Dragon Era: Legend of the Dragon Hunter

Dragon Era: Legend of the Dragon Hunter
Menunggu Tim Bantuan



Kami memutuskan untuk kembali ke desa para dragonoid lebih dulu. Dalam kepanikan kami bergerak dengan cepat dan kembali. Sepertinya kami bertiga setuju bahwa musuh kami begitu menakutkan kali ini. Terlebih lagi jumlah dan kekuatan tempur mereka belum kami ketahui.


Setelah sampai kami beristirahat dan mengatur nafas. Walau berusaha melupakan kengerian tempat itu, aku rasa tak ada seorang pun yang mampu melupakan pemandangan tadi. Aku juga merasa seperti ada sesuatu yang janggal di situasi saat ini. Dari informasi yang kami dapat loreley adalah makhluk yang Bergerak masing-masing. Mereka memang berbagi sarang di wilayah yang sama. Namun seharusnya untuk makanan mereka tak saling berbagi seperti para dragonoid.


Namun dari bukti tempat pembuangan sisa makanan tadi kurasa ada yang aneh dari perilaku mereka. Aku pun tak tahu pasti, namun situasi kali ini benar-benar membuat kami kebingungan. Di satu sisi kami telah menyelesaikan misi kali ini. Kami bisa kembali ke Eden dengan informasi yang kami miliki. Namun di sisi lain kami merasa harus melakukan sesuatu atau setidaknya mendapat informasi tambahan tentang para loreley dan sarang yang baru kami temukan.


Saat hari hampir pagi asap merah terlihat membumbung tinggi dari kejauhan. Kemungkinan itu ada Dean yang membawa pasukan bantuan dari Eden. Akhirnya kami juga mengaktifkan sinyal asap untuk memberi tahu lokasi kami pada mereka, sekaligus agar mereka bergerak ke lokasi kami. Aku harap Dean membawa beberapa hunter yang berpengalaman agar misi ini semakin mudah. Bila memungkinkan aku juga ingin menyapu bersih sarang loreley itu agar area ini tak lagi menjadi ancaman.


Kami memutuskan menunggu Dean yang lain datang. Kami juga mengaktifkan sinyal asap setiap 30 menit sekali agar Dean cepat menemukan kami. Meski begitu matahari sudah hampir terbit namun Dean belum juga sampai di tempat kami sekarang. Kuharap tak terjadi apa pun pada tim bantuan. Kapten pun mulai terlihat khawatir dan tak bisa tenang. Sejak semalam kami memang jarang berbincang satu sama lain. Hanya diam dan tenggelam dalam pikiran kami masing-masing.


Meski aku sempat mengkhawatirkan kondisi Noel, namun sepertinya ia sudah baik-baik saja. Walau aku ragu hari ini ia akan makan.


“Kau sudah lebih baik, Noel?”


“Ia... Aku sudah jauh lebih baik, Liv... Tak kusangka ada tempat semengerikan itu. Sepertinya sulit untuk menghilangkannya dari kepalaku.”


“Tentu saja... Aku juga masih sangat jelas mengingat apa yang kita lihat tadi. Sebentar lagi mungkin tim bantuan akan sampai. Semua akan berjalan lebih mudah, Noel.”


“Semoga tim bantuan akan sampai di sini dengan selamat.”


“Aku juga berharap begitu, Noel.”


“Mereka pasti akan baik-baik saja, Livy, Noel.”


“Kapten dari mana saja?”


“Mengawasi area sekitar. Kita harus bergantian karena tak tahu kapan tim bantuan akan tiba. Setidaknya kita harus memberi tahu lebih dulu kalau dragonoid ada di pihak kita, agar mereka tidak menyerang lebih dulu.”


Benar apa yang dikatakan kapten. Siapa pun pasti akan menyerang dragonoid karena wujud mereka seperti monster. Kami bergantian mengawasi area sekitar dari ketinggian setiap 2 jam sekali. Berjaga agar tim bantuan tak bertindak gegabah dengan menyerang dragonoid. Bukan suku dragonoid yang ku khawatirkan. Namun tim bantuan yang bisa dengan mudah dimusnahkan oleh dragonoid bila menyerang. Ancient weapon pun tak mempan pada dragonoid.


Kini giliranku berjaga dan menunggu tim bantuan datang. Aku menelusuri jalan menanjak menuju puncak karang tertinggi di area ini. Panas matahari sudah mulai menyengat saat giliranku berjaga. Walau sangat berbahaya saat malam, ternyata tempat ini begitu indah bila dilihat dari ketinggian. Susunan karang yang begitu banyak dan terbentuk secara alami memberi kesan tersendiri yang tak dapat ditemukan di area lain bumi ini. Terlebih lagi karang-karang di area ini dihiasi oleh berbagai warna cerah yang memikat mata. Walau pemandangan malam hari di area ini begitu indah, siang hari pun sungguh tak tergantikan keindahannya.


Waktu berjagaku sudah hampir selesai. Matahari semakin menyengat karena sudah mulai tengah hari. Aku segera turun dari area tinggi dan menuju ke desa dragonoid. Tim bantuan masih belum terlihat hingga aku sampai di dasar bukit karang tempatku berjaga. Sepertinya di siang hari hanya cuaca dan iklim tempat ini yang menjadi tantangan bagi makhluk yang hidup di sini. Sebaliknya bila malam hari lingkungan ini menjadi begitu buas dan berbahaya. Kuharap tim bantuan akan tiba sebelum malam.


Kami pun masih terus menyalakan sinyal asap untuk memberi tahu lokasi kami pada tim bantuan. Kini giliran kapten lagi yang berjaga.


“Kau baik-baik saja, Liv?”


“Ia... Kenapa, Noel?”


“Kau kan tak suka cuaca panas seperti ini.”


“Yah... Memang cuaca panas seperti ini selalu membuat kepalaku terasa sakit dan kulitku serasa terbakar. Tapi kita harus menyelesaikan misi, kan.”


“Kau benar... Setelah kembali bagaimana kalau kita pergi ke tempat yang sejuk?”


“Aku akan menantikannya... Namun sebelum itu aku akan mencari Rose lebih dulu untuk memperbaiki wajahku.”


“Menurutku bekas luka di wajahmu cukup keren, Liv....”


“Aku kan bukan kapten Afhkar yang suka mengoleksi bekas luka....”


“Kau terlihat jantan, Liv.”


Aku tak mengerti kenapa Noel berkata seperti itu. Apa ia lupa kalau aku seorang wanita? Kulihat beberapa dragonoid sedang bersiap untuk pergi. Noel mengatakan kalau mereka akan berburu ke area hutan raksasa untuk mengisi persediaan makanan dan untuk bekal saat pindah dari area ini. Aku juga berharap bisa secepatnya bertemu dengan profesor dan bertanya apakah dragonoid bisa tinggal di kota terbengkalai yang ada di bukit duri. Menurutku akan sangat bagus bila mereka menempati kota itu. Selain bisa merawat tempat itu agar tidak dirusak oleh monster, aku juga berharap manusia dan dragonoid bisa menjalin hubungan baik.


Saat sedang bersantai menikmati hari yang panas ini, tiba-tiba terdengar suara ledakan besar di area ini. Aku dan Noel langsung mengambil ancient weapon kami karena terkejut. Saat melihat ke arah kapten yang berada di atas bukit karang ia menunjuk ke suatu tempat tanda kami harus kesana untuk memeriksanya.


Aku dan Noel langsung bergerak cepat menuju sumber ledakan. Ternyata asal suara ledakan cukup jauh dari desa dragonoid. Semoga tim bantuan baik-baik saja.