DIARY ZARA

DIARY ZARA
62. Partner tak terduga



Seperti biasa hari ini Zara belanja lagi ke SR. Sambil menunggu barang Zara disiapkan, seperti biasa Zara duduk di kursi depan bersama A Deni yang sedang cek barang yang datang dari distributor.


"Orang ini, ternyata karena Orang ini akhirnya sakit hati Zara sembuh. Terimakasih ya, kamu memang obat. Semoga kamu bisa menjadi penyembuh tanpa menciptakan luka yang baru." Zara bicara dalam hati sambil memperhatikan A Deni yang sedang bekerja.


"Tapi kok kamu ga bicara sih a, Ngobrol apa gitu ya. Diem aja." Zara masih menggerutu di dalam hati.


Zara memang suka A Deni, tapi Zara ga mau bertindak bodoh seperti yang dulu Zara lakukan pada Rangga.


Jangan karena omongan Yuda dan Hilmi jadinya Zara baper kedua kalinya, No..... Hal seperti itu tidak boleh terulang.


Mungkin karena sifat anak-anak SR ya begitu, bercanda nya ga lucu. Menggoda Wanita itu mereka ahlinya mungkin.


Jadi, meskipun Zara suka A Deni. Lebih baik dipendam saja, toh jika memang dia punya rasa nanti juga dia akan memulai. Kalo nggak ya berarti belum rezekinya.


Lagi pula dengan keadaan Zara yang seperti ini. Janda anak satu, mana mungkin seorang laki-laki lajang masih muda pula mau jadi suami Zara, kayanya ga mungkin. Buktinya Rangga juga ga mau.


Ketika malam tiba, Zara buka-buka handphone tak sengaja Zara menemukan channel YouTube nya tausiah Habib Ja'far tentang cara terbaik mendapatkan jodoh.


Setelah Zara mengikuti kajian tersebut Zara mendapatkan 2 do'a yang mesti di Dawam kan secara rutin jika memang ingin mendapatkan jodoh yang terbaik dari Allah SWT.


Habib Ja'far mengatakan "Coba amalkan do'a ini, ikhtiarlah sesuai syariat-syariat yang di ajarkan Rasul sebagai contoh dengan cara ta'aruf supaya bisa mengenal calon pasangan melalui perantara orang yang kita kenal. Bukan dengan cara pacaran apalagi berzina. Amalkan selama 40 hari berturut-turut, insya Allah jika memang Allah mengijinkan kamu bertemu dengan jodoh terbaik mu, maka nanti akan dipertemukan. Yang terpenting adalah perbaiki dulu kualitas dirimu, dekatkan diri kepada Allah, kejar cinta nya Allah. Mudah bagi Allah untuk memberikan satu mahluk untukmu jika Allah telah Ridho. Karena Jodoh itu cerminan diri kita. Jangan sibuk Mencari tapi sibuk lah menjadi, Menjadi pribadi yang lebih baik."


Malam ini Zara memutuskan setiap selesai shalat Zara akan membaca do'anya, mudah-mudahan Allah permudah Jalannya Zara bertemu dengan jodoh terbaik untuk Zara, siapapun itu pilihan Allah pasti yang terbaik.


"Mah jadi kita mandi bola nya. " Tanya Jarel pagi ini hari Minggu.


"Ayo, memang mamah udah janji kan kemarin mau ajak aa main." Jawab Zara.


"Asyiikk.." Terlihat raut wajah yang sangat bahagia di wajah Jarel, sederhana ya hanya jalan-jalan ke mall juga anak ini udah seneng banget, Alhamdulilah anak Sholeh.


Sampai di tempat mandi bola, Jarel langsung masuk dan bermain dengan ceria.


Zara duduk di kursi tunggu bersama orang tua yang lain juga. Disini rame sekali dengan suara anak-anak. Canda tawa dan teriakan kecil mereka sungguh menggemaskan. Raut wajah bahagia terpancar pada wajah polos mereka yang sedang asyik bermain wahana permainan yang ada di tempat mandi bola mall ini.


