DIARY ZARA

DIARY ZARA
45. Tidak menginginkan siapapun, Tidak mengharapkan siapapun



Hari-hari yang Zara lalui sekarang rasanya gimana ya, serasa ada yang hampa, meskipun memang banyak orang disekitar Zara, apalagi sekarang toko Zara pun tak pernah sepi pembeli, alhamdulilah.


Tapi rasanya ada yang kurang, Entahlah. Sebisa mungkin Zara tetap melangkah. Setelah segala ujian dan cobaan yang Zara lalui selama ini, tidak mungkin Zara berhenti, tidak mungkin Zara menyerah hanya karena Rangga menghilang dari hidup Zara sekarang.


mungkin memang Allah membiarkan Rangga menghilang dari hidup Zara, agar Zara bisa lebih fokus mengurus Jarel, fokus mengkaji lebih dalam tentang Al-qur'an, dan menjauhkan Zara dari kemaksiatan.


Tidak dapat dipungkiri, jika terjalin suatu komunikasi yang baik dengan Rangga, sebelum menikah. Entah apa yang akan terjadi, karena Rasa yang Zara miliki kepada Rangga begitu besar. Sehingga iman Zara pun terkadang goyah.


Terima kasih ya A Rangga, atas sikap mu selama ini pada Zara. Semua sikap mu menyelamatkan Zara dari dosa, dosa karena telah mendekati Zina. Sedangkan Zara sekarang sedang belajar untuk menghindari dosa itu.


Seperti biasa Zara menunggu toko, dan mengantar sekolah Jarel.


Tak ada yang istimewa semuanya terasa biasa saja bagi Zara.


"Om pesanan Zara udah dikirim. " Zara kirim order barang belanjaan Zara.


"Siap. " Si om membalas.


Malam hari nya si om seperti biasa mengantarkan barang belanjaan ke toko Zara.


Si om sama siapa itu kayanya bukan mang Dedi.


Zara berdiri di pintu rumah memperhatikan mobil si om yang sedang parkir putar balik sebelum diparkir di depan toko Zara.


"Hallo,, haii......... " Ternyata si om nganter barang nya bareng A Hilmi.


Seneng banget Zara, ngeliat a Hilmi doang nganter barang ke toko Zara, udah seneng. Apalagi kalo yang dateng itu Rangga. ha.. ha... seperti nya pingsan Zara karena mustahil.


"Hai...." A Hilmi melambaikan tangan dari dalam mobil sambil tertawa seperti anak kecil yang senang baru bertemu dengan sahabatnya.


"Om.. itu siapa? partner baru bukan? " Tanya Zara sambil ketawa pada si om.


"Iya, pengen ikut katanya, pengen tau rumah Zara. Tadi sih bilang nya gitu. " Jawab si om sambil mesem-mesem nahan tawa juga.


"Apaan sih om nggak gitu kok. " Jawab A Hilmi malu, salah tingkah. lucu aja Zara liat nya.


"Ha.. ha... ga apa-apa sekarang udah tau kan rumah Zara, jadi ga penasaran lagi. "Jawab Zara.


"Siapa ini a Namanya? " Tanya Ayah yang sedang duduk di depan toko bertanya pada A Hilmi.


"Hilmi pa, permisi pa ini dus-dusan nya di simpan dimana? " Tanya A Hilmi pada Ayah.


"Disini aja ga apa-apa nanti bapak beresin ke dalem. " Jawab Ayah.


"Ga apa kok, langsung di simpan ke dalem juga biar ga repot dua kali pa. "Jawab A Hilmi sambil mengangkut semua barang belanjaan Zara dari dalam mobil.


Si om diem aja berdiri didepan toko Zara sambil unjuk gigi.


"He... he... " Si om memasang ekpresi wajahnya.


"Mang Dedi kemana Om? "Tanya Zara.


"Malam jum'atan, malam sunnah. Kan kalo yang punya istri, malem jum'at lembur nya wajib di rumah, jangan di toko." Jawab si om


"Ah si om bisa aja. " Jawab ayahku tertawa.


"Udah semua pak, beres. " A Hilmi langsung masuk ke dalam mobil.


