Dragon Era: Legend of the Dragon Hunter

Dragon Era: Legend of the Dragon Hunter
Awal kericuhan di Eden



Sangat mustahil bagi kami untuk segera sampai di Eden. Savana ini begitu luas dan butuh waktu untuk melewatinya. Belum lagi hutan yang mengelilingi Eden Shelter yang juga harus kami lalui. Profesor dan kapten memacu kuda besi dengan sangat cepat sampai aku dan Noel kesulitan mengejarnya.


Jarak antara Profesor dan kami semakin lama kian melebar.


“Kita bisa menyusul Profesor dan kapten nanti. Lebih baik turunkan kecepatan karena berbahaya, Noel.”


“Baiklah... Kuharap Eden baik-baik saja.”


“Sulit kalau hanya mengambil kesimpulan tanpa melihat langsung... Namun seperti perkataanmu. Aku juga berharap Eden akan baik-baik saja. Biar Ibuku dan kapten kesana lebih dulu. Jika kita terus mengikutinya justru akan mengganggu mereka.”


“Kau benar, Liv.”


“Lagipula keadaanmu belum benar-benar pulih, Noel. Sebaiknya kita beristirahat lebih dulu. Kau pastinya sudah merasa lelah sekarang.”


Noel yang kehilangan banyak darah pasti masih merasakan efek dari kurangnya darah dalam tubuh. Aku yakin kondisinya kali ini masih lemah. Ia harus banyak makan daging, atau diberikan darah tambahan. Kapten dan Profesor sudah menghilang sejak tadi dari pandangan kami. Aku mengajak Noel untuk beristirahat salah satunya adalah karena kami harus mengumpulkan stamina sebanyak-banyaknya untuk antisipasi saat sampai di Eden. Semisal keadaan di sana berbahaya, pasti tak akan ada waktu lagi untuk beristirahat. Tak ada gunanya bila memaksakan diri sekarang dan nantinya akan merepotkan yang lain.


Aku segera memanggang daging yang masih kami miliki. Menghabiskan makanan kami dan sedikit beristirahat memandangi asap yang masih saja keluar dari arah Eden Shelter.


Aku harus tenang dan membaca situasi saat ini. Tak bisa terburu-buru seperti biasanya karena keadaan Noel yang belum pulih. Kali ini kami tak tidur secara bergantian, melainkan tidur di waktu yang bersamaan. Kami tidur bersebelahan dengan api yang tetap menyala. Setidaknya Noel harus tidur walau sebentar.


Kami tidur hanya beberapa jam. Aku membangunkan Noel karena terlalu khawatir melihat asap dari arah Eden Shelter lebih banyak dari sebelumnya.


“Kita harus bergegas, Noel... Aku khawatir dengan Ibu.”


“Ia... Kita harus segera sampai ke Eden.”


“Bagaimana kondisimu?”


“Tak ada masalah, Liv... Kita harus cepat!”


Kami kembali bergerak meski hari belum menunjukan tanda-tanda akan pagi. Mengarungi savana dan memecah udara dingin malam itu. Noel masih terlihat pucat saat kami bergerak. Aku tak punya pilihan karena sepertinya terjadi hal yang gawat di Eden. Setidaknya kami akan kembali beristirahat bila memang tak terjadi apa-apa saat sampai nanti.


Sampai pagi hari tadi sebelum masuk kedalam hutan kami masih melihat asap dari arah Eden. Setelah masuk hutan pandangan kami tertutupi oleh pepohonan dan hanya melaju ke arah depan tanpa mempedulikan apa pun. Semoga semuanya baik-baik saja di kota terakhir milik manusia.


Saat kami keluar dari hutan ternyata banyak orang yang berada di luar Eden. Beberapa adalah penjelajah, namun lebih banyak warga biasa. Kami mendengarkan cerita dari salah satu penjelajah tentang situasi saat ini.


