
Mendapatkan uang 20 juta dari hasil Over kredit mobil menjadi titik awal usaha Zara kembali dimulai.
Namun sayangnya tidak semua uang bisa aku pakai untuk modal. Karena aku punya hutang gelang kepada ibuku 8 juta.
Waktu aku tidak mampu mencicil mobil ku sendiri, ibu memberikan pinjaman gelang nya padaku.
"De, ini jual dulu aja gelang ibu dari pada stock barang toko kosong, mending pake untuk tambahan modal aja dulu. " Kata ibu padaku.
Aku pun ragu untuk menerima tawaran ibu.
"A Rangga, mamah suruh jual gelang nya buat tambahan modal. Gimana? aku ambil atau jangan?".
"Udah coba istikharah? " Tanya Rangga.
"Belum, lagi halangan. Ga bisa shalat. " Jawab Zara.
"Ya pikir baiknya aja gimana, kalo pun mau dijual insya Allah nanti ada gantinya. " Jawab Rangga.
"Oh ya udah, besok sepulang dari jualan kopi dipabrik aku mau langsung ke Sukabumi aja. " Jawab Zara.
"Iya. " Rangga menjawab singkat.
Keesokan harinya setelah pulang dari jualan di pabrik aku langsung ke Sukabumi, jual gelang ibu, dan kembali ke SR grosir untuk belanja.
"Jadi jual gelang ibu? " Tanya Rangga yang duduk di atas motor di samping aku yang sedang menunggu barang belanjaan ku di check.
"Jadi, nih makanya bisa belanja pake uang gelang ibu. " Jawab Zara.
"Pasti belum sarapan kan? " Tanya Rangga.
"Belum. " Jawab Zara.
"Keliatan, mukanya aja pucet kaya gitu. Gimana mau bawa mobil pulang, belum lagi matanya, ya ampun. " Rangga tertawa.
"Ga apa-apa biar langsing. " Jawab Zara.
"Langsing apaan, udah kurus kaya gitu juga badan kamu. " Jawab Rangga yang memperhatikan penampilan Zara yang mendadak kurus.
"Iya nanti kalo udah nyampe rumah." Jawab Zara.
"Semalem gimana pulang dari rumah ku takut ga dijalan? " Tanya Zara. Karena malem nya itu Rangga dari rumah Zara untuk memperbaiki printer.
"Ga sih kan ada si Wisnu, ga tau lah kalo sendiri. Cuman banyak banget polisi tidurnya di jalan. "Jawab Rangga.
"Ha.. ha... kalo di kota kan ga ada ya. Maklum lah jalan di tempatku memang seperti itu." Jawab Zara.
Aku pulang dulu udah selesai juga kok belanjaan nya. " Zara beranjak dari tempat duduk menuju ke mobil.
"Hati-hati, jangan tidur dijalan. " Rangga berteriak.
"Iya. " Jawab Zara dengan senyum.
Ibu ku meminta uang yang aku pinjam untuk dikembalikan, dengan berat hati aku kembalikan uangnya. Padahal jika 10 juta aku belanjakan untuk barang, dan 10 juta untuk saldo pulsa dan e-wallet pasti untungnya lumayan.
Tapi Itulah ibuku, tidak bisa hidup tanpa memakai perhiasan emas. Padahal tidak terlalu menguntungkan kalo menurut pengusaha seperti Zara. Kecuali kalo memang punya uang lebih.
Dengan percaya diri dan berdo'a pada Allah, Ya Allah semoga dengan uang 12 juta ini, usaha Zara bisa bertahan, berkah, dan berkembang nantinya. Karena aku masih memiliki tanggungan biaya hidup Jarel, gaji Ayah ku, dan KUR Mandiri. Semoga engkau selalu membantu ku ya Allah.
"Cukup Allah (menjadi penolong) bagi kami dan dia sebaik-baiknya pelindung - Ali imran ayat 173."
"Dan dia memberi rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya dan barang siapa bertawakal kepada Allah niscaya allah akan mencukupkan (keperluanya). Sungguh allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu - At talaq ayat 3."
Maka dari itu Zara tidak takut lagi untuk melangkah, meskipun berjuang sendirian, hati yakin akan selalu ada Allah yang selalu menuntun setiap langkah Zara.
Jika kita berharap hanya pada allah, maka kita tidak akan pernah kecewa. Karena Allah tidak pernah mengecewakan seorang hamba.
Awal Zara memulai kembali usaha Zara dengan stock barang 10 Juta ternyata dalam satu bulan menghasilkan omset penjualan di bulan Juni Sebesar 34 juta dengan laba bersih 4,1 juta.
