
Alhamdulilah setelah melepas Rangga, setelah mendengarkan penjelasannya yang begitu panjang, setelah segala perjuangan ku selama ini tak berharga. Sekarang aku bebas.
Rasa sesak di dada kini hancur lebur, Rasanya dunia ini terbuka lagi, terbuka lebar. Masih banyak peluang untuk bertemu dengan Imam terbaik untuk hidup ku nanti.
Terimakasih banyak Rangga, kamu memilih pergi dari hidup ku, terimakasih juga Ditto kamu memilih pergi dariku. Itu berarti Allah memberikan peluang untuk orang baru, laki-laki terbaik yang telah Allah persiapkan, laki-laki terbaik yang akan mejadi pendamping hidup Zara selama sisa hidup Zara, Zara yakin Allah pasti akan memberikan nya untuk Zara sebagai hadiah dari ujian yang Zara lalui selama ini. Zara yakin Allah tidak pernah tidur, Allah maha pengasih maha penyayang. Jika Allah sudah berkehendak kebahagiaan itu pasti akan datang.
Selamat Datang, untukmu calon Imam ku. Siapapun kamu, pasti lah kamu adalah sosok laki-laki terbaik yang Allah pilih. Zara siap untuk menerima dan menyambut kedatangan dirimu kedalam hidup Zara.
"Jarel ayo kita ke SR, belanja snack. Snack nya udah abis semua. Kemarin A Adit ga jalan angkotnya libur. " Ajak Zara.
"Ayo mah, terus ke ulang tahun amang Hamzah kapan? " Tanya Jarel.
Karena hari ini hari minggu, ada undangan ulang tahun dari saudara ku, Ulang tahun anaknya.
Sampai di SR, Zara mulai mengisi keranjang belanja Zara dengan snack makanan ringan. Cukup rame juga pembeli, mungkin karena hari minggu juga.
"Hey.. " A Hilmi menyapa.
"Halo.. " Zara balas menyapa dan ketawa.
"Kenapa? " Tanya A Hilmi heran.
"Ga apa-apa. " Jawab Zara.
Padahal Zara ingat kata-kata Rangga.
"Maaf ya, takutnya salah atau gimana. Seandainya percakapan kamu sama bapak itu bener. Maaf banget takutnya kamu ga tau, Hilmi sudah menikah. Takut nya ada salah paham. Cuma mau ngasih tau itu aja sih. Kalo Kamu udah tau ya Alhamdulilah. " jelas Rangga
"Emang salah ya, kalo Zara akrab dengan A Hilmi, padahal A Hilmi udah menikah. Kayanya nggak deh, karena Zara tidak punya rasa apapun pada A Hilmi. ha..ha... " Zara bicara dalam hati.
Zara biasa kenal sama A Fadli, Zara juga biasa kenal dengan a Eko, a Deni. Ya begitu begitu aja, ga lebih. Kalo pun ada yang berpeluang jadi jodoh nantinya kita kan ga pernah tau, tapi kalo statusnya suami orang ya nggak akan lah. Ga mau Zara, jangan kan suami orang, duda aja Zara ga mau, he.. he..
Zara menyimpan satu keranjang Zara terlebih dahulu di depan meja kasir dan melanjutkan kembali membawa keranjang lainnya.
Antrian ibu-ibu cukup banyak di meja kasir, sampai bu haji dan teh Syifa pun turun tangan.
"Eko, kalo ga kuat lambaikan tangan ya, " Teh Syifa memberikan pengarahan pada a Eko dari meja kasir yang bersebrangan dengan meja kasir A Eko.
"Ok siap teh. " A Eko mengacungkan dua jempol.
"Ini ya teh belanjaan nya. " Tanya Citra pada Zara.
"Iya. " Jawab Zara.
"Sini-sini sama aku aja. " A Deni datang membantu Citra mengemas barang belanjaan Zara.
Zara hanya berdiri dibelakang a Deni, dan memperhatikan keadaan sekitar yang rame pembeli terus berdatangan, dan antrian kasir pun semakin panjang.
"Pada kemana anak-anak? " Tanya seorang bapak ke A Deni.
"Libur, pusing lah kalo kurang orang kaya gini. " A Deni menjawab sambil scan barang belanjaan Zara.
"Rangga kemana? " Tanya Si bapak.
"Ada. " Jawab A Deni.
"Maksudnya kerja apa dia sekarang? " Tanya si bapak.
"Ah, kepo. ga usah kepo. " Jawab si A deni pada bapak itu.
"Saudara kan sama Rangga? " tanya si bapak.
"Iya, Ibu nya A Rangga itu kakak nya Ibu saya. Saudara sepupu, aku sama Rangga itu, Deket banget sih. " Jawab A Deni.
"Oh gitu. " Si bapak itu terus bertanya.
Zara yang berdiri dibelakang A Deni dengerin aja.
"Trilit... trilit.... " Tiba-tiba komputer kasir nya mati.