Sepertinya hal ini tidak asing bagi Zara. Karena kejadian ini pernah Zara lihat di mimpi Zara setelah shalat istikharah dulu.


Zara duduk sambil menatap layar handphone, hati Zara merasa kosong padahal sebetulnya Zara berada ditengah keramaian.


Rangga.. lagi lagi Rangga yang Zara buka chat nya yang terakhir kali di What's app Zara.


"Ya Allah, ijinkan aku meminta kesempatan terakhir untuk bertemu dengan nya hari ini. Boleh kah itu ya Allah? Zara janji ini benar-benar yang terakhir." Zara bicara dalam hati.


"Dimana?" Tanpa pikir panjang Zara langsung mengirimkan pesan itu pada Rangga.


"Lagi di Sukabumi." Ternyata Rangga langsung membalas.


"Makan yuk!!" Ajak Zara.


Zara harap hari ini kita bisa bertemu, Zara ingin sekali bertemu dengan mu A Rangga.


"Makan?" Tanya Rangga.


"Iya, ga bisa ya, sibuk?" Tanya Zara.


Bisakah kamu balas Ya Rangga. Kumohon untuk yang terakhir kali nya bisakah kita bertemu. Setelah ini Zara Janji tidak akan memohon lagi.


"Ga juga, lagi di rumah kakak." Balas Rangga.


"Oh. Ya sudah." Balas Zara.


Zara tunggu semoga ada lagi balasan nya dan berkata ya, kita bertemu sekarang.


Nyatanya tidak ada.


Sampai Jarel selesai main, tidak ada lagi balasan dari Rangga. Mungkin memang Rangga dan Zara tidak akan pernah bisa bertemu. Hari ini adalah harapan terakhirku. Besok sampai kedepannya nya Zara harap kita tidak akan bertemu lagi. Karena semuanya sudah terlambat. Harapan-harapan ku telah aku hapus dan terkubur cukup hanya dalam ingatan saja.


"Mah udah main nya, mau makan." Jarel menghampiri Zara yang duduk di kursi tunggu yang dari tadi masih memandangi layar handphone.


" Oh iya ayo jalan, kita makan terus pulang." Ajak Zara pada Jarel.


" Ok." Jawab Jarel sambil memakai sepatu nya yang disimpan di rak depan arena bermain.


Makan selesai dan kita berdua pulang ke rumah.


3 hari berlalu, Zara terus membaca do'a dari habib Ja'far setiap selesai shalat 5 waktu, shalat Dhuha dan shalat tahajud, mudah-mudah ikhtiar ini di ridhoi Allah dan Nanti suatu saat Zara dipertemukan dengan jodoh terbaik dari Allah. Aminnn... do'a Zara sekarang seperti itu.


Zara kembali ke SR untuk belanja, setelah mengantar Jarel kesekolah. Tidak banyak sih belanjanya hanya beberapa stock barang kosong aja yang harus Zara beli.


"Ko udah diajarin belum Zara SRC nya?" Tanya A Fadli pada a Eko.


"Oh belum A." Jawab A Eko yang sedang sibuk menyiapkan belanjaan rokok.


"Hayo sekarang aja, dari pada nanti lagi nanti lagi kapan?" Perintah A Fadli.


Zara hanya berdiri didepan meja kasir dan memperhatikan mereka berbicara. Karena pembeli di SR juga lumayan rame.


"Ok." A Eko akhirnya keluar dari Singgasananya yaitu meja kasir.


"Pinjem handphone." A Eko mengulurkan tangannya meminta handphone yang sedang aku pegang.


"Hahhh..." Zara malah bengong mendadak mematung.


"Boleh pinjem handphonenya? ada aplikasi SRC nya ga? kalo ga ada kita download aja dulu." A Eko menjelaskan pada Zara yang masih bengong.


