DIARY ZARA

DIARY ZARA
9. Rangkaian mimpi setelah shalat istikharah 2



Mimpi ke enam.


Aku bermimpi berada disebuah gedung, berdua bersama anakku Jarel. Niatnya mau ke supermarket untuk belanja bulanan.


Aku masuk gedung itu, menuju lantai 3, tapi didalam gedung nya sangat gelap tak ada lampu yang menyala satu pun, aku terus berputar-putar didalam gedung mencari supermarket itu, tapi tak juga aku temukan.


Aku terus mencari jalan keluar, karena lorong-lorong gedung ini sangat gelap, dan juga dipenuhi reruntuhan bekas bangunan seperti gedung ini telah dilanda gempa. Aku melihat reruntuhan puing bangunan dan juga jalan nya yang sangat kotor seperti terdapat sebuah pipa saluran air di dalam gedung itu yang bocor karena tertimpa reruntuhan bangunan.


Anakku Jarel menangis ketakutan.


"Mamah kita ada dimana? " Jarel bertanya sambil memegang tangan ku dengan sangat erat.


"Mamah juga ga tau a, sepertinya kita tersesat."


"Takut." Jarel memejamkan matanya dan menangis."


"Kita jalan lagi yuk a. " Aku memegang tangan anakku dan berjalan.


Aku mencoba terus berjalan meskipun lelah, karena. terlalu lama berputar-putar di dalam gedung yang gelap ini.


Sampai aku melihat sebuah ruangan yang sangat terang, lalu aku mendekati ruangan itu, aku masuk ternyata ini mushola. Zara melihat banyak orang disini sedang melaksanakan shalat berjamaah.


Zara dan Jarel memperhatikan semua orang yang berada didalam mushola ini, tapi tak ada satu pun yang terlihat wajahnya. Semua nya bersinar dan menggunakan kain putih, entah itu mukena atau apa. yang jelas semuanya putih sampai aku tidak sanggup untuk melihat wajahnya satu persatu.


zara memberanikan diri mendekati satu orang yang berada duduk di mimbar. Seperti sedang mengaji. Aku memberanikan diri mendekatinya dengan gemetar sambil memegang erat tangan anakku.


"Pa boleh bertanya? "


"Orang itu mengangkat kepalanya yang tadinya tertunduk, melihat ke arah aku yang menghampirinya. "


Aku tidak dapat mengenali wajahnya, karena begitu sangat bersinar, sampai aku menutupi mata ku dengan tanganku sendiri.


"Pa boleh aku bertanya? aku sedang mencari pintu keluar dari gedung ini. Tadinya aku mau belanja, tapi aku dan anakku tersesat tidak tau jalan keluar dari gedung ini.


Orang itu tidak berkata apa-apa hanya mengangkat tangannya dan menunjuk ke sebuah pintu yang terang yang berada tepat di depan nya.


Hati ku senang sekali karena orang itu mampu menunjukan jalan untukku.


"Terimakasih pa. "


Orang itu tetap diam tak berkata sepatah katapun.


"Ayo Jarel kita kesana? "


Anakku masih gemetar ketakutan.


Dengan tertatih aku mencoba bangkit dan berjalan menuju pintu itu. Sampai didepan pintunya aku melihat dari balik pintu kacanya terlihat sebuah supermarket yang bisa dibilang mewah aku belum pernah melihat nya di dunia ini secara nyata.


Tak lama pintu kaca supermarket ini terbuka sendiri nya. Aku melihat sebuah tulisan yang sangat besar WELCOME.


Anakku tersenyum.


"Yuk a masuk. " aku menggenggam tangan anakku dan melangkahkan kaki ke dalam supermarket yang mewah ini."


Aku terdiam tak bisa berkedip karena disini banyak sekali orang yang sedang berbelanja, anak kecil yang bermain, berlari kesana kemari. Mandi bola dan sebagainya. Belum lagi makanan yang begitu banyak sekali, dari mulai buah, sayur, sembako, baju, furniture semuanya ada. Aku belum pernah melihat super market seperti ini sebelum nya.


Semua wajah orang yang ada disini terlihat bahagia, ceria penuh tawa. Aku menoleh ke belakang ke pintu masuk dari gedung yang gelap tadi. Ternyata menghilang. tak terlihat gedung dengan reruntuhan yang tadi aku lalui itu.


"Mah, ayo main, aa mau mandi bola. "


Anakku menarik tanganku, dan mengagetkan aku yang termenung karena memikirkan pintu masuk tadi.


"Oh iya. Ayo. "


Mimpi ke tujuh.


Ada suatu perayaan di depan rumah ku, Orang-orang telah berkumpul, namun ayah ku masih sibuk di toko ku. Karena banyak pembeli sampai-sampai antrian nya ke luar toko.


Sedangkan aku di suruh duduk diam didepan meja rias dikamar ku. Zara didandani oleh saudara ku, Dia memasangkan Hena putih dengan telaten pada kedua tangan ku.


"Tunggu kering dulu. Baru nanti Hijab sama baju nya terakhir, aku mau keluar dulu sebentar bantu ayah mu di toko. " Saudara ku berkata pada Zara.


"Oke. "


Aku melihat ke dapur dari kaca kamar ku.