Inti dari penjelasannya adalah, terjadi kudeta di dalam Eden. Para bangsawan kelas rendah ingin mengambil alih Eden untuk kepentingan mereka sendiri. Mereka membuat peraturan bila ada yang ingin tinggal di dalam Eden, harus membayar dengan jumlah yang sangat besar. Untuk yang tak sanggup membayar mereka akan di usir dari Eden.


Pada akhirnya terjadi perang saudara di dalam Eden. Antara beberapa keluarga bangsawan kelas tinggi yang melindungi penduduk Eden dan tak setuju dengan peraturan yang mengada-ngada, dengan banyak bangsawan kelas rendah yang bersatu dan ingin mengambil keuntungan untuk diri mereka sendiri.


Penjelajah itu juga bilang bahwa bangsawan kelas atas dikalahkan oleh banyaknya jumlah penghianat Eden. Mereka di tangkap dan dimasukan ke dalam penjara yang berada di bawah tanah. Selama perang terjadi kebakaran besar melahap banyak bangunan dan rumah-rumah warga. Aku juga bertanya tentang keberadaan Profesor dan kapten yang masih belum kutemukan. Namun penjelajah itu belum bertemu mereka karena sibuk berjaga melindungi warga yang kini lebih banyak berada di luar Eden.


“Kau sepertinya khawatir dengan keluargamu, Noel. Mereka mungkin sekarang ada di penjara.”


“Aku baik-baik saja, Liv... Juga tak peduli dengan keluargaku. Bahkan mungkin mereka sama sekali tak mengingatku. Yang lebih penting kita harus bertemu Profesor dan kapten untuk menentukan langkah kita selanjutnya.”


“Kau benar, Noel. Aku sendiri sekarang bingung harus berbuat apa. Kau istirahatlah di sini sebentar! Aku akan sedikit berkeliling dan bertanya tentang keberadaan profesor dan kapten. Aku akan kembali dalam 1 jam.”


“Baiklah... Semoga kau membawa kabar baik saat kembai, Liv.”


Aku bertemu beberapa murid akademi hunter yang ikut membantu di tempat pengungsian ini, dan memerintahkan salah satunya membawakan makanan dan dokter untuk memeriksa kondisi Noel. Setelah itu aku berkeliling dan bertanya tentang keberadaan Profesor dan kapten pada banyak orang.


Setelah hampir satu jam berkeliling aku belum juga menemukan jawaban yang kuinginkan. Tak ada yang mengetahui keberadaan Profesor dan kapten.


Saat ingin kembali ke tempat Noel tiba-tiba terjadi ledakan yang cukup keras dari dalam Eden. Ledakan itu membuat tanah bergetar bahkan sampai tempat pengungsian yang berada di luar Eden Shelter ini. Aku semakin khawatir pada Ibu dan kapten. Kini aku sudah bertemu kembali dengan Noel. Kami berencana untuk masuk ke dalam Eden, karena mungkin Profesor dan kapten ada di dalam. Saat ingin masuk kami di tahan oleh beberapa prajurit yang berjaga.


Mereka mengatakan belum ada yang boleh masuk ke Eden karena suasana masih belum reda dan terlalu berbahaya. Terlebih lagi untuk kami yang seorang penjelajah sekaligus bangsawan. Aku sempat bertanya tentang keberadaan Profesor pada para prajurit. Mereka berkata Profesor Cage masuk ke dalam Eden tadi pagi bersama seseorang.


Kini aku tahu keberadaan Ibu. Hanya saja aku dan Noel tak diperbolehkan untuk masuk kedalam Eden Shelter. Kami harus mencari cara lain, atau alasan lain agar bisa masuk. Walau aku yakin tak ada manusia yang bisa membunuh Profesor, namun Ibu adalah orang yang mencintai seluru Eden. Tak mungkin ia bisa melukai para penghianat bodoh itu.


Situasi terburuk adalah Ibu di bawa ke penjara bawah tanah. Bila itu benar terjadi aku tak akan segan mengotori tanganku dengan darah para penghianat serakah yang ada di dalam dan menyelamatkan Ibuku.