
Diperjalanan pulang, Zara masih kepikiran kejadian tadi.
"Ternyata Rangga tidak lebih baik hidup nya sekarang, terlihat dari penampilannya yang tidak lebih baik dari dulu ketika dia masih kerja di SR. " Pikir Zara.
"Kenapa juga dia mesti keluar, kalo sekarang sibuk nyari kerjaan juga susah, Dasar Aneh. Tapi ya sudahlah itu bukan urusan Zara. " Pikir Zara yang masih terus bertanya-tanya di dalam hati.
Sampai ditoko Zara langsung merapikan barang belanjaan dan beraktifitas seperti biasanya.
Malam hari nya Zara masih kepikiran tentang Rangga.
Ya memang begitu jika sudah bertemu aja, susah untuk ga kepikiran.
"Kenapa mesti bertemu lagi sih? " Tanya Zara dalam hati.
"Hey. " Akhirnya Zara kirim pesan whats app lagi ke A Rangga jam 23.15.
"Waalaikumsalam. " Rangga langsung balas pesan Zara dengan disertai emoticon senyum.
Zara kira udah diblokir, ternyata nggak.
"Bukan Wassalamu'alaikum, hey aja. " Jawab Zara.
"Iya. " Jawab Rangga.
"Gimana kabar? " tanya Zara.
"Alhamdulilah baik, sebaliknya?". Tumben dia nanya balik.
"Alhamdulilah, baik banget. " balas Zara.
"Alhamdulilah. " Jawab Rangga.
"Udah dapet kerja? " Tanya Zara.
"Udah dari kemarin juga. " Jawab Rangga.
"A Rangga dimana sekarang? " Tanya Zara.
"Masih di langit yang sama. he. he... " Jawab Rangga.
"Ih. orang nanya serius. " Jawab Zara kesel.
"Emang bener kan, Emang nya langit kita beda? " Tanya Rangga.
"Sama. " Jawab Zara.
"Oh iya, kemarin lagi bikin SKCK kan? " Tanya Zara.
"Iya udah bikin, kan sebelumnya kerja ojek online. " Jawab Rangga.
"Oh, di Bogor? " Tanya Zara.
"Jauh amat, Ojek online di Sukabumi aja. " Jawab Rangga dengan emoticon tertawa.
"Terus di Bogor ngapain?" Tanya Zara.
" Nyari kerja. " Jawab Rangga.
"Dapet? " Tanya Zara kembali.
"Belum. " Jawab Rangga.
"Semangat. Sekarang masih ojek online?" Tanya Zara.
"Masih, sambil nunggu dapet kerjaan."
Memang benar kan Zaman sekarang cari kerja tuh susah.
"Ntar aku pesen." Balas Zara.
"Pake aplikasi mah ga bisa milih Bu." Balas Rangga.
"Semoga aja kebetulan, driver nya dapet A Rangga." Balas Zara.
"Belum prioritas, lagian gimana diem nya juga kan." Balas Rangga.
" Iya." Jawab Zara.
"Yupz. Gimana toko? Lancar?" Tanya Rangga.
Masih inget toko aku dia.
Dulu ketika Rangga ke toko, keadaan toko ku benar-benar memprihatinkan. Stock barangnya banyak yang kosong. Mungkin momen itu hanya terjadi satu kali dalam hidup ku, ketika Rangga dan Zara duduk dimeja kasir berdua di toko ku melayani pelanggan yang datang. Seperti teh Syifa dan A Fadli di SR, partner hidup seperti itu lah yang selama ini aku mimpikan namun akhirnya tidak akan jadi kenyataan. Wisnu satu satunya yang menjadi saksi hidup waktu itu. Sebetulnya mimpi ku sederhana kan, tidak ingin pasangan hidup yang kaya raya bergelimang harta, hanya ingin partner hidup yang selalu menemani, selalu ada di kala suka maupun duka, dan menua bersama sampai maut memisahkan kita berdua.
"Alhamdulilah selancar-lancarnya." Jawab Zara.
"Ga tau jarang komunikasi." Jawab Rangga.
"Belanja tiap hari ga pernah liat Wisnu di SR."
Zara belanja setiap hari ke SR tapi tidak pernah bertemu dengan Wisnu lagi. Padahal Zara ingin menanyakan kenapa Rangga keluar dari SR, apa alasannya. Karena hanya Wisnu teman dekat Rangga. Bahkan Wisnu yang mengantar Rangga ke toko ku dulu.
"Oh udah berhenti dia." balas Rangga.
"Pantes ga ada."
Kenapa mereka berdua keluar dari SR bersamaan. Masalahnya apa. Yang lain masih ada. Yuda, Hilmi, Mang Dedi, A Eko, A Deni. Kenapa Rangga dan Wisnu yang menghilang.
"Pake Aplikasi apa?" Tanya Zara.
"Apanya?" Tanya Rangga.
"Ojek Online?" Tanya Zara.
"Maxim sama Indriver." Balas Rangga.