"Yah..... gimana ini cit, di save belum. " A Deni kesel karena komputer nya mati. Sedangkan yang antri semakin banyak.
Zara hanya ketawa dibelakang, karena pasti harus ngulang dari awal, komputer kasir di toko Zara juga kadang seperti itu, mati sendiri rasanya kesel banget.
"Ulang A, belum di save. " Citra menyalakan kembali komputer nya.
"Ahhhh..... kesel. " A Deni memegang kepala dengan kedua tangannya.
"Ok, sabar ya." Zara menjawab. Padahal belanjaan yang udah di scan itu udah dapat satu kardus besar rupa-rupa snack makanan ringan kopi dan bumbu dapur. Zara sengaja memilih sendiri belanjaan yang rencengan sedikit-sedikit, kalo yang dus-dusan bisa whats app si om kan.
"He.. he... " A Deni hanya bisa senyum kesel. Karena banyak pelanggan lain yang antrian nya udah cukup lama juga.
Setelah hampir satu jam Zara berdiri didepan meja kasir ini, akhirnya semua belanjaan Zara selesai.
A Hilmi membantu membawa barang belanjaan Zara kedepan.
"Mana mobilnya? " Tanya A Hilmi.
"Masih di jalan barusan di telpon. " Jawab Zara.
"Oh nyuruh nongkrong dulu berarti. " Jelas A Hilmi.
"Iya. " Zara duduk di kursi depan bersama Jarel menunggu a Adit datang menjemput Zara.
Jarel pun digodain mang Dedi untuk main karena udah akrab juga jadi nya Jarel juga mau di ajak bercanda mang Dedi.
Tak lama A Adit datang dan membawakan barang belanjaan Zara ke dalam angkotnya.
Hampir setiap hari sekarang Zara belanja ke SR lagi, seneng sih dari pada terus-terusan diam di rumah, ga akan bertemu jodoh, kalo keluar kan setidak nya banyak bertemu dengan orang, semoga dapat jodoh juga nanti, ga sengaja. he.. he..
"A nanti anterin ke ulang tahun Hamzah ya, turunin barang dulu tapi ke toko. " Zara berkata pada A Adit.
"Ok." Jawab A Adit.
"Ateu dimana?" Kekei anak kak Maria nelpon.
"Dijalan, pulang belanja. " Jawab Zara.
"Mau ke ulang tahun ga? " Tanya kekei.
"Mau, tungguin di depan aja, sekalian nanti naik angkot ua Adit ke Hamzah nya. Nanti Tante kabarin kalo udah deket rumah ya. " Jawab Zara.
"Iya, sama nenek juga mau ikut ke ulang tahun. " Jawab kekei.
"Iya. " Zara menjawab.
Ibuku, kak Maria dan juga anaknya udah ada didepan rumah. Mereka semua ikut naik angkot A Adit untuk pergi ke ulang tahun Hamzah anak saudara ku.
Zara hanya menurunkan barang belanjaan Zara di toko, setelah itu kami semua berangkat ke ulang tahun Hamzah.
"Tunggu ini siapa? " Tanya Tante ku, Ga kenal.
"Zara, tante." Jawab Zara.
"Ya Ampun kirain siapa, cantik banget kaya orang arab pake niqab tante nyampe gak kenal." Karena udah lama Zara tidak bertemu, tante ku baru pulang dari Arab juga.
"He.. he.. " Zara hanya tersenyum.
Keluarga besar kami berkumpul, momen yang langka terjadi, alhmdulilah walaupun ga semua bisa hadir. Namun Zara senang jika sudah bisa kumpul keluarga seperti ini.
"Kapan nikah? " Tanya tante pada Zara.
"Ha.. ha... serasa anak gadis ditanya kapan nikah, lupa Zara kalau Zara udah punya Jarel. " Jawab Zara tertawa.
"Ga tau tante, belum bertemu dengan jodohnya. " jawab Zara tertawa.
"Kita do'ain semoga secepatnya ya, dapet yang baik, ganteng, masih muda juga, Sholeh juga. " Do'a dari tante ku.
"Amin... amin... amin... Makasih tante do'anya semoga Allah mengabulkan ya. " Jawab Zara.
Rangkaian acara pun selesai.
"Ayo kita foto keluarga dulu, jarang-jarang kita bisa. kumpul. " Ajak sepupu ku.
"Iya Ayo." Jawab Zara.
Bahagianya dapat berkumpul degan keluarga besar, walaupun tidak semua. Apalagi Zara mendapatkan do'a. Lagi Lagi do'a mendapatkan jodoh yang terbaik.
Amin.. amin... amin ya Allah. Semoga Allah mengabulkan do'a semua orang yang mendo'akan yang terbaik untuk Zara. Dan do'a Zara juga serta do'a Jarel.
Bahagia iti sederhana, berada di antara keluarga yang menyayangi Zara, tanpa seseorang yang istimewa di hati. Itupun sudah menjadi kebahagiaan yang sangat luar biasa untuk hidup Zara saat ini.
Terima kasih banyak ya Allah.