
Menuruni gunung ternyata lebih lama dari perkiraan. Jalan yang terlihat dekat dari atas gunung, ternyata sangat jauh bila dilalui.
“Suhu semakin dingin. Sebaiknya kita turun dengan berlari!”
Kami semua menanggapi ucapan kapten dengan cepat. Dengan berlari menuruni dataran luas ini kami akan cepat mencapai kaki gunung, dan bisa menjaga suhu tubuh kami. Tentu saja kami tak bisa terus-menerus berlari di atas tanah yang tertutup tumpukan salju tebal seperti ini. Langkah kami semakin berat dan pergerakan kami semakin lambat. Matahari buatan di atas gua mulai kembali terang saat kami sampai di kaki gunung.
Udara di kaki gunung jauh lebih hangat dan kami menyiapkan makanan. Kami akan melanjutkan perjalanan saat selesai mengisi stamina nanti. Di depan kami terdapat ladang rumput setinggi pinggang orang dewasa yang mengitari kota. Kami harus melewati ladang rumput itu bila ingin masuk ke dalam kota. Di sekeliling kaki gunung juga terdapat area seperti hutan yang lebat dengan pepohonan khas kaki gunung.
Kami beristirahat dengan mendekatkan kaki ke api unggun. Rasanya kaki kami membeku karena berjalan semalaman di tumpukan salju. Saat selesai makan dan beristirahat tiba-tiba Noel berdiri dan mengambil busurnya. Mengarahkan anak panahnya ke arah rerumputan tinggi di depan kami.
Kami serentak langsung mengambil senjata dan bersiap untuk pertarungan. Tak perlu bertanya lagi pada Noel, karena pengelihatan dan pendengarannya adalah salah satu yang terbaik di Eden. Tentu Noel merasakan sesuatu hingga ia bereaksi mengambil busurnya. Beberapa menit kami menunggu namun tak ada apa pun yang datang. Bahkan tak ada suara apa pun.
“Aneh... Jelas tadi aku melihat pergerakan di antara rumput tinggi itu.”
“Kau tidak salah, Noel... Aku juga melihatnya tadi. Bukan hanya satu. Mereka berkelompok.”
“Benar Profesor.”
“Kali ini kita berhadapan dengan monster yang benar-benar cerdik. Kita harus bergerak sekarang. Afhkar, kau di depan dan potong habis rumput tinggi itu untuk membuka jalan!”
Kali ini kami mengubah formasi menjadi kapten di depan dan aku di belakang mengikutinya. Kapten mengayunkan ancient sword ke kanan dan kiri terus-menerus untuk membuka jalan. Saat sampai di tengah padang rumput ini tiba-tiba ada pergerakan dari segala arah. Kami pun kebingungan karena sesuatu mendekat ke arah kami secara bersamaan. Tiba-tiba Noel melempar peledak ke arah kiri. Daya ledak yang cukup besar itu membuat rerumputan di area kiri hancur dengan radius sekitar 5 meter. Sementara kapten bergerak ke arah kanan untuk menahan serangan.
Ledakan besar itu tak membuat gerombolan monster itu takut dan menjauh. Justru sebaliknya, semakin banyak yang berdatangan ke arah kami. Aku sendiri tak bisa memastikan jumlahnya, namun aku yakin di atas 20 monster. Keadaan menjadi semakin genting saat mereka mulai mendekat dengan cepat. Noel masih terus melempar peledak yang lebih kecil untuk mengurangi jumlah monster yang datang menyerang secara bersamaan. Salah satu monster yang datang dari arah depan tiba-tiba melompat ke arahku. Aku langsung menebas monster itu dari arah bawah ke atas dengan tangan kiri.
