
Aku kembali membalik arah di udara dan menebas lagi tubuh basilisk yang sangat besar itu. Walau tak terlalu dalam aku berhasil melukai monster bersisik sangat keras itu. Aku berhenti di dekat basilisk yang menggelepar kesakitan. Ibu hanya terdiam saat melihat perubahan wujudku. Basilisk mengibaskan ekor ke arahku dengan kuat.
“Seni sihir naga... Gravity lock... Down.”
Aku mengeluarkan sihir sambil menunjuk basilisk dengan pedang. Tiba-tiba gerakannya menjadi sangat lambat. Banyak dari jurus yang tiba-tiba muncul di kepalaku ini berhubungan dengan gravitasi. Salah satunya adalah gravity lock. Sihir ini mampu membuat sasarannya menjadi lambat atau pun cepat sesuai keinginan penggunanya. Kini basilisk bergerak begitu lambat hingga aku bisa menghindari ekornya hanya dengan berjalan. Ekor basilisk sungguh berbahaya karena seperti bilah pedang yang sangat tajam. Bila terkena ujung ekornya dengan telak manusia bisa terbelah. Aku maju ke depan mendekati kepala basilisk itu dari samping.
“Seni bela diri naga... Tarian pemburu naga.”
Aku melayang ke atas hingga sejajar dengan kepala basilisk. Membalikan posisi pedang di tangan kananku menjadi ke arah belakang, dan melesat maju mengincar leher monster besar ini. Aku mengiris lehernya dengan pedang di tangan kiriku. Sebelum selesai, kutebaskan pedang di tangan kananku dari arah belakang ke depan dan membuat tebasan di titik akhir menjadi lebih dalam. Setelah itu kulepaskan sihir gravity lock. Darah pun langsung menyembur deras dari leher basilisk. Namun serangan itu pun belum juga cukup membunuh monster besar itu. Kekuatan ini mulai membebaniku. Tubuhku sangat lelah hingga aku turun dan mendarat di dekat Ibuku.
“Livy... Bantu aku melakukan serangan terakhir!”
“Baik bu. Apa yang harus aku lakukan sekarang?”
“Kunci gerakan basilisk itu seperti tadi!”
“Seni sihir naga... Gravity lock... Down!”
Basilisk kembali melambat. Aku dan Ibu berjalan ke arah kiri monster itu.
“Kita akan memenggal monster ini. Bantu aku memegang pedang ini! Salurkan kekuatanmu ke dalam ancient swordku!”
Aku melakukan seperti perintah Ibu. Memegang pedang hitam dengan tangan kiri, sementara ibu dengan tangan kanan. Kami mengangkat pedang itu hingga ke atas kepala dan ujung pedang mengarah ke belakang.
“Seni bela diri naga... Dentuman ekor naga.”
Tiba-tiba pedang yang kami angkat menjadi begitu berat. Aku bahkan nyaris terjatuh ke belakang.
“Tebas sekuat tenaga, Livy!”
Aku melakukan sesuai perintah Ibuku. Menebas kepala basilisk dengan semua tenaga yang tersisa. Kami berhasil memenggal kepala basilisk itu dan yang mengerikannya, kami juga memotong setengah ruangan besar ini. Serangan yang Ibu keluarkan membuat pedang memanjang dengan ukuran yang tak masuk akal. Berbeda dengan pedangku yang di selubungi api, perpanjangan pedang Ibu seperti kristal berwarna hitam. Setiap mengenai sesuatu akan menciptakan ledakan besar dan lidah api yang membakar sisa dari tebasan pedang itu.
“Kuambil kembali kekuatan ini sampai kau benar-benar menguasainya.”
Aku kembali berubah ke wujud normal ketika mendengar suara itu.
“Ibu... Sebenarnya apa yang terjadi denganku?”
Profesor yang terduduk di sebelahku karena kelelahan berkata.
“Itu sihir pendahulumu, Livy. Artinya pemegang ancient sword sebelum kau. Dia memang salah satu pemilik kemampuan sempurna dan bisa berubah menjadi setengah monster seperti yang terjadi padamu. Kau masih ingat semua gerakan yang masuk ke kepalamu kan?”
“Masih, Bu.”
“Pelajarilah lagi! Bila bisa menguasainya, kau tak akan terbunuh oleh monster apa pun.”
