Dragon Era: Legend of the Dragon Hunter

Dragon Era: Legend of the Dragon Hunter
Menyusul yang Lain



“Siapkan staminamu sebelum turun karena kau akan gunakan shadow step sesering mungkin! Aku duluan ya.”


“Hah... Apa?”


Saat aku menoleh ke arah kakek sial itu, ia telah menghilang dan hanya meninggalkan asap tipis berwarna putih.


“Dasar sial... Bukannya melindungiku malah pergi duluan.”


Kakek itu menggunakan teleport untuk turun. Meskipun di sebut teleport, teknik itu hanya bisa berpindah dalam jarak dekat atau sesuai jarak pandang tergantung penggunanya. Sebagai teknik lanjutan dari shadow step tentunya teleport jauh lebih efisien dan tak terlalu menguras stamina. Lebih seperti teknik yang menggunakan konsentrasi yang tinggi, karena bila gagal melakukannya bisa berpindah ke tempat yang berbahaya sepeti muncul di tengah jurang. Teleport juga memiliki kekurangan seperti shadow step. Yaitu tak bisa dilakukan saat berada di udara. Bila ingin berpindah tempat saat berada di udara, ada teknik lain yang sama sekali belum dijelaskan oleh kakek tua itu.


Yang harus aku pikirkan saat ini adalah cara untuk turun ke dasar lubang. Karena aku tak tahu seberapa dalam lubang ini, aku jadi tak yakin staminaku akan sanggup mengimbangi banyaknya shadow step yang kugunakan.


“Tak ada gunanya kalau terus berpikir. Lebih baik aku langsung turun.”


Aku langsung bergerak menuruni tangga kecil yang melingkar menuju ke dasar lubang ini. Terlihat beberapa tanaman liar tumbuh di sisi dinding lubang, menandakan lubang ini telah lama dibuat. Setelah menuruni tangga beberapa meter sudah waktunya aku menggunakan shadow step. Aku tak tahu berapa jumlah sandworm, dan lokasinya. Namun aku tak mau mengambil resiko dengan menuruni tangga ke dasar lubang dengan cara normal. Bila salah langkah di perjalanan ini makan tak akan ada kesempatan kedua. Aku bisa dengan mudahnya ditelan oleh sandworm atau jatuh dari ketinggian yang belum ku ketahui kedalamannya.


Aku tak tahu lagi sudah berapa dalam masuk ke dalam lubang ini. Cahaya dari atas sudah tak menjangkau posisiku sekarang. Shadow step yang kugunakan juga telah banyak menguras staminaku. Aku terduduk di tangga menuju dasar lubang. Beristirahat untuk mengembalikan stamina yang terkuras hampir tak bersisa. Tak ada apa pun yang di kedalaman ini. Untungnya di tempat aku terduduk ini tak ada sandworm yang muncul.


Setelah sedikit pulih aku mulai melanjutkan menuruni lubang ini. Di beberapa titik yang aku lewati, terlihat ada lubang bekas sandworm dan juga tanah bekas galian monster itu. Monster lain pun sepertinya tak akan selamat bilang menuruni lubang yang dindingnya dipenuhi sandworm seperti ini. Sudah sekitar satu jam namun dasar dari lubang ini belum juga terlihat. Aku beberapa kali beristirahat di tempat yang sepertinya aman dan tak ada sandworm.


Setelah beberapa jam menuruni lubang ini dengan shadow step, akhirnya aku bisa melihat dasar dari lubang ini. Tak ada apa pun di sana. Hanya lantai datar yang bisa aku lihat. Aku mempercepat gerakanku hingga akhirnya sampai di dasar lubang. Ada lorong kecil di dinding di dasar lubang ini. Area ini juga sedikit panas karena aku semakin jauh dari permukaan tanah, dan semakin mendekat ke pusat bumi. Aku kembali beristirahat sebelum memasuki lorong yang ukurannya tak terlalu besar itu. Si tua bangka pasti sudah masuk sejak tadi.


Setelah menyiapkan cukup tenaga aku masuk menyusuri lorong yang begitu panjang. Lorong ini juga berbelok-belok, dan hanya ada satu jalan. Aku akan menghemat tenaga dengan berjalan sedikit lambat. Lorong ini tertutup batuan berbentuk persegi yang ditata menempel dengan dindingnya. Semakin ke dalam masuk lorong ini, semakin panas suhu udara. Aku mulai melihat ujung dari lorong ini. Namun semakin dekat ke ujung lorong, aku semakin merasakan gempa kecil yang terjadi berturut-turut.


