Dragon Era: Legend of the Dragon Hunter

Dragon Era: Legend of the Dragon Hunter
Noel yang Kembali



Aku terus memikirkan tentang sahabatku ini sambil menunggunya tersadar. Tangan yang semula hancur hingga pergelangan tangan kini hampir pulih sepenuhnya. Hanya perlu menunggu hingga jari tangannya lengkap. Begitu ia bangun nanti aku akan meminta maaf padanya. Sebab karenaku lah sahabatku harus menderita seperti ini. Kuharap tak akan ada yang berubah di antara kami. Semoga Noel mau memaafkanku dan tetap mau menjadi sahabat baikku satu-satunya.


Naga putih kali ini membuka matanya menandakan tangan Noel telah pulih. Namun Noel masih belum membuka matanya.


“Ibu, kenapa Noel masih belum sadar?”


“Bersabarlah, Livy... Ia hanya butuh istirahat karena kelelahan serta syok akibat lukanya. Namun Noel baik-baik saja dan akan segera sadar.”


“Berarti aku sudah boleh menebas leher naga bodoh ini?”


“Tentu tidak boleh!”


“Apa-apaan kau anak kecil... Padahal aku sudah menyelamatkan temanmu.”


“Hei bodoh... Semua ini terjadi karena ulahmu!”


Meski aku berkata begitu aku sadar Noel mendapatkan ancient weapon juga karenanya. Namun tetap saja aku merasa sangat kesal dengannya. Entah kenapa naga itu mirip dengan kakek tua bangka yang melatihku menggunakan shadow step. Suara dan gaya bicaranya terasa mirip.


“Ibu... Apa kita akan melanjutkan penjelajahan setelah Noel sadar?”


“Kita akan kembali ke Eden. Sudah waktunya memanggil tim bantuan karena tempat ini terlalu luas. Lagipula kau dan Noel pasti sudah terlalu lelah untuk terus menjelajah tempat ini. Terlalu banyak hal yang tak terduga dan terjadi di sini.”


“Lalu setelah kembali ke Eden?”


“Kita akan beristirahat beberapa hari sambil memikirkan langkah selanjutnya.”


“Baiklah.”


Kami mengakhiri penjelajahan di tempat ini begitu saja. Noel yang masih belum sadarkan diri digendong oleh kapten di punggungnya. Kami pergi tanpa mengucapkan apa-apa lagi pada naga putih yang menjaga tempat ini. Ibu pun tak mengatakan apa pun tentangnya. Kami berjalan dengan pelan menelusuri lorong demi lorong dan keluar dari lubang besar yang berada di tengah kota terbengkalai ini. Karena merasa kelelahan kami memutuskan beristirahat di kota ini sambil mengisi lagi stamina untuk perjalanan pulang ke Eden.


Setelah selesai memulihkan stamina kami bersiap untuk kembali melanjutkan perjalanan pulang. Noel masih juga belum terbangun dari tidurnya. Meski Ibu berkata kalau Noel baik-baik saja, nyatanya sampai saat ini pun ia masih belum juga sadar. Aku masih tetap khawatir pada Noel.


Kami berjalan ke arah bagian luar kota dan menaiki gunung bersaju lagi untuk kembali. Serangan raptor di padang rumput dapat kami lewati dengan mudah karena sudah menyusun strategi sebelumnya. Saat naik ke atas gunung bersalju pun tak ada serangan dari monster seperti saat kami datang. Kami kembali masuk ke dalam gua tempat pertama kali kami datang. Menyusuri gua untuk kembali ke bukit duri. Kapten sempat menemukan beberapa pintu gua sebelum kami berangkat. Namun kami tak ingin mengambil resiko dengan mencari jalan lain yang belum tentu mudah.


“Kau kenapa, Liv? Kenapa menangis?”


“Maafkan aku, Noel... Maaf.”


“Kau kenapa terus minta maaf sejak tadi? Yang lebih penting... Tanganku....”