"Oh iya ini, ada udah aku install kok aplikasinya." dengan gugup Zara memberikan handphone ke tangan A Eko.


"Pinjem dulu ya, sini aku liat dulu." Jawab A Eko sambil memeriksa handphone ku.


"A ijin ke depan ya, ga apa-apa kan aku tinggal dulu." A Eko minta ijin A Fadli meninggalkan singgasananya yaitu penjaga rokok SR.


"Boleh banget ya udah sana ajarin dulu Zara SRC nya ya." Pinta A Fadli.


"Nanti aja ga apa-apa padahal itu banyak yang antri rokok a." Zara bicara pada A Eko.


"Ga apa-apa ada A Fadli, didepan yuk aku ajarin caranya biar gampang nanti belanja nya kan." Jelas A Eko sambil berjalan ke pintu SR, Zara pun mengikuti nya dari belakang.


"Aduh loading nih sinyalnya memang agak jelek. Tunggu Bentar ya. " A Eko masih memegang handphone Zara mencoba membuka aplikasi SRC yang ternyata lemot.


"Iya." Jawab Zara.


A Eko dan Zara berdiri di depan pintu masuk SR, Rame pelanggan juga yang lalu lalang, begitu juga dengan A Hilmi yang bolak balik membawa dus dus minuman.


"Nah akhirnya kebuka. liatin caranya ya, " A Eko berdiri disamping Zara cukup dekat tidak ada jarak di antara kami karena memang sedang memperhatikan satu layar handphone, cukup canggung juga untuk Zara.


"Nama tokonya apa? " Tanya A Eko.


"Hah apa? J Store? " Tanya A Eko dengan suara yang lumayan kencang.


"Ssstttt....Jangan kencang-kencang malu kedengaran orang. Terlalu bagus ya namanya tidak sesuai dengan tokonya yang kecil." Zara mencoba mengecilkan suara karena banyak orang di sana dan tertawa kecil malu dengan nama tokoku sendiri.


"Ga apa-apa, sekarang kecil mudah-mudahan kedepannya jadi toko yang besar dan terkenal. Iya kan?" Jawab A Eko dengan senyuman.


"Hehe..hehe . iya juga sih. Amin mudah-mudahan ya A." Jawab Zara.


"Nama lengkap? Alamat toko? nomor handphone? " A Eko mengisi semua data di handphone ku untuk aplikasi SRC nya.


"Nomor anda telah terdaftar."


"Kok gini ya, emang udah pernah daftar sebelumnya?"Tanya A Eko.


"Udah cuman ga bisa bukanya." Jawab Zara.


"Ha..ha.. terus ngapain daftar lagi ya. " tanya A Eko.


"Hehe...." Zara hanya nyengir aja.


"Coba inget ga kata sandinya." Tanya A Eko.


"Sini aku coba, kalo ga salah sih kata sandi nya ini." Zara ambil handphone Zara dari tangan A Eko.


"Udah, coba buka." Zara berikan lagi handphone Zara.


"Kita Coba ya, Klik .. " A Eko membuka aplikasi SRC nya yang sudah aku daftarkan sebelumnya


"Nah, ini udah bisa. Yah kenapa ga dari tadi. Muter-muter daftar dulu. ha..ha.... padahal udah ada." A Eko ketawa kesel.


"Maaf kirain ga bisa, lupa kata sandinya padahal emang betul masih bisa ya." Jawab Zara ga enak hati.


"haha ... ga apa-apa" Jawab a Eko ketawa nya kenceng juga.


"Permisi hei, kerja Kerja..." A Hilmi lewat sambil membawa dus minuman.


Memang posisi Zara dan A Eko dari tadi tuh berdirinya di depan pintu masuk. Menghalangi orang lalu lalang.


Ternyata dari tadi A Deni juga ada duduk di kursi melihat Zara dan A Eko berdiri dari tadi disini.


"Cara pake nya kaya gini ya, aku ajarin." A Eko menjelaskan lagi tentang aplikasinya.


