Dragon Era: Legend of the Dragon Hunter

Dragon Era: Legend of the Dragon Hunter
Penyesalan Livy



Aku semakin khawatir terhadap Noel. Monster itu bilang Noel akan segera menyusul. Namun sampai saat ini tak terlihat sedikit pun. Bila tak ada masalah tak mungkin ia begitu lama mencapai area ini. Noel hanya bisa menggunakan serangan jarak jauh dan berbagai jebakan. Kemampuan serangan jarak dekatnya sangat jarang ia latih. Bahkan mungkin seperti orang normal yang jarang menggunakan pedang.


Ia memang sangat handal dalam mendukung serangan dari jarak jauh. Namun aku sangat khawatir bila ia harus bertarung sendiri. Aku tak ingin melihat sahabatku yang manis itu terluka.


“Ibu, apa kita tak bisa munyusul Noel? Aku sangat khawatir.”


“Bagaimana, Holly?


Sebelum monster itu menjawab tiba-tiba terdengar suara ledakan yang cukup keras dari lorong yang ada di kiri ruangan ini. Tanah juga sedikit bergetar akibat ledakan itu. Aku langsung melesat masuk ke dalam lorong untuk menghampiri asal suara. Aku yakin ledakan itu berasal dari peledak buatan Noel, karena di Eden hanya sedikit orang yang mampu membuat peledak dengan kekuatan sebesar itu.


Lorong ini begitu panjang hingga aku tak juga mencapai sumber ledakan. Ku lemparkan peledak yang ada di tasku untuk memanggil yang lain. Aku harus berjaga-jaga bila ada monster yang berbahaya. Aku yakin mereka akan segera menyusul. Karena tak juga sampai akhirnya aku menggunakan shadow step agar cepat mencapai sumber ledakan.


Saat dalam perjalanan menuju sumber ledakan aku melihat Noel yang berjalan tertatih sambil berpegang pada dinding lorong. Aku langsung segera menghampirinya. Keadaannya sangat gawat. Wajahnya begitu pucat, dan darah terus menetes dari lengannya.


“Noel, kau baik-baik saja? Tanganmu... Apa yang terjadi?”


“Ceritanya panjang, Liv.”


Setelah mengatakan itu Noel langsung terjatuh pingsan. Ia terus mengeluarkan banyak darah dari tangan kirinya. Aku segera menggendong Noel di punggungku dan berlari ke arah aku datang tadi sambil menangis mengetahui keadaan sahabatku.


“Apa-apaan ini? Sadarlah cepat! Hanya kau sahabatku, Noel! Jangan mati di tempat seperti ini!”


Aku yang panik tak bisa berpikir jernih dan hanya terus berlari sambil menangis. Tak lama Ibu datang dengan cepat.


“Ibu, cepat bawa Noel dan hentikan pendarahan di tangannya!”


“Bagaimana aku bisa tenang kalau sahabatku dalam keadaan kritis seperti ini! Cepat, Bu!”


Profesor langsung membawa Noel dengan teleport keluar dari gua. Sementara aku masih di dalam lorong suram ini dan hanya terduduk lemas. Semoga Noel baik-baik saja.


Aku sangat marah pada diriku sendiri karena tak cepat menyusulnya dan hanya mendengarkan perkataan monster bodoh tadi. Akibatnya bisa saja aku kehilangan Noel yang satu-satunya sahabatku. Aku harus lanjut menyusuri lorong ini ke arah tempat Noel datang. Bila monster yang melukai Noel masih hidup, akan kucincang makhluk itu hingga potongan terkecil. Aku berjalan mengikuti bekas tetesan darah Noel. Mengambil ancient sword dari punggungku dan kugenggam dengan erat. Aku menyeka air mataku dan mulai mempercepat langkah.


Ujung lorong mulai terlihat dari kejauhan. Kugunakan shadow step untuk sampai di ruangan yang sangat besar ini. Aku melihat mayat laba-laba sulfur raksasa di tengah ruangan. Monster ini sudah benar-benar mati setelah hampir setengah tubuhnya hancur tak beraturan akibat ledakan yang di buat Noel. Tak jauh dari mayat monster itu, aku menemukan busur berwarna putih dengan beberapa ukiran emas membentuk lambang naga. Busur ini begitu ringan, dan tak salah lagi ini adalah ancient weapon. Aku kembali terduduk dan menangis sambil memeluk busur yang pastinya milik Noel.


