Dragon Era: Legend of the Dragon Hunter

Dragon Era: Legend of the Dragon Hunter
Monster di Hutan Raksasa



“Kau sudah sadar, kapten?”


“Ah... Aku pingsan berapa lama, Livy?”


“Beberapa jam... Hari ini sudah sore. Sepertinya kita harus bermalam di sini. Apa kondisi kapten baik-baik saja? Benturan yang kau alami sangat keras tadi.”


“Aku baik-baik saja... Bagaimana yang lain?”


“Noel sedang mencari kayu dan Dean sedang menyiapkan bahan makanan. Istirahatlah lagi!”


“Wajahmu kenapa, Livy? Mau meniruku dengan bekas luka sebesar itu?”


“Tolong jangan dibahas, kapten!. Aku sedang kesal dengan luka ini.”


“Lalu bagaimana dengan monster tadi?”


“Tenanglah... Monster itu sebentar lagi jadi makanan kita.”


Tak lama Noel kembali untuk membuat api. Daging banteng punggung tanduk adalah salah satu daging monster paling enak yang pernah kumakan. Sedikit keras namun tak mengganggu rasanya. Malam mulai datang di tempat ini dan kami tak bergerak jauh dari tempat bermalam sebelumnya. Serangan monster tadi memberi dampak besar pada tim. Karena kapten tak sadarkan diri kami tak bisa menentukan apa yang harus dilakukan. Kuharap esok akan lebih baik dari hari ini.


Kami berjaga lebih waspada malam ini. Meski masih di pinggir hutan raksasa, namun tetap saja tempat ini adalah sarang dari banyak monster berbahaya. Kami mulai bergerak saat matahari baru saja terbit. Meski sedikit berbahaya bergerak di waktu sepagi ini, namun kami tak ada pilihan karena terlalu banyak membuang waktu kemarin. Suhu di hutan semakin menghangat, dan kami semakin memasuki hutan yang lebat.


Di bagian dalam hutan ternyata ada banyak jenis monster serangga yang memiliki ukuran tak normal. Aku melihat lipan dengan ukuran panjang lebih dari 5 meter. Dengan warna merah yang mencolok dan kulit seperti zirah yang ada di atas punggungnya. Beberapa kali juga kulihat serangga tameng dengan ukuran besar. Serangga ini memiliki punggung yang datar dan sangat lebar membentuk lingkaran. Dengan warna coklat gelap seharusnya serangga ini sulit ditemukan jika menempel di batang pohon. Namun dengan ukuran seperti yang ada di sini monster serangga itu justru terlihat mencolok.


Kami semakin masuk ke tengah hutan. Semakin ke arah tengah, hutan semakin sepi tanpa monster. Bahkan serangga-serangga yang kulihat sejak tadi tak nampak lagi di pandanganku. Meski begitu aku tak berharap ada kejutan lain yang lebih berbahaya dari banteng kemarin.


Noel tampak begitu waspada kali ini. Kami mengurangi kecepatan laju kendaraan kami, namun meningkatkan kewaspadaan. Berbincang pun jarang selama perjalanan. Semua indra hanya di fokuskan untuk mengawasi area sekitar.


Tiba-tiba Dean berhenti dan menarik beberapa sulur pohon. Ia mengambil pisau di punggungnya dan memotong sulur itu. Sedikit demi sedikit air keluar dari hasil potongan pisau Dean.


“Minumlah ini... Kapten, senior!”


“Kau yakin itu aman?”


“Tentu saja, senior. Ini aman dan dingin.”


Kami mengikuti caranya memotong sulur itu dan meminum air yang keluar dari dalamnya. Air ini memang tak berasa apa pun. Namun dingin dan menyegarkan. Dalam hutan yang lembab ini kami bisa menemukan sedikit kesenangan. Sepertinya ada gunanya juga Dean bergabung dengan tim.


Tiba-tiba kami mendengar suara ledakan dari arah kiri kami. Ledakan itu cukup keras hingga terdengar oleh kami. Kami langsung berhenti dan diam untuk sesaat. Sampai kapten berkata.


