
Aku membuka pintu dan mempersilahkan Noel untuk masuk.
“Maaf Noel, aku baru selesai sarapan.”
“Cepat siap-siap, Liv!”
“Siap!”
Aku bergegas ke kamar dan mengganti pakaian. Tak lama aku pun turun.
“Jadi bagaimana rencana hari ini, Noel?”
“Pertama kita ke distrik toko pakaian, lalu makan, setelah itu kita ke distrik persenjataan. Aku ingin membeli busur dan anak panah, Liv.”
“Semakin lama kau jadi seperti kapten ya, Noel.”
“Apa maksudmu?”
“Kau tak pernah lepas dari hal-hal yang berhubungan dengan hunter.”
“Kurasa kau yang seperti itu. Aku yakin kau akan pakai battle suit hari ini jika tak dilarang Profesor Cage.”
Aku hanya terdiam dan tak sanggup menanggapi perkataan Noel. Apa dia punya kemampuan membaca pikiran?kenapa bisa tahu?
“Sudahlah. Ayo berangkat!”
Noel terlihat sangat berbeda hari ini. Ia memakai celana pendek berwarna hitam dan kaos biru bertuliskan hunter. Ia juga memakai sepatu setinggi mata kaki dan membawa tas yang ia selempangkan di bahunya, serta memakai cardigan. Kalau aku laki-laki, aku pasti akan jatuh hati saat pandangan pertama. Kulit putih dan mata sipitnya benar-benar memikat. Belum lagi rambut pendek sepundak yang terurai lurus dan wajah manisnya.
Meskipun aku tak kalah cantik darinya, entah kenapa aku merasa iri.
“Kau tak bawa peledak dan ranjau hari ini, Noel?”
“Rasanya pertanyaanmu membuatku kesal,Liv. Aku bukan kapten yang setiap melangkahkan kaki selalu ada pedang di punggungnya.”
Kami berjalan dengan santai menuju distrik toko pakaian yang tak jauh dari rumahku. Kami berbincang dan terkadang tertawa membicarakan kapten dengan tampilan uniknya. Aku yakin saat ini kuping kapten kami terasa panas.
Di perjalanan aku lihat banyak laki-laki yang melihat kearah kami. Menurutku itu hal yang wajar karena Noel yang begitu cantik hari ini. Aku pun baru kali ini melihat Noel mengenakan pakaian santai. Biasanya kami hanya bertemu saat menjalankan misi, dan saat masih di pendidikan hunter dulu.
Tak lama kami sampai di distrik toko pakaian. Kami mendatangi toko satu persatu sambil melihat-lihat.
“Kau cari baju seperti apa, Noel?”
“Hm... Entahlah. Kalau ada yang kusuka nanti aku beli.”
“Kau bagaimana, Liv?”
“Entah... aku terlalu bingung.”
“Kau mirip kapten, Liv.”
“No...! Baiklah. Aku akan beli banyak hari ini.”
Karena kesal selalu disebut mirip dengan kapten, pada akhirnya aku membeli banyak baju secara acak. Aku pun tak tahu kapan akan memakainya, karena lebih nyaman dengan battle suitku.
Aku membeli 7 baju dan 3 celana. Sedangkan Noel hanya membeli baju dengan jumlah yang tak masuk akal. Ia membeli 20 baju dan masih ingin melihat-lihat.
“Noel, kau sudah gila ya? Cukup belanjanya! Terlalu banyak untuk dibawa.”
Saat kami sedang berdebat bagaimana cara membawa belanjaan kami, tiba-tiba ada dua orang murid akademi hunter mendatangi kami.
Salah satu dari mereka berkata.
“Permisi, apa kalian hunter?”
“Ia.
“Berarti benar, senior Livy dan senior Noel kan?”
Aku spontan menjawab.
Noel pun menjelaskan padaku bahwa kami menjadi terkenal sejak melakukan misi terakhir. Sekarang kami seperti panutan bagi murid akademi karena bisa menyelesaikan misi yang sangat sulit walaupun belum lama lulus dari akademi.
“Kau penggemar kami ya? Apa kami boleh minta tolong?”
“Tolong apa senior? Kami siap membantu.”
“Bawakan ini ke rumahku dan Profesor Cage!”
“Noel, kau sudah gila ya? Mereka murid akademi. Bukan pengangkut barang!”
Noel berbisik ke telingaku
“Diam dan ikuti saja, Liv!”
“Kalian berdua kenal Profesor Cage kan?”
“Tentu kami kenal. Kami adalah penggemar beratnya.”
“Bagus... Sekarang antar ini semua!”
