
Setelah beberapa bulan berlalu, Zara membangun usaha kembali sendirian sampai semua kebutuhan Jarel, Ayah dan ibu ku terpenuhi. Cicilan terbayar tepat waktu. Toko berjalan lancar. Namun tiba-tiba entah mengapa 3 malam ini dada ku terasa sesak, nafasku terasa berat dan tiba-tiba saja aku menangis tanpa sebab.
Setiap malam setelah tutup toko jam 10 malam, aku shalat isya lalu setelah itu shalat hajat. Menatap anakku yang sudah tetidur pulas, tiba-tiba saja aku menangis.
"A Rangga apa kabar?" kata-kata itu muncul dalam hati ku.
"Apa kamu baik-baik saja? Apa kamu bahagia sekarang? " Aku menatap foto profil whats app nya dan menangis sejadi-jadinya.
Sebuah foto seorang laki-laki yang sedang duduk menghadap air terjun yang sangat Indah memakai hoodie berwarna hitam, Rambut di ikat dengan sedikit berwarna merah. Yang terlihat hanyalah punggung dari laki-laki ini yang begitu menawan.
"A Rangga, punggung itu, kenapa yang terlihat selalu punggung itu, apakah tidak bisa sekali saja. Kamu melihat ku, lihat aku, aku yang selalu ada, aku yang selalu menunggu mu. Aku pernah marah, aku pernah kecewa namun aku sadar bahwa rasa Cinta ku pada mu terlalu besar. Walaupun semua orang menganggap Bahwa Zara begitu sangat hebat sekarang. Pernah kah kamu berfikir sama dengan orang-orang itu."
"A Rangga maaf kan aku, aku hanya ingin mengatakan. Aku rindu... aku sangat, sangat merindukan kamu. Maaf.. " Zara terus menangis tanpa henti.
"Ya Allah, Zara tau perasan ku ini salah. Ku tau tak seharusnya Zara mencintainya. Tapi semua terjadi begitu saja. Zara sudah berkali-kali meminta padamu ya Allah, jika memang Rangga bukan jodohku, jika memang Rangga bukan takdirku, ku mohon hilang kan lah rasa itu dari dalam hatiku. tolong.. ku mohon ya Allah tolong aku. Ini terlalu menyakitkan bagiku. Tolong hentikan semuanya Ya Allah.. ku mohon." Zara berdo'a dengan tangisan yang begitu sangat menyesakan dada.
"Selama ini Zara telah berusaha menghindar, berusaha menerima bahwa memang Rangga tak memiliki perasaan yang sama terhadapku. Zara bisa berpura-pura semuanya baik-baik saja. Aku bahagia. Ya Zara bahagia. Tapi dihadapan mu aku tidak bisa berpura-pura ya Allah. Bahwa sebenar-benarnya aku sangat mencintainya. Aku sangat-sangat merindukan kehadirannya. Tapi Zara tau semuanya itu hanya harapan ku saja yang ku tau semuanya akan sia-sia. Karena Rangga tidak mungkin hadir untukku. Sungguh suatu hal yang sangat mustahil. Ku mohon bantu aku Ya Allah. hilangkanlah rasa itu.
"Cukup kata-kata Rangga saja yang menemani dan menuntun setiap langkahku. Jangan biarkan aku berharap lebih padanya. Sakit... terlalu sakit.. Aku ingin cukup mengaguminya saja tanpa ada rasa ingin memiliki Rangga seutuhnya. Berikanlah rasa keikhlasan itu pada hatiku ya Allah. Walaupun itu berat ku rasa aku pasti mampu. Bantu aku ya Allah. Ku mohon. "Zara curhat pada Allah.
"Hanya engkaulah yang tau isi hatiku. Hanya engkaulah yang tau isi hati Rangga. Biarlah semua berjalan sesuai kehendakmu ya Allah. Jika memang Rangga bukan untukku, Zara yakin suatu hari nanti engkau pasti menggantinya dengan seseorang yang lebih baik untukku ku. Biarkan aku menangis hanya di hadapanmu, dan besok ketika ayah ku terbangun, Jarel terbangun semuanya baik-baik saja, Zara harus tetap kuat dan tersenyum dihadapan semua orang."