“Kita datangi asal suara ledakan tadi!”


“Baik....”


Tanpa dijelaskan pun kami sudah mengerti situasinya. Sudah pasti asal suara itu adalah penjelajah dari Eden yang mengaktifkan peledak. Aku yakin ia sedang berhadapan dengan monster yang kuat hingga harus menarik perhatian dengan peledak sebesar itu.


Jarak kami cukup jauh dan butuh waktu untuk sampai ke sumber suara ledakan. Semoga kami masih sempat menolong.


“Siapkan senjata! Kita sudah dekat....”


Noel yang berada di posisi depan sudah bisa melihat sumber ledakan dan langsung melompat ke atas pohon meninggalkan kuda besinya. Ia berpindah dari satu ranting ke ranting lain mencari lokasi terbaik untuk menembak. Aku, kapten, dan Dean pun turun dan langsung berlari. Tak lama kemudian ada seorang penjelajah sedang berlari ke arah kami. Kami pun berhenti dan berusaha menenangkan orang itu.


“Ada apa?”


“Monster....”


Wajahnya terlihat sangat ketakutan hingga tak bisa menjawab pertanyaan dengan jelas. Dean membawa orang itu menjauh sementara kami tetap di posisi untuk menghalau monster yang membuatnya lari ketakutan seperti itu. Aku pun tak pernah melihat penjelajah tadi. Kemungkinan ia bukan seorang hunter. Mungkin medis, atau arkeolog.


Tiba-tiba ada yang melesat melewati kami dan menabrak pohon di belakang aku dan kapten. Sesuatu berwarna kemerahan dan begitu panjang. Saat melihat pohon yang di tabraknya aku akhirnya tahu apa itu. Tiba-tiba Noel juga berteriak dengan keras untuk memperingatkan kami.


“Katak lidah taring!”


“Sial... Hutan ini benar-benar berbahaya.”


Lagi-lagi kami berhadapan dengan monster berukuran besar. Katak ini memiliki tinggi lebih dari 4 meter dengan lebar tubuh yang hampir sama dengan tingginya. Tubuhnya dipenuhi lendir serta kulit yang licin dan sangat elastis. Yang paling berbahaya dari monster ini adalah lidahnya. Mampu memanjang sejauh 12 meter dengan kecepatan sangat tinggi. Di sekeliling ujung lidahnya terdapat cabang-cabang kecil yang ujungnya terdapat taring. Jadi bila tertangkap oleh lidahnya kami dipastikan akan tewas karena di tusuk oleh banyak taring.


Monster ini biasanya berada di dalam air dan hanya ke daratan jika sedang mencari mangsa. Jadi aku yakin di sekitar sini ada sungai besar yang menjadi tempatnya tinggal. Monster itu tiba-tiba menarik lagi lidah panjangnya. Kami yang sangat panik segera bersembunyi di balik pohon. Katak lidah taring memang memiliki pergerakan yang lambat. Meski memiliki kaki belakang yang panjang, namun monster ini tidak bisa melompat jika sudah tumbuh dewasa dan sebesar yang kami hadapi saat ini.


Sebagai gantinya kecepatan lidahnya tak bisa di ikuti dengan mata. Sangat cepat dan sulit dihindari.


“Harusnya kupotong lidah itu tadi.”


Karena terlalu takut aku jadi membeku sesaat tadi. Kesempatan kami hilang. Mustahil untuk menyerang secara langsung dari depan. Karena pasti akan tertangkap oleh lidahnya dan tewas seketika. Noel yang sejak tadi berada di atas pohon langsung bergerak mengitari area ini dan menuju ke bagian belakang katak lidah taring. Meski aku ragu kalau panah Noel bisa menembus kulitnya yang dipenuhi lendir tebal dan sangat elastis itu, aku akan membantu. Aku berlari ke arah monster itu dengan zig-zag melewati pepohonan untuk menjadi umpan. Sementara Noel terus bergerak, aku akan mengalihkan perhatian monster ini agar tak mengincar Noel.