“Siap... Senior!”
Mereka berlalu pergi dengan membawa belanjaan kami untuk di antar kerumah. Aku tak habis pikir dengan kelakuan Noel.
“Nah... Sekarang kita bisa lanjut belanja, Liv.”
“Tak ku sangka kau begitu kejam pada juniormu, Noel.”
Kami melanjutkan berbelanja hingga matahari tepat berada di atas kami. Tak ku sangka belanja pakaian begitu menyenangkan, namun juga sangat melelahkan.
“Sekarang ke tempat selanjutnya. Kau mau makan apa, Liv?”
“Kita lihat-lihat dulu saja. Aku juga bingung mau makan apa.”
“Berangkat!”
Aku merasa kasihan dengan murid akademi hunter tadi. Bahkan kami tak menanyakan nama mereka. Kami akhirnya masuk ke salah satu restoran yang ada di distrik makanan. Di area ini berjajar restoran dan toko yang semuanya menjual bahan makanan. Kami makan dengan cepat karena harus ke distrik persenjataan. Karena jarak ke distrik persenjataan cukup jauh, kami harus bergegas agar tidak pulang terlalu malam. Noel pasti akan mendatangi semua toko senjata satu persatu dan membeli banyak barang.
Noel mencari busur baru di distrik ini. Karena busur yang biasa ia gunakan patah akibat misi terakhir kami. Kami menyusuri satu persatu toko senjata di area ini. Cukup sulit mendapatkan busur yang sebagus milik Noel sebelumnya, karena senjata busur panah kurang diminati oleh hunter. Mungkin karena boros biaya perawatan dan harga untuk anak panah sedikit mahal. Jadi hanya hunter tertentu yang menggunakannya. Untuk Noel sendiri harga tak pernah jadi masalah. Karena ia lahir di keluarga bangsawan salah satu pendiri Eden Shelter.
Noel menjadi hunter hanya karena hobi. Bukan untuk mencari uang seperti yang lainnya. Hidup di keluarga serba berkecukupan , harunya Noel tak perlu bekerja dan hanya duduk manis di rumahnya sebagai tuan putri.
“Apa ada senjata yang kau suka, Liv?”
“Aku tak perlu apa-apa. Tak ada senjata yang lebih bagus ancient sword di sini.”
“Hehe... Aku juga sependapat. Mustahil teknologi Eden bisa membuat senjata sekelas ancient.”
Setelah berkeliling akhirnya Noel menemukan busur yang sesuai. Ia langsung membelinya langsung beserta anak panah dalam jumlah banyak. Kami juga pergi ke toko alkimia untuk membeli bahan peledak. Sebagai traper, barang bawaan Noel memang sangat banyak setiap kali menjelajah keluar dari Eden Shelter. Karena lelah seusai berbelanja, kami beristirahat di taman yang lokasinya dekat dengan distrik persenjataan.
Cahaya matahari sudah mulai memerah. Angin sore pun berhembus pelan dan mulai menyebarkan udara dingin. Saat duduk di taman ada beberepa pria yang mendekati kami sambil mengajak berkenalan dan makan bersama. Namun setiap ada yang mengajak berkenalan, Noel selalu mengeluarkan busur dari kotaknya, dan belati yang ada dalam tasnya. Tentu para laki-laki itu langsung mundur.
“Kenapa kau selalu mengancam mereka yang mengajak berkenalan, Noel?”
“Siapa yang mengancam, Liv?”
“Kau mengeluarkan busurmu dan belati setiap ada yang mendekati kita. Apa itu bukan mengancam namanya?”
“Aku hanya tak ingin di ganggu saat sedang senang.”
“Suatu saat kau juga harus memiliki hubungan dengan pria kan?”
“Yah... Mungkin, suatu saat. Tapi untuk saat ini aku masih ingin menikmati kebebasanku dan menjelajah alam liar.”
Aku pun sependapat dengan Noel. Mungkin suatu saat aku harus memulai hubungan serius dengan lawan jenisku. Namun sekarang aku akan tetap melindungi tempat aman terakhir manusia ini dengan caraku. Aku tak ingin kedamaian dan umat manusia hilang dari permukaan bumi. Setelah beristirahat kami bersiap untuk pulang.
Hari sudah mulai gelap saat kami melangkahkan kaki untuk pulang. Aku berpisah dengan Noel di tengah jalan karena rumah kami yang berlawanan arah. Hari ini sungguh menyenangkan dan akan ku ingat untuk waktu yang lama. Aku harus cepat pulang karena Ibu pasti sudah menungguku di rumah.