Sebelum masuk ke lubang di pusat kota, Noel sempat berkata kalau ia merasa iri dengan kami karena hanya ia sendiri yang masih belum memiliki ancient sword. Namun setelah memilikinya sahabatku itu harus kehilangan tangan kiri akibat pertarungan. Aku menangis dan teriak sejadi-jadinya. Merasa bersalah meninggalkan sahabatku sendiri yang harus merelakan salah satu tangannya. Bahkan aku tak akan berani melihat senyuman cerianya lagi karena merasa sangat bersalah. Andai saja aku tak menginjak jebakan saat di ruang sebelumnya, andai saja aku langsung mencari jalan saat terpisah darinya, andai saja tadi saat sampai di tempat naga putih bodoh itu aku langsung berlari mencari Noel, penyesalah terus menerus datang menghampiriku.


Aku sungguh sangat kesal. Benar-benar kesal hingga kepalaku serasa ingin meledak. Dadaku sesak seperti membengkak akibat rasa bersalah. Karena kebodohanku, sahabatku satu-satunya kehilangan masa depan. Karena kebodohanku juga ia harus menderita rasa sakit. Andai waktu bisa di putar, aku sangat ingin menggantikannya. Lebih baik aku yang menderita di bandingkan aku harus merasakan penyesalan teramat dalam seperti ini. Lebih baik aku yang kehilangan tangan kiriku di bandingkan melihat sahabatku satu-satunya merasakan sakit karena pendarahan yang tak ada hentinya.


Kepalaku terasa dipenuhi oleh kebencian dan kemarahan yang amat sangat besar. Hatiku di hinggapi penyesalah yang teramat dalam. Baru kali ini aku merasakan hal seperti ini. Aku benar-benar takut. Takut akan kehilangan sahabatku. Takut Noel tak lagi membuka matanya karena kehabisan darah.


Naga bodoh itu! Naga bodoh itu salah satu penyebab bencana ini. Kalau saja ia tak mengatakan bahwa Noel baik-baik saja, kalau saja makhluk sial itu segera memberi tahu posisi Noel, semua tak akan sekacau ini. Aku harus membunuhnya. Benar-benar harus memotong leher monster itu sebagai pengganti tangan kiri Noel yang terputus.


Aku yang dikuasai kemarahan dan penyesalan sungguh tak bisa lagi berpikir jernih. Namun karena kemarahan dan penyesalan ini juga aku tak lagi memiliki rasa takut. Bahkan kupertaruhkan nyawaku untuk bisa memenggal kepala ancient dragon bodoh itu.


“Ya... Naga bodoh itu harus mati untuk menebusnya. Akan kupotong leher monster itu dan kujadikan kepalanya sebagai piala untuk kuberikan pada noel.”


Aku terduduk bersila di ruangan itu. Memejamkan mata, dan menenggelamkan diriku dalam penyesalan dan kemarahan. Aku tak ingin menenangkan diri. Tak ingin menghilangkan kemarahan ini karena sebentar lagi aku akan bertarung mempertaruhkan segalanya sebagai ganti dari sahabatku. Bahkan bila Ibu menentangku membunuh naga sial itu, untuk kali ini saja. Untuk kali ini saja aku tak akan mendengarkan perintah Profesor. Masa depan Noel akan dibayar dengan kepala naga itu.


Aku bangun dan berjalan ke arah mayat laba-laba sulfur. Kupotong salah satu kakinya di bagian sendi terbawah. Kaki laba-laba raksasa ini sangat tajam dan keras. Akan kujadikan senjata tambahan untuk membunuh monster putih itu. Kuletakan ancient sword di tangan kiri ke punggungku dan kuganti dengan kaki laba-laba raksasa ini. Aku berjalan meninggalkan ruangan ini dan memasuki lorong yang tadi kulewati. Mempercepat langkahku sambil berpikir cara membunuh monster itu dengan metode yang paling menyakitkan. Akan kugunakan teriakan dan rintihan kesakitan dari naga itu sebagai nyanyian untuk membangunkan Sahabatku Noel.