DIARY ZARA

DIARY ZARA
43. Terpaksa melepas



Malam ini Zara kembali bermimpi.


"Kenapa banyak orang bu di rumah?" Zara dateng ke rumah entah dari mana. Heran dirumah banyak orang. Ada ibu dipintu rumah ku.


"Oh iya, ini ada rombongan yang nganter anak temen ibu mau ngelamar kamu, ibu udah kenal banget kok sama orang tuanya, juga anak nya. Makanya Ibu ga bilang dulu sama kamu. " Jawab Zara.


"Apa? ngelamar? kok ga nanya dulu ke Zara sih bu. " Zara kesel.


"Ngapain nanya kamu, orang kamu aja ga pernah bawa siapapun ke ibu, ya sekarang giliran ibu aja yang cariin. " Jawab ibu.


"Zara ga mau ibu, Zara ga suka. " Jawab Zara ga mau masuk ke rumah ku.


"Buruan sana masuk, ayah mu juga ada di dalem. Kasian mereka nunggu dari tadi. " Ibu menyuruh Zara untuk menemui mereka.


Zara masuk rumah, ternyata memang benar. Diruang tamu Zara udah banyak orang berkumpul.


Ayah mulai memperkenalkan mereka satu persatu.


Zara melihat dari belakang sosok laki-laki yang akan menjadi calon suami Zara itu.


"Aku ga mau, aku ga suka. Ya Allah aku harus berbuat apa." Zara bicara dalam hati.


Tiba-tiba handphone yang dari tadi aku pegang berbunyi.


"My Husband. " muncul nama itu di handphone ku, itu adalah nama kontak Rangga yang sengaja Zara simpan dengan nama My Husband di handphone ku semoga menjadi do'a.


"Ya Allah, benarkah ini. " Tangan Zara bergetar memegang handphone.


"Bu Zara keluar sebentar ada yang telpon, temen Zara " Zara bicara pada ibu.


"Matiin aja, ga enak sama mereka. " Jawab ibu.


"Sebentar bu. " Jawab Zara.


Zara lari keluar dan menjawab telpon dari Rangga.


"Assalamu'alaikum. " Jawab Zara tak kuat menahan tangis.


"Waalaikumsalam. " jawab Rangga disebrang telpon.


"Kamu kemana aja, kenapa pergi begitu lama, aku kira kamu mati. Kamu ga peduli lagi sama aku, Kamu ga tau betapa sulit nya aku setelah kamu pergi. Hah.... " Zara bicara di telpon dengan deraian air mata.


"Maaf. " Terdengar suara pelan Rangga.


"Aku dilamar hari ini, apa yang harus aku lakukan. Aku tidak mencintainya, bahkan aku belum kenal. Ibuku yang mengenal laki-laki itu." Jelas Zara.


"Kasih tau ibu, kasih pengertian ibu. Sabar sebentar lagi, Aku pasti datang. Tunggu aku, aku janji. " Jelas Rangga.


"Kapan? sampai kapan? berapa lama lagi kamu akan menghilang? mereka semua sudah ada dirumah ku sekarang. Aku tidak bisa berbuat banyak, jika kamu memang peduli, ku harap kamu bisa datang hari ini, sebelum akad itu terjadi. " Jelas Zara.


"Aku pasti datang aku janji. "


Tiba-tiba Zara terbangun.


"Astagfirullah, ternyata mimpi lagi. Lagi-lagi hanya mimpi. " Zara bicara sendiri melihat jam 02.30.


Lebih baik Zara bangun, wudhu dan melaksanakan shalat tahajud.


Pagi hari Zara menunggu toko seperti biasa.


Zara buka aplikasi tiktok untuk upload video motivasi Zara.


"Eh, kok tiktok A Awan ilang sih. " Zara bicara sendiri.


Karena beberapa hari ini Zara suka banget nonton tiktok A Awan temen lama ku, menghibur banget. Bisa bikin Zara ketawa.


Eh sekarang tiktok A Awan pun hilang.


"A Awan kok, tiktoknya ilang sih. " Zara kirim messenger ke temenku itu.


Belum ada balasan dari dia.


Sampai pas sore hari ketika Zara sedang nyetrika baju, ditemani Jarel yang sedang asyik nonton TV. Ada pesan masuk di Whats app Zara.


