DIARY ZARA

DIARY ZARA
51. Awal baru, orang baru, Cinta baru



Seperti biasa sepertinya hari ini Zara kembali belanja ke SR, karena si Om malem ga bisa anter barang belanjaan. Ga apa-apa ya makin sering Zara keluar, makin sering Zara bertemu dengan orang baru, makin besar peluang Zara mendapatkan jodoh. he.. he..


Setelah mengantar Jarel ke sekolah, Zara langsung pergi ke SR untuk belanja.


"Tuh belanjaan kemarin udah disiapin." A Hilmi langsung berkata pada Zara ketika Zara masuk ke SR.


"Baru aja mau ngomong, ga jadi deh. " Jawab Zara ketawa.


"Ha..ha... Maaf ya kecepetan aku ngomongnya. " Jawab A Hilmi.


"Iya ga apa-apa. " Jawab Zara tersenyum.


"Citra bon aku mana yang belanja kemarin sore ke si om? " Tanya Zara pada Citra di meja kasir.


"Di mang Dedi teh." Jawab Citra.


"Mang Ded, bon. " Teriak Citra.


"Eh,, mau di ambil sekarang barangnya, nanti aja atuh siang sekalian. Si om juga mau ke grosir a Nandi kok, itu kan banyak minuman sama beras segala macem, berat bawa nya. " Jelas mang Dedi.


"Ga apa-apa, kan mau di jemput A Adit." Jawab Zara


"Oh ya udah sebentar mamang ambil dulu bon nya di gudang. " Jawab mang Dedi.


"Iya, Zara juga mau milih barang belanjaan dulu. " Zara masuk ke area makanan sambil membawa keranjang belanjaan Zara.


Zara kembali ke meja kasir.


"A kosong? "Zara tanya ke kasir baru.


"Siap, Zara. " Jawab si aa kasir baru.


"Kamu udah kenal? " Tanya wisnu sambil bersiap untuk packing Barang belanjaan Zara.


"Kan udah kenalan kemarin, kita kan sahabat. Iya kan teh? " Jawab si aa kasir baru itu.


"Iya. he.. he... " Zara jawab sambil tersenyum.


"A Adit dimana?" Zara telpon A Adit.


"Masih di deket rumah, kenapa? " Jawab A Adit.


"Yah... masih jauh dong, Zara udah beres belanja, jemput. " Jawab Zara di telpon.


"Tunggu aja. " Jawab A Adit.


"Siapa tah?" Tanya A Hilmi yang sedang jongkok berdua bareng A Deni di depan, sedang cek barang belanjaan orang.


"A Adit nya masih jauh, suruh Zara nongkrong dulu, tungguin di sini. " Jawab Zara.


"Ya udah duduk aja dulu, yang lama, biar A Deni bisa memandang Zara nya lama. he.. he.. " Celetuk A Hilmi pada Zara.


"Hahh.. apa a? Zara ga salah denger?" Tanya Zara.


"Biar A Deni bisa lebih lama memandang Zara, denger ga? jelas? " Tanya A Hilmi.


"Ha.. ha..." Zara ketawa sambil melihat a Deni yang sedang memegang bon duduk di kursi tempat biasa Zara duduk dengan A Rangga dulu.


"Zara duduk di sini ya." Zara ijin ke A deni, Zara duduk disamping nya menunggu jemputan a Adit.


Sumpah, kok mendadak jadi canggung ya, ga seperti biasa, ini pasti gara-gara A Hilmi nih.


Eh, A Hilmi malah pergi lagi. Zara ditinggal duduk berdua dikursi depan bareng A Deni.


Suasana mendadak sepi hening, mungkin karena masih pagi juga, belum rame pembeli. Di samping ku ada A Deni yang duduk sedang merapikan kantong kresek untuk di pajang di rak.


"Ah.. A Hilmi sih nyebelin pake bilang gitu tadi. Jadi nya Zara malu sama A Deni, Zara harus ngapain ya biar ga canggung. sumpah Zara kok jadi deg-degan ya duduk di samping A Deni kaya gini. Padahal biasanya sih ga apa-apa. Sepertinya Zara nulis novel aja deh. " Zara bicara dalam hati, ga berani melirik ke samping karena ada A Deni duduk di samping Zara.


A Deni saudara sepupu Rangga.


"Zara kapan ngeliwet dirumah Zara, udah lama mau kesana tapi ga jadi-jadi kan? " Tanya A Hilmi, akhirnya dia dateng lagi.


"Hayu aja, jangan omong doang ah, kalian biasanya omong doang, tapi ditungguin ga dateng-dateng. " Jawab Zara.


"he.. he.. " A Hilmi hanya tertawa.


"Rambut ku di ikat kaya gini Bagus ga mi, kagok kerja kalo rambut udah panjang kaya gini? " Tanya A Deni pada A Hilmi sambil mengikat rambutnya yang sedikit gondrong.


"Ganteng a." Jawab A Hilmi.


"Tapi kok agak aneh ya, rambutku sih gini tebel, susah kalo di kuncir, ga kaya rambut A Rangga, udah panjang, tipis gampang diatur. pake bando aja rapi dia rambutnya dikuncir kaya nyai. ha.. ha... "A Deni berkata sambil tertawa.


