
"A Jarel ayo siap-siap mau ikut ga? " Ajak Zara.
"Kemana mah? " Tanya Jarel.
"Kita beli sosis sekalian beli Rokok ke SR. " Ajak Zara.
"Ok, ayo aa bawa sepatu dulu. " Jarel seneng jalan-jalan padahal sekedar belanja doang. ha.. ha..
Zara tiba di toko Frozen food langganan.
"Ga bawa mobil teh, biasa nya bawa? Tanya si bapak pemilik toko.
"He.. he.. ga ada pak, di over mobil nya. " Jawab Zara.
"Oh gitu. Terus ini gimana bawanya lumayan berat. pake motor? " Tanya si bapak karena Zara belanja lumayan banyak juga.
"Nih dibantuin asisten." Zara nunjukin Jarel.
"Oh iya pinter, ga sama ayah? Ayah nya mana? Tanya Si bapak.
"Kabur ayah nya. " jarel menjawab spontan.
"Oh, kirain kerja. Jawab si bapak ketawa.
"Nggak. " Jawab Zara sambil tersenyum.
"Udah teh, ini bonnya." Si bapak memberikan bon belanjaan nya padaku.
"Oh iya, makasih pa. " Jawab Zara.
"Ayo a, aa bawain satu, mamah bawa yang ini, ok. " Zara memberikan satu kantong belanjaan yang kecil pada Jarel anakku.
Memang Jarel adalah asisten Zara, pelindung Zara sekarang, meskipun masih anak kecil namun pikiran nya dewasa banget.
"Mamah, kemanapun mamah pergi aa mau ikut, mau jagain mamah. Kalo belanja jangan sendirian, biar aa jagain." Jarel selalu berkata seperti itu.
"Ayo a, aa duduk dulu disini ya. Mamah ke dalem beli rokok." Zara menyimpan kantong belanja di kursi depan SR, dan Jarel duduk disamping nya.
"Semoga tidak ada A Rangga, bismillah. " Zara masuk ke dalam SR grosir.
"Hay, Zara Nah gitu dong maen sekali-kali kesini. " Si om menyambutku dipintu depan sambil ketawa. Karena pas kemarin pertama Zara ke SR lagi si om gak ada.
"He...he.. Beli rokok om. " Zara nyengir.
Zara masuk dan berkeliling melihat suasana SR yang baru, sambil memilih barang belanjaan Zara.
"Alhamdulilah ga ada Rangga, terasa lebih leluasa aku belanja nya." Zara bicara dalam hati.
Zara kembali ke meja kasir membawa satu keranjang belanja, tak banyak sih.
Ada satu orang ibu yang antri didepan, dan satu ibu dibelakang aku.
"Ih lama banget sih, kasir nya. " Si ibu dibelakang ku menggerutu.
"Ibu baru ya belanja disini? Tanya Zara kepada si ibu.
"Iya tadi niat nya beli sabun doang, eh jadinya ambil banyak. Lama tapi ngantri kasirnya." Jelas si ibu.
"Ya udah ibu duluan aja, aku nanti, sedikit kok." Zara berpindah ke belakang si ibu, duduk di kursi kasir samping a Deni yang kosong.
"Oh iya makasih neng, ibu buru-buru soalnya. " Jawab si ibu.
Si ibu minta bayar transfer karena uang cash nya kurang.
Disitulah nilai positifnya Grosir ala minimiarket. Jika barang dagangan dipajang sedemikian rupa. Maka secara otomatis pembeli akan tertarik untuk membeli barang yang sebenarnya di awal mereka tidak niat beli.
Memang seharusnya usaha sembako konvensional harus mengikuti perkembangan Zaman, dengan menerapkan sistem retail modern, seperti minimarket dan supermarket yang sudah ada, agar kita sebagai pemilik usaha lokal tidak kalah saing dengan perkembangan toko retail modern milik orang asing. Karena Harga pun sebenarnya bisa lebih murah dibanding minimarket modern yang sudah ada.