"A duduk yu, ga enak orang mau lewat susah." Ajak Zara.


"Oh iya ya, ga sadar aku." Jawab A Eko sambil melihat ke sekitar, banyak tumpukan dus juga yang A Hilmi siapkan dari tadi.


"Ayo duduk aja." Ajak a Eko mengajak Zara duduk satu kursi bersama A Deni yang sejak tadi duduk di situ.


"Aduh... kok gini sih?" Zara mengikuti nya sambil garuk-garuk kepala.


"Duduk sini. " Ajak A Eko memberikan ruang tempat duduk untuk Zara ditengang-tengah A Deni dan A Eko.


"Iya." Jawab Zara.


Wah kok jadi begini ya gara-gara aplikasi SRC Zara jadi bisa duduk di tengah-tengah mereka, Samping Kanan A Eko samping kiri A Deni.


"Wahhh... sungguh luar biasa." Zara bicara dalam hati.


"Wah wah ...ini si Kuncen kasir Akhirnya keluar juga." Tiba-tiba a Riki kasir baru keluar menghampiri dan jongkok di depan Zara.


"Eh...ga apa-apa kali, jarang-jarang aku dikasih ijin nongkrong diluar kaya gini sama A Fadli." Jawab A Eko.


"Gimana Zara udah bisa?" Tanya A Riki.


"Nih baru di ajarin." Zara tunjuk layar handphone Zara yang masih di tangan A Eko.


Zara diajarkan cara pesan barangnya sedetail mungkin oleh A Eko. Ga jauh beda dengan aplikasi yang kita pakai belanja online aja sih sebetulnya.


"Nah sebelum berangkat belanja kesini, besok pesen dulu dari rumah. biar nanti pas Dateng tinggal ambil barangnya jadinya ga nunggu lama. Ok." Jelas A Eko.


"Ok siap, makasih a udah di ajarin." Jawab Zara sambil senyum.


Dan melirik ke sebelah kiri A Deni masih duduk disamping Zara tanpa bereaksi apapun.


"Sama-sama, coba dulu aja liat-liat dulu ya cari produknya banyak kok." Jelas A Eko.


"Iya." Jawab Zara


"Den ini bon." Ada dua Sales distributor memberikan bon barang datang untuk di cek.


"Oh iya." Jawab A Deni.


Zara lihat ternyata bon nya banyak sekali. Dia pun beranjak dari tempat duduknya.


"Nih cek yang disini, aku cek barang yang di gudang belakang." A Deni setengah melempar bon yang tadi dia pegang ke pangkuan A Eko yang masih duduk disamping Zara.


"Aduh... " A Eko kaget .


"Sebentar Zara aku cek dulu barang ya, coba-coba aja pesen apa nanti bisa di cancel kok." A Eko berkata sambil beranjak dari tempat duduk nya.


" Oh iya ga apa-apa a Sok aja, Zara sih nunggu A Adit Jemput." Jawab Zara.


"Ok." Jawab A Eko.


Diapun sibuk kembali mengecek barang kiriman yang datang bersama Sales, A Deni masuk ke gudang dan Zara masih duduk menunggu jemputan A Adit.


"Tulisin Nomor handphone ku Zara." Tiba-tiba A Eko menghampiri Zara lagi.


"Hah... apa A." Zara kaget karena tiba-tiba A Eko Dateng lagi sambil masih memegang bon yang harusnya dia kerjakan.


"Masukin no handphone ku aja, biar nanti kalo ada apa-apa tinggal WA aja." jelas A Eko.


"Oh iya. Berapa nomor nya?" Tanya Zara.


A Eko menyebutkan nomor handphonenya.


"Udah aku simpan ya." Jawab Zara.


"Ok nanti WA aja ya." A Eko berkata dan kembali melanjutkan pekerjaannya.


"Siap." Jawab Zara sambil tersenyum


Akhirnya A Adit pun datang menjemput Zara.