Dragon Era: Legend of the Dragon Hunter

Dragon Era: Legend of the Dragon Hunter
Menuruni Gunung Salju



Jalan menuju kota cukup jauh dari atas gunung ini. Kami harus melewati hutan pinus. Walau tak terlalu besar, karena tanah bersalju tebal dan suhu yang sangat dingin, stamina kami rasanya terkuras.


“Berhenti...! Ada pergerakan di sana.”


Sambil menunjuk arah kananku Noel menghentikan langkah kami. Di area yang di tujukan Noel terdapat pohon pinus yang lebat. Sulit melihat apa yang ada di sana karena terhalang pepohonan. Ibu pun tiba-tiba melompat naik ke atas pohon.


“Kelinci tanduk rusa... Dalam kelompok. Kalian bersiaplah! Sepertinya mereka menyadari keberadaan kita.”


Tak lama setelah Ibu mengatakan itu, kawanan kelinci tanduk rusa langsung mendatangi kami dari kejauhan. Meskipun disebut kelinci monster satu ini tak bisa di remehkan. Ukurannya sebesar manusia dewasa dengan tanduk panjang yang bercabang-cabang dan runcing di ujungnya. Walau terlihat seperti ranting, tanduk itu sangat kuat dan kokoh.  Dibekali kecepatan yang luar biasa tanduk itu menjadi senjata yang cukup berbahaya.


Sebelum monster itu mendekati kami, Noel sudah lebih dulu melesatkan anak panah ke arah mereka. Melihat anak panah yang melesat aku langsung berlari maju, di ikuti kapten yang persis di belakangku. Kelinci tanduk rusa yang menjadi target sasaran anak panah Noel menghindar ke arah samping. Aku langsung mengikuti pergerakan kelinci itu menuju ke arah kananku.


Di saat yang sama kapten melompat dan mengangkat ancient sword ke atas kepalanya ia menebas tepat ditengah kawanan kelinci tanduk rusa. Salju tebal yang menutupi tanah langsung berhamburan akibat tebasan kuat kapten. Kelompok kelinci itu pun terpencar. Aku masih mencoba mendekati kelinci tanduk rusa yang mengarah ke kananku. Namun tiba-tiba kelinci itu berbalik arah dengan begitu cepat dan melompat ke arahku. Monster itu menundukan kepalanya hingga tanduk bercabangnya persis menghadap ke arahku.


Aku segera melompat kesamping untuk menghindar. Setelah kelinci tanduk rusa itu melewatiku, aku melompat lalu membalik kedua ancient sword di tanganku. Aku menusuk punggung kelinci tanduk rusa dengan kedua pedang itu sekaligus mendarat di atasnya. Tusukanku menembus ke perutnya dan kelinci tanduk rusa itu langsung mati. Saat melihat ke arah kapten, ternyata sudah ada 3 kelinci tanduk rusa yang tergeletak di sekitarnya.


Ada 1 kelinci yang tertancap panah yang di tembakan Noel dan 2 lainnya mati terpotong oleh kapten. Masih tersisa 3 kelinci tanduk rusa yang menyerang kapten terus menerus. Aku segera mencabut ancient sword dari punggung kelinci buruanku, dan melesat ke arah kapten.


Kapten mendapat serangan telak dari arah kiri. Monster itu melompat dengan begitu cepat dan mengarahkan tanduknya ke arah sasaran. Beruntung kapten menyadari serangan itu, dan menahannya dengan ancient sword. Saat tanduk monster itu masih beradu dengan ancient sword milik kapten, aku melompat dan memenggal kepala kelinci tanduk rusa itu dengan pedang di tangan kananku.


“ Tersisa 2, Kapten!”


Tiba-tiba panah melesat dan menancap di kepala salah satu monster itu.


“Bukan 2, Livy. Tapi 1.”


Aku langsung melesat persis ke depan kelinci tanduk rusa dan menusuk lehernya dari arah samping. Perburuan kami akhirnya selesai. Tak biasanya aku lihat kelinci tanduk rusa berkelompok. Kami memang menghabisi kawanan ini dengan mudah karena berada dalam tim. Lain cerita bila menghadapi kawanan ini sendirian. Kelinci tanduk rusa bergerak dengan 2 kaki belakang mereka. Itu yang membuatnya sangat berbahaya. Kaki belakang itu mampu membuatnya melompat seperti menggunakan pegas. Kecepatannya juga tak bisa diremehkan. Tak hanya cepat, kelinci tanduk rusa juga sangat lihai merubah arah dalam kecepatan tinggi. Mereka dapat dengan mudah bergerak zig-zag di kecepatan yang tak bisa di tandingi oleh manusia.