"Aku juga ga pantes a. " Jawab Hilmi.


Ternyata semua rambut nya pada di kuncir sekarang. Trend baru kali ya. pada ikut ikutan semua rambutnya dikuncir kaya Rangga, ga sekalian di warnain aja kaya rambut Rangga, Merah.


"Aku juga gak bisa ngerokok loh mi, padahal dulu ibu punya warung, jualan rokok juga. Tapi aku ga bisa merokok. " Jelas A Deni yang memperhatikan Hilmi yang sedang bekerja sambil merokok.


"Hilmi ngerokok dari pas kerja di Tangerang dulu a, kan kata mamah, kamu boleh ngerokok kalo udah punya uang sendiri, beda sama anak sekolah Zaman sekarang, anak SD juga jajannya rokok sekarang. " Jelas A Hilmi.


"Aku sih ga bisa merokok asli. " Jawab A Deni.


Zara hanya duduk diam saja, sambil mendengarkan percakapan antara A Hilmi dan A Deni.


Zara perhatikan ternyata A Deni ganteng ya, baik juga, tutur katanya lembut, sopan, yang paling Zara suka tidak merokok. Zaman sekarang laki-laki tidak merokok itu seperti nya jarang sekali.


Ya, Allah kok aku diam-diam jadi merhatiin a Deni ya.


"Astagfirullah. Zara tundukan pandanganmu." Zara bicara dalam hati.


"Berhentilah menunggu, sudahlah lupakan saja semua cerita, jangan harapkan lagi. Eh apa yah lupa lirik, A Den gimana lirik nya tuh lupa?" A Hilmi nyanyi gak jelas.


"Ga tau aku ga bisa. " Jawab A Deni ketawa.


"A Deni belajar dulu sana ke Yuda, biar bisa merangkai kata-kata. Ga ada sih dia, kemana sih orang nya. " A Hilmi bicara pada A Deni.


"Pinter Yuda gombalan nya, emang. " Jawab A Deni tersenyum.


"Rumah Zara tuh enak tau a, adeeem banget. Kemaren Hilmi kesana bareng si om, Zara A deni mau maen kesana nanti katanya. " A Hilmi ga berhenti nyerocos aja dia.


A deni sih senyum-senyum aja nanggapin ocehan A Hilmi.


"Hayo A, maen aja. " Jawab Zara.


"Mau nyari jodoh katanya. " Jawab Hilmi.


"Oh ya, A Deni beneran lagi nyari jodoh? " Zara coba berani kan bertanya.


"He.. he... " Senyum-senyum aja dia.


"Iya a Cariin aja, kali aja dapet ya." Jawab Zara.


Padahal aku juga lagi nyari jodoh, tapi kayanya ga mungkin deh a Deni mau sama Janda kaya Zara.


"Deket sales yakult itu bukan? " Tanya A Deni pada Hilmi.


"Ah ga usah nanya patokan nya deh, nanti di anter sama aku aja, hilmi kan kemaren udah ke sana. Ke rumah Zara. " Jawab A Hilmi.


"Jauh ya a. " Jawab Zara ketawa.


"Lumayan. " Jawab A Hilmi tertawa juga.


Tuh A Adit dateng.


"De lama nunggu bukan? " A Adit datang menghampiri Zara.


"A maen terus nih dari tadi, ajak pulang sana. Takut ada yang nyulik kalo lama-lama duduk di sini. " A Hilmi bicara pada A Adit.


"Ha.. ha... siap, ayo pulang. ibu nyariin jangan maen terus takut culik. A Adit membawa barang belanjaan Zara.


"Zara bukan anak kecil a. " Zara mengikuti A Adit dari belakang.


Sampai di toko Zara merapihkan barang belanjaan sambil senyum senyum.


"Kenapa kamu?" Tanya Ayah pada Zara yang sedang menata barang di rak pajangan.


"Ga apa-apa. " Jawab Zara.


"Pasti bertemu yang baru, kemarin aja nangis-nangis. Rangga.... Rangga. . Sekarang senyum-senyum sendiri. Ih... serem. " Ayah ku berkata.


" He. .he. ." Zara unjuk gigi.


"Yah tau ga, tadi A Hilmi bilang ke Zara katanya Ga apa-apa Zara nongkrong aja yang lama di SR biar A Deni bisa memandang Zara lama. " Jelas Zara.


"A Deni tuh siapa? " Sepupunya Rangga.


"Hah.... Dunia kok sempit, masa sekarang kamu suka sama saudara nya Rangga?" Tanya Ayah.


"Ga tau yah, tapi Zara deg-degan duduk dekat A Deni tadi. " Jawab Zara.


"Ya kalo ga deg-degan berarti kamu mati. " Jawab Ayah.


"Ha. hha.. iya juga sih, udah ah Zara ga akan gampang baper sekarang. " Jawab Zara.


"Ya jangan, nanti yang ada nangis lagi. " Jawab Ayah.


Kok Zara jadi ke inget A Deni ya, apa Zara mulai suka ya, entah lah kita lihat saja nanti, perkembangan nya seperti apa, mudah-mudahan ada jalannya dari Allah.


Amin..