"Kalo kita memang berjodoh, Allah akan mempertemukan kita dengan caranya. Yang harus kita lakukan adalah senantiasa berdo'a. Cukup aku menjauh darimu, bukan berarti aku nggak suka, Tapi aku ingin memperindah taubat ku dan do'aku kepada Allah swt. Dan tetap jaga dirimu baik-baik. Seandainya kau memang jodohku. Semoga Allah menjodohkan kita berdua. Kalaupun kita tidak berjodoh akhirnya, Semoga aku diberikan hati yang kuat untuk menerimanya. Tolong yang diingat sama kamu satu. Sejauh apapun kamu melangkah, sejauh manapun kamu pergi, dan sebagaimanapun keadaan mu saat ini. Tolong ingat satu hal, tidak ada wanita yang lebih sayang kepadamu selain aku. Tidak ada yang mencintaimu setulus aku. Meninggalkan mu untuk menunggalkan Allah swt - ust. Handy Bonny
Pagi hari ditoko aku bertanya pada ayahku.
"Ayah kenapa ya setiap setelah shalat istikharah yang datang di mimpi ku itu Rangga lagi, Rangga lagi. " Tanya Zara pada Ayah.
"Orang kamu maunya Rangga ya pasti Ranggalah yang datang. " Jawab Ayah ku tertawa.
"Bukannya shalat istikharah itu meminta petunjuk ya. Memang aku maunya Rangga, tapi kali aja Allah tunjukin gitu sekali aja pada ku, Zara iniloh jodoh mu yang sebenarnya. Ini orangnya. sekali-kali gituloh yah, Zara bosen, cape kalo yang datang dimimpi nya Rangga terus. " Jawab Zara.
"Iya sih. " jawab Zara.
"Ya sudah, tunggu saja. Gak usah terlalu mendengar kan kata-kata ibumu, karena memang sifatnya sudah begitu. Biarkan saja. Toh kalo sudah waktu nya kamu bertemu dengan jodoh mu nanti juga bertemu. " Jawab ayah.
"Aminn. " Zara menjawab.
Seseorang yang sanggup menemani mu pada saat titik terendah dalam hidupmu, dia lah yang pantas menemani hidupmu sampai akhir hidup mu, dia lah yang pantas hidup bahagia bersamamu selamanya.
Namun kembali lagi hidup adalah pilihan, bagaimana kamu memilih untuk menjalani nya.
Satu hal yang pasti, orang yang mampu membuat dirimu berharga dia lah orang yang paling istimewa dalam hidupmu.
Jadi diri sendiri, mencintai diri sendiri, menghargai diri sendiri, sampai suatu hari nanti mampu mencintai dan menghargai orang yang paling berharga dalam hidup mu.
Kesabaran, keikhlasan, ketulusan semuanya didapatkan setelah melalui proses kesakitan yang menjadikan pendewasaan diri.
Dirimu berharga, dirimu istimewa ketika kamu bertemu dengan orang yang tepat di waktu yang tepat.
Yakin Allah telah mempersiapkan hadiah yang istimewa untukku. Jika mungkin itu bukan Rangga. Pasti Allah tau apa yang terbaik untukku.
Jika memang tidak bersama dengan Rangga, setidaknya aku ingin sekakrab dulu. Bisakah itu terjadi. Apa kah itu terlalu berlebihan.
"Mah, lihat muka ganteng aa. " jarel menirukan ekspresi wajah seperti Rangga dan tertawa.
"Jarel.... tolonglah.. udah tau ibunya susah untuk melupakan Rangga. Malah di goda-godain dengan ekspresi wajah merengut Rangga. Entah tau dari mana ini anak Mungkin karena sering merhatiin Rangga juga.
Aku ketawa sampai sakit perut dan mengeluarkan air mata karena Jarel tidak berhenti menggoda ku.