Dragon Era: Legend of the Dragon Hunter

Dragon Era: Legend of the Dragon Hunter
Pergi Bersama Dragonoid



Dragonoid itu bergerak menjauh dan mengisyaratkan dengan tangannya mengajak kami untuk ikut dengannya. Kami justru memandang satu sama lain dan sedikit bingung. Meski ia tak bermaksud menyerang namun tetap saja makhluk aneh itu belum bisa dipercaya sepenuhnya. Walau begitu kami memutuskan untuk mengikuti dragonoid itu namun di jarak yang sedikit jauh, dan tetap menjaga kewaspadaan.


Kami berjalan cukup jauh. Bahkan sangat jauh menurut kami. Aku masih sedikit kesal karena dragonoid itu mampu menahan seranganku hanya dengan satu tangan. Apalagi saat aku menggunakan ancient sword. Ketajaman pedang ini bahkan bisa menebas besi sekalipun.


“Rasanya aku sungguh kesal dengan kadal itu. Bahkan serangan yang kulakukan dengan sekuat tenaga tadi ditangkisnya dengan mudah.”


“Aku juga melihatnya, Liv... Kau bahkan bisa memenggal kepala manusia dengan sangat mudah. Apalagi saat pedangmu dan tangannya saling beradu terdengar seperti besi yang saling dipukulkan. Baru kali ini kulihat ada sesuatu sekeras itu.”


“Karena itulah aku sangat kesal... Bila bertarung dengannya, kurasa kita bertiga pun akan dikalahkan dengan mudah.”


“Kalian tetaplah waspada! Kita belum tahu akan dibawa kemana oleh makhluk yang entah monster atau manusia ini.”


“Apa dia manusia jenis baru, kapten?”


“Entahlah... Lebih seperti monster namun memiliki kecerdasan.”


Apapun bisa terjadi di dunia yang belum sepenuhnya kami jelajahi ini. Entah itu manusia baru yang akan menggantikan kami, atau sesuatu yang lain hasil evolusi dengan kondisi alam saat ini. Kami mengakui bahwa manusia memang sulit, bahkan hampir tidak mungkin bertahan di bumi ini tanpa tinggal dalam perlindungan Eden Shelter. Kami begitu lemah dan rentan, dan tak lagi berada di puncak rantai makanan. Bahkan sepertinya kini manusialah yang berada paling bawah di sistem rantai makanan dunia ini.


Sementara dragonoid itu begitu kuat dan mampu hidup di alam liar selama ini. Bila ada yang menyebut bahwa makhluk itu adalah manusia baru yang akan menguasai daratan menggantikan kami, aku akan percaya hal itu. Karena telah kubuktikan sendiri saat serangan tadi. Serangan yang bahkan bisa menembus dan mengoyak basilisk tak mempan sedikit pun padanya.


“Mungkin sudah waktunya manusia untuk punah dan digantikan oleh manusia baru seperti dragonoid itu.”


Kapten dan Noel hanya diam saat aku berkata seperti itu. Sepertinya mereka juga berpikir sama sepertiku. Mereka juga pasti sadar bahwa kemampuan bertarung, bertahan hidup, dan kekuatan fisik dragonoid sangat jauh lebih kuat dibandingkan manusia terkuat di bumi ini sekali pun.


Rasanya seperti sebuah ironi dimana aku menyaksikan langsung sang pengganti umat manusia. Kami juga tak tahu akan seperti apa nasib kami yang sedang mengikuti dragonoid ini. Cahaya matahari mulai meredup dan hari sedikit lagi malam. Kami mengikuti dragonoid itu tanpa banyak berbincang karena harus waspada. Saat melewati bagian hutan yang hanya terdapat sedikit pepohonan di sekelilingnya, dragonoid itu mengarahkan kedua telapak tangannya ke arah kami, tanda kami disuruh menunggu di tempat itu. Ia lalu pergi untuk beberapa lama.


