Dragon Era: Legend of the Dragon Hunter

Dragon Era: Legend of the Dragon Hunter
Hari Keberangkatan



Kekuranganku hampir mustahil dilatih tanpa pertarungan langsung. Karena itu aku hanya akan memperdalam hubunganku dengan senjataku kali ini. Aku akan mempelajari sedikit demi sedikit menutupi kekuranganku saat berada di luar Eden Shelter, karena besok aku akan ke bukit duri dengan Ibuku. Aku juga berharap kalau Noel dan kapten bisa ikut esok hari.


Kami terus berlatih hingga hari mulai sore. Cahaya kemerahan mulai menutupi arena. Murid-murid akademi pun sudah beranjak pulang.


“Hari ini sepertinya cukup, Noel.”


“Ia. Aku juga mulai kelelahan.”


Saat kami ingin pulang, tiba-tiba profesor datang dan menuju ke arah kami.


“Bagaimana latihan kalian?”


“Lumayan lancar, Bu. Oh ia, besok jadi ke bukit duri, kan?


“Ia kita berangkat pagi besok setelah matahari terbit.”


“Apa Noel dan kapten bisa ikut?”


“Tentu mereka ikut... Tujuan utama adalah untuk memperkuat tim kalian, kan.”


Noel terlihat senang karena bisa menjelajah bersama profesor. Sebaliknya, kapten memasang wajah khawatir. Aku mengerti perasaannya yang selalu di tekan Ibuku. Namun ini semua demi tim kami.


“Bersabarlah kapten... Kami mendukungmu.”


Kami pulang setelah sedikit berbincang. Di rumah ternyata Ibu sudah bersiap untuk besok. Petualangan kami esok hari bukanlah untuk menjalankan misi. Jadi tak akan mendapat hadiah apapun. Sebagai gantinya, pasti kerja sama tim kami akan lebih baik karena di awasi oleh Profesor. Aku yang baru sampai rumah segera makan dan beristirahat. Aku sangat menantikan petualangan esok hari karena perjalanan besok kemungkinan bisa membuatku menjadi lebih kuat lagi.


Keesokan paginya aku bangun sangat pagi. Bahkan matahari belum menampakan diri dan rembulan baru akan pergi beristirahat. Aku langsung bersiap untuk hari yang membuatku berdebar ini. Tak banyak barang yang harus aku kemas karena Ibu sudah hampir mempersiapkan semuanya kemarin. Hanya keperluanku dan senjata yang harus aku persiapkan.


Aku selesai mempersiapkan keperluanku saat matahari baru saja mengintip dari ujung jendela. Kudengar bel pintu depan berbunyi, dan aku bisa menebak siapa yang menekan bel sepagi ini. Aku langsung turun membuka pintu depan. Noel sudah siap dengan semua peralatan serta kuda besinya. Sepertinya ia benar-benar semangat untuk petualangan kali ini.


Seluruh keluarga Noel memang sangat mengagumi dan menghormati Profesor Cage, termasuk Noel. Mendapat kesempatan menjelajah bersama mungkin adalah salah satu mimpi untuk sahabatku yang manis ini. Noel membawa busur barunya serta pedang pendek di pinggang bagian belakangnya. Penampilannya sunggung menawan saat mengenakan battle suit yang memperlihatkan bentuk tubuhnya.


Aku mempersilahkan Noel masuk untuk menunggu Profesor yang belum kelihatan sejak aku turun tadi. Sambil berjalan ke kamarnya aku memanggilnya beberapa kali. Namun tak ada jawaban sama sekali dari Profesor.


Dengan ini tim kami sudah lengkap. Profesor pun sudah selesai bersiap. Kami hanya perlu menghabiskan teh herbal kami dan langsung berangkat menuju petualangan baru.


“Dengar semuanya...! Sebisa mungkin aku hanya akan mengawasi tim kalian. Jadi bila ada monster yang menyerang aku tak akan maju kecuali sangat mendesak.”


Kami serentak menjawab.


“Siap!”