Kami berdua menjatuhkan diri di atas tanah karena kelelahan. Sungguh pengalaman luar biasa untukku. Walau hanya sesaat, aku bisa mengimbangi kemampuan Profesor. Dapat menggunakan sihir, dan memiliki jurus di luar nalar. Semakin mengetahuinya, aku semakin menginginkan kekuatan itu. Setelah keluar dari sini akan kutanya pada Ibu tentang bagaimana ia bisa menguasai gerakan dan sihir begitu cepat.
“Kalian sungguh hebat kali ini.”
Kakek tua tiba-tiba muncul dan langsung berkata seperti itu.
“Seru kan tontonannya. Sekarang bisakah kau panggilkan teman kami kesini sebagai bayaran memberimu tontonan menarik!”
“Hoho... Baiklah. Akan kupanggil mereka.”
Lagi-lagi ia menghilang. Sepertinya ia sangat suka menggunakan sihir. Rasanya sangat ingin kubawa kepala basilisk raksasa itu sebagai piala kemenangan. Namun kepalanya saja terlalu besar dan mustahil aku mengangkatnya. Setidaknya pertarungan di sini sudah selesai dan kami bisa istirahat untuk sementara. Pertarungan sulit ini seakan tak mengizinkan kami untuk terus melanjutkan penjelajahan. Kami butuh waktu lebih banyak. Ibu juga mengalami patah tulang di tangannya.
Kapten dan Noel akhirnya datang menghampiri kami.
“Kalian baik-baik saja?”
“Ibu mengalami cidera. Namun aku baik-baik saja, kapten... Hanya sulit bergerak karena kehabisan tenaga.”
“Lagi-lagi kau berbuat nekat, Liv.”
“Kali ini aku bisa menyelesaikannya tanpa harus masuk rumah sakit, Noel”
Aku selamat tentu saja berkat Profesor. Bila bertarung sendiri melawan basilisk besar ini, mustahil aku bisa tersenyum sekarang. Aku tertidur tak lama setelah Noel dan kapten datang. Entah bagaimana caranya, aku sudah kembali di kota terbengkalai.
“Kau sudah bangun, Liv?”
Noel berkata seperti itu sambil masuk ke dalam ruangan ini.
“Kau tertidur selama 3 hari. Aku sempat khawatir dan ingin membawamu pulang ke Eden. Tapi profesor bilang kau baik-baik saja dan hanya kelelahan.
“Ya... Aku memang hanya kelelahan, Noel. Kau tidak perlu khawatir. “
“Liv, bagaimana cara kalian mengalahkan basilisk sebesar itu? Ku dengar kakek tua itu tak membantu sama sekali.”
Aku menceritakan semua yang aku alami pada Noel. Lagipula tak ada hal luar biasa yang harus aku sembunyikan.
“Jadi sekarang kau bisa menggunakan sihir, Liv?”
“Tentu saja tidak, Noel... Hanya saat itu saja dan mungkin hanya kebetulan.”
Yang kutahu ancient sword masih memiliki banyak misteri. Tentang pembuatannya, tentang pengguna sebelumnya, sekarang bertambah juga tentang sihir dan kemampuan tak masuk akal lain yang mengikutinya. Semakin kami cari tahu, semakin banyak pertanyaan yang menumpuk.
Kami para pemilik ancient sword terhubung dengan pendahulu kami. Masing-masing dari mereka memiliki kemampuan yang begitu luar biasa hingga di sembah seperti dewa. Tak hanya ahli dengan seni bela diri, mereka pun sangat ahli dalam menggunakan sihir. Sekali ancient sword ditemukan, maka ancient sword lain juga akan muncul satu persatu. Pemiliknya sudah di takdirkan dan tak akan bisa di gunakan dengan baik jika dimiliki oleh orang yang bukan pewaris. Jumlah dari ancient sword masih belum diketahui. Yang kutahu hanya baru ditemukan 3 termasuk milikku. Aku yakin ancient sword memiliki warna yang berbeda-beda. Karena dari 3 pedang hebat yang sudah kuketahui, semua memiliki warna yang berbeda. Milik kapten berwarna biru, sedangkan aku merah, dan terakhir milik Profesor berwarna hitam.
Seperti apa pun orang yang memilikinya, ku harap mereka berada di pihak kami. Karena bila mereka membawa bahaya bagi sisa umat manusia di bumi ini, Ibu pasti tak akan tinggal diam. Aku yang tentu akan mengikutinya pun tak akan membuatnya kecewa. Bahkan jika Profesor adalah orang yang membawa manusia di zaman ini menuju kepunahan, aku siap menjadi eksekutor dan melenyapkan manusia di atas permukaan bumi.