
Setelah merasa cukup beristirahat kami melanjutkan penjelajahan di kota tersembunyi ini. Sambil berjalan dengan waspada, Noel meletakan beberapa ranjau bertenaga kecil di beberapa titik. Tujuan peletakan ranjau ini adalah untuk mengetahui bila ada monster yang menginjaknya. Jadi kami bisa mengantisipasi serangan mendadak.
Hampir 1 jam kami berjalan namun tak ada tanda-tanda monster aneh yang muncul. Yang bisa terlihat hanyalah kawanan cherna bertanduk 3 yang sedang memakan rerumputan. Kami pun masuk ke beberapa tempat untuk memastikan tak ada monster yang masuk ke dalam gedung. Keadaan begitu tenang tak seperti saat kami baru sampai di tempat tersembunyi ini.
Aku masuk sendiri ke bangunan yang sepertinya bekas restauran. Di tempat ini berbaris bangku dan meja yang terlihat masih tertata rapi. Di dekat pintu juga terdapat meja yang sepertinya tempat untuk membayar pesanan. Tak ada apa pun di ruangan ini. Aku masuk ke arah dapur yang berada di bagian paling belakang bangunan ini. Sebelum membuka pintu dapur, aku mendengar suara seperti peralatan masak yang terjatuh ke lantai. Aku membuka kedua daun pintu yang terbuat dari besi itu tanpa ragu sedikit pun.
“Oh... Gadis muda... Apa yang kau lakukan di sini?”
Aku hanya diam mematung tak bergerak. Jangankan menjawab pertanyaannya. Menggerakan bibir saja rasanya sulit.
“Kau kenapa, gadis muda? Apa tersesat?”
Setelah pertanyaan itu aku langsung lari keluar. Aku berteriak memanggil yang lain. Mereka sedang mengecek gedung-gedung yang ada di sebelah gedung yang kumasuki ini.
“Ibu, ada orang! Kapten, Noel cepat kesini!
Mereka dengan cepat menghampiriku yang masih bingung harus berbuat apa.
“Kau jangan bercanda, Livy! Mana mungkin ada orang di tempat ini!”
“Sungguh Bu. Ada orang di belakang!”
“Tenang dulu, Liv!”
“Hoho... Rupanya ada pengunjung. Kemarin aku mendengar keributan di area luar kota. Ternyata kalian?”
Orang itu tiba-tiba berdiri persis di belakangku. Setelah mendengar suaranya, nyaris saja aku menebas kepalanya karena terkejut. Tak ada suara apa pun sebelumnya, dan tiba-tiba orang itu sudah ada di belakangku. Aku merasa orang ini sedikit aneh. Suara langkahnya tak terdengar sama sekali, dan yang paling aneh ia hidup di tempat ini.
Profesor, kapten, dan Noel sama bingungnya seperti pertama kali aku melihat orang ini. Mereka mematung.
“Ehem... Apa anda tinggal di sini?”
Kapten tiba-tiba melontarkan pertanyaan itu dan memecah suasana. Ibu, dan Noel akhirnya sadar.
“Betul, anak muda yang hebat. Aku sudah lama tinggal di sini? Apa kalian pengunjung yang ingin melihat-lihat kota?”
“Kami hanya kebetulan masuk ke sini.”
“Ah... Kalian dari permukaan ya? Sudah makan? Aku sedang memasak daging raptor. Kalian mau?”
“Raptor itu apa kakek?”
Noel tiba-tiba bertanya seperti itu. Mungkin dia sedang lapar. Anak ini memang banyak makan. Namun yang ku heran tubuhnya tetap terlihat indah. Sebenarnya kemana makanan yang selama ini ia telan?
“Kalau masuk ke sini kalian pasti melewati rerumputan tinggi di luar area kota kan? Ada kawanan hewan itu di sana.”
Noel langsung diam. Sepertinya selera makannya hilang mendengar kalau raptor itu monster kecil mengerikan yang kemarin kami bantai.
Kapten menanggapi kata-kata kakek itu.
“Jadi itu namanya raptor kek? Apa bisa dimakan?”
Satu lagi orang yang kelaparan di tim kami. Orang satu ini apa sangat hobi memakan monster ya? Semua monster sepertinya ingin ia cicipi.
