Dragon Era: Legend of the Dragon Hunter

Dragon Era: Legend of the Dragon Hunter
Kekuatan Pinjaman



Profesor menghilang dan terjadi ledakan berkali-kali di beberapa bagian tubuh basilisk itu terutama kepala, dan muncul lagi di arah yang berlawanan denganku. Sepertinya Profesor berusaha menjauhkan basilisk dariku. Setelah menerima serangan dari Profesor, basilisk itu seperti tak terluka sama sekali. Hanya muncul goresan yang sedikit mengeluarkan darah. Monster itu kini mengincar Profesor dan membelakangiku.


Aku segera melesat ke arah monster itu dengan ancient sword masih ku genggam di kedua tangan. Saat posisiku sudah dekat, aku langsung menggunakan shadow step naik ke atas tubuh basilisk dan terus maju hingga ke atas kepala monster itu. Aku menancapkan ancient sword di tangan kiriku ke mata kanan basilisk raksasa.


Seketika darah menyembur keluar dan basilisk itu meronta kesakitan. Aku berusaha bertahan agar tidak terjatuh dengan terus berpegangan dengan ancient sword yang masih menancap di matanya. Monster itu terus meronta hingga menabrakkan kepalanya ke dinding ruangan itu, hingga membuat dinding ruangan retak dan menjatuhkan beberapa pecahan batu ke atas kepalanya. Aku yang masih berpegangan dengan ancient sword yang masih menancap juga terkena runtuhan batu, dan akhrinya terjatuh. Beruntung saat itu basilisk tidak sedang mengangkat kepalanya terlalu tinggi. Setelah terjatuh aku langsung menjauh dari monster itu dan mendekati Ibuku.


“Serangan yang bagus, Livy.”


“Ia, Bu. Walaupun basilisk mengandalkan penciuman untuk menemukan target, bukan berarti tak akan sakit jika matanya ditusuk.”


Basilisk itu masih saja meronta kesakitan, dan mendesis keras.


“Livy... Pegang pedang Ibu sebentar!”


Ibu langsung memberikan pedang di tangan kanannya padaku. Lalu ia melepas pedang di punggung tangan kirinya, dan memanjangkan pedang itu.


“Seni sihir naga... Teleport”


Ibu melangkah sambil mengatakan hal itu, dan tiba-tiba menghilang. Aku berpikir itu adalah nama gerakan aneh yang selama ini Ibu gunakan. Ia memang selalu mengucapkan jurusnya meski dengan suara yang sangat pelan belakangan ini. Bahkan terkadang aku tak terlalu mendengar ia mengucapkannya. Ibu muncul kembali di atas kepala basilisk yang mulai sedikit tenang. Setelah muncul ia langsung menancapkan pedang yang ia bawa di tangan kanannya ke mata kiri monster itu. Ibu juga langsung mencabut ancient sword milikku yang masih tertancap di mata kiri basilisk, dan kembali muncul di sampingku. Tentu basilisk makin meronta kesakitan setelah kedua matanya tertancap pedang.


“Ini, Bu... Pedangmu.”


“Sekarang... Bagaimana ya, membunuh basilisk sebesar ini?”


“Aku memikirkannya sejak tadi. Namun tak ada jawaban, Bu. Serangan Ibu saja tak terlalu berefek padanya.”


“Kalau saja tangan kiriku tidak patah. Serangannya terlalu kuat untuk ditahan.”


Aku merasa bersalah saat Ibu mengatakan hal itu. Padahal seharusnya aku yang melindunginya. Namun justru aku yang ia lindungi dan menyebakan tangannya cidera.


“Maafkan aku, Bu.”


“Kenapa kau minta maaf? Ini bukan salahmu. Yang paling penting sekarang... Livy, pejamkan matamu dan fokuslah. Imajinasikan pedangmu memanjang dan pertahankan imajinasi itu saat kau membuka mata! Cepat menjauh dan lalukan yang ibu suruh! Kemenangan kita bergantung padamu.”


Aku masih tak mengerti kenapa Ibu menyuruhku melakukan hal itu. Namun aku hanya perlu melakukannya karena pasti ada tujuan dari semua perkataan ibu barusan. Aku menjauh ke arah lorong tempat tadi aku masuk ruangan ini. Di sana ada kakek busuk yang sejak tadi hanya melihat dengan semangat. Aku hanya membiarkannya dan melakukan perintah Ibu.


