
Aku melupakan hal sangat penting yang seharusnya bisa menolongku dalam situasi seperti ini. Karena kerusuhan ini aku sama sekali tak bisa berpikir jernih. Sangat jelas aku telah menguasai shadow step. Bila pintu gerbang terbuka sebentar saja pasti aku bisa masuk dengan mudahnya.
Saat ini yang harus kami lakukan adalah menunggu kesempatan untuk masuk ke dalam Eden. Walau hanya sesaat, bila pintu gerbang terbuka aku akan bisa masuk ke dalam. Eden memiliki 6 pintu yang mengelilinginya. Pasti ada 1 kesempatan untuk kami lewat. Aku dan Noel mulai berjalan memeriksa pintu satu-persatu.
Di pintu ke 4 yang kami periksa ternyata terjadki kerusuhan. Orang-orang yang tak sempat keluar saat evakuasi semalam kini mencoba melarikan diri keluar dari Eden. Karena jumlah mereka banyak, para prajurit harus membuka pintu agar mereka bisa keluar.
“Noel, tak apa-apa kau menunggu di sini?”
“Aku akan baik-baik saja, Liv... Segeralah kembali!”
“Baiklah. Tolong awasi keadaan di sini!”
“Semoga hal-hal baik menyertaimu, Liv.”
Di sela kericuhan aku menggunakan shadow step dan menyelinap masuk ke dalam Eden. Suasana di dalam Eden menjadi sepi. Hampir semua penduduknya sudah keluar dan berada di sekitar Eden. Hanya menyisakan sedikit yang masih mempertahankan harta benda mereka dan tetap berada di Eden. Tentunya para penghianat masih berada di dalam. Aku tak akan segan membunuh bila mereka menyerangku.
Aku harus cepat menemukan Ibu dan kapten. Tempat pertama yang akan ku datangi adalah akademi hunter. Mungkin Ibu dan kapten berada di sana karena harus melindungi para murid. Sementara Noel berada di luar membantu para pengungsi, aku harus cepat membawa kabar baik untuknya. Sepanjang perjalanan menuju akademi aku tak melihat seorang pun. Eden menjadi sepi seperti kota terbengkalai yang aku kunjungi sebelumnya di bukit duri. Padahal biasanya di sekitar akademi hunter selalu ramai karena berdekatan dengan taman. Namun kali ini tak ada apa pun.
Aku sampai di gerbang akademi. Di depan gerbang tak ada yang menjaga seperti biasanya. Aku memutuskan masuk dan memeriksa sebentar untuk memastikan. Mungkin ada seseorang yang masih bersembunyi di dalam. Setelah mencari dan berkeliling akademi, aku tak menemukan siapa pun di sana. Aku keluar dan langsung menuju perpustakaan. Karena bila ada bangunan besar yang bisa di jadikan tempat berlindung, salah satunya adalah tempat itu.
Kulewati distrik perbelanjaan menuju perpustakaan yang ada di tengah Eden. Tempat ini hangus terbakar. Hampir tak ada yang tersisa selain bangunan yang hancur dan asap yang mengepul di beberapa tempat. Kemungkinan sudah tak ada seorang pun di distrik ini. Para bangsawan rendahan itu mungkin terlalu bodoh karena telah membakar seisi Eden. Bila seperti ini pastinya mereka akan butuh biaya lagi untuk pembangunan ulang.
Bodohnya lagi mereka tidak memperketat penjagaan. Namun itu juga bagus karena aku bisa berlalu-lalang sesukaku mencari keberadaan Ibu dan kapten. Sebelum ke perpustakaan aku lebih dulu memeriksa rumahku, berharap Ibu akan ada di sana. Namun ketika sampai masih tak kutemukan seorang pun. Aku segera bergerak ke arah tujuan utamaku. Saat sampai di depan pintu perpustakaan ada beberapa penjaga yang berdiri di depan pintu masuk.
“Aku mencari Profesor Evelyn Cage, dan Afhkar dari divisi hunter. Apa mereka ada di sini?”