“Untunglah kita mendapat makanan bagus kali ini.”


Ibu yang mendatangi kami terlihat senang mendapat daging untuk dimakan.


“Kenapa ibu tidak membantu? Kapten sempat kesulitan tadi karena dikepung!”


“Kan sudah Ibu bilang... Ibu hanya mengawasi kalian.”


“Lagi pula apa daging monster ini bisa dimakan?”


“Tentu bisa, Livy. Aku dan Ibumu sering memakan daging monster ini.”


“Aku khawatir akan kehilangan sisi manusia karena terlalu banyak memakan monster.”


“Ancient sword sunggung berguna ya, Liv.”


“Hmm...?”


“Kapten menggunakannya seperti sekop untuk menggali salju. Sedangkan Profesor menggunakannya untuk memotong hasil buruan kita.”


“Itu mereka saja yang keterlaluan, Noel. Aku memang tak pernah mendengar ancient sword yang rusak. Tapi mereka benar-benar keterlaluan. Itu kan senjata bukan alat serba guna.”


“Mungkin nanti kau juga akan seperti itu jika sudah terbiasa, Liv.”


“Tidak akan. Ayo kembali! Sepertinya sudah cukup.”


Saat kami kembali kapten sedang memangkut batang pohon yang baru saja ia potong dan meletakannya melingkari tempat api unggun.


“Benarkan, Liv. Serbaguna.”


Aku hanya tersenyum melihatnya. Orang-orang ini benar-benar menganggap ancient sword sebagai alat serbaguna. Setelah menyiapkan beberapa hal lain, akhirnya kami duduk mengitari api unggun yang baru saja dibuat Noel.


“Ibu, bagaimana pertarungan tadi? Aku hebat kan?”


“Kau kan Cuma membunuh 3, Livy. Lebih hebat aku yang di kepung kelompok monster itu.”


“Kalau aku tak ada, kapten pasti sudah kesulitan tadi kan.”


“Kau jangan ikut-ikutan, Noel!”


Entah sejak kapan kami saling bercanda seperti ini. Aku merasakan sedikit kehangatan saat ini. Entah dari keakraban kami atau dari api unggun di depanku.


“Kerja sama kalian memang terlihat bagus. Untuk selanjutnya... Livy, kau di larang melompat di pertarungan berikutnya! Kebiasaanmu masih belum juga hilang. Afhkar, kau semakin baik dalam pertarungan. Noel, jangan terlalu lama menunggu! Habisi sebanyak mungkin yang terlihat oleh mata! Sejak tadi kau terus menahan tembakanmu, kan? Bila musuh dalam jumlah kecil seperti tadi, itu memang bagus membiarkan anggota tim yang lain untuk beraksi. Tapi bilang jumlahnya banyak, bisa-bisa kaptenmu tadi sudah lebih dulu tewas.”


“Baik... Profesor!”


“Bukannya di awal tadi aku tidak melompat, Bu?”


“Kau tak melompat hanya saat menghidari serangan di awal, dan membunuh kelinci tanduk rusa terakhir. Sisanya kau melompat kan? Kau boleh melompat saat menghindar. Namun usahakan jangan melompat saat menyerang! Ini hanya untuk sementara sampai kau bisa membaca situasi sekitar dalam pertarungan. Setelah kau mahir, kau boleh bergerak sesukamu.”


“Baik, Bu. Aku akan berusaha.”


Bagaimana pun aku yakin ini demi diriku juga. Aku akan berusaha mengikuti saran yang Ibu berikan. Kalau aku bisa menjadi lebih kuat, maka mimpiku akan semakin dekat. Setelah makan kami melanjutkan perjalanan. Menuruni gunung yang ditutupi oleh salju tebal, dengan pepohon pinus serta cemara yang menutupinya. Kulihat sumber cahaya dari matahari buatan itu mulai memerah dan meredup. Mungkin itu menandakan malam di kota tersembunyi ini.