Aku menjelaskan semuanya pada Noel sambil kami berjalan dengan perlahan menyusuri gua menuju pintu keluar. Tak ada satu pun yang aku lewatkan tentang dari awal kami berpisah hingga kami bertemu kembali saat keadaan Noel sudah sangat kritis. Kami masih terus menyusuri gua menuju pintu keluar. Jalan yang menanjak membuat Noel yang baru saja sadar menjadi kelelahan dengan cepat. Kami beberapa kali beristirahat di dalam gua hingga akhirnya melihat cahaya dari pintu keluar.


Setelah lama tak merasakan hangatnya matahari asli, akhirnya kami berada di luar dan merasakannya. Tak kusangka aku akan merindukan matahari seperti ini. Kami memutuskan beristirahat di dekat pintu gua. Noel harus makan untuk memulihkan kondisinya. Tangannya memang sudah pulih. Namun darah yang terbuang, dan stamina yang habis tak bisa dipulihkan oleh naga putih.


“Kau harus banyak makan daging, Noel agar darahmu yang hilang cepat kembali.”


“Aku akan makan banyak kali ini! Lihat ini, Liv... Ancient weapon milikku! Cantik bukan? Tak kalah indah dari milikmu.”


“Ia... Ia... Kau sudah pamer sejak kita masih di dalam gua tadi. Milikmu memang paling cantik.”


Aku bicara seperti itu bukan hanya untuk menyenangkannya. Namun aku sungguh-sungguh menganggap busur yang ada di tangan Noel itu sangat indah dipandang.


“Kau telah berusaha dengan sangat luar biasa, Noel. Mungkin busur itu adalah piala kemenanganmu.”


“Tentu saja... Aku telah pertaruhkan nyawa untuk senjata ini.”


Melihat Noel yang makan begitu lahap akhirnya kami juga ikut makan bersamanya. Padahal kami sudah makan saat di kota terbengkalai tadi. Setelah makan kami beristirahat selama beberapa jam dan melanjutkan perjalanan saat matahari mulai berwarna kemerahan.


Aku merasa di penjelajahan kali ini penuh dengan kejutan dan kegilaan. Banyak hal yang terjadi di dalam gua itu. Awalnya aku hanya ingin menunjukan kendaraan peninggalan masa lalu pada profesor. Namun kami justru menemukan sebuah kota terbengkalai, dan masih banyak lagi kejadian yang kami lalui saat berada di sana. Walau begitu rasanya penjelajahan kali ini tak bisa terselesaikan. Karena masih ada bagian yang masih belum kami jelajahi. Kami juga belum menemukan rahasia tentang matahari buatan yang menerangi kota itu.


Penjelajahan terpaksa di hentikan karena kurangnya kemampuan kami. Setelah lebih kuat, mungkin kami akan kembali ke tempat itu. Kini kelompok kami sudah memasuki arena savana. Ditemani jutaan bintang di langit, kami terus memacu kuda besi membelah dinginnya udara malam di savana ini. Saat kami ingin berhenti tiba-tiba terjadi ledakan yang begitu keras. Asap tebal membumbung tinggi ke arah langit dari arah Eden Shelter. Karena di savana tak tertutup pepohonan dan memiliki tanah yang datar, kami bisa melihat cahaya yang ada di Eden dari tempat ini.


Kami bisa memastikan kalau asap tebal itu juga berasal dari sana. Profesor dan kapten langsung menyadari afa yang tidak beres. Mereka langsung naik lagi ke kuda besi dan kembali memacunya. Aku yang masih kebingungan bersama Noel akhirnya segera mengejar mereka berdua. Aku pun tak bertanya lagi kepada Profesor dan kapten. Karena aku juga memiliki firasat buruk setelah mendengar ledakan dan asap yang kami lihat berasal dari arah Eden.


Rentetan kejadian tak terduga terus menerus mendatangi kami. Semakin berusaha semakin banyak pula hal yang tak masuk akal. Aku pun masih belum tahu apa yang menanti kami di Eden. Namun yang pasti asap yang sejak tadi terus membumbung ke langit bukan suatu pertanda yang baik.