Aku berkonsentrasi sebisaku untuk membantu Profesor. Walau begitu mustahil seseorang bisa berdiam diri dan memejamkan mata saat Ibunya sedang bertarung dengan monster raksasa seperti yang kulihat di depanku.


Kupejamkan mata dan membayangkan kedua ancient swordku membesar. Meski aku pun masih tak paham apa maksud Ibu. Aku harus cepat karena nyawa Ibuku jadi taruhannya. Tiba-tiba kedua pedangku semakin memberat. Namun saat kubuka kedua mataku kembali lagi seperti semula. Kulakukan berkali-kali namun hasilnya tetap sama. Sulit untuk mempertahankan imajinasi saat membuka mata karena melihat Ibuku yang masih terus menahan basilisk raksasa.


“Akan kubantu hanya untuk kali ini.”


Aku tiba-tiba mendengar suara itu. Suara yang sangat dekat seperti berbicara dalam kepalaku.


“Hei, kakek tua... Kau barusan berbicara?”


Suaranya memang sama sekali berbeda dengan kakek bau tanah itu. Lalu siapa yang berbicara? Aku kembali memejamkan mata berharap bisa mendengar lagi suara pria yang tadi berbicara.


“Fokuslah agar aku bisa memberimu kekuatan!”


Lagi-lagi suara itu.


Aku duduk dan mencoba bermeditasi sambil tetap memegang ancient sword di kedua tangan. Mencoba memahami dan mengetahui dari mana asal suara itu.


“Terimalah... Hanya untuk kali ini.”


Tiba-tiba dadaku terasa sangat panas hingga rasanya seperti di bakar. Tubuhku juga serasa melayang dan ringan. Panas yang kurasakan semakin menjalar ke seluruh bagian tubuhku. Jauh lebih panas dari tempat ini.


“Jangan buang waktu! Aku hanya bisa meminjamkan kekuatan ini sebentar.”


Aku langsung membuka mata dan terkejut melihat keadaan sekitarku. Semua bergerak melambat. Saat melihat tanganku, aku lebih terkejut lagi karena tanganku berubah menjadi bersisik dan memiliki kuku sangat panjang. Ada sesuatu juga di bagian belakangku dan kepala. Di pinggang bagian belakang pinggangku muncul sayap mirip seperti ancient lizard yang hampir membunuhku saat misi sebelumnya. Sayapnya begitu mirip dengan yang menempel di punggungku sekarang, hanya lebih kecil. Di kepalaku tumbuh sepasang tanduk runcing mengarah kedepan dan sedikit melengkung ke atas.


“Apa-apaan ini?”


Di kepalaku muncul banyak kata-kata aneh seperti saat Ibu mengucapkan sesuatu sebelum menggunakan jurusnya.


“Hoho... Tak biasanya ia meminjamkan kekuatan.”


“kau tahu apa yang terjadi padaku kek?apa-apaan ini?aku seperti monster.”


“Pemilik ancient sword mu sebelumnya meminjamkan kemampuannya. Cepat selesaikan pertarungannya sebelum sihir itu menghilang!”


Aku langsung mencoba meniru jurus yang dikeluarkan Ibu tadi.


“Seni bela diri naga... Tebasan taring naga.”


Aku melesat terlalu cepat bahkan melebihi shadow step. Sangat sulit untuk dikendalikan. Bukannya menebas basilisk raksasa, aku justru menabrak dinding ruangan itu dan terjadi ledakan yang cukup besar. Aku terjatuh ke lantai dari ketinggian yang mungkin bisa membuatku cidera dalam keadaan normal.


“Sial. Apa-apaan ini. Terlalu sulit.”


Aku mencoba jurus lain yang tiba-tiba ada di dalam kepalaku. Aku mengarahkan kedua pedang ke arah depan.


“Seni sihir naga... Perubahan wujud pedang naga.”


Tiba-tiba api berwarna merah muncul dan menyelubungi pedangku hingga ukurannya membesar dua kali lipat. Api itu berputar mengelilingi ancient sword dengan kecepatan tinggi. Kini aku siap menyerang.


“Seni bela diri naga... Sayatan cakar naga.”


Ini adalah teknik gabungan dari shadow step dan tebasan taring naga. Aku bergerak sangat ringan dan langsung memberikan tebasan kuat yang disusul dengan ledakan di tubuh basilisk itu. Kini aku bisa melakukan shadow step di udara dengan memanfaatkan teknik ini. Seperti ada lantai tak terlihat di bawah kakiku.