"Oh saya tidak pake pa, adanya Grab Sama Go-Jek." Jawab Zara.
"Iya ga apa-apa." Jawab Rangga.
"Semangat ya." Balas Zara.
Ga pernah menyangka sebelum nya kalo sekarang Rangga kerjaannya seperti itu. Siapa sangka Rangga akan keluar dari SR Grosir. Dulu ibu selalu bilang pada Zara.
"Kamu ga mikir Zara, udah di sakiti kaya gitu juga masih aja tetep belanja ke SR. Pindah sana nyari tempat belanja yang lain, tempat belanja banyak ngapain harus tetap belanja di tempat Rangga. Kamu memberikan keuntungan kepada SR sedangkan perlakuan Rangga kaya gitu sama kamu, ga mikir kamu Zara." Jelas ibu waktu ibu baru pulang dari ICU dulu.
"Ga apa-apa Bu, masalah perasaan Zara ga ada hubungan nya dengan bisnis. Lagian keuangan SR kan masuk nya ke A Fadli bukan ke Rangga. Rangga kerja di sana bukan pemiliknya Bu hanya Saudara." Jelas Zara.
"Susah ngomong sama kamu." jelas ibu terakhir
Akhirnya sekarang Zara masih tetap berhubungan dengan SR dan Rangga yang keluar dari SR, siapa yang menyangka akhirnya menjadi seperti itu.
Siapa yang menyangka pula, gara-gara si om telat antar barang akhirnya Zara memutuskan untuk belanja kembali ke SR langsung dan bertemu A Deni.
Dengan bertemu A Deni perasaan Zara jauh lebih baik, dan luka sakit hati Zara karena Rangga perlahan sembuh. Zara tidak berniat sama sekali, semua terjadi begitu saja.
"A Rangga kalo aku minta tolong boleh?" Tanya Zara.
"Maaf ga bisa, saya ga mau ada salah paham lagi." Balas Rangga.
"Salah paham apaan? Nggak kali." Balas Zara.
"Takut seperti dulu." Balas Rangga.
Ternyata dia masih ingat betul kejadian menyakitkan yang dulu. Padahal Zara hanya ingin menanyakan A Deni.
"Ga tau udah lupa, sepertinya memorinya udah ke hapus." Balas Zara.
Setiap detail kejadian itu tidak ada yang Zara lupakan, semuanya masih Zara ingat sampai detik ini namun rasa sakit nya sudah hilang. Mungkin karena kuasa Allah yang memberikan kekuatan pada Zara sehingga Zara tidak merasakan rasa sakit yang dulu pernah Zara rasakan itu Sekarang.
"Iya mungkin untuk kamu seperti itu. Lain halnya buat aku. Rasa itu masih ada, Jadi pelajaran untuk sekarang berbuat baik lagi sama orang. Semacam trauma tapi bukan trauma. "Jelas Rangga.
Oh ternyata Rangga bukan tipe orang yang mudah melupakan apa yang pernah terjadi pada hidupnya. Dia juga masih ingat.
"Semacam trauma tapi bukan trauma, lalu apa?
Ya udah sih kalo ga mau bantu ga apa-apa nanti aku cari tau sendiri" Jelas Zara.
"Ga tau, Jadi kaya lebih berhati-hati membantu dan berkata dan berbuat aja sih sekarang mah." jawab Rangga.
"Oh ya udah bagus berarti buat kedepannya nanti." Balas Zara.
"Allah yang maha tau kedepannya akan seperti apa." Jawab Rangga.
"Iya, maaf udah ganggu. Tadinya cuman mau tanya tentang A Deni aja. Tapi jangan sampe orangnya tau juga kalo Zara nanyain tentang dia, malu." Jelas Zara pada Rangga.
"Mau tau tentang seseorang, mending langsung tanya sama orang yang bersangkutan aja. Kalo nanya sama orang lain kan takut nya ada yang suka dan ada yang nggak. Biar tidak salah paham nantinya." Jawab Rangga.
"Malu." Jawab Zara.
Tidak ke semua orang Zara berani tanya seperti pada Rangga. Apalagi A Deni juga kan orang nya jauh lebih muda dari Zara. Terus kemarin Citra juga bilang nya A Deni punya pacar. Zara takut sakit hati lagi.
Biarkan saja berjalan sebagai mana mestinya. Yang terpenting adalah dengan bertemu A Deni Rasa sakit hati Zara dari Rangga perlahan-lahan sembuh.
Tidak ada niatan untuk terlibat dengan dua saudara ini sebelumnya. Tapi itulah kenyataannya dengan bertemu A Deni setidak nya Zara bisa tersenyum lagi.
Biarkan Allah yang mengatur semuanya. Biarkan Allah yang menunjukan semuanya. Biarkan Allah yang memberikan hadiahnya. Kita manusia hanya bisa menjalani sebaik-baiknya. Sungguh indah bukan jika kita berjalan sesuai takdir Allah? Segala sesuatu yang tertulis dan yang terjadi pada kehidupan kita
semua pasti terbaik di mata Allah.