DIARY ZARA

DIARY ZARA
54. Gempa



Zara masih merapikan barang belanjaan di toko Zara, Jarel pun masih dirumah ibu, sepulang sekolah jarel mampir ke rumah nenek nya.


Sesekali Zara Mencari Sosmed tentang A Deni. Karena Zara ingin tau.


Ternyata Zara menemukan facebook nya A Deni.


"Hah... ternyata beneran masih muda. " Zara ketawa dan bicara dalam hati.


"Foto perpisahan SMA nya aja di posting tahun 2018, ha..ha.. lucu sekali. Umur nya jauh dibawah Zara ternyata. masya Allah kok Zara suka ya. " Zara bicara sendiri sambil tertawa lucu.


"Kaya nya sih kalo dilihat dari cara berpakaian seragam nya, A Deni tuh kaya pengurus osis gitu ketika sekolah. Tapi ga tau ya. Lucu aja, 2018 kan Zara udah punya Jarel. Sedangkan A Deni masih Sekolah. Sepertinya kelahiran tahun 2000 beda 6 tahun lebih muda dari Zara."


"Yah, gak jadi lagi deh. Ga mungkin A Deni suka pada Zara, karena umurnya aja beda jauh, janda punya anak satu pula. Ga mungkin banget ya Allah. Cuman cara berpakaiannya aja yang terlihat dewasa, cara bicara, gaya nya yang terlihat lebih dewasa dari umurnya. " Zara tertawa sendiri, lucu kamu Zara.


"Paket. " Si bapak telur datang mengantar telur ke toko Zara.


"ha. ha.. kirain paket beneran pa. " Jawab Zara.


"Ha. ha... " Si bapak nya tertawa.


"Pa bayar nya malem ya, uang nya kurang baru pulang belanja dari si Om. " Jawab Zara.


"Siap, santai aja, nanti malem aja sekalian ke grosir A Nandi. " Jawab si bapak telur.


"Ok. Terimakasih. he..he.." Jawab Zara.


Si bapak telur, ke grosir a Nandi untuk mengirim telur juga.


Tiba-tiba saja gempa yang cukup kencang mengagetkan Zara ketika Zara sedang duduk didepan meja kasir.


Astagfirullahaladzim, lailahailallah,


Zara berdiri di dalam toko sambil memegang etalase rokok yang terguncang hebat.


Seperti mematung, bukannya Zara lari keluar toko, Zara malah berdiri dan melihat barang-barang pajangan dari rak berjatuhan. Apalagi minuman yang di pajang di atas showcase, pada berjatuhan karena guncangan nya yang cukup besar.


"Keluar... keluar... " Teriak si bapak telur yang berlarian dari grosir a Nandi, Ayah ku juga lari keluar dari rumah setelah makan siang.


"Zara keluar.. Zara keluar.. " Ajak Ayah dari sebrang toko, dari depan rumah Zara.


"Lailahailallah, Zara berjalan tenang keluar toko menghampiri Ayah dan juga tetangga ku yang sudah berkumpul didepan toko Zara. "


"Kamu bukannya dari tadi keluar, kalo rumah sebelah ambruk gimana? " Ayah ku bicara pada Zara.


"He.. he... " Zara hanya senyum. Setelah merasakan guncangan yang cukup besar itu, di tengah tetangga yang semuanya panik.


Karena rumah-rumah tetangga Zara di perumahan yang berdempet, dan 3 lantai pula, sedangkan toko. Zara hanya satu lantai. jika rumah tetangga roboh, pasti jatuhnya ke toko Zara, itu yang Ayah khawatirkan.


Zara langsung dapat info dari status teman-teman di whats app Zara, ternyata pusat gempa nya di Cianjur 5,6 SR. Cukup dekat karena rumah Zara di Sukabumi, perbatasan ke Cianjur.


Zara dan ayah kembali ke toko sambil merapikan barang-barang pajangan Zara yang berjatuhan dari rak terutama minuman botol.


Alhamdulilah tidak ada kerusakan bangunan.


"Kalo nanti ada gempa kaya gitu lagi, lari keluar. Jangan diem aja kaya tadi, kalo kamu mati tertimpa reruntuhan gimana? " Tanya Ayah.