Aku jadi semakin penasaran. Kuputuskan untuk berlari menuju pintu keluar. Selama memasuki gua di bukit duri aku selalu di kejutkan dengan pemandangan yang tak biasa aku lihat. Kali ini pun tak kalah mengejutkan dari sebelumnya. Noel pernah bercerita saat aku masuk rumah sakit setelah misi sebelumnya. Gerakan Profesor begitu aneh hingga tak dapat dipercaya seperti sihir. Meski sudah bertarung dengan Ibu sebelum menjelajah tempat ini, namun ternyata masih ada kemampuan yang ia sembunyikan. Kini aku terduduk lemas melihat sangat banyak mayat basilisk yang terpotong-potong. Belum lagi kapten dan Noel yang terkapar di atas tanah.


“Apa-apaan ini?”


Ibu sedang bertarung dengan basilisk terbesar yang pernah kulihat. Tak akan ada yang mengira basilisk bisa tumbuh begitu besar seperti ini.


“Hei, kek! Kenapa kau diam saja! Bantu Ibuku!”


“Diam anak kecil! Aku sedang melihat pertarungan seru.”


“Dasar sialan! Tua bangka licik...!”


Basilisk satu ini benar-benar besar hingga aku merasa takut untuk maju. Ukuran sisik basilisk yang biasanya hanya seukuran telapak tangan manusia dewasa, kini ukurannya sebesar diriku. Aku memaksa kakiku untuk bergerak. Aku akan membantu ibu yang sejak tadi terlihat hanya bertahan.


“Baik.”


Aku langsung mengangkat Noel yang sedang pingsan.


“Kek... Cepat bantu aku! Angkat kapten ke luar lorong!”


“Apa boleh buat... Kali ini akan kubantu.”


Aku dengan cepat berlari keluar lorong untuk membawa Noel.


“Noel, bangunlah!”


Noel yang pingsan belum juga bangun saat kami sampai di dasar lubang besar. Aku langsung kembali lagi untuk membantu Ibu.


“Shadow step.”


Dengan cepat aku sampai di ruangan tempat ibu berada. Aku langsung maju ke arah basilisk raksasa itu melewati Ibu tanpa pikir panjang.


“Livy... Awas!”


Mendengar teriakan Ibu, aku langsung melihat ke arahnya. Tiba-tiba Ibu menghilang dan muncul di sebelahku. Ia mencoba menahan serangan ekor basilisk raksasa yang ingin menyerangku menggunakan ancient sword miliknya. Sesaat setelah benturan antara ekor monster itu dan pedang milik Ibu, terjadi ledakan yang membuat kami terpental. Aku hanya terpental beberapa meter dan tersungkur di tanah akibat gelombang hasil ledakan. Namun Ibu terpental sangat jauh hingga ke dinding ruangan. Ia membentur dinding dengan keras hingga aku bisa mendengar suara benturannya. Ibu langsung terjatuh ke atas tanah dan memuntahkan darah. Aku yang melihat itu langsung menghampirinya tanpa memperhatikan basilisk raksasa.


“Ibu... Baik-baik saja?”


“Kau harus lebih hati-hati livy! Monster itu sangat cerdik.”


Ibu langsung berdiri sambil terhuyung. Keadaan semakin genting karena tangan kiri Profesor patah. Aku berdiri di depannya mencoba melindungi dari basilisk yang mendekat.


“Ibu... Menjauhlah! Lari ke lorong... Biar aku yang menahannya!”


“Bicara apa kau? Seorang Ibu akan selalu melindungi anaknya walaupun harus mati... Kau saja yang pergi! Lagipula kau masih terlalu lemah.”


Ibu berkata seperti itu dan berjalan ke depanku. Ia memasang kuda-kuda dengan kaki kiri di bagian depan dan kaki kanan sedikit ke belakang. Menurunkan posisi kuda-kudanya, dan memegang pedangnya dengan tangan kanan ke arah depan setinggi kuping.


“seni bela diri naga... Tebasan taring naga.”