DIARY ZARA

DIARY ZARA
41. Ditto kembali



Seperti biasa hari ini Zara belanja lagi ke SR, tidak melulu nunggu si Om dateng nganter barang ke toko. Saat nya Zara kembali bergerak.


Wisnu dari kejauhan sudah ketawa-ketawa aja, liat Zara jalan dari terminal.


"Apa kamu ketawa-ketawa. " Zara bertanya pada wisnu yang sedang mengikat barang ke motor pelanggan di depan parkiran SR.


"Ga cape teh, jalan sendiri terus? " Tanya Wisnu nyengir.


"Nggak bang, hanya lelah. ha.. ha... " Jawab Zara ketawa.


"Truk aja gandengan masa Zara jalan sendirian. " Jawab Wisnu.


"Daripada kamu gandengan sama tali Rapia, hayo.. " Jawab Zara ketawa.


"Ha.... ha... " Wisnu tertawa.


Zara masuk ke SR dan langsung ke meja kasir karena hanya beli rokok, kopi dan minyak, tidak berkeliling ke dalam, ke tempat makanan.


"A Ini bon nya. Tinggal kopi sama Minyak. " Zara memberikan bon belanja Zara ke A Deni.


"Minta minyak curah nya ke anak-anak teh di dalam, masih dikemas soalnya. " Suruh A Deni pada Zara.


"Ok." Zara pergi ke gudang.


"Eh Zara, cari siapa? " Tanya Yuda.


"Cari minyak, bukan cari siapa-siapa. " Jawab Zara.


"Oh.. minyak apa minyak? "Jawab A Hilmi.


"Minyak A, sama kopi. " Jawab Zara ketawa.


Terasa aneh ya kita berkumpul kembali di gudang ini, Yuda, Hilmi, Wisnu, dan Mang Dedi juga Mang Yanto ada satu orang karyawan baru juga.


"Kemana komandan riweuh kalian sekarang. Yang suka meramaikan suasana gudang, yang suaranya itu loh, berisik banget? " Tanya Zara dalam hati.


"Udah ah, Zara tunggu diluar mang. " Zara lebih memilih keluar aja, aneh kalo lama-lama Zara berada di gudang ini. "


"Cie.....teringat ku teringat... " Mang Dedi malah nyanyi.


"Ha..ha...." Zara berlalu sambil ketawa. Kok gini banget ya, sepi belum banyak pelanggan yang belanja, karena masih pagi juga.


"Nih, udah semua. " A Hilmi membawakan minyak dan Kopi dusan ke depan.


"Iketin a, kalo gitu gimana Zara bawa nya. " Jawab Zara.


"Di anterin mang yanto ya mang, deket kok rumah nya di belakang grosir A Nandi Kan? " A Hilmi bicara pada Mang Yanto.


"Eh daripada nyuruh mang Yanto yang sibuk, sama A Hilmi aja anterin ayo sekarang. " Jawab Zara sambil ketawa.


"Ehhemm... ehemmm.. Ga tau aku, rumahnya. " Jawab A Hilmi.


"Hey,, toko bukan rumah, ngapain nganter barang ke rumah. " Jawab mang Yanto.


"Ha.. ha.. Tau tuh a Hilmi mang, tanyain aja ke si om, wisnu, mang Dedi tuh, udah tau kok rumah Zara. " Jawab Zara.


"Oh iya, toko maksudnya. " Jawab A Hilmi.


"Katanya mau pada ke rumah Zara, bareng-bareng semuanya. Mana sampai sekarang Zara tunggu ga dateng-dateng. " Tanya Zara pada mang Yanto dan A Hilmi.


"Yuda tuh yuda biang kerok nya. " Jawab A Hilmi.


"Masa lalu... biarlah masa lalu.. jangan kau ungkit... jangan... " Yuda malah nyanyi..


"Stop berisik, Radio butut..ha... ha.. " A Yuda menyela nyanyian yuda.


"Sering-sering teh main kesini, Biar rame. " Jawab Mang Yanto.


"Ha... ha... ga ada loe ga rame mang.. " Jawab Zara.


"Udah ah Zara mau pulang, siniin dus nya." Zara bawa dus yang selesai A Hilmi ikat.


"Hayo coba mau gimana bawanya banyak kaya gitu. " A Hilmi berkata sambil melihat dus dusan yang coba aku bawa.


"Bantuin makanya. " Zara jatohin lagi aja, dus yang tadi Zara mau bawa sendiri.


"Ya udah ayo, jalan duluan. " A Hilmi membantu Zara membawa belanjaan sampai ke angkutan umum di depan SR.


"Asiikkk... asiiikkk... " Mang Yanto dibelakang ngetawain asli puas banget dia.


Tiba-tiba ketika Zara sedang menunggu toko, karena baru selesai merapikan barang belanjaan juga. Ada satu motor berhenti di depan rumah.


Sesosok laki-laki memakai jaket, helm, masker dan menggendong ransel yang lumayan besar.


"Jarel. " Terdengar suara dari orang itu langsung masuk ke dalam rumah.


"Astagfirullah, Ditto. " Zara bicara sendiri dari toko, melihat Ditto tiba-tiba pulang.


"Itu benar Ditto apa arwah Ditto? Zara bertanya dalam hati. Karena Zara kira Ditto sudah tidak ada di dunia ini. ha.. ha...


Suasana Toko pun lagi sepi, karena jam nya shalat jum'at, ayah ku pun tidak ada di rumah, lagi shalat jum'at di masjid.


