Dragon Era: Legend of the Dragon Hunter

Dragon Era: Legend of the Dragon Hunter
Liburan Livy part1



Dua hari berlalu begitu cepat. Tanpa terasa aku akan keluar dari rumah sakit. Ibu, Noel, dan kapten, bahkan Rose pun menjemput untuk mengantarku pulang. Mereka memberi ucapan selamat untukku. Setelah berbulan-bulan hanya tertidur, rasanya tubuhku butuh sedikit bergerak. Sebenarnya aku ingin jalan-jalan sedikit. Namun Profesor menyuruhku untuk pulang dan beristirahat satu hari lagi.


Ibu juga berkata sudah membuat masakan kesukaanku untuk makan. Kami mengundang kapten dan Noel juga untuk makan bersama sebagai perayaan kesembuhanku. Sangat disayangkan Rose tidak bisa ikut karena masih harus bekerja. Kami langsung berjalan menuju rumahku. Melewati sibuknya Eden Shelter menuju ke kompleks pemukiman. Kami berjalan dengan santai sambil berbincang. Rasanya sudah sangat lama aku tak merasakan keadaan damai seperti ini.


Para pemilik toko di sepanjang jalan menuju rumahku juga memberikan ucapan selamat atas pulihnya diriku. Mereka juga memberikan sedikit barang dagangannya sebagai ucapan selamat. Tanpa sadar barang bawaan kami jadi semakin banyak seiring kami melewati area pertokoan. Aku memang mengenal semua penjual di area ini. Sejak kecil memang aku sering berbelanja sendiri karena Profesor sangat sibuk.


Akhirnya kami sampai di rumah. Tempat tenang dan aman yang begitu aku rindukan. Kali ini aku tak seorang diri masuk kerumah ini. Ada kapten, Noel, dan orang paling penting dalam hidupku. Aku sungguh sangat bahagia bisa pulang kerumah.


Kami duduk di ruang tamu sebelum makan. Noel membuatkan kami teh herbal untuk menghangatkan suasana.


“Ibu, boleh lihat pedangnya?”


Profesor langsung memberikan ancient sword miliknya tanpa bertanya. Berapa kali pun aku lihat, pedang ini memang sangat luar biasa indah.


“Ibu dapat pedang ini dari mana?”


“Dari reruntuhan yang belum diteliti. Pedang itu berada di dalam patung naga.”


“ Aku juga menemukan ancient swordku di patung naga. Kapten juga?”


“Tidak. Aku hanya menemukannya tertancap di lantai reruntuhan yang sudah hancur di dalam danau.”


“ngomong-ngomong, pedang kapten masih belum dikembalikan?”


“Masih kusita dari si bodoh ini.”


Aku jadi benar-benar merasa bersalah terhadap kapten. Padahal menyerang ancient lizard adalah keputusanku sendiri. Karena kapten yang terus merengek meminta pedangnya dikembalikan, akhirnya Ibuku mengembalikannya, meski masih terlihat kesal.


“Sekarang... Afhkar, apa kau tau cara menggunakan pedang itu?”


Ibu tiba-tiba bertanya seperti itu. Aku juga belum tahu maksud dari pertanyaannya. Di rumah sakit pun ia sempat menyinggung masalah penggunaan ancient sword.


“Aku biasanya hanya menebas monster. Karena pedang besar, aku bisa menyerang di jarak menenga. Hanya itu.”


“Kau memang terlahir bodoh, Afhkar.”


Aku sungguh tak bisa berkata-kata mendengar obrolan mereka. Setelah banyak berbincang kami pindah ke meja makan dan aku makan dengan begitu lahapnya. Aku sungguh merindukan makanan yang masuk melalui mulutku. Tak ada yang lebih membahagiakan dari hari ini.


Sebelum pulang, Noel mengajak untuk berjalan-jalan esok hari. Ia mengajak untuk membeli pakaian baru besok. Setelah berpikir sebentar, aku meng-iakan ajakan Noel. Aku gak ingin hidup seperti kapten yang hanya tahu cara berburu.


“Aku pulang dulu. Jangan lupa besok! Aku akan kesini pagi hari, Liv.”


“Ok... Akan ku tunggu, Noel.”


