang?”
“Bukan begitu, bu. Akunya saja yang sedang kurang beruntung karena selalu bertemu monster kuat.”
“Setelah kau keluar dari sini kau akan kulatih menggunakan ancient sword dengan benar! Bila setiap penjelajahan kau selalu terluka parah, suatu saat kau akan mati konyol, Livy! Aku membesarkanmu bukan untuk jadi makanan para monster di luar sana!”
“Maafkan aku!”
Tanpa sadar air mata keluar deras dari mataku. Ibu memeluku dengan erat. Aku sangat mengerti rasa khawatirnya karena aku pun sadar di masa depan, bisa saja aku tidak akan selamat bila terus mendapat luka parah setiap kali bertarung dengan monster.
Setelah kami berdua tenang, ceramah ibu dimulai. Aku yang tak sanggup membantah hanya bisa diam selama 2 jam mendengar ceramahnya.
“Ibu, apa nanti aku bisa membunuh ancient lizard dengan sekali tebas seperti Ibu?”
“Itu mustahil... Dasar anak bodoh!”
“Kenapa? Ibu bilang akan melatihku?”
“Setiap ancient sword memiliki gaya bertarung yang berbeda. Tak akan ada yang sama. Kau sudah melihat 3 ancient sword kan? Dari bentuknya saja sudah terlihat sangat jauh berbeda. Tapi setelah latihan aku yakin kau bisa mengalahkan ancient lizard.”
Aku menjadi bersemangat dan ingin cepat keluar dari rumah sakit. Aku bertanya beberapa hal mengenai ancient sword pada Profesor. Profesor bercerita kalau ancient sword yang ia ketahui berjumlah sekitar 8 buah, dan tersebar di berbagai tempat. Mendapatkannya pun tak mudah karena senjata itu di sembunyikan dengan baik. Ibu tak tahu lokasi persisnya. Hanya keberuntungan yang bisa diandalkan untuk mendapat senjata unik itu.
Ibu juga bercerita bahwa ia menemukan catatan tentang senjata-senjata itu. Namun catatan yang ia temukan tak menceritakan material apa yang digunakan untuk membuatnya, serta siapa yang membuat senjata hebat yang kami sebut ancient sword. Ibu juga berkata kalau sedikit salah bila menyebut ancient sword. Kenyataannya bukan hanya pedang. Namun ada busur, dan senjata bertipe lain.
Ancient sword memang bisa di gunakan oleh siapa saja. Namun yang sebenarnya kemampuan senjata ini lebih hebat dari hanya sekedar ketajamannya. Aku yang mendengar penjelasan itu mulai tak sanggup menahan rasa penasaranku. Aku ingin segera melihat kemampuan Ibuku menggunakan senjata uniknya.
Saat sore hari Profesor pergi meninggalkanku sendirian. Ia berkata kalau aku harus berada di sini selama 2 hari lagi untuk memulihkan kondisiku. Sore ini begitu tenang dan sepi. Aku yang terduduk di ranjang rumah sakit hanya di temani cahaya matahari yang masuk dari jendela ruangan ini.
Di temani cahaya kemerahan dari matahari sore, aku bersyukur kali ini bisa selamat dari maut. Aku yang sudah yakin akan mati saat melawan ancient lizard, kini masih bisa bernafas dengan tenang. Ditambah orang-orang sekitarku yang sangat peduli padaku, aku sangat beruntung masih bisa hidup.