Bulan Juli penjualan naik lagi menjadi 47,6 juta dengan laba bersih 5,9 juta. Bulan Agustus naik lagi alhamdulilah menjadi 52 juta dengan laba bersih 6,8 juta. Alhamdulilah Zara sangat bersyukur perlahan tapi pasti usaha kecil ku mulai bangkit.
Namun laba bersihnya itu sendiri Zara pake untuk biaya hidup Zara bersama Jarel, bayar gaji ayahku di toko, bayar cicilan KUR Mandiri, Makanya untuk berkembang cepat itu tokonya Zara rasanya sulit ya. Terkecuali kalo memang laba bersihnya itu tak tersentuh sama sekali. Barulah toko ku akan berkembang pesat.
Tidak apa-apa karena memang sekarang Zara hidup sendiri ya resiko nya seperti ini. Alhamdulilah bersyukur banget masih bisa bernafas, sehat, tidur nyenyak, bisa shalat dan mengaji itu saja udah cukup bagi Zara sekarang.
Zara selalu ingat kata-kata Rangga.
"Jangan pikir terlalu jauh, pikirkan dulu hari ini. Jika kamu terus mempertahankan mobil dulu, yang ada beban kamu semakin berat, tapi jika kamu memilih toko itu adalah peluang masa depan. Mobil bisa beli lagi nanti, yang bekas juga banyak. Barang belanjaan bisa di antar si om. Jarel sekolah bisa jalan, atau naik ojeg, ibu pulang kontrol dari hermina bisa naik grab. Apa yang harus di khawatirkan. Menangis tidak akan menyelesaikan masalah. Bangkitlah.. "
Sakit kata-katanya Rangga tapi memang benar. Terimakasih banyak Rangga. Kata-kata mu sungguh luar biasa. Bagaimana bisa aku tidak mencintai kamu, perkataan mu saja mampu merubah hidup aku.
"Zara sadar, kamu harus sadar. Rangga tidak mencintai kamu. " Zara selalu mengingatkan untuk tidak sakit lagi.
"Didepan nanti kamu akan bertemu dengan jodohmu yang tepat. Yakinlah." Zara selalu meyakinkan diri sendiri seperti itu.
Setiap hari si Om dengan baik hati selalu mengantarkan barang belanjaan ke toko ku yang aku pesan lewat whats app.
Zara belum berani menginjakkan kaki kembali di SR Grosir, sebelum Zara benar-benar sanggup untuk bertemu dengan Rangga, tanpa memiliki perasaan apapun pada hati Zara terhadap Rangga.
"Hallo Zara. " Mang Dedi ternyata ikut mengantar barang bareng si om.
"Eh mang, ikut ya? Apa kabar mang? udah lama ya kita tak bersua." Sapa Zara.
"Baik teh, iya ni si om ga ada temen katanya." Jawab mang Dedi.
Mang Dedi langsung menurunkan barang belanjaan ku dan langsung merapikan nya ke dalam toko ku.
"Zara itu rokok kenapa ga di masukin ke rumah? " Tanya si om.
"Nggak, Emang kenapa om?" Tanya Zara.
"Mending dirapihin terus bawa ke rumah, bukan apa-apa takutnya ada maling pasti target pertamanya rokok." Jelas si om memberikan masukan pada Zara.
"Pengalaman ya Om kemarin, ok deh siap Zara turutin nasihatnya om" Sambil tertawa.
"Iya berjaga-jaga sebelum kejadian, amit-amit juga ya, jangan sampe deh. " Kata si om dan mang Dedi
"Jangan dong om, bisa nangis seminggu Zara kalo rokoknya ilang." Jawab Zara.
"Jangan nangis kamu, berisik segudang kalo kamu nangis. ha... ha.. " Si om inget waktu Zara nangis di gudang SR Waktu itu.
Tapi kalo Zara gak nangis di SR waktu itu, mungkin om gak akan nganter barang kesini sekarang. Memang mungkin harus jalannya seperti itu. Lucu...
"Besok om bawain Alarm buat jaga-jaga biar aman, Kemarin sekalian beli banyak." si om menawarkan.
"Gratis om? " tanya Zara.
"Iya. "Jawab si om.
"Asyiikk, mang Dedi kalo si om lupa, ingetin ya besok, udah janji soalnya. " Zara mengingatkan kepada mang Dedi.
"Siap teh, laksanakan. " Jawab mang Dedi.
Mereka berdua pulang dari toko Zara hampir jam 10 malem setelah menurunkan barang belanjaan Zara.