Kami melangkahkan kaki pertama kali keluar pintu untuk menyambut petualangan ke tanah yang tak pernah terjamah. Mungkin perjalanan kali ini tak akan menghasilkan apapun. Namun di petualangan ini kami bisa kemanapun, dan mendapat apapun yang kami butuhkan untuk misi kami selanjutnya.


Kami memacu kuda besi dengan santai menuju gerbang utama Eden Shelter. Semakin mengarah ke gerbang, semakin banyak penjelajah dan prajurit yang kami temui. Semua mengenal Profesor Cage dan menyapa secara bergantian. Aku merasa bangga sekaligus iri dengan Ibu yang dihormati semua orang.


Langkah pertama kami keluar gerbang langsung disambut dengan angin dingin yang bertiup sendu. Menandakan musim yang akan berganti. Ini pertama kalinya aku berada di Eden Shelter untuk waktu yang lama setelah menjadi hunter. Perasaanku semakin bergejolak dalam dada, aliran darahku menjadi cepat menyambut petualangan liar di depanku. Terlebih lagi kini ada sepasang pedang luar biasa di punggungku. Kami menambah kecepatan setelah keluar dari Eden. Bersiap menyusuri hutan yang mengelilingi Eden Shelter ke arah savana.


Kami harus mencapai savana sebelum hari mulai gelap. Di sana kami harus berburu untuk mengisi ulang tenaga dan bergerak esok hari. Tak ada monster satu pun yang kami temui di hutan ini. Hanya suara berung kecil dan serangga yang saling bersahutan. Kami yang mengikuti Profesor dari belakang mencoba mengimbangi lajunya yang kian cepat. Walaupun sedikit sulit untuk bermanuver di hutan yang rimbun ini, kami masih bisa mengikuti Profesor dengan baik.


Sebelum marahari terbenam kami sudah menyeberangi hutan dan tiba di savanna. Tak jauh dari hutan ternyata ada kawanan cherna yang sedang memakan semak di sekitar.


“Noel... Incar yang paling kecil!”


Mendengar perintah Profesor, Noel langsung menyiapkan busur dan anak panahnya. Sebelum Noel menembak, kapten lebih dulu bergerak mengacaukan kawanan cherna. Kawanan monster itu kini menyebar ke segala arah. Noel yang sudah menentukan target segera melepaskan anak panahnya. Anak panah melesat dengan cepat dan langsung bersarang di leher cherna yang masih kecil itu. Setelah menembakan anak panah, Noel langsung kembali naik ke kuda besi dan menghampiri cherna yang terjatuh akibat tembakan panahnya. Ia mengeluarkan pisau di pinggangnya dan mengiris leher cherna yang masih hidup itu. Cherna itu akhirnya mati setelah menggelepar selama beberapa menit di atas rerumputan.


Aku dan kapten langsung mengurus cherna itu untuk di ambil dagingnya. Sementara Profesor dan Noel kembali ke dalam hutan untuk mencari kayu. Malam itu kami berpesta dengan memakan daging cherna bakar sebanyak-banyaknya sampai perut kami tak sanggup lagi menampung makanan.


Menikmati hasil buruan Noel tidak buruk juga. Sepertinya kemampuannya meningkat setelah beberapa bulan ini. Ia bisa mengincar titik vital dan menyebabkan serangan fatal dari target yang bergerak. Kemampuannya sungguh pantas di sebut yang terbaik di Eden.


Bagi kami para penjelajah, savanna adalah ladang berisi sangat banyak daging untuk dimakan. Jadi setiap melewati tempat ini, kami selalu menyempatkan diri untuk berburu. Kemungkinan kemampuan kapten juga meningkat setelah beberapa bulan aku tertidur. Malam itu aku sulit memejamkan mata karena terus berpikir.


Rasanya hanya aku yang tertinggal dalam tim ini. Disaat mereka semakin hebat, aku justru mengalami penurunan. Meski kini aku memiliki ancient sword, namun sungguh tak ada gunanya bila kemampuanku tak sebanding dengan hebatnya senjata ini.