Kami tetap menunggu hingga hari menjadi benar-benar gelap. Dragonoid kembali dengan membawa monster yang telah mati di pundaknya. Monster itu seperti babi hutan namun memiliki kaki yang panjang dan punggung di penuhi bulu yang mengeras seperti duri. Ia pun mengambil banyak kayu dan ranting, lalu menyalakan api dengan menggunakan sepasang batu yang ia ambil dari tas di pinggangnya, dan dedaunan kering. Benar-benar primitiv namun begitu ahli. Dragonoid juga memotong monster yang dibawanya menjadi potongan kecil. Menusuknya dengan ranting lalu memanggang daging buruannya.


Sungguh sulit berkomunikasi kalau tak mengerti bahasa satu sama lain. Untungnya makhluk ini pintar menggambar. Ia menggambar di tanah, dan mengisyaratkan agar kami cepat tidur karena besok akan berangkat saat matahari baru terbit. Setidaknya seperti itulah maksud yang kutangkap dari hasil gambarnya. Seperti biasa kami akhirnya tidur secara bergantian kecuali si kadal yang sepertinya akan tetap berjaga.


Pagi hari saat aku terbangun dragonoid itu sedang memanggang daging sisa dari buruannya kemarin. Sepertinya kami dikawal oleh makhluk yang benar-benar cekatan dan dilayani dengan baik. Kurasa ia benar-benar tak tidur semalaman. Kami pun segera bersiap setelah makan untuk melanjutkan perjalanan.


“Liv, kurasa kau cocok jika berpasangan dengannya. Jadi bila kalian bertengkar aku tak perlu khawatir kau akan membunuh pasanganmu.”


“Kau benar-benar keterlaluan, Noel! Kau pikir gadis manis sepertiku tega membunuh pasanganku sendiri?”


“Meskipun kau tak begitu... Karena reputasimu yang terdengar ke seluruh Eden... Kurasa hanya pria yang bosan hidup saja yang berani mendekatimu. Apalagi pria yang mendekatimu akan berhadapan dengan Profesor. Masa depanmu dengan pria yang berasal dari Eden sepertinya hanya tinggal angan-angan.”


“Aku juga berpikir begitu, Livy.”


“Terus saja kalian mengejekku..! Lihat saja nanti. Aku akan menciptakan harem sendiri.”


“Kau pastinya menggunakan ancaman untuk calon haremmu nanti kan.”


Mereka sepertinya tertawa sangat puas. Walau begitu dalam hati aku sedikit sependapat dengan mereka. Saat pulang nanti mungkin aku akan bertanya pada Ibu apakah dia pernah memiliki hubungan khusus.


Jalan yang kami lalui sedikit demi sedikit mulai berubah. Dari yang sebelumnya hanya permukaan tanah yang ditutupi dedaunan, semakin jauh semakin berpasir dan pepohonan mulai semakin jarang terlihat. Sepertinya kami akan segera tiba di hutan karang. Area itu memang daratan berpasir dengan susunan karang yang begitu luas dan berada di dataran yang sangat rendah.


Menurut data yang kami ketahui, awalnya tempat itu adalah lautan yang dalam. Namun saat semua benua menyatu lautan di sekelilingnya mengering dan hanya menyisakan pasir laut dan karang dalam area yang luas. Jalan yang kami lalui mulai menurun dan kami keluar dari area hutan.


Kami memasuki area hutan karang saat matahari sudah melewati kepala kami. Cuacanya sangat panas tanpa ada satu pun pohon untuk tempat bernaung. Semakin lama jalan yang kami lalui juga semakin menurun curam. Dari kejauhan terlihat susunan batu karang yang begitu luas. Menyisakan celah-celah yang dapat dilalui yang diapit oleh dinding karang alami berukuran besar dan tinggi.


Disinilah titik misi kami. Tempat banyak hunter dari Eden Shelter menghilang secara misterius dan tak kembali lagi. Entah monster apa yang menanti kami di tempat ini. Kami pun masih tak tahu bahaya apa yang akan kami hadapi di tempat yang gersang ini. Kami juga belum tahu apa dragonoid yang menjadi penyebab parah hunter menghilang, atau sesuatu yang lebih berbahaya dari itu. Yang jelas misi kali ini akan jauh lebih berbahaya dari sebelumnya.