Bayaran kami setelah menyelesaikan misi juga sudah kuterima. Jadi aku bisa bersenang-senang besok. Saat masuk kedalam rumah, kulihat ibu masih terduduk di ruang tamu.


“Bagaimana keadaanmu, Livy? Kau yakin sudah benar-benar pulih?”


“Sudah. Bahkan aku bisa langsung menjalankan misi.”


“Bersenang-senanglah dulu. Anggap sebagai liburan untuk menyegarkan pikiran! Jangan terlalu memaksakan diri, Nanti kau bisa jadi seperti Afhkar!”


Sepertinya Profesor mendengar pembicaraanku dengan Noel tadi. Ia memberikan uang padaku dalam jumlah sangat banyak, namun aku menolaknya. Aku berencana membelikan hadiah untuk ibu besok. Bagaimana bisa aku menerima uang darinya.


Malam hari tiba tanpa terasa. Aku yang berada di kamarku duduk di jendela untuk menikmati sunyinya malam. Bintang yang terlihat di Eden memang tak seindah saat aku berada di alam liar. Namun hal itu bisa di gantikan dengan kedamaian saat ini. Aku tak sabar menanti hari esok. Rasanya sampai sulit tidur karena ingin segera pagi. Sepertinya baru kemarin aku melihat ke arah langit dengan hamparan bintang yang tak terhitung jumlahnya di alam liar.


Waktu terlalu cepat berlalu karena aku tertidur selama beberapa bulan. Saat sedang melamun memandangi bulan, tiba-tiba terdengar suara ketukan dari pintu kamarku.


“Livy, sudah tidur?”


“Belum, bu.”


Aku langsung berjalan ke arah pintu dan membukanya.


“Sudah siapkan pakaian untuk pergi besok?”


“aku menggunakan pakaian penjelajah saja. Lebih nyaman untuk bergerak.”


“ ah... Kau terlalu banyak bergaul dengan Afhkar ya? Jadi ketularan bodoh.”


“Bukan begitu... Aku hanya merasa nyaman dengan pakaian itu.”


Ibu langsung masuk dan membuka lemari pakaianku. Ia memilih baju yang dianggapnya cocok untuk aku gunakan besok. Aku sendiri tak terlalu peduli dengan penampilan. Karena selama ini yang kutemui hanya para monster di alam liar.


“Wajah cantikmu jadi percuma kalau kau menggunakan pakaian bertarung untuk jalan-jalan! Jangan jadi seperti Afhkar yang selalu mengenakan battle suit!”


Setelah lama memilih akhirnya selesai juga. Tak ku sangka memilih baju saja bisa jadi melelahkan. Rasanya lebih mudah berburu cherna di area savana. Aku langsung tertidur pulas saat membaringkan tubuhku di tempat tidur yang selama ini tak ku gunakan. Aku terbangun saat matahari baru saja mengintip dari kejauhan. Aku langsung turun ke dapur dan menyiapkan sarapan.


Keluarga kami mempunyai kebiasaan yang unik untuk sarapan. Aku dan ibu selalu sarapan dengan teh herbal hangat dan beberapa potong roti berukuran kecil tanpa isi. Kebiasaan ini selalu Ibu lakukan setiap pagi jika sedang di rumah. Bahkan sebelum aku diadopsi olehnya dia sudah memiliki kebiasaan ini.


Entah sejak kapan aku juga mengikuti kebiasaannya. Aku lansung membangunkan Profesor setelah sarapan siap. Kami sarapan bersama dan sedikit berbincang tentang pekerjaan kami. Aku pun menceritakan tentang gua yang ada di bukit duri, dan mengajak profesor untuk melihat ke sana. Prefesor setuju dengan ajakan ku. Ia juga bilang akan melatihku dalam perjalanan ke sana. Sepertinya beliau sangat khawatir karena aku seringkali terluka saat bertarung di alam liar.


Bukan berarti aku mau mendapat luka serius setiap bertarung dengan monster. Tapi monster yang kutemui selalu monster yang sangat berbahaya. Bisa duduk sarapan di rumah ini saja sudah seperti keajaiban.


Setelah sarapan bel pintu depan berbunyi. Karena terus berbincang dengan Profesor, aku jadi lupa kalau Noel akan datang pagi. Aku harus minta maaf padanya nanti.