
Kami duduk berbaris di atas sebuah batu karang yang tak terlalu tinggi. Memandang langit yang terang karena jutaan bintang yang menghiasinya malam ini. Di tempat ini memang jarang terjadi hujan. Karena itu langit di area ini begitu jernih seperti tak ada sedikit pun awan yang menghalangi keindahannya. Tak ada kata yang terucap dari kami. Hanya terduduk dan diam tanpa suara. Satu-satunya suara yang terdengar adalah deraian angin pelan yang mengikis permukaan batuan karang di area yang sunyi dan sendu ini.
Kurasa yang kami semua pikirkan adalah hal yang sama. Hal yang membuat dilema dalam hati kami setelah penjelajahan kali ini. Setelah cukup lama kami terduduk diam, akhirnya kami bergerak. Kami akan kembali ke desa para dragonoid dan membuat strategi untuk memindahkan suku dragonoid ke kota bawah tanah. Saat berjalan posisi bulan tepat berada si atas kepala kami. Bayangan pun tak tampak di depan atau pun belakang. Berjalan pelan menikmati malam sunyi ini sepertinya tak buruk juga. Kami semua berjalan dengan sedikit tertunduk. Selain kelelahan aku sendiri berpikir bahwa dunia ini ternyata begitu kejam. Di luar Eden Shelter hanya ada satu hukum yang berlaku untuk semua makhluk di bumi saat ini. Dimana yang kuatlah yang akan bertahan dan mempertahankan spesiesnya untuk terus hidup.
Sebagai manusia tentunya kami merasakan dilema yang sama. Membantai suatu spesies hingga punah atau setidaknya terancam punah, hanya demi keselamatan spesies kami sendiri. Hal itu harus kami lakukan, namun nurani kami terasa sakit seperti tersayat pedang yang amat tajam. Seandainya posisi berbalik dan kami yang dibantai oleh para loreley, kurasa kami akan sangat menderita. Walau kami berbeda namun kami para manusia sangat tahu bahwa setelah zaman kehancuran, sangat sulit untuk mempertahankan kehidupan dan bangkit dari keterpurukan.
Dengan alam yang baru masih sangat banyak tempat yang belum pernah kami kunjungi walau waktu telah berlalu sangat lama. Mungkin suatu saat kami akan bertemu makhluk lain yang sangat mengancam seperti loreley. Kuharap saat itu diriku masih memiliki rasa kehilangan ini setelah membantai mereka.
Semua yang kami lakukan adalah untuk ras kami. Bagaimanapun caranya manusia harus tetap bertahan hidup di era yang berbahaya ini. Itu juga yang menjadi alasan kami menggunakan ancient weapon yang berada di punggung kami masing-masing ini. Teknologi dan pengetahuan kami masih sangat primitif untuk bisa bertahan di alam liar yang penuh monster berbahaya di planet ini. Selain para monster yang besar dan sangat sulit dikalahkan, kali ini muncul lagi ras humanoid seperti loreley dan dragonoid. Bahkan mungkin kedepannya kami akan menemukan lebih banyak makhluk yang mungkin jauh lebih kuat lagi. Namun untuk saat ini aku sungguh tak ingin bermusuhan dengan para dragonoid itu. Begitu kuatnya mereka sampai ancient weapon tak mampu menembus sisiknya. Mungkin untuk Profesor tak akan sulit untuk mengalahkan dragonoid. Namun tidak bagi kami dan orang-orang yang berada di Eden Shelter.
Bila kami berperang melawan dragonoid, aku yakin kami manusia akan musnah dengan cepat seperti para loreley. Meski mereka tunduk pada pemegang ancient weapon, namun kami tak tahu bagaimana sikap mereka ketika bertemu manusia yang tak memiliki senjata khusus seperti kami.
Suhu udara terasa semakin dingin diperjalanan kami menuju desa para dragonoid. Sesekali Noel menaiki bukit karang yang kami lewati untuk memastikan lokasi dan arah menuju ke desa. Masih tak banyak kata yang terucap dari kelompok manusia ini. Bahkan sesekali perkataan kami tak didengar satu sama lain karena terbawa oleh tiupan angin yang terkadang berhembus melewati kami.