Tinggal kita menata toko dengan baik, Rapi, bersih, terang, harga murah, pelayanan ramah, Barang serba ada. Insya Allah pembeli berdatangan dengan sendirinya.
Itu lah konsep yang Zara terapkan pada toko Zara selama ini. Cita-cita Zara memang sangat tinggi, namun karena keterbatasan modal dan begitu banyak ujian pribadi pada diri Zara yang Zara alami selama ini, sehingga Zara belum bisa mencapai impian itu sekarang. Namun Zara yakin suatu saat nanti Zara bisa mempunyai minimarket itu dengan ijin Allah. Bismillah.
"Zara ambil aja semua barang nya yang kamu mau, gampang sama om aja nanti di anter. " Si om yang sedang berdiri di samping a Fadli berkata.
"Uang nya ga ada om, ga cukup. " jawab Zara.
"Tenang aja bayarnya gampang nanti aja. Ambil dulu aja, iya kan a Fadli? Tanya si om ke a Fadli yang dari tadi senyum-senyum aja sambil menyiapkan belanjaan rokok Zara.
"Iya sok Zara, mau apa tinggal kumpulin di depan aja barang nya." A Fadli dan teh Syifa berkata.
"Nggak ah, nanti juga harus dibayar a, kecuali kalo ketemu lunas, Ha.. ha.. " Jawab Zara.
"Boleh.. boleh... Masalah gampang itu. " Jawab si om.
"Nanti gampang di Whats app lagi aja om. " Jawab Zara.
"Pulang dulu ya om. " zara berpamitan.
"Iya hati-hati. Makasih. " Jawab si om.
Zara keluar membawa dua kantong belanja. Ribet juga ternyata, Jadi 4 kantong belanja. Zara bawa 3 Jarel bawa 1.
"Udah teh? " Tanya a Deni di pintu keluar yang melihat Zara kerepotan dengan barang bawaan Zara.
"Udah a, pulang dulu ya. " Jawab Zara.
"Hati-hati. " Jawab a Deni.
"Iya"
Zara jalan berdua bersama Jarel ke terminal Angkutan umum, agak lumayan jauh sih apalagi kalo bawa barang belanjaan seperti ini. Tapi ga apa-apa udah biasa. Zara kan strong woman.
Sampai di toko, Zara langsung menata barang belanjaan bersama Jarel.
"Ga tau mamah, emangnya kenapa?" Tanya Zara.
"Aa mau tagih utang ke a Rangga? Jarel berkata sambil nyengir.
"Emang a Rangga punya hutang apa sama aa?" Tanya Zara.
"Nikahin mamah, kan kata A Rangga nanti mau kesini, kerumah aa, kalo udah ga sibuk kerjaan nya? Jawab Jarel dengan muka yang cemberut.
"Ha..ha... kata siapa aa, emang aa tau?" Zara ketawa sambil bertanya kepada Jarel.
"Tau. Kan sekarang SR nya udah bagus, tinggal nanti a Rangga nya kesini bantuin aa beresin toko aa, kan A Rangga jagoan." jawab Jarel.
"Itu kan dulu aa, sekarang nggak, karena A Rangga nya udah punya pacar." Jawab Zara.
"Ah.. A Rangga bohong, berarti nanti a Rangga masuk neraka karena udah bohong." Jawab Jarel.
Karena Jarel suka dengerin Zara menerangkan al-qur'an pada nya. Jadinya Jarel tau sekarang mana yang baik, mana yang buruk, mana yang harus di contoh dan mana yang tidak patut untuk di contoh.
"Nggak bohong, nanti juga ada ayah baru buat aa yang lebih baik." Jawab Zara.
"Yah..." Jarel kecewa dan memasang wajah merengut, bibir manyun.
"Ih ngapain muka nya gitu jelek." Zara ketawa.