“Tak semua bagiannya bisa dimakan. Beberapa bagian tubuhnya beracun untuk manusia.”
Kami lagi-lagi mematung. Orang ini menawarkan daging beracun pada kami dengan senyum ramah.
“Haha... Tenang saja. Aku hanya memasak bagian yang bisa di makan.”
“Kalau boleh tau, siapa nama anda dan sejak kapan anda di sini?”
“Hmm...Entah sejak kapan aku di sini. Aku tak pernah menghitung waktu.”
Kata-kata kakek itu tiba-tiba berhenti setelah melihat pedang di tangan kanan Ibuku. Aku pun berbisik pada ibu.
“Ibu pernah melihat orang ini di Eden?”
“Tidak... Tapi aku merasa mengenalnya.”
“Kenalan Ibu memang kebanyakan orang aneh ya!”
“Yah... Anakku juga kan aneh.”
Setelah beberapa saat memperhatikan pedang yang Ibu bawa tiba-tiba kakek aneh itu tertawa keras.
“Jadi anak kurang ajar ini yang datang!”
“Kakek mengenal saya?”
Kakek itu memperhatikan wajah Ibu dengan sangat teliti.
“hmm... Sepertinya ada yang berbeda... Kau keturunan dari anak sialan itu ya?”
Aku yang sudah kesal sejak tua bangka ini menyebut Ibu ku kurang ajar mulai mengangkat pedangku.
“Aku tak tahu siapa kau tua bangka! Sekali lagi kau tak sopan pada Ibuku, aku penggal lehermu!”
“Liv, tenang dulu! Jangan begitu!”
Noel menahan tanganku sambil memasang wajah khawatir. Aku tak masalah bila aku yang di hina. Tapi mendengar kata-kata yang tidak menyenangkan ditujukan ke Profesor, aku sungguh ingin memenggal kepala kakek busuk ini.
“Tenanglah, Livy!”
Kapten pun menahan ku dan menyuruhku untuk tenang.
“Hah... Ternyata memang bocah sialan itu memiliki keturunan yang sama kurang ajarnya!”
“Sudah bosan hidup ya kek?”
“Livy, tahan emosimu!”
“Lihat ini... Siapa namamu tadi? Livy? Kau benar-benar mirip dengan bocah sial pemilik pedang yang di pegang Ibumu sekarang. Tak tahu adat dan bersikap.”
“Kakek tua sial!”
Aku langsung melepas diri dari Noel, dan kapten lalu melesat ke arah kakek tua itu, dan menghunus ancient sword di tangan kananku ke arahnya. Kakek itu tiba-tiba menghilang. Saat aku mengalihkan pandangan sedikit ke atas, orang tua itu sudah berdiri dengan 1 kaki di atas pedangku. Aku yang terkejut langsung menarik tangan kananku, dan berusaha menebasnya dengan tangan kiri. Namun lagi-lagi kakek itu menghilang.
“hihi... Dasar anak bodoh!”
Kata itu tiba-tiba terdengar dari belakangku. Kakek itu berputar dan menyerangku dengan tendangan kaki kanan hingga aku terpental ke seberang jalan. Serangan kakinya berdampak pada tubuhku. Sama kerasnya dengan tendangan ibu. Aku langsung sulit bernafas dan berusaha kembali berdiri. Aku jadi berpikir dua kali untuk menyerang lagi. Tak akan ada seorang kakek normal yang bisa menghindari serangan pedang tadi. Apalagi sampai berdiri di atas pedang. Sebenarnya seberapa ringan tubuhnya? Walau sempat berpikir seperti itu, namun serangannya seakan memiliki bobot yang sangat berat. Benar-benar mirip dengan pergerakan Ibu.
Saat ingin maju kembali Ibu tiba-tiba berdiri di depan kakek itu.
“Hentikan, Livy! Kau tak akan menang melawannya!
Aku juga menyadari hal yang ibu katakan barusan. Rasanya mustahil menang dari tua bangka itu. Tapi tetap saja rasa kesalku belum hilang. Noel dan kapten juga sepertinya sangat kebingungan. Gerakan kakek itu terlalu aneh hingga tak bisa di mengerti.