"Assalamu'alaikum, Maaf menggangu waktunya. udah ya, tidak usah bertanya lagi ke siapapun tentang aku sekarang. Kamu udah dewasa, tau mana yang baik, dan mana yang buruk. Banyak yang lebih baik dari aku. Maaf bukan maksud apa-apa. Ngerasa kaya buronan, kalo kaya gini. Kaya aku punya dosa apa gitu sama kamu, sampai saudara ku nanya ada apa? udah ya, jangan tanyain aku lagi, kesiapa pun. Insya Allah ada yang lebih baik dari pada aku, untuk kamu kedepannya. Wassalamu'alaikum. " Pesan dari Rangga.


Zara shock membaca pesan ini, bukan penjelasan ini yang Zara tunggu selama ini. Air mata Zara kembali menetes tanpa bisa di tahan lagi.


"Mamah kenapa? " Tanya Jarel.


"Ga apa-apa. " Jawab Zara sambil menyeka air mata Zara, Zara tidak sadar kalo disamping ku ada Jarel.


"Pesan dari siapa?" Tanya Jarel.


"Bukan dari siapa-siapa." Zara menjawab.


"Sini liat." Jarel merebut handphone dari tangan Zara


"Tuh kan A Rangga, pasti A Rangga yang selalu bikin mamah nangis, siapa lagi. Dasar orang Jahat." Jarel kesal.


"Sini mamah pinjem, mau bales." Zara meminta handphone nya dari Jarel.


"Ga usah di baleslah, orang jahat." Jawab Jarel.


"Alhamdulilah, bukan Apa-apa a Rangga. " Jawab Zara.


"Aa maen dulu sama kakek sana, ditoko. " Zara menyuruh Jarel keluar.


"Ya udah, jangan nangis tapi mamahnya. A Rangga jahat." Jawab Jarel.


"Iya nggak. " Zara menjawab.


"Apa lagi sampai seperti ini, bukan nya apa-apa. Hanya Malu sama saudara ku, karena bukan bagian nya untuk ikut campur masalah seperti ini. Masing-masing ada batasan nya ga harus seperti ini. Anggap saja kamu dan aku ga pernah kenal. Masih banyak laki-laki yang suka sama kamu, mau sama kamu, bahkan lebih baik dari pada aku."


Zara ga bisa berkata apa-apa lagi, selama ini Zara khawatir tentang bagaimana keadaan nya setelah Rangga keluar dari SR, maka dari itu, siapa pun yang sekiranya tau kabar tentang Rangga, Zara tanya. Namun ternyata anggapan Rangga malah lain. Malah dia malu, karena Zara hanya sekedar bertanya tentang kabar dia.


Bahkan dengan mudahnya dia berkata anggap saja Zara dan Rangga tidak pernah saling kenal, setelah Begitu banyak cerita, bahkan sampai 2 novel yang Zara buat, menceritakan tentang apa, tentang perjalanan Zara mengenal Rangga, tentang bagaimana sikap Rangga pada Zara selama ini. Bagaimana sikap Zara kepada Rangga selama ini. Bukti nyata, bahkan mungkin seluruh Indonesia tau jika Rangga pernah kenal dengan Zara dan ceritanya ada pada novel Soulmate dan Diary Zara.


"Maaf, ga bisa gitu. " Hanya kata-kata itu yang bisa Zara utarakan pada Rangga.


"Terus aku harus tanya kesiapa? Aku harus cari kamu kemana? A Rangga baik-baik aja kan? " Tanya Zara.


"Kan pemikiran setiap orang beda-beda, ada yang berpikir positif, ada yang berpikir negatif. Mending kalo berfikir positif, kalo negatif gimana?" Tanya Rangga.


Apa salahnya sih, Zara bertanya tentang kabar Rangga pada orang-orang yang Rangga kenal. Memang salah gitu? mungkin memang Rangga sendiri yang selalu berfikir negatif dulu kepada orang lain, sehingga pemikiran nya sampai kaya gitu.


"Zara mau tanya wisnu, wisnu nya ga ada. Tanya si Om, si om pun tak tau. " Jawab Zara.


"Mau apa? Aku baik-baik aja. Inget setiap orang punya privasi. Dan ga semua orang selalu mau di ganggu privasinya." Jawab Rangga.