Sepertinya kami menjelajah cukup jauh di dalam sarang loreley. Perjalanan kembali ke desa dragonoid belum juga sampai sejak tadi. Rasanya pikiran dan tubuhku begitu lelah hingga sangat ingin tertidur malam ini. Semakin lama berjalan malam pun semakin meninggalkan kami. Suhu udara yang semakin dingin seakan memaksa kami untuk berhenti berjalan.
Tak lama kepulan asap terlihat membumbung ke langit dari kejauhan. Menandakan desa para dragonoid sudah semakin dekat. Kini kami hanya harus menuju sumber asap itu untuk sampai di desa. Jalan yang kami lalui pun semakin berliku karena dinding karang mulai tinggi dan banyak di area ini, seperti masuk dalam sebuah labirin besar yang dibuat oleh alam.
Entah mengapa tak ada salah satu dari kami yang mau mengambil jalan pintas dengan melewati bagian atas dinding dan memilih berjalan mengikuti alur dinding yang berliku-liku di bawah. Tubuh kami memang baik-baik saja. Bahkan tak terluka sedikit pun. Namun entah kenapa mental kami begitu lelah dengan semua hal yang telah terjadi sejak kemarin. Aku sendiri pun tak ingin bertemu dengan siapa pun apalagi dengan para dragonoid yang bahasanya sama sekali tak kumengerti.
Di celah-celah dinding labirin yang terbuat dari karang alami ini tak ada angin yang melewati kami. Dinding-dinding ini melindungi kami dari angin malam yang membuat malam ini menjadi lebih dingin. Tak ada makhluk lain selama perjalanan kami sejak tadi. Hanya suara serangga kecil dan lolongan dari kejauhan. Seakan mereka semua akhirnya dapat melepas lelah dan tidur dengan tenang malam ini. Sangat tenang hingga seperti tak pernah ada makhluk apa pun di tempat ini.
Dengan lenyapnya loreley rantai makanan di tempat ini akan sedikit berputar dan digantikan. Kini hanya tinggal kami serahkan kepada alam untuk mengaturnya kembali. Kepulan asap yang mengarah ke langit terlihat semakin dekat pertanda bahwa kami sebentar lagi akan sampai di desa. Perjalanan yang cukup panjang dan sangat sepi hingga terasa begitu lama.
“Aku akan mencari udara segar. Kalian pergilah duluan!”
“Jangan terlalu jauh dari desar, Livy!”
Aku memisahkan diri dari kelompok saat kami hampir sampai di pintu masuk desa. Kupanjat dinding karang yang menutupi pandanganku hingga aku sampai di puncaknya. Aku hanya berdiri diam memandang ke arah langit yang dihiasi bintang dan bulan bersama kepingannya.
“Bila ada cara untuk kami bisa hidup damai bersama... Tentu aku akan memilih cari itu...”
“Sepertinya kau sedikit berubah ya, Liv.”
“Noel... Entahlah... Mungkin karena mereka sedikit mirip dengan manusia.”
“Sebelumnya kau tak segan membunuh bahkan manusia sekali pun... Namun sekarang kau menjadi sedikit lembut menurutku.”
“Bila ada suatu ancaman dan aku tak menemukan solusi apa pun, aku tak akan segan membunuh... Namun berbeda dengan kasus kali ini. Kita bahkan tak mencoba mengerti para loreley yang kita habisi, dan tak mencari solusi apa pun.”
“Yah... Aku pun merasakan dilema seperti dirimu. Tapi, Liv... Bagaimanapun ini adalah alam liar, dan kau tahu hukum yang berlaku di luar Eden, kan?”
“Yang kuat akan hidup, dan yang lemah akan mati... Aku tahu itu.”
“Jangan goyah, Liv! Kau sudah seperti harapan baru untuk Eden. Sesuai dengan kemampuanmu, tanggung jawabmu juga sangat besar untuk ras manusia.”
“Jangan melebih-lebihkan, Noel! Aku hanya gadis muda sama seperti kau...”
“Namun kau yang terkuat setelah Profesor...”
“Sudahlah... Ayo kita kembali! Waktunya melanjutkan misi kita.”
“Ayo...”