"A Rangga beres belum? " Tanya Zara.


"Sedikit lagi. " Jawab Rangga


Rangga sedang sibuk memasak sendirian, rupa-rupa masakan telah rapi terpajang di rak dapur ku sampai beberapa tumpukan. Ayam goreng, ikan goreng, tahu-tempe goreng, Rendang, dan masih banyak lagi seperti rumah makan aja dapur ku di sulap a Rangga.


Aku menghampiri nya di dapur.


"A Rangga kamu ga cape masak sendirian, Banyak banget. " Zara berkata.


"Aku bantu ya. " Zara ingin membantunya.


"Jangan, biar aku aja. Kamu udah sana duduk manis di kamar, lanjutin dandan yang cantik sana ok.. " Rangga menyuruh aku kembali ke kamar.


"Kok gitu sih. " Zara cemberut.


"Udah sana, sayang tangan kamu nanti kotor, udah selesai ini semua, aku bakalan ajak kamu ke suatu tempat yang Indah banget, pasti kamu suka. " Rangga berkata dengan senyumnya yang manis.


"Janji ya. " Zara takut Rangga berbohong.


"Iya Janji, udah sana tunggu aja. " Rangga menyuruh ku kembali ke kamar.


Mimpi ke 8


Aku berada di depan SR Grosir yang berubah.


Terlihat nama Didepan terpampang jelas


"SUMBER REZEKI GROSIR"


Pintunya yang berubah menjadi pintu kaca dengan parkiran mobil dan motor didepan sudah tertata dengan rapih.


"Selamat datang tetehku. " Citra berdiri membukakan pintu masuk.


"Terimakasih, segitunya ya kamu sama aku. " Zara tertawa.


Citra adalah wanita bagian kasir di SR grosir.


"Ga apa-apa, ayo masuk kita lihat hasil kerja a Rangga, keren tau teh. " Citra menarik tangan ku masuk ke dalam SR Grosir.


"Wahh,, Bagus, Rapi, bersih juga." Zara takjub melihat perubahan SR Grosir sekarang.


"A Rangga nya mana? " Tanya Zara pada citra.


"Jangan dulu ketemu sekarang, soalnya lagi brefing bareng teh Syifa sama a Fadli buat grand opening besok. Ketemu nya besok aja, biar surprise ok.. " Jelas Citra pada Zara.


"Kok gitu sih? Zara kecewa menampilkan wajah cemberut. "


"Ga apa-apa besok juga ketemu, mendingan sekarang kita ke lantai atas, lihat pajangan barang yang lain. Yang lebih menakjubkan. Ayo teh. " Citra menarik tangan ku masuk ke lift SR Grosir yang telah berubah menjadi supermarket menuju lantai 3.


Mimpi ke 9


Zara bermimpi berada di sebuah Ruangan. Ada MUA yang sedang menghias kepala ku begitu sangat Indah dan cantik ketika aku melihat pada sebuah cermin yang ada didepanku.


Zara memakai kebaya putih dengan memakai riasan adat sunda yang begitu sangat cantik dan elegan. Lalu berjalan di altar menuju pelaminan.


Siapa yang ada di kursi pelaminan itu?


Rangga, terlihat sangat jelas. Memakai baju pengantin laki-laki putih begitu tampan terlihat bersinar. Semua mata tertuju pada kami berdua.


Aku berjalan menghampiri nya, melihat Rangga tersenyum pada ku, menunggu ku untuk sampai di pelaminan. Sampai akhirnya Rangga mengulurkan tangan nya dan menggenggam tangan ku dengan senyuman di wajahnya.


Rangga dan Zara tersenyum mengahadap kepada semua tamu undangan yang hadir. Suasana bahagia yang penuh haru itu terjadi.


Mimpi ke sepuluh.


Terlihat didepan rumahku Rangga datang dengan mengendarai mobil Avanza putih, memakai kemeja batik warna coklat lengan panjang. Memakai celana kain warna hitam, sepatu warna hitam dan peci warna hitam.


"Sejak kapan a Rangga bisa bawa mobil? " Zara bertanya dengan berdiri didepan pintu.


"Baru tau ya? " Jawab Rangga dengan senyumnya.


"Ayo masuk semuanya. " Rangga membuka pintu mobil bagian tengah.


Ternyata Rangga tidak sendirian, bersama beberapa orang, dan itu adalah keluarganya.


"Kamu ga bilang mau ajak mereka kesini." Tanya Zara.


"Ga apa-apa kan biar jadi kejutan. " jawab Rangga.


Kami semua masuk ke dalam rumah ku dan berkumpul. Setelah acara nya selesai, mereka semua pamit pulang.


"A Rangga kamu ga ikut pulang? " Tanya Zara.


"Nggak, kan rumah aku disini. " Jawab Rangga.


Ayo Jarel kita tidur, cape mau istirahat.


Rangga mengajak Jarel pergi ke kamar.


Mereka berdua tertidur pulas sambil berpelukan.


Zara tersenyum melihat dari pintu kamar ku. Dan menutup pintu kamarnya. Zara tidak mau mengganggu mereka yang tertidur pulas. Biarkan nanti juga bangun sendiri.