"Hey.... cepet cepet banget mau kemana? " Tanya si om.


"Nunggu disini aja om. " Jawab A Hilmi dari dalam mobil, sambil memakai kan tudung jaket nya ke kepala.


"Udah beres ya Zara, pamit dulu om. " Si om pamit pulang.


"Iya Om, makasih. Ke grosir a Nandi juga? " tanya Zara.


"Nggk, langsung pulang, a Nandi ga belanja. Khusus ke toko Zara aja, spesial. " Jawab si Om.


"He.. he... Om baik banget sih, biar Zara ga nangis terus ya. " Jawab Zara ketawa.


"Iya, malu udah tua hobinya nangis, ya pa. Ga malu sama Jarel apa? " Si om bicara pada Ayah ku.


"Ha.. ha.. Ya begitulah om, "Jawab Ayah sambil tertawa.


"Oh itu yang namanya Hilmi? " Tanya Ayah.


"Iya, gimana yah, masuk kriteria nggak? " Tanya Zara.


"Ya terserah kamu, kamu yang mau, Ayah dukung aja. Keliatan baik kok anaknya, Sopan juga." Jawab Zara.


"Emang baik yah, dari dulu juga suka bantuin Zara kok, cuman fokusnya Zara kan ke Rangga. Padahal a Hilmi juga baik kok." Jawab Zara.


"Mau nunggu Rangga sampai kapan, orang nya udah tenggelam hilang, ditelan bumi. Apa lagi yang harus di harapkan?" Ayah ku berkata.


"Ha..ha..Almarhum kali yah."Jawab Zara.


"Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif." Zara menunjukan handphone Zara pada Ayah.


"Nomor Rangga bukan?" Tanya Ayah.


"Iya, ga aktif. " Jawab Zara.


"Ya udah, kalo sekarang ada yang mau sama kamu, ya udah terima, ngapain masih menunggu yang tak pasti. Bukan salah kamu juga, karena kamu sudah memperjuangkan, Ayah tau kamu Cinta banget sama Rangga. Tapi kalo Rangga nya hilang ya udah, berarti Rangga nya ga Cinta sama kamu. Orang yang bener memang Cinta sama kamu, mau sama kamu, dia pasti datang, pasti menjelaskan bukan malah menghilang kaya hantu. " Jelas Ayah.


"Ha.. ha... " Zara hanya tertawa.


"Kalo A Hilmi boleh? " tanya Zara.


"Boleh. " jawab ayah.


"Kalo A Awan? " Tanya Zara, temen kerja Zara dulu.


"Boleh. " Jawab Ayah.


"Kalo a Adit minimarket? " Tanya Zara.


"Boleh. " Jawab Ayah.


"Ha... ha... kita tunggu aja yah, pintu rumah dibuka, untuk siapapun. " Jawab Zara tertawa.


Banyak laki-laki yang bermunculan sekarang, yang Zara kenal. Namun semuanya terasa biasa saja. Tak ada yang istimewa.


Biarkan saja, waktu nanti yang akan menunjukan siapa jodoh terbaik untuk Zara. Tidak begitu tertarik untuk mencari, kalo pun sudah waktunya tiba, salah satu dari mereka yang Zara kenal pasti ada yang berani ke rumah menemui Ayah ku, santai saja.


Tugas Zara hanya berusaha memperbaiki diri, menjalani hari sebaik-baiknya. Biar kan diri Zara terlihat oleh banyak orang, caranya adalah banyak kenalan dengan orang-orang. Bukan dengan cara negatif. Namun tak ada salahnya memperbanyak teman.


Karena dengan begitu siapa tau nanti ketika Zara sudah tidak mengharapkan siapapun dalam hidup Zara, di saat itulah Allah menghadirkan orang yang tepat itu untuk Zara. Zara percaya, Zara tau Allah tidak pernah tidur, Allah maha melihat dan mendengar.


Segala do'a yang telah Zara panjatkan pasti Allah dengar, segala usaha yang telah Zara lakukan Allah pasti melihat, dan segala apa yang ada dalam hati Zara pasti Allah tau. Hanya masalah waktu, menunggu dengan sabar Hadiah dari Allah SWT untuk Zara.