
Seperti yang sudah aku dan Profesor duga langkah kaki itu adalah milik tim lain yang juga masuk ke dalam sarang ini. Kapten, Noel, dan Dean sekarang berdiri tepat di depan kami.
“Dengan ini kita tahu bahwa pintu masuk saling terhubung. Ternyata tempat ini memang benar-benar luas.”
“Apa tim kalian menemukan loreley?”
“Kami membunuh beberapa yang sedang tertidur. Saat masuk juga ada 2 loreley yang kami temukan.”
“Sayangnya kami tak menemukan apapun di perjalanan kesini.”
Sepertinya loreley yang berada di tempat ini tak sebanyak yang kami kira. Setelah beberapa jam menjelajah tim yang di pimpin kapten Afhkar tak menemukan satu loreley pun. Padahal aku mengira mereka juga akan menghabisi beberapa loreley. Karena yakin sarang ini masih begitu luas akhirnya kami kembali berpencar setelah beristirahat sebentar. Kami harus membersihkan sarang ini secepat mungkin agar tak banyak membuang waktu. Kami bersama menuju jalan yang terbagi 2 menjadi kanan dan kiri lalu kembali memecah tim dengan susunan yang sama. Aku bersama Profesor, sedangkan kapten bersama Noel dan Dean.
Meski sedikit namun aku dan profesor merasakan jalan yang kami lalui semakin menurun ke bawah, menandakan kami semakin masuk ke dalam tanah. Meski telah berjalan lumayan jauh namun aku dan profesor masih belum bisa melihat ujung dari lorong yang kami lalui ini. Namun kami menemukan sedikit hal aneh di lorong ini. Di beberapa lokasi sepanjang perjalanan, kami menemukan sisik berwarna ungu mengkilap sebesar telapak tangan. Kami menduga kalau sisik aneh ini adalah milik basilisk.
Rata-rata ukuran sisik basilisk memang sebesar telapak tangan manusia dewasa. Mungkin karena lingkungannya, warna sisik ini sedikit berbeda. Sepertinya kami berada di lorong yang mengarah ke tempat yang berbahaya. Walau di depan tak ada apapun, aku dan Profesor sudah memegang ancient weapon sejak tadi karena waspada.
“Bersiap, Livy... Mungkin di depan akan berbahaya.”
“Baik, Bu....”
Kini kami mulai mendengar suara. Suara itu menggema hingga ke posisi kami saat ini. Walau kecil namun aku dan profesor bisa mendengar suara ini dengan jelas. Tak hanya satu namun ada beberapa suara yang bersenandung secara bersamaan. Mereka menyanyikan lagu yang sama dengan sangat kompak seperti sebuah orkestra dengan beberapa orang penyanyi.
“Ibu dengar suara?”
“Ia. Sangat jelas dan tak Cuma satu.”
“Ini nyanyian loreley... Aku pernah mendengar ini sebelumnya.”
Nada yang kudengar memang sama persis seperti nyanyian loreley yang ku dengar sebelumnya. Kini sudah jelas kalau makhluk itu menyanyikan lagu yang sama. Meski makhluk itu memiliki sifat yang individu dan teritorik, bukan berarti mereka tidak akan berteman atau bergabung bersama jenisnya. Walau terlihat seperti monster namun mereka adalah makhluk yang memiliki akal seperti manusia. Jadi aku yakin ada kawanan loreley yang hidup bersama di tempat ini.
Yang menjadi masalah utama adalah jumlah mereka yang belum diketahui. Bila hanya 5 atau masih dalam jumlah satuan kami mungkin bisa mengatasinya. Namun bila jumlahnya terlalu banyak sama saja kami sedang mengantarkan tubuh kami untuk dijadikan makanan saat ini.