“Mereka sempat kesini tadi. Namun segera pergi saat terjadi suara ledakan dan tak kembali lagi.”
“Baiklah.”
Aku tak ingin membuang waktu terlalu lama di tempat ini. Setidaknya kini aku tahu kalau kapten dan Profesor masih berkeliaran di dalam Eden dan belum tertangkap. Aku segera menuju arah ledakan yang ku dengar saat masih di luar Eden tadi. Aku yakin ledakan itu tak jauh dari dinding pelindung Eden, karena suaranya sangat keras terdengar.
Aku sampai di dinding pelindung Eden tempat terjadi ledakan tadi. Terdapat beberapa lubang dan retakan pada tanah sekitar. Di dinding besi Eden yang tebal juga terlihat bekas ledakan yang cukup besar. Aku masih tak tahu apa yang sebenarnya terjadi di tempat ini. Jejak-jejak bekas pertarungan juga melebar tak hanya di sekitar dinding tempat terjadinya ledakan.
Jejak pertarungan melebar hingga area perternakan. Walau masih dalam keadaan baik, di area ini juga banyak gudang-gudang penyimpanan yang hancur meski tak terlalu parah. Di tempat ini juga tak ada seorang pun yang kulihat. Hanya ada hewan ternak yang menunggu majikan mereka memberi makan. Aku terus menelusuri area pinggir Eden. Setelah melewati distrik peternakan, jejak pertarungan mulai sulit terlihat.
“Ikutlah kami kalau ingin selamat! Kalau kamu menurut, kami tak akan melukaimu.”
“Haah... Kalian bodoh atau sudah gila? Kau tak tahu siapa aku?”
“Kami tak peduli siapa kau! Kau harus kami tangkap karena masih berkeliaran di sini.”
“Aku tak punya waktu untuk meladeni kalian. Jadi sebaiknya kalian minggir!”
Penampilan mereka memang seperti prajurit. Berpakaian lengkap dan membawa senjata khas prajurit penjaga Eden. Namun hampir semua prajurit di Eden setidaknya mengetahui wajahku. Bila ada yang tidak mengenalku hampir bisa di pastikan mereka ini palsu.
“Apa kalian kubunuh saja ya?”
“Apa kau bilang?”
Aku tak sengaja mengucapkan isi kepalaku. Tapi mungkin ku potong saja salah satu tangan atau kakinya. Mungkin aku akan dengan mudah bisa lewat. Namun apa yang harus aku katakan kalau Ibu tahu? Aku tak mau Ibu berpikir kalau anaknya berubah menjadi seorang psikopat.
Saat sedang berpikir hal lain yang mengerikan tiba-tiba Ibu muncul dan membuat 3 prajurit gadungan itu pingsan.
“Kau berhasil masuk, Livy... Di mana Noel?”
“Ibu... Noel di luar. Aku menyelinap masuk karena ingin mencari Ibu. Kami bingung harus bagaimana.”
“Kali ini Eden sangat kacau. Para bangsawan saling berperang dan menimbulkan kerusuhan. Aku dan Afhkar baru saja ingin menyelamatkan para bangsawan yang di penjara sampai barusan melihatmu dan akhirnya ke sini.”
“Lalu sekarang kita harus bagaimana, Bu? Bukankah lebih baik membantai para penghianat lebih dulu?”
“ Jangan terburu-buru, Livy... Yang paling penting kita harus menyelamatkan mereka yang ada di penjara bawah tanah lebih dulu!”
“Baik, Bu... Aku akan ikut membantu.”
Aku mengikuti Ibu ke saluran pembuangan bawah tanah di bagian paling belakang Eden. Kami akan melalui jalur ini untuk menyelinap ke penjara bawah tanah. Ibu sudah melihat pintu depan penjara sebelum bertemu denganku. Di sana sangat banyak penjaga yang menunggu di depan pintu masuk. Karena itu Ibu dan kapten memutuskan untuk menyelinap seperti ini. Ibu berkata bahwa ia tak ingin melihat banyak korban tewas di kerusuhan kali ini.