"Iya. " Jawab Ditto yang sedang duduk disamping Jarel yang sedang asyik main game.


"Ngapain kamu kesini? " Tanya Zara.


Astagfirullah, setelah sekian lama. Tak disangka tak di duga-duga dia berani menginjakan kaki kembali di rumah ini, memang ini juga rumah Ditto.


"Mau ketemu Jarel, ngasih hadiah ulang tahun. " Jawab Ditto.


"Aa lagi apa, sehat kan, Ayah kangen sama aa, sini peluk ayah." Ditto memeluk Jarel dan mencium Jarel, terdengar suaranya yang sedikit terbata-bata. tak lupa mengajak Jarel selfie.


"Hadeuh... kaya nonton drama sedih aku. " Zara bicara dalam hati dan memilih untuk duduk dikursi depan rumah, sambil memperhatikan pertemuan ayah dan anak yang penuh rasa haru itu.


"Ayah bawa hadiah untuk aa, aa mau tas baru kan, ini tas nya, ayah juga bawa baju banyak untuk aa, sama mainan juga. " Ditto sibuk mengeluarkan barang-barang yang dia bawa.


"He...... " Jarel hanya diam, dengan ekspresi wajah senyum aneh. Unjuk gigi saja tapi tak seheboh yang gimana-gimana.


"Baju nya ganti sini, baru pulang sekolah bukan. Belum ganti baju. " Ditto bertanya pada Jarel sambil melepas baju seragam Jarel.


"Belum. " Jarel menjawab.


Zara hanya diam, memperhatikan dari luar rumah. Zara khawatir, Anakku mau kamu kasih apa. Zara takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.


Memang Ditto ayah Jarel, memang Zara sudah memaafkan Ditto. Namun sekarang Zara selalu waspada menghadapi Ditto setelah semua kejadian itu. Zara tidak percaya lagi pada Ditto dan Zara harus benar-benar waspada. Takutnya ada niat jahat dibalik kedatangan nya kembali ke rumah.


"Aku mau ambil baju-baju ku. "Ditto bicara pada Zara.


"Ambil sendiri aja, masih di lemari. Belum di beresin. " Jawab Zara.


Ditto masuk ke kamar dan membuka lemari pakaian Ditto dan Zara dulu.


Zara melihat dan memperhatikan setiap gerak-geriknya dari luar kamar. Zara benar-benar waspada, dan ada sedikit rasa was-was. Apa yang akan dia perbuat sekarang.


"Masih seperti dulu. Belum dipisahin? " tanya ditto.


"Belum ambil aja pilih sendiri. Baju mu aku simpan di lemari paling bawah kok." Jawab Zara dari luar kamar.


"Sebagian aja. " Jawab Ditto.


"Ayah.. liat aa punya piala. " Jarel menghampiri Ditto. dikamar.


"Mana coba tunjukin ke Ayah. " Jawab Ditto.


"Sebentar. " Jawab Jarel sambil berlari membawa pialanya.


"wahhh... hebat anak ayah pinter. " Ditto bicara pada Jarel sambil memeluk Jarel.


"Hmmm... Pinter ya. Kemana aja kamu selama ini. " Zara bicara dalam hati.


"Bisa buka blokiran whats app ga?" Tanya Ditto padaku.


"Untuk apa? " Tanya Zara.


"Aku mau tau perkembangan Jarel, aku mau tau kabar Jarel. Kamu bisa saja blokir whats app aku. Tapi aku masih ayah Jarel sampai kapanpun. " Jelas Ditto.


"He... he... " Zara hanya seyum geli. Udah sadar ya kamu sekarang, Alhamdulilah.


"Ok. " Zara jawab singkat.


"Ibu ga disini. " Tanya Ditto.


"Di rumah nya, ga kuat kalo kesini, karena sekarang kondisi nya lebih sering sakit-sakitan semenjak dirawat. " Jawab Zara.


"Ayah ga lama Jarel, ayah kerja lagi ya, nanti ayah Kirim whats app, atau video call. Kalo Jarel mau maen sama ayah nanti kita maen ya. " Jelas Ditto pada Jarel.


"Iya." Jarel hanya menjawab singkat.


"Kabarin kalo perlu bantuan apa-apa, Bilang aja. Apalagi masalah Jarel. Jangan sampai ga ada komunikasi. " Jelas Ditto pada Zara.


"Iya. " Zara jawab singkat.


"Toko rame kan? " Tanya Ditto.


"Ya begitulah. " Jawab Zara.


Tak lama Ditto pun pamit. Karena dia hanya izin sebentar dari tempat kerjanya.


Ya Allah, ternyata tanpa Zara duga jika sudah waktunya Ditto pun kembali ingat pada Jarel.


Hanya lucunya, seolah tidak pernah terjadi sesuatu apapun, seperti semuanya biasa saja. Seperti orang yang baru pulang kerja jauh aja.


Padahal lebih dari itu, kenyataan yang telah aku lalui.


Kalau memang sekedar ingin ada hubungan baik, ga apa-apa Zara terima, asalkan jangan mencari masalah lagi dengan ku, aku ga mau ribut-ribut lagi. Aku cape, aku lelah. Aku hanya ingin hidup tenang.


Melihat Ekspresi ditto melihat ku sekarang pun bengong dia.


"Aneh ya, ada yang aneh ya dengan ku sekarang. Ya ini lah Zara. Inilah Zara sekarang. "