Andaikan kamu bisa jawab aku dari kemarin aja, kalo kamu baik-baik aja. Aku ga akan nanya kemana-mana. Ini kan lain.


Jujur selama 28 tahun aku hidup di muka bumi ini, baru kali ini Zara bertemu dengan orang aneh seperti Rangga. Orang yang menjunjung tinggi privasi. Entah itu berlaku pada ku saja, atau bahkan ke semua orang, Zara tidak tau.


"Ga mau ngapa-ngapain kok, hanya aku minta kamu jangan menghilang. " Jawab Zara.


Setidaknya Zara tau kabar Rangga, bahagia atau tidak. Walaupun seandainya Rangga bersama orang lain, Zara akan lebih bisa menerima.


"Prinsip aku sekarang. Ada yang penting aku jawab, kalo gak penting buat apa dijawab juga." Jawab Rangga.


Ok. Berarti Zara memang ga penting untuk Rangga. Sekarang Zara paham.


"Kamu tau rasanya dichat sama orang Bandung? seperti cerita mu yang ada di novel. Pasti ngerti kan? " Tanya Rangga.


"Siapa? " Tanya Zara.


Oh, Kevin. Memang awalnya Zara kesel sama Kevin, tapi sekarang udah berhubungan baik kok, kita berteman baik. Ternyata Rangga kepo juga sampai baca novel ku. Laki-laki sedingin itu ternyata mau juga baca novel aku. Yang cerita nya menceritakan tentang dirinya sendiri.


"Udah ya, untuk sekarang kita masing-masing aja. Allah yang tau, mana yang lebih baik untuk kamu, dan juga untuk aku ke depannya. " Jawab Rangga.


Zara menangis, namun Zara berpikir. Memangnya kalo sekarang kita masing-masing, berarti dulu pernah bersama dong. perasaan kita ga ada ikatan apa pun, dari awal pun kita memang masing-masing kok.


"Jangan gitu. " Jawab Zara.


Setidaknya kita masih bisa komunikasi baik kalo memang kamu ga mau sama aku. Ga apa-apa, tapi bukan berarti kita jadi musuh.


"Ya kalo tidak ada apa-apa, kenapa harus tanya sana sini tentang aku, riweuh banget. Kalo ada yang penting banget, silahkan tanya kesiapa pun boleh. " Jawab Rangga.


Zara balas emot menangis saja. Karena percuma Zara jelaskan pun Rangga tidak akan mengerti. Orang keras jangan dibalas keras, Diam saja. dan memohon pada Allah.


"Ya Allah, sadarkan lah orang ini. " Zara berdo'a pada Allah.


"Asal kamu tau aja. Aku orangnya kalo patah satu tumbuh 1000. Aku bukan orang baik-baik. " Jelas Rangga.


"Bohong. " Zara balas satu kata.


Mungkin kamu bangga dengan sifat player mu itu. Tapi apa selamanya kamu akan menjadi seorang player. Apa selamanya kamu bangga menyakiti hati perempuan-perempuan di luar sana. Cukup aku wanita terakhir yang hatinya kamu sakiti. Cukup aku wanita terakhir yang tidak pernah kamu anggap ada. Jangan ada wanita lain yang merasakan hal yang sama seperti aku lagi. Rangga semoga kamu menjadi orang yang lebih baik, Do'a Zara untuk mu selalu.


"Jadi mulai sekarang kita masing-masing aja ya, kamu punya privasi dalam hidup. Aku punya privasi juga dalam hidup. Dan ga semua orang suka kalo privasi nya di ganggu. Kamu tau apa tentang aku?" Tanya Rangga.


"Tau. " Jawab Zara.


"Atas dasar apa? bertemu? medsos? perkiraan? " Tanya Rangga.


"Bertemu." Jawab Zara.


"Jangan merasa tau, apa yang dilihat, didengar, belum tentu sesuai kenyataan. " jawab Rangga.


"Melihat, mengamati, menganalisa, istikharah. " Jawab Zara.