"He...he... Ayah takut banget di tinggal mati Zara sih. " tanya Zara.


"Iya lah, Jarel masih kecil. " Jawab Zara.


"Zara sendiri ga takut, kalo Allah memanggil Zara sekarang Zara siap, hanya saja yang Zara takutkan bekal amal yang Zara bawa masih kurang. Itu aja sih. " Jawab Zara.


"Ah kamu kalo ngomong suka ngelantur. " Jawab Ayah.


"Ha.. ha..Kalo Zara di panggil Allah sekarang, Zara pasti senyum. Karena tugas berat Zara di dunia udah selesai. " Jawab Zara.


"Ayah sama ibu yang nangis. " Jawab Ayah.


"Alhamdulilah om aman, ga apa-apa. " Jawab Zara.


"Om masih di pasar, di kios. Ga tau rumah seperti apa, tapi om dapet kabar barusan tetangga rumahnya pada rusak berat. Syukurlah kalo di situ ga apa-apa. " Jawab Om ku dari Cianjur.


Ternyata gempanya hebat, banyak korban berjatuhan, longsor pula di jalur Puncak. Zara dapat kabar dari teman-teman di whats app.


"Hati-hati ada gempa susulan. " Ucap om sebelum menutup video call nya.


"Iya om. " Jawab Zara.


"Ayah coba telpon Jarel di nenek. " Zara akhirnya nelpon ka Maria.


Jarel lagi maen di rumah ibu, berdua sama ibu pas gempa terjadi. Lari ke sawah belakang rumah.


"Jarel, tadi gempa kerasa ga? " Ada pesan masuk dari ditto.


Ditto juga video call, tapi tidak Zara angkat karena Jarelnya tidak ada.


"Jarelnya lagi di rumah nenek. Pulang sekolah mampir ke rumah nenek. " Jawab Zara.


Ternyata Ditto inget sama Anakknya jika diguncang gempa seperti itu.


"Gimana di rumah? " Tanya Ditto.


"Rumah aman, makanan yang dipajang di rak aja, sama minuman botolan di atas showcase pada jatoh. " Jelas Zara.


"Pada pecah?" Tanya Ditto.


"Nggak, jatoh aja. " Jawab Zara.


"Di cek lagi, kali ada yang retak di Toko atau di rumah. Waspada ada susulan lagi. " Jelas Ditto.


"Iya udah di cek, alhamdulilah aman." Jawab Zara.


Pabrik Ditto memang ada di desa Titisan Sukalarang dekat dengan pusat gempa. Dan karyawan nya pun banyak orang Cianjur, termasuk Lidya ya.


Pada panik karena di telpon keluarga mereka dari rumah keluarga mereka yang terdampak bencana gempa.


Sore nya Jarel pulang ke rumah.


"Aa tadi gimana pas ada gempa? " Tanya Zara.


"Lari sama nenek ke sawah, karena rak di rumah nenek pada kebuka pintunya nya pada jatoh, takut. " Jawab Jarel.


"Ayah Video call tadi." Zara memberi tahu Jarel.


"Sini aa mau kirim Voice note ke ayah. " Jarel meminjam hp Zara.


"Ayah. " Jarel merekam suaranya.


"Jarel tadi pas gempa Jarel lagi dimana? " Tanya Ditto


"Lagi di rumah nenek, main. Ayah dimana tadi? " tanya Jarel.


"Ayah masih di pabrik, pada keluar semua tadi. Plafonnya ada yang pecah, kaca gedung nya pecah. " Jawab Ditto.


"Iya, gede banget soalnya. Aa juga lari ke sawah. " jawab Jarel.


"Ya udah syukur kalo ga apa-apa di situ. Hati-hati ada gempa susulan ya. " Jawab Ditto.


"Iya. "


Zara terus menerima kabar dari teman-teman saudara dan juga dari berita di TV. Ternyata dampaknya luar biasa untuk Cianjur. Tetangga Zara juga banyak yang anak nya mondok di pesantren. Mereka pada berangkat ke Cianjur untuk menjemput anak-anak mereka.