Aku sempat memperhatikan monster ini. Ukurannya tak terlalu besar. Tinggi monster ini tak sampai pinggang orang dewasa. Memiliki 2 kaki besar di belakang dan 2 kaki yang berukuran jauh berbeda di depan. Mungkin lebih seperti tangan kecil daripada kaki. Kepala monster ini terlihat seperti monster reptil dengan barisan gigi tajam dan mata yang berada di samping. Memiliki leher yang panjang dan ekor yang juga panjang. Monster ini bersisik, dan bergerak dengan sangat cepat dengan kaki belakangnya. Berbeda dengan kelinci tanduk rusa yang bergerak dengan melompat, monster satu ini bergerak dengan cara berlari. Gerombolan monster ini terus berdatangan tanpa henti.
“Kita harus mundur! Jumlah mereka terlalu banyak.”
Mendengar perintah dari Profesor kami mundur perlahan sambi terus bertahan dari serangan monster itu. Sangat sulit untuk menyerang balik karena pandanganku terhalang oleh rerumputan tinggi. Saat aku membelakangi posisiku lagi-lagi ada monster yang melompat dan siap menerkam dengan kaki yang ditumbuhi cakar sangat panjang itu.
“Livy...!”
Ibu bergerak tiba-tiba dengan sangat cepat. Bahkan aku tak bisa melihat pergerakannya dengan jelas. Hanya sekelebat bayangan dan ia sudah ada di belakangku membelah monster itu menjadi 2 bagian. Kami terus mundur hingga kembali ke tempat kami beristirahat tadi. Api unggun yang kami buat pun masih menyala karena belum lama kami tinggalkan. Di area terbuka ini tentu kami akan lebih unggul. Monster itu tak menyerah dan terus-menerus melompat keluar dari ladang rumput untuk menerkam kami.
“Sebenarnya ada berapa jumlah mereka? Kenapa bisa sebanyak ini? Aku juga tak pernah lihat monster ini sebelumnya. Apa Ibu tahu?”
“Tidak. Ini tak ada di daftar monster yang tercatat di Eden.”
“Apa kapten tahu?”
“Aku juga tak pernah melihat monster ini sebelumnya. Walaupun kecil, kalau jumlahnya sebanyak ini tentu sangat berbahaya.”
Noel terlihat kelelahan karena sejak tadi ia melepas busurnya dan menggunakan pedan di punggung kedua tangannya.
“Jumlahnya pasti lebih dari yang sudah kita bunuh. Aku masih melihat pergerakan di ladang rumput ini.”
Yang kami bunuh saja sudah hampir 100 ekor. Keadaan ini sungguh berbahaya. Aku rasa tak akan ada yang sanggup melewati tempat ini jika seorang diri.
“Kita istirahat dulu sebentar. Nanti kita berlari secepat mungkin untuk melewati ladang rumput ini.”
“Apa tak terlalu bahaya, Ev?”
“Tak ada jalan lain... Sudah sejauh ini, tak mungkin kita kembali tanpa tahu apa-apa.”
Kami semua juga berpikir sama seperti ibu. Aku sendiri sangat penasaran dengan kota tersembunyi ini dan matahari buatan di atas kami. Aku yakin ada sesuatu di kota ini. Karena semakin mendekat ke kota, monster yang muncul semakin berbahaya. Belum lagi kami tak tahu alasan mengapa kota ini ditinggalkan. Kota ini masih dalam kondisi sangat baik setelah masa kehancuran. Harusnya ada manusia yang tinggal disini. Namun bila dilihat dari kejauhan tak ada seorang pun yang berada di tempat ini. Belum lagi monster berbahaya tadi. Tak akan ada yang sanggup bertahan di kota bila di kepung monster yang baru saja kami lawan barusan.
“Profesor, ini waktunya kita menggunakan peledak. Selagi berlari, kita harus melempar peledak secara bergantian.”
“Ya... Aku juga berpikir begitu, Noel. Setidaknya peledak membuat mereka kacau untuk sementara.”
“Akhirnya era peledak tiba.”
Sahabatku yang aneh ini entah kenapa begitu menyukai ledakan. Apa pasangannya nanti akan baik-baik saja ya bersama dengan Noel yang selalu menyimpan peledak di kantongnya.