Memang betul, perlu 8 bulan bagi Zara untuk mengamati bagaimana sifat Rangga sebenarnya. Sekarang Zara memahami bagaimana karakter, sifat baik dan buruk nya Rangga. Melalui pengamatan yang Zara lakukan selama ini, kamu boleh saja tidak menerima Rangga. Bahkan aku pun tau itu. Semakin aku gali lebih dalam tentang siapa dirimu sebenarnya. disitulah amarah mu akan semakin naik. Dan sifat aslimu akan muncul dengan sendirinya. Tak ada lagi sikap manipulatif bahkan egomu pun akan mati pada akhirnya.


"Jangankan kamu yang belum lama mengenalku. Teman yang udah bertahun-tahun bersamaku pun tidak tau sebenarnya aku seperti apa. Sifat manusia, hati manusia. Emang kamu tau aslinya seperti apa? " Tanya Rangga.


"Allah yang selalu memberikan petunjuknya padaku, bisa melalui berbagai hal, pada akhirnya semua akan terbuka dengan sendirinya. segala fakta, kebohongan, dan segala manipulasi di dunia ini, jika Allah sudah berkendak menunjukan. Pasti Allah tunjukan, tinggal bagaimana kita nya, apakah kita peka terhadap petunjuk-petunjuk yang allah berikan. Semua untuk kebaikan hidup kita. Khusus tentang dirimu aku tau. " Jawab Zara.


"Oh ya udah. Masing-masing aja ya untuk sekarang. Masa harus pake bahasa kasar agar kamu mengerti. Ga perlu kan? "


Dari nangis, akhirnya Zara tertawa. memang dari dulu juga masing-masing. Kamu takut sekali aku bongkar sifat mu semuanya. Ga pake bahasa kasar pun aku mengerti. Kalo mau pake bahasa kasar boleh juga, aku siap mendengarkan.


Anggap saja, seperti sedang menghadapai anak tantrum. Silahkan ungkapkan segala kekesalan mu padaku, sampai kamu merasa lega. Setelah itu. barulah nanti kamu akan merasa waras, Rangga.


"Jangan merasa paling tau tentang seseorang sebelum melihat semuanya. Jangan merasa paling kenal tentang seseorang sebelum terjadi semuanya. " Jelas Rangga.


Memang betul Zara juga bukan paranormal, yang tau keseharian Rangga. Tapi setelah 8 bulan mengenal Rangga, Zara paham sifat Rangga seperti apa, Karena pengalaman Hidup Zara pun Zara rasa sudah cukup, untuk memahami karakter manusia seperti Rangga.


"Jangan blokir. "Pesan Zara pada Rangga.


"Jangan ganggu lagi ya. " Jawab Rangga.


"Asal kamu bahagia, aku gak akan ganggu kamu lagi. " Jawab Zara.


"Oke. " Jawab Zara.


"Kalo nanti kamu berubah pikiran, dan berubah menjadi orang yang lebih baik, aku ada kok. " Jawab Zara.


"Insya Allah. " Rangga membalas.


"Jangan di blokir, ga akan kirim pesan kok. Aku janji. " Jawab Zara.


"Whatever. " Jawab Rangga singkat.


"Nanti kalo A Rangga udah mau cerita, cerita aja. Kalo sekarang belum bisa ya ga apa-apa. " Jelas Zara.


Karena Zara rasa, Kondisi Rangga lagi tidak stabil untuk saat ini, setelah dia keluar dari SR, banyak hal pasti yang harus dia selesai kan, entah itu urusan apa.


"Cerita apa, ga ada yang perlu di ceritakan. Dan tolong biarkan saya sendiri dan jangan ganggu lagi. " jawab Zara.


Astagfirullah, Rangga...


"Ya kalo ga ada ga usah cerita. Siap bos, Zara ga akan ganggu. " Jawab Zara.


"Ok, aku block ya. "


Akhirnya Rangga blokir no aku, whats app ku.


Ya udah ga apa-apa, kalo mau blokir-blokir aja. lagian dulu juga Zara berulang kali blokir nomor Rangga, Akhirnya dibuka lagi, komunikasi lagi, suatu perbuatan yang tidak dewasa. Hanya no handphone kok. Memang nya pikiran mu juga bisa di blokir ya. Kalo pikiran mu bisa kamu blokir, dan semua ingatan yang pernah terjadi selama 8 bulan ini bisa hilang dari ingatan mu berarti kamu hebat.