Aku dan profesor semakin berhati-hati ketika melihat cahaya dari ujung lorong yang sedang kami telusuri. Berjalan lebih lambat dan tanpa suara sama sekali. Kami mengintip ruangan itu saat sampai di ujung lorong. Sama seperti sebelumnya ruangan itu dipenuhi karang bercahaya yang di tata Di sudut-sudut ruangan. Yang membedakan adalah ukuran dan isi ruangan kali ini. Ruangan ini begitu besar dan seperti ada sebuah altar persis di tengah ruangan. Altar itu berbentuk persegi dengan 4 pilar di setiap sudutnya yang menahan atap altar itu. Di bagian tengah terdapat karang yang memiliki bagian atas yang datar dan sosok yang benar-benar berbahaya sedang berbaring di atas karang itu.
Loreley berwarna ungu itu hanya dia seperti menikmati nyanyian dari 4 loreley yang ada di sekelilingnya. Dalam situasi seperti ini tentunya kami tak bisa mengambil keputusan dengan tergesa-gesa. Ke empat loreley itu mungkin bisa kami hadapi. Namun loreley yang mungkin adalah ratu mereka itu begitu mengetikan dan seperti memancarkan aura mencekam hingga membuatku takut. Ibu tiba-tiba berbisik padaku.
“Livy... Kembalilah dan panggil Afhkar dan yang lainnya!”
“Lalu Ibu?”
“Aku akan menunggu sampai kau datang membawa bantuan.”
“Bukankah lebih baik kita lawan saja berdua? 4 loreley itu bisa kita habisi dalam sekejap. Yang harus kita perhatikan hanya yang besar itu, Bu.”
“Justru karena yang besar itu aku menyuruhmu memanggil Afhkar dan yang lain.”
Saat aku dan Profesor sedang berdebat kami melihat para loreley datang ke arah kami. Sepertinya tanpa sadar kami telah menarik perhatian mereka. Kami diam sambil menunggu 4 loreley itu mendekat. Tak ada pilihan lain selain langsung bertarung dan menghadapi mereka, serta satu lagi loreley besar yang masih saja berbaring di atas altar.
Begitu loreley itu mencapai jangkauan kami, aku dan Ibu mulai bergerak. Kugunakan shadow step untuk bergerak ke arah para loreley itu dan menebas leher mereka satu persatu. Sementara Profesor menggunakan shadow step ke arah altar dan langsung menghujan area jantung ratu loreley yang masih saja berbaring. Ibu segera mundur setelah menusukan pedangnya. Kupikir pertarungan akan sulit. Namun sepertinya selesai sebelum dimulai.
Setidaknya itu yang sebelumnya aku pikirkan sampai Profesor berkata.
“Livy, menjauh! Pedangku tak bisa menembus sisiknya.”
Keadaan seketika menjadi gawat karena ratu loreley itu baru saja terbangun. Profesor mundur bukan karena telah membunuh monster itu. Namun karena ia tak bisa menembus sisik monster besar itu. Dengan tingginy nyaris 4 meter tentu saja sisiknya pasti besar dan tebal. Sepertinya kami terlalu meremehkan loreley satu ini. Seperti dragonoid sisiknya tak bisa ditembus ancient weapon.
Saat berhadapan dengan dragonoid pertama kalinya aku sama sekali tak bisa berkutik karena seranganku sama sekali tak bisa menggoresnya. Namun kali ini tentu saja akan berbeda karena Profesor bisa menggunakan kemampuan yang diluar nalar manusia.
Loreley itu berteriak sangat keras. Bahkan benar-benar keras hingga membuat ruangan serasa bergetar. Tentu teriakan itu membuat aku dan Profesor merasa takut. Namun entah kenapa aku melihat monster ini tak seberbahaya ancient lizard yang pernah nyaris merenggut nyawaku.
“Seni bela diri naga... Tebasan taring naga.”
Berbeda dengan gerakanku, tebasan taring naga yang Ibu gunakan akan menimbulkan ledakan bila pedang menyentuh musuh. Ia menghilang dan tiba-tiba terjadi ledakan di tubuh bagian kanan loreley besar itu.