"Kan biar kaya a Rangga. Kalo di toko tuh suka gitu muka nya sama teriak-teriak manggil mang Dedi.
Mang Dedi....mang dedi...wek...wekk..wekkk....
Berisik gitu mah.
Jarel menirukan gaya Rangga.
"Ha..ha..." Zara ketawa melihat tingkah lucu Jarel
"Kok bisa kamu jarel?" Tanya Zara
"Kan aa suka liatin, pas duduk deket aa. A Rangga Liatin aa lagi main game, gini nih mukanya." Jarel memperagakan ekpresi wajah a Rangga pada ku.
Dengan mata nya yang kedip-kedip sambil mengangkat kedua alis nya dan bibir di manyun-manyunin.
"Mah... A Rangga.. A Rangga.... " Jarel terus menggoda ku.
"Ha.. ha.. lucu banget kamu. " Zara tak berhenti tertawa melihat tingkah lucu Jarel.
"Mah... liat muka aa. " Jarel terus menirukan Rangga.
Sampai setiap liat muka Jarel tuh rasanya pengen ketawa aja. Karena inget Rangga.
"Gagal move on dong mamah, Jarel. Kalo kamu kaya gitu terus. " Zara bicara dalam hati.
Setiap waktu Jarel terus menggoda ku dengan menirukan ekspresi wajah Rangga.
"Aa mau liat foto a Rangga yang lain ga? " Tanya Zara.
"Mau.. mau... mana liat. " Jarel seneng banget ga sabaran.
"Nih liat sendiri mamah bukain facebook nya a Rangga." Zara memberikan hp ku pada Jarel.
Jarel melihat satu persatu foto A Rangga dan tertawa.
"Lucu.. lucu mamah fotonya. " Jarel senyum-senyum sendiri.
"Ini siapa mamah?" jarel melihat Foto Rangga bersama wanita.
"Adiknya. " Jawab Zara.
"Oh, kirain anaknya. " Jarel ketawa.
Jarel langsung lari ke depan cermin, menirukan semua gaya Rangga di foto satu persatu.
"Lucu sekali. " Zara tertawa
"A Rangga jika kamu tidak bisa aku lupakan, Biarkan saja. Meskipun kamu jauh, namun rasanya kamu selalu dekat dengan ku, dan sangat dekat. Zara bahagia. " Zara berbicara sendiri didalam hati.
Setiap aku melihat Jarel, aku seperti melihat bayangan dirimu ada pada diri Jarel, padahal jika secara biologis Ayah Jarel adalah Ditto. Tapi entah mengapa tak pernah aku melihat Jarel seperti Ditto. Bahkan Jarel pun tidak pernah bertanya tentang Ditto.
"Mamah, kalo mamah kangen a Rangga, peluk aa aja. Liat muka aa, tuh sama kan? Aa bisa kok kaya a Rangga tadi aa udah liat fotonya." Jarel memeluk aku dan berkata sebelum tidur.
"Ga mau ah." Jawab Zara.
"Ahhh...mamah." Jarel berkaca-kaca matanya mau nangis.
"Ha..ha..iya iya." Zara mengiyakan aja dari pada jarel nangis.
"Mmmuachh..." jarel mencium pipi aku.
"Sun jauh dari a Rangga." jarel berkata dan tertawa.
"aa....kamu yah..dasar." Zara ketawa gemes dengan kelakuan Jarel anakku itu.
"Mamah, kok a Rangga ganteng ya, aa liat fotonya yang pake kacamata." Jarel masih aja ngomong, belum tidur.
"Ha. ha..." Zara hanya tertawa.
"Gak kaya pas waktu kerja." jarel masih aja ngoceh.
"Ga tau." Zara menjawab.
"Udah merem cepetan, besok bangun pagi sekolah." Zara kesel karena Jarel tak kunjung tidur juga.
"OK!! akhirnya Jarel tertidur, tak lepas memelukku degan erat.